Sarasamuscaya intisari dharma

Sarasamuscaya intisari dharma Dengan cinta hidup jadi indah,
Dengan ilmu hidup jadi mudah. Dengan Agama hidup jadi terarah

BAHAYA KEMARAHAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA (Sloka 106 dari Sārasamuccaya) Ketika seseorang sedang marah, pikirannya menjad...
25/04/2026

BAHAYA KEMARAHAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA (Sloka 106 dari Sārasamuccaya)

Ketika seseorang sedang marah, pikirannya menjadi tidak jernih. Akibatnya:
- Tidak bisa membedakan mana perkataan yang
benar dan salah
- Tidak sadar mana perbuatan yang baik atau yang
melanggar dharma
- Mudah mengatakan hal-hal yang tidak pantas
atau menyakiti orang lain

Bayangkan pikiran itu seperti air yang jernih. Saat marah, air itu menjadi keruh. Karena keruh, kita tidak bisa melihat dengan jelas. Begitu juga saat marah:
- Kita jadi asal bicara tanpa berpikir
- Kita bisa melakukan hal yang nanti disesali
- Kita bahkan bisa menyakiti orang yang kita
sayangi

Sloka ini mengingatkan bahwa kemarahan membuat kita kehilangan kendali diri. Orang yang dikuasai amarah bisa:
- Mengucapkan kata-kata kasar
- Melakukan tindakan yang melanggar nilai
kebaikan (dharma)
- Kehilangan kebijaksanaan dalam berpikir

Pelajaran yang Bisa Diambil dari sloka ini:
- Belajarlah menahan emosi sebelum bertindak
atau berbicara
- Saat marah, lebih baik diam sejenak daripada
berkata yang menyakitkan
- Latih diri untuk tetap tenang dan sadar

Kemarahan bukan hanya emosi biasa, tapi bisa menjadi penyebab kesalahan besar jika tidak dikendalikan. Karena itu, menjaga pikiran tetap tenang adalah bagian penting dari menjalani hidup sesuai dharma.

Gs_Suardika



SIFAT BURUK HARUS DITINGGALKAN AGAR HIDUP MENJADI BAIK,DAMAI DAN BAHAGIA(Sloka 110 dari Sarasamuscaya )Sloka ini mengaja...
25/04/2026

SIFAT BURUK HARUS DITINGGALKAN AGAR HIDUP MENJADI BAIK,DAMAI DAN BAHAGIA
(Sloka 110 dari Sarasamuscaya )

Sloka ini mengajarkan bahwa kita perlu menjaga pikiran dan sikap agar tidak terjerumus ke hal-hal negatif dengan meninggalkan sikap buruk antara lain:

1. Tidak percaya pada kebaikan dan karma
Orang yang tidak percaya bahwa perbuatan baik
atau buruk akan ada akibatnya, cenderung
bertindak sembarangan.

2. Mencela ajaran suci (Weda) dan merendahkan
Tuhan/dewa
Hal seperti Ini menunjukkan sikap tidak hormat
terhadap nilai-nilai spiritual.

3. Iri hati (dengki)
Tidak senang melihat orang lain bahagia atau
sukses.

4. Sombong dan s**a membanggakan diri
Merasa diri paling hebat.

5. Angkara dan ego tinggi
Selalu ingin menang sendiri.

6. Mudah marah dan kasar
Emosi yang tidak terkendali bisa menyakiti
orang lain.

7. Bersikap kejam atau bengis
Tidak memiliki rasa kasih.

8. S**a mendengar hal-hal buruk (rēngö-rēngö)
Misalnya gosip, menguping, atau mencari-cari
keburukan orang lain.

Jadi Inti ajaran dalam Sloka ini mengingatkan kepada kita bahwa semua sifat buruk itu berasal dari pikiran, jadi yang paling penting adalah menjaga hati dan pikiran tetap bersih. Jika kita bisa membuang sifat-sifat tersebut, hidup kita akan lebih damai, dan hubungan dengan orang lain juga menjadi lebih baik.

Jadi kesimpulannya kepribadian yang rendah hati, sabar, dan berpikiran positif dengan menjauhi sikap buruk yang merusak diri sendiri maupun orang lain.

Gs_Suardika



24/04/2026

Lihat video Intisari Dharma.

RANGKUMAN SLOKA 96-105 SARASAMUSCAYA TENTANG MARAH ( KRODHA)🕉️Pentingnya pengendalian diri,  terhadap keinginan dan hawa...
24/04/2026

RANGKUMAN SLOKA 96-105 SARASAMUSCAYA TENTANG MARAH ( KRODHA)🕉️

Pentingnya pengendalian diri, terhadap keinginan dan hawa nafsu, karena hal itu menjadi dasar kehidupan yang baik (Sloka 96)

Orang bijaksana selalu berhati-hati dalam bertindak dan berpikir sebelum melakukan sesuatu agar tidak menyesal di kemudian hari (Sloka 97)

Perbuatan baik harus dilakukan dengan tulus, tanpa pamrih, agar menghasilkan pahala yang sejati (Sloka 98)

Kesabaran dan keteguhan hati merupakan kekuatan utama dalam menghadapi kesulitan hidup (Sloka 99)

Orang yang gelisah (karena sakit, takut, marah, atau keinginan) tidak akan mendapatkan ketenangan, termasuk sulit tidur (Sloka 100)

Orang yang mampu mengendalikan amarah lebih mulia daripada orang yang dikuasai kemarahan, walaupun ia memiliki kekuasaan atau kekayaan ( Sloka 101)

Perbuatan baik yang dilakukan dengan kemarahan akan menjadi sia-sia dan tidak menghasilkan pahala (SLOKA 102)

Pentingnya menjaga diri dari kemarahan, dari iri hati, dari rasa sombong dan dari kelalaian (sloka 103)

kemarahan diibaratkan sebagai kematian, sebagai sungai berbahaya, sebagai sapi pemberi janji segala keinginan, sebagai janji surga kebahagiaan (SLOKA 104)

Orang yang dikuasai marah dapat melakukan dosa, menyakiti orang lain, bahkan menghina orang bijaksana dengan kata-kata kasar ( sloka 105)

Jadi Kesimpulan Umum Sloka 96–105 mengajarkan tentang:
- Pengendalian diri (terutama terhadap kemarahan
dan nafsu) adalah kunci utama kehidupan yang
baik
- Kesabaran, kebijaksanaan, dan ketulusan
membawa pada kebahagiaan sejati
- Kemarahan dan keserakahan adalah sumber
kehancuran dan penderitaan

Gs_Suardika


KEMARAHAN MERUSAK HUBUNGAN, MERUNTUHKAN KEBAIKAN DAN MENJADIKAN PENYESALAN  (Sloka 105 dari Sārasamuccaya)Ketika seseora...
23/04/2026

KEMARAHAN MERUSAK HUBUNGAN, MERUNTUHKAN KEBAIKAN DAN MENJADIKAN PENYESALAN (Sloka 105 dari Sārasamuccaya)

Ketika seseorang dikuasai oleh amarah maka:

- Ia cenderung melakukan perbuatan buruk (pāpa)
tanpa berpikir panjang,

- Bisa sampai melukai atau menyakiti orang yang
seharusnya dihormati, seperti guru,

- Mampu menyakiti orang baik (sādhu) lewat
kata-kata kasar dan menyakitkan

- Kemarahan bisa membuat seseorang kehilangan
kendali diri dan nilai-nilai moralnya.

Pada saat seseorang sedang marah
- Pikiran jadi tidak jernih
- Emosi mengambil alih akal sehat
- Hal yang biasanya tidak pernah dilakukan, jadi
terasa “biasa saja” dilakukan

Contohnya:
- Orang yang biasanya sopan bisa tiba-tiba berkata
kasar
- Anak bisa membantah atau menyakiti orang tua/.
guru
- Bahkan bisa melakukan tindakan yang disesali
seumur hidup
Semua ini terjadi karena amarah menutup kebijaksanaan.

Pesan Moral dari Sloka ini adalah:

- Mengendalikan amarah itu sangat penting
Orang bijak bukan yang tidak pernah marah, tapi yang mampu menahan dan mengelola marahnya
Kata-kata yang keluar saat marah bisa lebih tajam daripada senjata

- Kemarahan adalah kekuatan yang berbahaya jika tidak dikendalikan. Akan bisa Merusak hubungan,
Menghancurkan kebaikan yang sudah dibangun,
Membawa seseorang pada penyesalan.

Karena itu, belajar sabar, tenang, dan berpikir sebelum bertindak adalah kunci hidup yang damai dan bijaksana.

Gs_Suardika



PENGENDALIAN EMOSI, BATASI KEINGINAN DAN  MERASA CUKUP AGAR HIDUP DAMAI DAN BAHAGIA ( Sloka 104 Sarasamuscaya)Sloka ini ...
22/04/2026

PENGENDALIAN EMOSI, BATASI KEINGINAN DAN MERASA CUKUP AGAR HIDUP DAMAI DAN BAHAGIA ( Sloka 104 Sarasamuscaya)

Sloka ini memakai perumpamaan (simbol) agar kita lebih mudah memahami ajaran tentang pengendalian diri. Kalau dijelaskan dengan sederhana, maknanya seperti ini:

1. Kemarahan itu seperti kematian
Kemarahan (krodha) diibaratkan sebagai maut. Maksudnya, ketika seseorang dikuasai marah, hal itu bisa “membunuh” kebaikan dalam dirinya seperti pikiran jernih, hubungan baik, bahkan pahala dari perbuatan baik. Orang yang sering marah hidupnya mudah hancur, seperti orang yang kehilangan arah.

2. Keinginan berlebihan itu seperti sungai berbahaya (Waitarini)
Keinginan atau nafsu duniawi (tṛṣṇā) diibaratkan seperti sungai Waitarini yang sangat kotor, deras, dan sulit diseberangi. Artinya, kalau kita terus menuruti keinginan tanpa batas, kita akan terjebak dalam penderitaan. Kadang terasa menyenangkan, tapi juga bisa menyiksa dan tidak pernah memberi kepuasan sejati.

3. Pengetahuan suci itu seperti sapi ajaib yang
memberi segala kebutuhan
Ilmu pengetahuan yang benar dan suci diibaratkan seperti “lembu ajaib” yang bisa memenuhi kebutuhan. Maksudnya, dengan pengetahuan (terutama pengetahuan spiritual), kita bisa menemukan jalan hidup yang benar, kebijaksanaan, dan kebahagiaan sejati.

4. Rasa puas itu seperti taman surga
(Nandanawana)
Kepuasan hati (santosha) diibaratkan seperti taman indah di surga. Ini menggambarkan bahwa orang yang merasa cukup dan bersyukur akan hidup damai, bahagia, dan tenteram, seperti berada di tempat yang indah.

Dari sloka ini dapat disimpulkan secara sederhananya sebagai berikut:
- Marah membawa kehancuran.
- Nafsu berlebihan membawa penderitaan.
- Ilmu yang benar membawa kebaikan.
- Rasa cukup membawa kebahagiaan.

Jadi, sloka ini mengajarkan kita untuk mengendalikan emosi, membatasi keinginan, mencari pengetahuan, dan belajar merasa cukup agar hidup menjadi damai dan bahagia.

PERAN WANITA HINDU DAN HARI KARTINIPeran wanita dalam ajaran Hindu sangat mulia dan dihormati, karena wanita dipandang s...
21/04/2026

PERAN WANITA HINDU DAN HARI KARTINI

Peran wanita dalam ajaran Hindu sangat mulia dan dihormati, karena wanita dipandang sebagai sumber kehidupan, kasih sayang, serta penjaga keseimbangan moral dan spiritual dalam keluarga maupun masyarakat. Hal ini sejalan dengan semangat emansipasi yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini, khususnya dalam memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan martabat perempuan.

Wanita Hindu memiliki beberapa peran penting:

1. Sebagai Ibu (Ibu Pertiwi dan Ibu Keluarga)
Wanita dihormati sebagai “Ibu”, sumber kehidupan. Dalam konsep Hindu, ibu adalah guru pertama (Adi Guru) yang menanamkan nilai dharma (kebenaran) kepada anak sejak dini.

2. Sebagai Pendamping (Istri yang Setara)
Wanita adalah ardhangini (setengah dari suami), yang berarti pasangan sejajar dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Dalam upacara keagamaan pun, peran istri sangat penting sebagai pelengkap spiritual.

3. Sebagai Pelaksana Dharma
Wanita berperan aktif dalam menjalankan ajaran dharma, seperti melakukan yadnya (persembahan), menjaga keharmonisan, serta mengajarkan nilai-nilai kebajikan.

4. Sebagai Simbol Kekuatan (Sakti)
Dalam Hindu, wanita juga dilambangkan sebagai Sakti (energi ilahi), seperti Dewi Saraswati (ilmu pengetahuan), Dewi Lakshmi (kemakmuran), dan Dewi Durga (kekuatan). Ini menunjukkan bahwa wanita memiliki kekuatan besar dalam berbagai aspek kehidupan.

Semangat Kartini sangat sejalan dengan nilai-nilai Hindu, yaitu:

Kesetaraan dan keharmonisan: Dalam Hindu, pria dan wanita saling melengkapi, bukan saling mendominasi.

Pendidikan sebagai jalan kemajuan: Kartini memperjuangkan pendidikan bagi wanita, yang juga sejalan dengan ajaran Hindu bahwa ilmu (vidya) adalah jalan menuju kebijaksanaan.

Pengabdian dan ketulusan: Wanita Hindu diajarkan untuk menjalankan dharma dengan tulus, sama seperti semangat pengabdian Kartini bagi bangsanya.

Jadi Peran wanita dalam Hindu bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai pilar utama kehidupan yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia.
Semangat Raden Ajeng Kartini mengingatkan bahwa wanita harus terus berkembang, berpendidikan, dan berdaya, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur seperti dharma, kasih sayang, dan kebijaksanaan.

Gs_Suardika


SIKAP TENANG, TULUS, RENDAH HATI DAN WASPADA KUNCI HIDUP BAHAGIA.(Sloka 103  Sarasamuccaya)Sloka ini memberikan nasihat ...
20/04/2026

SIKAP TENANG, TULUS, RENDAH HATI DAN WASPADA KUNCI HIDUP BAHAGIA.
(Sloka 103 Sarasamuccaya)

Sloka ini memberikan nasihat penting tentang bagaimana menjaga kualitas diri agar tetap baik dan berkembang. Setiap hal baik dalam diri kita harus dijaga dari hal hal buruk yang bisa merusaknya, seperti:

1. Menjaga tapa (pengendalian diri) dari
kemarahan
Tapa di sini bukan hanya bertapa di hutan, tapi lebih kepada usaha mengendalikan diri dan membersihkan pikiran.
Jika kita mudah marah, semua usaha baik yang kita lakukan bisa rusak. Salah satu menjaga diri adalah mengendalikan marah.

2. Menjaga kebahagiaan dari rasa iri (matsarya)
Kebahagiaan sejati tidak akan bertahan kalau kita masih s**a iri dengan orang lain.
Iri hati membuat hati gelisah dan tidak pernah puas. Kebahagiaan dijaga dengan menghilangkan rasa dengki.

3. Menjaga pengetahuan dari kesombongan dan
rasa rendah diri
Pengetahuan (vidya) bisa hilang manfaatnya kalau
sombong (merasa paling pintar), atau rendah diri (merasa tidak mampu) Keduanya sama-sama merusak.
Sikap yang benar adalah rendah hati dan seimbang.

4. Menjaga diri dari kelalaian (pramada)
Ini bagian paling penting.
Semua hal baik dalam diri bisa hilang kalau kita lalai, ceroboh, atau tidak sadar diri.
Maka kita harus selalu waspada, sadar, dan hati-hati dalam bertindak.

Jadi Sloka ini mengajarkan kepada manusia bahwa:
- Amarah merusak pengendalian diri
- Iri hati merusak kebahagiaan
- Kesombongan dan minder merusak pengetahuan
- Kelalaian merusak semuanya

Sikap tenang (tidak mudah marah), tulus (tidak iri), rendah hati, dan selalu waspada adalah kunci
Hidup bahagia.

SEMUA KEBAIKAN AKAN SIA SIA BILA DIIRINGI DENGAN KEMARAHAN  ( Sloka 102  Sarasamucaya ) Sloka ini menjelaskan bahwa oran...
19/04/2026

SEMUA KEBAIKAN AKAN SIA SIA BILA DIIRINGI DENGAN KEMARAHAN ( Sloka 102 Sarasamucaya )

Sloka ini menjelaskan bahwa orang yang dikuasai oleh kemarahan (krodha) walaupun melakukan banyak hal kebaikan seperti:
- bersembahyang,
- memberi sedekah,
- melakukan tapa (pengendalian diri),
- melakukan ritual suci,
semua kebaikan yang dilakukan itu menjadi sia-sia, Mengapa demikian?

Sia sia Karena hasil dari perbuatan baik tersebut “diambil” oleh Yama (simbol hukum karma dan kematian). Artinya, kebaikan itu tidak memberi pahala bagi dirinya.

Kemarahan itu seperti racun dalam hati.
Walaupun seseorang berbuat baik di luar, jika di dalam dirinya penuh amarah maka:
- niatnya menjadi tidak tulus,
- pikirannya menjadi keruh,
- dan perbuatannya kehilangan nilai spiritual.
Jadi, bukan hanya perbuatannya yang penting, tetapi juga keadaan batin saat melakukannya.

Contoh sederhana yang gampang dimengerti seperti:
- memberi sumbangan, tapi sambil marah-marah,
- berdoa, tapi hatinya penuh kebencian,
- membantu orang lain, tapi dengan emosi dan
kesombongan.
Secara lahiriah terlihat baik, tetapi secara batin tidak bersih. Akibatnya, kebaikan itu tidak membawa manfaat bagi dirinya sendiri.

Mengendalikan kemarahan jauh lebih penting daripada sekadar melakukan banyak ritual.
Kebaikan harus dilakukan dengan hati yang tenang dan tulus.Jika tidak, semua usaha hanya menjadi lelah tanpa hasil.

Sloka ini mengajarkan bahwa:
“Menguasai diri, terutama mengendalikan amarah, adalah kunci agar setiap perbuatan baik benar-benar bernilai.”

Gs_ Suardika




PENGENDALIAN DIRI, KESABARAN DAN KEBIJAKSANAAN JAUH LEBIH MULIA DARI HARTA DAN TAHTA.Sloka 101 dari Sārasamuccaya ini me...
17/04/2026

PENGENDALIAN DIRI, KESABARAN DAN KEBIJAKSANAAN JAUH LEBIH MULIA DARI HARTA DAN TAHTA.

Sloka 101 dari Sārasamuccaya ini menekankan tentang nilai pengendalian diri, kesabaran, dan kebijaksanaan jauh lebih tinggi daripada sekadar kekayaan, kekuasaan, atau kenikmatan hidup.
Begini Penjelasan sederhananya:

1. Mengendalikan marah itu lebih mulia
Orang yang bisa menahan dan menguasai kemarahannya dianggap lebih hebat daripada orang yang sering marah, walaupun orang yang pemarah itu punya jabatan tinggi, kaya, atau berkuasa. kekuatan sejati ada pada pengendalian diri, bukan kekuasaan.

2. Sabar lebih tinggi dari Orang yang tidak sabar Orang yang sabar (tahan uji) nilainya lebih tinggi daripada orang yang tidak sabar, meskipun orang yang tidak sabar itu terlihat lebih hebat atau kuat di luar. Kesabaran adalah tanda kedewasaan dan kekuatan batin.

3. Menjadi manusia itu kesempatan yang sangat
berharga
Dilahirkan sebagai manusia lebih utama dibanding makhluk lain, walaupun makhluk lain mungkin terlihat hidup lebih nyaman atau penuh kenikmatan.
Karena sebagai manusia, kita punya akal dan kesempatan untuk berbuat baik serta mencapai kebijaksanaan.

4. Orang bijaksana lebih utama dari orang kaya Seorang pandita (orang bijak/berilmu) lebih mulia daripada orang yang tidak berilmu, walaupun orang itu memiliki banyak harta.
Ilmu dan kebijaksanaan lebih bernilai daripada kekayaan materi.

Jadi makna yang dapat kita peroleh dari Sloka ini adalah :

Nilai seseorang tidak diukur dari harta, kekuasaan, atau kenikmatan hidup, tetapi dari pengendalian diri, kesabaran, dan kebijaksanaannya.

Yang paling penting dalam hidup adalah
Mampu mengendalikan emosi, Bersikap sabar
Berpengetahuan dan mempunyai kebijaksanaan
Yang akan membuat seseorang benar-benar “mulia” dalam pandangan dharma.

Gs_Suardika


KEADAAN PIKIRAN DAN HATI BERPENGARUH KEPADA KEDAMAIAN ( Sloka 100 Sarasamuscaya)Sloka 100 Sarasamuscaya menjelaskan tent...
16/04/2026

KEADAAN PIKIRAN DAN HATI BERPENGARUH KEPADA KEDAMAIAN ( Sloka 100 Sarasamuscaya)

Sloka 100 Sarasamuscaya menjelaskan tentang beberapa keadaan batin yang membuat pikiran gelisah sehingga tubuh juga tidak bisa beristirahat atau tidur dengan baik adalah:

1. Orang yang sedang sakit (ātura)
Kalau tubuh sakit, tentu terasa tidak nyaman.
Rasa nyeri atau lemah membuat orang sulit
tidur dan sulit merasa tenang.

2. Orang yang ketakutan (trasta)
Rasa takut membuat pikiran selalu waspada dan
gelisah. Akibatnya, walaupun tubuh ingin
istirahat, pikiran tidak bisa diam.

3. Orang yang penuh kemarahan atau kebencian
(amarṣita)
Orang yang menyimpan marah atau dendam
biasanya terus memikirkan hal yang
menyakitkan. Ini membuat hati panas dan sulit
merasa damai.

4. Orang yang terlalu banyak memikirkan
pekerjaan atau masalah (artham cintayataḥ)
Pikiran yang terus bekerja tanpa henti
memikirkan tugas, masalah, atau rencana
membuat seseorang sulit “mematikan”
pikirannya saat ingin tidur.

5. Orang yang diliputi nafsu atau keinginan
(kāmayāna)
Keinginan yang kuat (termasuk cinta berahi)
bisa membuat hati tidak tenang, selalu gelisah,
dan sulit beristirahat.

Dari kelima tersebut menggambarkan bahwa ketenangan hidup sangat dipengaruhi oleh keadaan pikiran dan hati. Jika pikiran penuh rasa sakit, takut, marah, khawatir, atau keinginan yang berlebihan, maka hidup terasa tidak damai dan tidur pun sulit.

Pesan yang bisa petik dari sloka 100 ini agar
hidup tenang dan bisa beristirahat dengan baik, maka kita perlu:
- menjaga kesehatan tubuh
- mengendalikan rasa takut
- melepaskan kemarahan dan kebencian
- tidak terlalu overthinking
- mengendalikan keinginan atau nafsu
Dengan begitu, pikiran menjadi lebih damai, dan hidup terasa lebih ringan.

Gs_ Suardika



ORANG YANG S**A BERMUSUHAN HIDUPNYA BAGAIKAN TIDUR DI TEMPAT YANG ADA ULARNYASloka ini mengajarkan tentang dampak buruk ...
15/04/2026

ORANG YANG S**A BERMUSUHAN HIDUPNYA BAGAIKAN TIDUR DI TEMPAT YANG ADA ULARNYA

Sloka ini mengajarkan tentang dampak buruk dari kebiasaan bertengkar dan menyimpan permusuhan dalam hati.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa orang yang s**a bermusuhan atau sering bertengkar hidupnya tidak akan pernah tenang. Hatinya selalu gelisah, pikirannya penuh beban, dan tidak merasakan kedamaian dan bahkan saat sedang beristirahat.
Bagaikan seorang yang tidur di dalam rumah yang ada ularnya. Meskipun secara fisik ia berada di tempat yang nyaman (misalnya di tempat tidur), batinnya tetap dipenuhi rasa takut, cemas, dan tidak aman.

Permusuhan = beban batin,
Orang yang s**a bertengkar membawa “racun” dalam pikirannya sendiri. Ia terus mengingat konflik, merasa marah, curiga, atau dendam.
Tidak ada ketenangan sejati

Walaupun terlihat biasa saja dari luar, di dalam hatinya selalu ada kegelisahan.

Menghancurkan kebahagiaan sendiri
Bukan orang lain yang paling menderita, tapi justru dirinya sendiri.

Pesan Moral dari sloka ini adalah
- Hindari kebiasaan bertengkar dan mencari
musuh
- Belajarlah mengendalikan emosi dan memaafkan
-Jagalah hati agar tetap damai dan bersih
Karena kedamaian itu bukan dari luar, tapi dari
hati yang bebas dari kebencian.

Jadi Orang yang s**a bermusuhan hidupnya seperti “tidur di rumah berisi ular” tidak pernah benar-benar tenang. Sebaliknya, orang yang menjaga kedamaian akan merasakan ketentraman di mana pun ia berada.

Gs_Suardika


Address

Banjarbaru

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sarasamuscaya intisari dharma posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Sarasamuscaya intisari dharma:

Share