Dr.Patrianef,SpB

  • Home
  • Dr.Patrianef,SpB

Dr.Patrianef,SpB Membahas tentang kasus kasus vaskular dan ilmu terbaru tentang vaskular dan endovaskular

19/09/2022

Dokter Perangkap Profesi.

Mungkin tidak ada diantara kita yang merasa bahwa kita sudah terperangkap dan diperangkap dalam profesi kita.

Pertanyaannya siapa yang memerangkap ?

Kita sudah merasa sangat senang berada dalam profesi ini. Tidak mudah bagi seseorang untuk bergabung dengan profesi ini. Harus punya dua hal, kemampuan inteligensia yang kuat dan bagi yang berkuliah di swasta harus mempunyai kemampuan finansial yang kuat. Tidak banyak orang yang punya salah satunya apalagi yang punya keduanya.

Hal itu menyebabkan jika berada dalam lingkungan profesi ini, kita " merasa" mendapatkan privilege. Kita merasa bahwa kita ini sudah luar biasa dan orang harus menghargai kita. Hal ini muncul akibat egosentris profesi yang begitu kuat.

Akibatnya kita ( profesi) lalai membangun kekuatan atau menambah kekuatan. Profesi ini yang dulunya begitu kuat sehingga Kepala Puskesmas Direktur Rumah Sakit, Kepala Dinas Kesehatan, bahkan Menteri Kesehatan yang dulunya berasal dari dokter sekarang sudah diambil profesi lain. Tanpa bermaksud mendikotomikan dengan profesi lain, hal yang ingin kami sampaikan adalah, profesi ini mulai tertinggal saat berpacu dengan profesi lain, bahkan dokter bukan lagi tenaga kesehatan. Walaupun sebagian kita masih tetap merasa bahwa profesi ini sangat kuat.

Sehingga sebetulnya siapa yang memerangkap ? Kalau boleh kita introspeksi, kita kita ini mempunyai kontribusi untuk memerangkap diri kita dalam profesi kita.

Adakah yang salah?

Tidak ada individu yang salah. Yang ada adalah kesalahan kolektif dan dokter ternina bobokan dalam nyanyian damai, bahkan sesudah kesejahteraan dokter jatuh longsor sesudah berjalannya penjaminan sosial bidang kesehatan, kita juga masih ternina bobokan.

Kita masih merasa eksklusif dan kuat.
Dokter itu orang orang cerdas.
Dokter itu terhormat.
Dokter itu profesi yang banyak pahalanya.

Sehingga banyak orang menumpang hal itu dan berkata.

Dokter itu seharusnya tidak memikirkan uang.
Dokter itu seharusnya sosial
Dokter itu seharusnya memperbanyak ibadah dan pengabdian.
Dokter itu tidak perlu pendapatan , karena balasannya dari Yang Diatas.

Dan tentu saja ada diantara kita yang mengamini dan biasanya yang mengamini itu sudah berada di zona nyamannya dan mereka akan berkolaborasi dengan yang membuat pernyataan.

Saatnya kita mulai menyadari bahwa seiring dengan perkembangan zaman, dokter juga harus melakukan reposisi. Kita harus bersama sama memperkuat profesi ini. Dan sebetulnya tidak cukup hanya dengan memperkuat profesi saja. Kita juga harus memperkuat posisi anak didik kita ( residen), trainee, dokter, dokter gigi dan bahkan semua tenaga kesehatan lain.

Saatnya bagi kita, berada di luar profesi dan melihat dari luar bagaimana sebetulnya profesi kita di lihat dari kacamata luar. Kita juga harus melihat melalui cermin , melihat profesi ini dengan mata jernih dan jujur.

Saatnya kita melakukan tindakan mempercantik profesi ini.

Jika ada bopeng, ditambal
Jika pucat di buat merona.
Jika kurang cerah,di cerahin.
Jika bengkok dilurusin.

Jika cukup di beri kosmetik, ya di kosmetikin.
Kalau perlu operasi plastik, sebaiknya dilakukan.

Itu pendapat saya.
Bagaimana pendapat sejawat?
Silakan tulis di kolam komentar

Patrianef Vascular
Praktisi Kedokteran.

24/03/2020

Kami sungguh khawatir dengan COVID-19.
" Covid-19 Awareness"

Inilah masa yang paling mengkhawatirkan dan kalau mau jujur berat sekaligus menakutkan bagi seorang dokter dan tenaga kesehatan, apalagi yang berada ditengah daerah Pandemi dan menjadi RS rujukan. Saya sendiri sudah lama menjadi dokter tidak ada masa yang mengkhawatirkan selain masa sekarang.

Kita khawatir virus ini mengancam istri/ suami kita, keluarga kita, sahabat sahabat kita, kolega kita.
Kita khawatir, teman teman kita yang berada di emergency departement yang menerima pasien langsung dengan risiko yang besar, akan terkena dan meninggal.
Kita khawatir jangan jangan kita terkena tetapi asimptomatik dan menularkan kepada orang lain.
Kita khawatir jangan jangan teman sekantor atau perawat kita terkena tapi tanpa gejala dan bisa menularkan ke kita.
Kita khawatir saat pulang jangan jangan badan dan semua yang kita bawa pulang tercemar virus COVID-19 dan bisa menularkan ke keluarga kita.
Kita khawatir karena saat menolong pasien kita sekaligus mempertaruhkan hidup kita sendiri.

Kita mendengar kemaren dokter A teman kita meninggal dunia.
Kita mendengar hari ini Prof B meninggal dunia.
Padahal beberapa hari yang lalu masih bersama kita.
Kita mendengar kemaren teman kita tenaga kesehatan suatu RS meninggal.
Kita mendengar hari ini ada perawat di RS yang meninggal.

Kita masih mendengar dari seseorang si A meninggal karena Pneumoni bukan COVID19.
Masih mampu mereka menyampaikan itu ditengah kondisi begini dimana sebagian besar pneumoni itu karena COVID-19.
Tanpa perasaan bersalah lagi.
Tidak tahukah mereka bahwa ucapan mereka bisa menyebabkan orang lain tertular.

Kita masih mendengar bahwa si A belum pasti COVID 19 walaupun sudah jelas meninggal on ventilator di ICU.
Hanya karena hasil swab nya belum keluar.
Mau berapa hari menunggu swab keluar.
Satu hari, 3 hari atau seminggu.
Kenapa sih masih ada yang disembunyikan diantara kita.

Saya takut.
Anak anak saya, adik adik saya generasi muda calon calon dokter spesialis dan subspesialis
Mereka berada di front terdepan menghadang virus corona.
Mereka mempertaruhkan hidup mereka.
Saya ingin mengingatkan sekali lagi kepada pemimpin pemimpin bangsa ini, pembuat Undang Undang, pembuat kebijakan nasional , bahwa sampai sekarang mereka tidak digaji dan tidak mendapat imbalan.
Mereka bekerja dengan upahnya ucapan terima kasih dan harapan akan menjadi spesialis.
Jika terjadi sesuatu pada mereka , siapa yang akan membiayai anak istri mereka.
Sungguh kami merasa berdosa jika terjadi sesuatu pada mereka.

Kami sungguh khawatir.
Maafkan kami karena kami manusia juga.
Lawan yang kami hadapi tidak terlihat dan kasat mata.
Mungkin ada dihadapan kita.
Bisa juga di pakaian kita, tangan kita, stetoskop kita, rambut kita, ballpoin kita, sepatu kita dan ditempat yang tak kita duga .
Dan mereka membunuh.

Jakarta, 23 Maret 2020

Patrianef Darwis
Dokter
Dosen Fakultas Kedokteran.

18/11/2017

Kateter dual lumen bukanlah cara terbaik untuk hemodialisa. Cara yang terbaik tetaplah dengan menggunakan akses hemodialisa dengan menggunakan Arterio Venous Fistula.
Ada resiko kesakitan dan kematian yang cukup besar dengan menggunakan kateter dual lumen. Sehingga kateter dual lumen hanya digunakan untuk kondisi akut.
Komplikasi jangka lama cukup tinggi seperti stenosis vena sentral yang mengakibatkan pembengkakan pada tangan pasien.

Pada penderita Chronic Renal Failure diperlukan dialisa. salah satu metode yang dianjurkan adalah hemodialisa. Untuk hem...
26/09/2017

Pada penderita Chronic Renal Failure diperlukan dialisa. salah satu metode yang dianjurkan adalah hemodialisa. Untuk hemodialisa perlu akses di pergelangan tangan atau di lipat siku.
untuk bisa digunakan sebagai akses cuci darah diperlukan waktu pematangan selama lebih kurang 8 minggu

Thrombosis Vena DalamPasien ini sudah dirawat selama delapan hari disebuah RS. Didiagnosis sebagai cellulitis. Lekosit 3...
21/09/2017

Thrombosis Vena Dalam

Pasien ini sudah dirawat selama delapan hari disebuah RS. Didiagnosis sebagai cellulitis. Lekosit 30.000. Diberikan antibiotika kuat 2 macam perinfus. Pasien juga batuk batuk dan mengeluh agak sesak. Dari Ro Foto Thorax di curigai pneumonia. Selain anti biotika juga diberikan anti jamur.

Perbaikan secara laboratoris lumayan. Lekosit turun dari 30.000 menjadi 10.800. Merah berkurang sedikit. Tetapi secara klinis memang masih kurang bagus. Nyeri tetap ada. Dan bengkak serta masih merah.

Pasien akhirnya minta pindah ke RS kami. Di treatment sebagai trombosis vena dalam. Antibiotika hanya satu macam saja. Dalam 3 hari perbaikannya sangat signifikan.

Sesudah merahnya mereda dan bengkaknya menghilang tinggal keropeng dan kulitnya berubah jadi lebih gelap.

Jakarta, 21 September 2017

Patrianef Patrianef

Iskemia Tungkai AkutIskemia tungkai akut sering terlambat ditangani. Gejala awal berupa nyeri tungkai serta kelemahan tu...
16/09/2017

Iskemia Tungkai Akut

Iskemia tungkai akut sering terlambat ditangani. Gejala awal berupa nyeri tungkai serta kelemahan tungkai ikut mengakibatkan kasus kasus ini terlambat didiagnosis .Walaupun pasien sudah dirawat di RS, sering dikonsulkan dalam keadaan sudah mengalami kematian jaringan.

Pada beberapa kasus malahan sudah disarankan oleh dokter spesialis bedah vaskular untuk thrombektomi, tetapi alasan perbaikan keadaan umum dan kekhawatiran berlebihan terhadap penggunaan heparin atau menunggu konsultasi dengan sejawat lain semakin memperlama tindakan. Sehingga akhirnya terpaksa dilakukan amputasi.

Thrombektomi pada kasus ini dilakukan dengan anestesi lokal dan sering hasilnya membaik jika dilakukan lebih dini.

Pengobatan lainnya adalah anti koagulan dan trombolysis.

Hati hati jika keluarga kita mengalami gejala dan keluhan ini. Jangan lupa pemeriksaan sederhana pulsasi arteri dorsalis pedis selalu diperiksa.

Jakarta, 16 September 2017

Patrianef Patrianef

Sellulitis dan DVTPasien dirawat di RS selama 8 hari dengan selulitis . Lekosit turun dari 20.000 an  menjadi 10.800. Te...
16/09/2017

Sellulitis dan DVT

Pasien dirawat di RS selama 8 hari dengan selulitis . Lekosit turun dari 20.000 an menjadi 10.800. Tetapi merah dan bengkak hanya berkurang dan tidak mau menghilang.
Malahan timbul bulae pada pasien. Pasien akhirnya pindah rawat ke dokter bedah vaskular dan didiagnosa sebagai Primary DVt dengan sekunder infeksi sellulitis.

Ini kasus "Primary DVT" dengan sekunder infeksi selulitis. Sebaliknya "Primary Cellulitis" juga bisa menjadi "Superficial Thrombo Phlebitis".

Perawatan di RS pasien sellulitis yang sebetulnya DVT tetap akan memperbaiki tungkai pasien tetapi tidak menyembuhkan sempurna. Kenapa dia membaik?, karena posisi datar ditempat tidur akan memperbaiki sirkulasi vena. Tetapi perbaikannya tidak optimal dan akan berulang serta tungkai akan menjadi berwarna lebih gelap dan jangka panjang akan menjadi "Post thrombotic syndrome"

Jika ragu DVT atau selulitis atau Selulitis DVT sebaiknya anda konsultasikan dengan dr spesialis bedah vaskular anda.

Jakarta 16 September 2017

Patrianef
Spesialis Bedah
Subspesialis Bedah Vaskular (Konsultan)

Diabetic Foot UlcerKasus " Diabetic Foot Ulcer"mempunyai beragam bentuk. Pada kaki diabetes juga sering terjadi  "Charco...
01/09/2017

Diabetic Foot Ulcer

Kasus " Diabetic Foot Ulcer"mempunyai beragam bentuk.
Pada kaki diabetes juga sering terjadi "Charcot Foot". Pada kondisi ini terjadi deformitas pada kaki dan sering juga bahkan terjadi dislokasi pada pergelangan kaki.

Kallus pada telapak kaki terjadi akibat perubahan titik tumpu badan yang sudah bergeser akibat neuropati dan perubahan bentuk akibat "Charcot Foot" tersebut.

Penatalaksanaan kasus kasus diabetic foot ulcer sering sangat tidak sederhana dan bukan hanya sekedar perawatan luka. Penatalaksanaan kasus "diabetic foot ulcer" memerlukan kolaborasi beberapa bidang ilmu.

Ini adalah contoh "diabetic foot ulcer" dengan deformitas kaki dan pergelangan kaki akibat "charcot" yang walaupun sudah dikoreksi masih tetap berat deformitasnya dan kallus yabg tebal pada bagian telapak kaki disertai infeksi pada bagian sentralnya yang merupakan "port d entry" untuk masuknya kuman ke kaki dan mengakibatkan infeksi pada kaki dan tungkai.

Jakarta, 1 September 2017

Patrianef Patrianef
Spesialis Bedah
Spesialis Bedah Vaskular (Konsultan)

Tidak semua luka di kaki dan tungkai akibat diabetes, bahkan pada penderita diabetes sekalipun. Ini contoh inflamasi dan...
28/08/2017

Tidak semua luka di kaki dan tungkai akibat diabetes, bahkan pada penderita diabetes sekalipun.
Ini contoh inflamasi dan selulitis yang bukan karena diabetes.
Perempuan 60 tahun datang dengan keluhan luka borok dan merah ditungkai sejak 4 minggu sebelum masuk RS. Pasien dengan riwayat immobilisasi dan NOK.
Ini adalah contoh Phlegmasia Cerulea Dollens. Lazim kita sebut sebagai Selulitis DVT.
Penanganannya beda jauh dengan selulitis biasa atau diabetic foot ulcer.

Pasien dirawat oleh sejawat lain dengan diagnosa selulitis dan diberi antibiotika selama seminggu. bengkak dan kemerahan...
11/02/2016

Pasien dirawat oleh sejawat lain dengan diagnosa selulitis dan diberi antibiotika selama seminggu. bengkak dan kemerahan berkurang tetapi belum hilang.
dari anamnesa ditemukan bengkak berulang jika beraktifitas dan berjalan jauh, tetapi berkurang saat bangun tidur. Riwayat bengkak dan merah pernah sebelumnya.
pasien merasakan demam tetapi tidak menonjol serta nyeri pada tungkai kiri.
perhatikan bercak bercak kehitaman pada kedua pergelangan kaki yang khas merupakan tanda sindroma post trombosis.
Penanganan kasus ini berbeda sekali dengan selulitis karena jika tidak ditangani dengan baik dan benar maka akan menjadi sindroma post trombosis dan akan selalu berulang dan bisa menjadi Flegmasia Serulea Dolens

Pasien ini dirawat oleh sejawat dokter orthopedi didaerah Kalimantan karena patah tulang sudah selama 4 bulan. Oleh seja...
29/01/2016

Pasien ini dirawat oleh sejawat dokter orthopedi didaerah Kalimantan karena patah tulang sudah selama 4 bulan. Oleh sejawat orthopedi dilakukan pemasangan internal fiksasi. Beberapa lama setelah pemasangan internal fiksasi pasien mengalami perdarahan dari luka operasi. Pada pasien dilakukan balut tekan serta pemasangan elastic bandage, kemudian perdarahan berhenti. Tetapi dalam waktu yang tidak terlalu lama perdarahan kembali berulang. Hemoglobin pasien turun drastis setiap mengalami perdarahan sampai 5 dan harus transfusi darah setiap kali mengalami perdarahan. Akhirnya oleh sejawat orthopedi internal fiksasi dibuka dan sekaligus eksplorasi luka, tetapi sumber perdarahan tidak ditemukan. kejadian tersebut berulang kali dan setiap kali mengalami perdarahan harus ditransfusi. Luka serta patah tulangnya tidak mau sembuh dan pasien sudah frustrasi akibat khawatir perdarahan berlangsung terus dan pasien tidak bisa meninggalkan rumah sakit. Pasien akhirnya dirujuk ke Jakarta. Pada saat pasien masuk, pasien mengalami perdarahan hebat diperjalanan dan langsung ditransfusi pada saat masuk. Secara klinis pasien diduga mengalami trauma pada pembuluh darah dan pembuluh darah tersebut menjadi aneurisma palsu. Setiap kali tekanan tinggi dalam aneurisma palsunya atau ada penekanan dari luar mengakibatkan aneurisma palsunya pecah. Tindakan pembedahan susah dilakukan jaringan lunak ditungkainya sudah jelek. Pada pasien dilakukan angiografi dan ditemukan pseudo aneurisma dicabang arteri peronealis ditungkai, arteri tibialis anterior dan arteri tibialis posterior bagus. Diputuskan melakukan pemasangan coil pada pangkal arteri yang mengalami aneurisma palsu, perdarahan berhenti. Setelah itu pada pasien dilakukan debridement dan pemasangan eksternal fiksasi oleh sejawat orthopedi dan pasien dipulangkan kembali kedaerah asalnya. Itulah salah satu keuntungan tindakan minimal invasif vaskular dengan menggunakan angiografi sehingga lokasi perdarahan diketahui dan dapat dilakukan langsung tindakan tanpa menambah luka pasien dan hanya dengan luka tusukan didaerah inguinal dengan lebar sekitar 2,5 mm. Itulah salah satu kerja dokter spesialis bedah subspesialis vaskular dan endovaskular

Address

Jl. M.H. Thamrin No. 1 Sektor 7 Bintaro Jaya

15224

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dr.Patrianef,SpB posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

  • Want your practice to be the top-listed Clinic?

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram