14/01/2026
Seorang wanita dengan BB 150 kg, terakhir melahirkan 8 tahun lalu, mengaku sekarang hamil anak ke 4, usia kehamilan 39-40 minggu, dirujuk dari bidan karena tekanan darah 190/120 mm Hg, protein urin positif 3, sudah ada kontraksi, pembukaan 3 cm.
Selama kehamilan pasien rutin kontrol USG dengan dokter umum, dinyatakan Ibu dan janin sehat.
Saat di USG tidak terlihat gambaran apa2 di layar monitor karena terhalang oleh lemak yang sangat tebal. Satu2nya yang bisa dinilai adalah detak jantung janin, dengan mengandalkan "feeling" hampir 9 tahun menjadi dokter kandungan. "Oh jantung janin kyna di sebelah sini, jadi arahkan alat USG ke bagian itu ".
Pasien disarankan dirujuk ke RS dengan diagnosa PEB, komplikasi yang mungkin terjadi adalah eklampsia. Pasien menolak karena tidak mempunyai kartu BPJS dan selama ini oleh dokter umum yang memeriksa tidak pernah dinyatakan kalau kehamilannya bermasalah, jadi mau melahirkan di klinik saja.
Poin2 dari kasus ini :
1. Mitos " makan untuk 2 orang ( porsi ganda ) " selama kehamilan seringkali justru membawa Ibu ke dalam obesitas, dengan berbagai komplikasi kehamilan.
2. Menyayangkan dokter umum yang tidak mengedukasi pasien dengan baik. Mengapa pasien tidak pernah dianjurkan ke RS dengan segala faktor risiko yang dia punya? bagaimana mungkin dokter tersebut bisa menilai kondisi janin tiap bulannya dinyatakan sehat padahal dari gambaran USG saja tidak terlihat apa2?. Sepertinya saya harus sungkem dan berguru caranya USG seperti cenayangπ.
3. Untuk kesekian kali, pasien harus menghadapi dilema finansial karena tidak memiliki kartu BPJS. Ada baiknya dari awal kehamilan sudah dipertimbangkan manfaatnya, untuk mengantisipasi keadaan darurat seperti ini.