Komunitas Penyandang Disabilitas Bali - Kpdb

Komunitas Penyandang Disabilitas Bali - Kpdb komunitas penyandang disabilitas di provinsi Bali yang tergabung pada sosial media facebook.

Rumah Berdaya, 'Sekolah' untuk Para Penderita Skizofrenia.Denpasar - Gangguan jiwa atau mental yang tak tertangani denga...
31/07/2024

Rumah Berdaya, 'Sekolah' untuk Para Penderita Skizofrenia.

Denpasar -

Gangguan jiwa atau mental yang tak tertangani dengan baik berpotensi membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Salah satu jenis gangguan jiwa adalah skizofrenia. Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar memiliki tempat khusus untuk menangani penderita skizofrenia, yakni Rumah Berdaya Denpasar.

Skizofrenia adalah gangguan mental yang memengaruhi otak dan memicu munculnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang tidak biasa. Skizofrenia dapat dijelaskan sebagai kondisi di mana seseorang mengalami keretakan atau perpecahan dalam kepribadian mereka.

Gangguan ini ditandai oleh distorsi dalam proses pikir, afek atau emosi, kemauan, dan psikomotor, serta terjadi disharmoni antara elemen-elemen tersebut. Dampak yang paling parah, skizofrenia bisa menjadi penyebab seseorang bunuh diri.


Rumah Berdaya Denpasar merupakan rumah singgah bagi para penderita skizofrenia di Bali. Orang dengan skizofrenia (ODS) diberikan pelatihan soft skill maupun hard skill agar tetap produktif dan mandiri untuk menjalani kehid**an.

Rumah Berdaya Denpasar bukanlah tempat tinggal permanen bagi penderita skizofrenia. Lebih tepatnya seperti sekolah. Selama kurang lebih delapan tahun lamanya, Rumah Berdaya Denpasar menaungi serta setia menemani para ODS. Rumah Berdaya didirikan pada 2016 oleh dr Gusti Rai Putra Wiguna, seorang psikiater.

Alat yang digunakan penyintas dan pengidap skizofrenia untuk memproduksi baju. (Ramdan/detikBali)

Salah satu tenaga psikologi di Rumah Berdaya Denpasar, Kadek Githa Garsani Pandan Rini, mengatakan psikiater yang akrab disapa Rai tersebut mendirikan Rumah Berdaya berangkat dari pengalamannya menangani banyak pasien.

Setelah pasien-pasiennya pulih, ia menyadari bahwa mereka masih menghadapi stigma yang besar dari masyarakat. Stigma ini membuat mereka rentan menjadi bahan ejekan, sulit diterima di tempat kerja, dan sering kali terisolasi.

Rai pun memiliki keinginan untuk menciptakan sebuah wadah khusus bagi mereka. Tempat mereka bisa berkegiatan dan bersosialisasi tanpa menghadapi stigma. Rumah Berdaya hadir untuk membantu para penyintas gangguan kesehatan mental agar tidak kembali terpuruk setelah keluar dari rumah sakit.

Di Rumah Berdaya, para ODS dapat berinteraksi dengan orang lain dan membuktikan bahwa mereka masih memiliki potensi dan kemampuan. Tujuan utama dari Rumah Berdaya adalah menjadi batu loncatan bagi para penyintas untuk perlahan-lahan berintegrasi kembali ke masyarakat dan mandiri, sehingga mereka berani menjalani kehid**an tanpa rasa takut akan stigma.

"Kalau dari 2016 awal sejak berdiri Rumah Berdaya, ada 105 orang (ODS) yang tercatat. Tahun ini (sejak Januari 2024) ada 25 orang yang kami tangani," tutur Githa saat diwawancarai detikBali di Kantor Dinas Sosial Kota Denpasar, Jumat (21/6/2024).

Rumah Berdaya Denpasar beroperasi dari pukul 07.30 Wita sampai 15.30 Wita pada hari biasa dan 07.30 Wita sampai 13.00 Wita pada Jumat. Fleksibilitas waktu operasional juga disesuaikan dengan suasana hati para ODS yang kunjungannya bisa mencapai 15 orang dalam sehari.

Potret karya lukis buatan para ODS di Rumah Berdaya. (Zheerlin Larantika Djati Kusuma/detikBali)

Para pasien berasal dari berbagai daerah, baik Denpasar, Singaraja, dan Badung. Bahkan, ada yang datang dari Solo, Jawa Tengah. Sejauh ini, sebagian besar pasien adalah laki-laki.

Di Rumah Berdaya, ada banyak pelatihan yang diberikan untuk ODS. Seperti les bahasa Inggris, pelatihan potong rambut, produksi d**a, baju kaus, minyak, lukisan, dan masih banyak lagi. Rumah Berdaya Denpasar menemani para ODS selama kurang lebih delapan tahun lamanya.

Dari Kuli Proyek Jadi Pegawai Kontrak

Sebuah kisah inspiratif datang dari pria bernama I Nyoman Sudiasa. Pria yang akrab disapa dengan Sudiasa ini menceritakan pengalamannya sebagai penyintas skizofrenia sejak 2001.

Diawali dengan ditemukannya Sudiarsa mengamuk di tempat kerja lamanya, membuat pria berusia 50 tahun itu diamankan oleh petugas keamanan. Ia dibawa secara paksa ke RSUP Sanglah (sekarang bernama RSUP Prof. Ngoerah) dan harus dirawat selama empat hari.

Singkat cerita, setelah selesai dirawat di RS Sanglah, Sudiasa kembali ke kampung halamannya di Buleleng. Namun karena stigma masyarakat dan kurangnya edukasi, Sudiasa pun kambuh lagi dan membuatnya harus dirawat di RSJ Bangli.

Sayangnya ia harus p**ang paksa karena keterbatasan biaya. Saat itu keluarganya harus membayar Rp 5 juta pada 2001. Sudiarsa menyebut dia didiagnosis skizofrenia karena faktor genetik dari sang ibu dan juga ekonomi.

"Setelah saya berkeluarga mulai ada tekanan ekonomi. Karena saya hanya kerja kuli, sudah punya anak dan ngekos di Denpasar, tekanan ekonomi tinggi," cerita Sudiarsa ditemui detikBali di Rumah Berdaya, Senin (24/6/2024).

Namun, berkat dukungan keluarga dan edukasi dari komunitas seperti Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), Sudiarsa mulai menerima kondisinya dan berangsur-angsur pulih melalui terapi rutin dan obat-obatan, hingga akhirnya menemukan hikmah dari apa yang dialami.

Pada 2019, Sudiarsa bergabung ke Rumah Berdaya. Seiring berjalannya waktu, Sudiarsa dipercaya dan diangkat menjadi pegawai kontrak di Dinas Sosial dan dipercaya menjadi Koordinator Rumah Berdaya. Dengan jabatan yang diemban saat ini, Sudiarsa dapat banyak kesempatan untuk berkarya, ikut pameran, diundang ke beberapa kota, dan lainnya.

"Kalau saya tidak skizofrenia, mungkin saya tidak bisa berkarya dan berdaya, saya sampai dibiayai ke Jakarta," ungkap syukur Sudiarsa.

(hsa/nor)

Sumber Berita:

Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar memiliki tempat khusus untuk menangani penderita skizofrenia, yakni Rumah Berdaya Denpasar.

Komunitas Bipolar Bali: Wadah Penyintas Bipolar agar Tak Merasa KesepianNi Wayan Santi Ariani - detikBaliSenin, 29 Jul 2...
31/07/2024

Komunitas Bipolar Bali: Wadah Penyintas Bipolar agar Tak Merasa Kesepian

Ni Wayan Santi Ariani - detikBali
Senin, 29 Jul 2024 17:25 WIB

Foto: Kegiatan Perayaan Hari Bipolar Sedunia bertema Healing With Colour pada, Sabtu (30/3/2024) (Istimewa/Gede Krisna Juliartha Putra)

Denpasar - Ketut Vety Christianthy mendirikan Komunitas Bipolar Bali pada 10 Maret 2019. Komunitas ini lahir dari keresahan Christianthy melihat penyintas bipolar di lingkungannya dilabeli 'gila'.

Stigma buruk ini membuat penyintas bipolar membatasi gerak hingga bisa melakukan upaya bunuh diri. "Padahal, dia (penyintas bipolar) butuh sebuah wadah untuk bisa survive (bertahan hidup) agar tidak merasa sendiri saat menjalani hidup," ujar Ketua Yayasan Komunitas Bipolar Bali Gede Krisna Juliartha Putra kepada detikBali, Kamis (20/6/2024).

Bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis dari rasa gembira yang ekstrem menjadi depresi yang parah. Penyintas bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresi.

Gejala depresi yang muncul pada penyintas bipolar bisa antara lain merasa sangat sedih dan putus asa, lemas dan kurang energi, merasa kesepian, hingga merasa bersalah. Gejala depresi terburuk bagi penyintas bipolar adalah muncul keinginan untuk bunuh diri.

Menjadi Pendengar untuk Mencegah Mereka yang Ingin Bunuh Diri
Krisna Komunitas Bipolar Bali telah memiliki kurang lebih 90 anggota yang berasal dari seluruh wilayah di Bali dan luar Bali (Jawa). Anggota komunitas didominasi oleh perempuan dengan rentang usia mulai dari 25 tahun ke atas.

Untuk bergabung ke dalam komunitas ini, terdapat mekanisme yang wajib dipenuhi. Salah satunya kelengkapan administrasi berupa bukti diagnosis sebagai penyintas bipolar.

"Sistemnya kami riset dulu. Kami cari tahu orangnya beneran bipolar atau tidak. Syaratnya harus ada surat diagnosis dokter," ujar Krisna.

Selain itu, individu yang ingin bergabung pada komunitas ini juga harus melakukan asesmen tertentu guna memverifikasi kebenaran dari gangguan mental yang diderita. Sebagai ketua komunitas, Krisna mengaku waswas dengan kemungkinan penyalahgunaan mental isu bipolar sebagai kedok untuk mendapatkan privilege.

"Kami perlu kritis juga dalam menilai orang yang mau masuk, karena di lapangan banyak orang yang ingin menjadi bipolar, kayak bipolar dipakai sebagai excuse (dalih)," jelasnya.

Program Komunitas

Kegiatan Perayaan Hari Bipolar Sedunia bertema Healing With Colour pada, Sabtu (30/3/2024) (Istimewa/Gede Krisna Juliartha Putra)
Komunitas Bipolar Bali memiliki dua program yang rutin dilakukan setiap tahunnya oleh para anggota. Kegiatan tersebut meliputi support group dan seminar umum. Mereka dipertemukan untuk saling berbagi dan belajar terkait kesehatan mental, terkhusus pada permasalahan bipolar.

"Bisa dibilang treatment yang cocok untuk para penyintas itu adalah produktif dan jangan sampai dia sendirian," ucap Krisna.

Kegiatan ini dilakukan dengan mengumpulkan para penyintas bipolar di komunitas untuk bertemu, saling bercerita, berkeluh kesah, dan berbagi insight baru terkait bipolar. Biasanya kegiatan ini dilakukan satu bulan sekali dengan membawa topik atau isu menarik seputar bipolar untuk kemudian dibahas dan diberikan edukasi

Membahas masa lalu.

Topik yang dibahas seperti tekanan pekerjaan, keluarga, hingga masa lalu. Dalam hal ini, penyintas bipolar yang sudah pernah mengalami dan berhasil melewati problem tersebut akan menjadi narasumbernya.

"Kami akan memperbaiki stigmanya bahwa bipolar itu adalah penyakit mental dan kami semua harus aware sama hal itu," tegas Krisna.

Kegiatan seminar umum dilakukan setiap satu bulan sekali dengan peserta yang berasal dari penyintas bipolar di dalam komunitas. Pada seminar ini, akan terdapat narasumber yang memberikan edukasi sesuai dengan topik yang dibahas.

Krisna juga sempat menjadi narasumber pada seminar umum yang diselenggarakan tahun lalu dengan topik pola diet bagi penyintas bipolar. "Karena penyintas itu katanya banyak yang berat badannya naik dan menitikberatkan bahwa obat adalah penyebabnya," jelasnya.

Mengingat bahwa kegiatan bersifat sosial dan dalam komunitas, Krisna mengatakan tidak terdapat bayaran khusus bagi narasumber. Meski demikian, komunitas ini tetap memiliki dana operasional yang bersumber dari donasi pihak pengurus, anggota internal komunitas, sisa-sisa sebuah acara hingga sponsor. Dana ini dialokasikan untuk berbagai kegiatan yang direncanakan bersama.

Lebih Optimistis Menjalani Hidup

Ketua Yayasan Pulih Bipolar Bali Gede Krisna Juliartha Putra ketika diwawancarai detikBali pada Kamis (20/6/2024). (Ni Wayan Santi Ariani)
Dalam pengamatan Krisna, berbagai kegiatan yang sudah berjalan dalam komunitas ini sedikit banyaknya sudah menghasilkan perubahan baik bagi penyintas bipolar. Pria berbadan kekar tersebut dengan semringah menceritakan beberapa anggotanya yang sudah lebih produktif dan optimistis dalam menjalani hidup.

"Dari yang awalnya aktif banget di komunitas untuk mengeluh sekarang udah jarang, tapi lebih ke pamer kesehariannya, sudah lebih positif," ujarnya.

Tidak hanya menyelenggarakan kegiatan edukasi dan sharing bagi anggota-anggotanya, komunitas ini juga memberikan pelayanan rawat inap gratis, pelatihan, konsultasi, asesmen, dan obat-obatan bagi anggotanya, terkhusus bagi yang memiliki keterbatasan anggaran. Pelayanan ini diberikan melalui kerja sama dengan komunitas Bali Bersama Bisa (BBB).

"Dari kami yang bipolar sudah ada satu (penyintas yang mendapatkan pelayanan rawat inap gratis)," sebut Krisna.

Kemudian terdapat p**a psikiater dan psikolog. Layanan psikiater tersedia dari pembina komunitas, sedangkan psikolog terdapat pada klinik kesehatan mental yang telah bekerja sama dengan komunitas ini.

"Kalau memang mereka ada kesulitan untuk konsultasi nanti kami arahkan, karena kadang mereka merasa bingung dan malu untuk periksa," ujarnya.

Perayaan Hari Kesehatan Mental Sedunia pada, Minggu (15/10/2023). (Istimewa/Gede Krisna Juliartha Putra)

Beragam Cara Memulihkan Kesehatan Mental demi Mencegah Ulah Pati
Krisna menyatakan Komunitas Bipolar Bali sudah sempat melakukan kolaborasi beberapa kali dengan berbagai pihak. Seperti komunitas Bali Bersama Bisa (BBB), Bali Mental Health Clinic (BMHC), Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Simpul Bali (KPSI Simpul Bali), serta Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali.

Kerja sama dilakukan guna memberikan bantuan berupa pengobatan gratis kepada penyintas yang berasal dari internal komunitas. "Untuk para penyintas untuk pengobatan gratis, kayak ada harapan untuk kalian," ujarnya.

Kolaborasi dengan dinas kesehatan dilakukan baru-baru ini yakni pada awal 2024. Kolaborasi dilakukan pada perayaan World Mental Health dengan melakukan kampanye dan edukasi terkait pentingnya ada perhatian khusus terhadap isu kesehatan mental di Bali.

Bagi Krisna, penderita kesehatan mental bukanlah seorang pecundang, melainkan hanya orang-orang yang membutuhkan bantuan orang lain sebagai pendengar untuk mendengarkan keluh kesahnya.

"Depresi itu seperti kita di dalam gua, tidak ada ujung, hanya gelap, nggak bisa melihat tangan sendiri, yang ada cuma keputusan saja. Kita perlu seseorang yang bisa mendengarkan kita," ucapnya.

Krisna menekankan menjadi pendengar yang baik adalah hal langka yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Kebiasaan merespons sesuatu dengan cepat yang sudah dilatih sejak dahulu menjadikan orang terbiasa untuk membandingkan diri, bukannya hanya mendengarkan tanpa men-judge.

Artikel ini ditulis oleh Ni Wayan Santi Ariani peserta Program Magang Bersertifikat Kampus Merdeka di detikcom.

(nor/hsa)
bunuh diri
kesehatan mental
bunuh diri di bali
bipolar
komunitas bipolar bali

Sumber berita:

Di Bali, ada sebuah Komunitas Bipolar Bali. Komunitas yang telah memiliki kurang lebih 90 anggota ini berperan agar anggotanya tidak merasa kesepian.

21/03/2024

Serba-serbi Hari Down Syndrome Sedunia 21 Maret, Sejarah hingga Cara Merayakan.

Pada 21 Maret diperingati Hari Down Syndrome Sedunia setiap tahunnya. Peringatan ini tidak hanya menjadi momen untuk merayakan keunikan individu dengan Down Syndrome, tetapi juga untuk menyuarakan dukungan, inklusi, dan kesempatan yang setara bagi semua orang.

Di balik pemilihan tanggal 21 Maret, ternyata ada makna khusus dan berarti. Berikut serba-serbi Hari Down Syndrome, sejarah dan cara memperingatinya.

Apa Itu Down Syndrome?

Mengutip dari Healthline, Down Syndrome merupakan suatu kondisi apabila seorang anak lahir dengan salinan ekstra kromosom ke-21. Hal ini juga dikenal dengan nama trisomi 21. Keadaan tersebut menyebabkan keterlambatan perkembangan fisik dan mental serta disabilitas.

Tidak sedikit anak dengan gangguan ini mengalami kecacatan seumur hidup, bahkan harapan hidupnya pendek. Akan tetapi, adanya kemajuan medis dan pemahaman lebih baik tentang Down Syndrome membuat peningkatan kualitas hidup anak menjadi lebih baik.

Sejarah Hari Peringatan Down Syndrome Sedunia

Melansir dariworlddownsyndromeday.org, Hari Down Syndrome Sedunia (WDSD) merupakan hari kesadaran global yang secara resmi diperingati oleh PBB sejak 2012.

ADVERTISEMENT

Tanggal peringatan WDSD, yaitu 21 Maret dipilih karena melambangkan ciri penyebab Down Syndrome. Hari ke-21 di bulan ke-3 dipilih karena menandakan keunikan triplikasi (trisomi) kromosom ke-21 yang menyebabkan Down Syndrome.

Pada Desember 2011, Majelis Umum PBB mendeklarasikan 21 Maret sebagai Hari Down Syndrome Sedunia. Akhirnya, pada 2012 PBB memutuskan akan adanya peringatan Hari Down Syndrome Sedunia pada 21 Maret setiap tahunnya. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat akan Down Syndrome.

Cara Memperingati Hari Down Syndrome Sedunia

Peringatan Hari Down Syndrome Sedunia dirayakan secara tahunan tiap 21 Maret. Sebagai bentuk peringatan, kita bisa menunjukkan dukungan dan menyebarkan kesadaran tentang Down Syndrome melalui beberapa cara. Berikut ini adalah beberapa cara memperingati Hari Down Syndrome Sedunia yang dilansir dari laman Perpustakaan Universitas Brawijaya.

1. Pidato atau acara resmi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang Down Syndrome dan mendukung orang dengan Down Syndrome.

2. Menyelenggarakan pameran foto atau presentasi mengenai kehid**an orang dengan Down Syndrome sebagai bentuk edukasi.

3. Pelatihan dan seminar tentang pendidikan dan pekerjaan orang dengan Down Syndrome.

4. Membuat video atau unggahan mengenai kesuksesan dan kehid**an seorang Down Syndrome.

5. Mengajak orang untuk menggunakan pakaian nuansa biru dan kuning atau item lain sebagai simbol dukungan terhadap Down Syndrome.

6. Menyelenggarakan acara amal untuk mengumpulkan dana untuk organisasi yang membantu orang dengan Down Syndrome.

7. Berpartisipasi dalam kegiatan yang mendukung orang dengan Down Syndrome, dengan mengunjungi pusat rehabilitasi, atau melibatkan diri dalam aktivitas sosial.

8. Membuat kampanye sosial media untuk meningkatkan kesadaran tentang Down Syndrome dan mendorong dukungan untuk orang-orang dengan kondisi tersebut.

Nah, itulah informasi mengenai Hari Down Syndrome Sedunia. Semoga bermanfaat!

Artikel ini ditulis oleh Zheerlin Larantika Djati Kusuma, peserta Magang Bersertifikat Kampus Merdeka di detikcom.

(nor/nor)

Sumber Berita:
https://www.detik.com/bali/berita/d-7251891/serba-serbi-hari-down-syndrome-sedunia-21-maret-sejarah-hingga-cara-merayakan

06/03/2024

Megah, Pura di Klungkung Dilengkapi Lift demi Permudah Umat Sembahyang

Klungkung -

Pembangunan Pura Penataran Agung Catur Parahyangan Ratu Pasek Linggih Ida Betara Mpu Ghana di Dusun Punduk Dawa, Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, rampung. Pura yang diempon Semeton Pasek ini dibangun secara bertahap sejak 2016 dan kini sudah dilaksanakan upacara pemelaspasan.

Pura Penataran Agung Catur Parahyangan Ratu Pasek Linggih Ida Betara Mpu Ghana dibangun di atas perbukitan. Pura nampak megah dengan batu padas yang nampak tertata apik dan ukiran ornamen Bali. Pura ini memiliki lift lima lantai dari bawah hingga madya mandala pura.

Pantauan detikBali, Senin (4/3/2024) umat Hindu dari seluruh Bali, khususnya warga Pasek, berdatangan ke Pura Penataran Agung Catur Parahyangan Ratu Pasek Linggih Ida Betara Mpu Ghana untuk bersembahyang di Hari Pemacekan Agung. Pemedek (umat) yang bersembahyang sebagian besar menaiki tangga yang ada di sisi kanan pura.

Lift yang ada di Pura Penataran Agung Catur Parahyangan Ratu Pasek Linggih Ida Betara Mpu Ghana sebenarnya diperuntukkan bagi pemedek lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, dan sulinggih. Namun, pemedek lain juga banyak menggunakan fasilitas lift lima lantai ini.

Foto: Lift di Pura Penataran Agung Catur Parahyangan Ratu Pasek Linggih Ida Betara Mpu Ghana di Dusun Punduk Dawa, Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Klungkung. (Putu Krista/detikBali)

Umat Hindu yang akan melaksanakan persembahyangan Pemacekan Agung di Pura Penataran Agung Catur Parahyangan Ratu Pasek Linggih Ida Betara Mpu Ghana sudah berdatangan sejak pagi. Pemacekan Agung merupakan salah satu rentetan Hari Raya Galungan dan Kuningan yang dirayakan setiap enam bulan atau 210 hari sekali. Pemacekan Agung dirayakan lima hari setelah Hari Raya Galungan.

ADVERTISEMENT

Panitia upacara Pandu Prapanca Lagosa mengatakan pembangunan pura di tempat ketinggian ini sudah dirancang sejak lama untuk memfasilitasi umat Hindu, khususnya semeton Pasek, sesuai petunjuk penglingsir sabha pandita (sulinggih). Namun karena harus berjalan di tangga yang terjal, pengurus pura kemudian membuat lift yang sekeliling bangunan dari lantai satu sampai lantai empat berisi tempat penunjang kebudayaan dan ruang peristirahatan bagi sulinggih ataupun pemangku.

"Kapasitas lift bisa memuat 20 orang, baik naik maupun turun. Semua bisa pakai, tapi kami harapkan bagi yang masih kuat berjalan bisa lewat tangga sehingga lift bisa mempermudah akses para pemangku, sulinggih, dan membantu pemedek yang kondisi kekurangan (disabilitas)," kata Pandu kepada detikBali, Senin (4/3/2024).

Pandu mengungkapkan ruangan-ruangan yang ada di bawah pura yang bisa dilalui dari pintu masuk lift digunakan untuk sarana anak-anak, pemuda, dan umat untuk berkegiatan budaya dan beristirahat selama proses persembahyangan dilaksanakan. "Saat antrian panjang, bisa gunakan tempat tersebut, saat ini proses finishing," imbuhnya.

Pandu menjelaskan proses persembahyangan pada pujawali kali ini di Pura Ratu Pasek dilaksanakan mulai Senin (4/3/2024) sampai Kamis (7/3/2024). Upacara dipersingkat karena berikutnya adalah Hari Raya Kuningan dan berbarengan dengan perayaan Nyepi. "Kami imbau kepada umat yang ada agar memilih waktu dari hari ini sampai nyineb Kamis pada Pujawali," pintanya.

Diketahui, pujawali di Pura Penataran Agung Catur Parahyangan Ratu Pasek Linggih Ida Betara Mpu Ghana dipuput oleh tiga belas orang sulinggih untuk di Pura Penataran, pelinggih utama, dan pesimpangan Dalem Ped.

(hsa/gsp)

Sumber Berita:
https://www.detik.com/bali/budaya/d-7224813/megah-pura-di-klungkung-dilengkapi-lift-demi-permudah-umat-sembahyang

01/03/2023

[:in]Sekilas Sejarah Kursi Roda[:]PLD UB
[:in]oleh: Mary Bellis
Sebenarnya tidak begitu pasti rupa kursi roda pertama, atau siapa yang menemukannya. Kursi roda yang diketahui dalam sejarah pertama kali (ditemukan pada 1595 dan disebut “kursi cacat”) dibuat untuk Phillip II. Tidak diketahui siapa penemunya. Pada 1655, Stephen Farfler, seorang pembuat jam yang mengalami kelumpuhan pada bagian bawah tubuhnya, membuat kursi roda yang dapat terdorong sendiri dengan rangka yang ditopang tiga roda.

Kursi Roda Bath

Pada 1783, John Dawson dari Bath, Inggris, menemukan kursi roda yang diberi nama dengan nama daerah ia berasal, Bath.

Dawson mendesain kursi dilengkapi dua roda besar dan satu roda kecil. Kursi roda Bath laku terjual melebihi kursi roda lain selama awal abad kesembilan belas.

Akhir 1800-an

Bagaimana pun, kursi roda Bath tidak cukup nyaman dan selama paruh terakhir abad 19 banyak pengembangan pada kursi roda. Sebuah paten kursi roda pada 1869 menunjukkan model pertama dengan pegangan pendorong di bagian belakang dan pengail kecil di bagian depan. Pada 1867 hingga 1879, antarpara penemu kursi roda menambahkan karet ban seperti karet pada roda sepeda pancal. Pada 1881, pendorong roda yang dapat digerakkan dengan tangan pengendara ditemukan.

1900an

Pada 1900, ruji roda pertama kali digunakan untuk kursi roda. Pada 1916, kursi roda bermotor atau terlengkapi mesin dibuat di London.

Kursi Roda Lipat

Pada 1932, seorang insinyur, Harry Jennings, membuat kursi roda lipat pertama, dengan bahan p**a baja. Model ini merupakan model kursi roda yang lumrah kita lihat dan gunakan di zaman modern ini.

Kursi roda lipat ini dibuat untuk teman Jennings yang lumpuh bernama Herbert Everest. Bersama-sama mereka mendirikan Everest & Jennings, sebuah perusahaan yang menguasai pasar kursi roda selama bertahun-tahun. Antitrust Suit (undang-undang yang menentang penggabungan industri-industri) sebenarnya digunakan untuk melawan dominasi Everest & Jennings oleh Department of Justice, yang akhirnya menetapkan standar harga kursi roda.

Kursi Roda Elektrik

Kursi roda pertama dapat digerakan sendiri oleh penggunanya. Tentu jika si pengguna tidak dapat melakukan itu, maka orang lain harus mendorongnya dari belakang. Kursi roda elektrik adalah model di mana mesin kecil dapat mengatur gerak dan putarannya. Usaha untuk menciptakan kursi roda elektrik ini dimulai sejak 1916, meskipun tidak ada produksi komersil yang berhail pada saat itu.

Kursi roda elektrik pertama ditemukan oleh penemu Kanada, George Klein dan temannya sesame insinyur ketika bekerja untuk National Research Council of Canada dalam program yang dimaksud untuk membantu para veteran yang terluka karena Perang Dunia Kedua. Pada saat yang sama, George Klein juga menciptakan microsurgical staple gun.

Everest & Jennings, perusahaan yang juga membuat kursi roda lipat, melakukan produksi massal terhadap kursi roda elektrik sejak 1956.

Kontrol Pikiran

John Donoghue dan Braingate menciptakan teknologi kursi roda yang dimaksudkan untuk orang degan keterbatasan bergerak.

Alat BrainGate ini ditanamkan pada otak orang tersebut dan dihubungkan ke komputer yang dapat menerima pesan mental pengguna sehingga kursi roda dapat bergerak sesuai apa yang ia inginkan. Teknologi baru ini disebut BCI atau brain-computer interface.

Diterbitkan di https://www.thoughtco.com/history-of-the-wheelchair-1992670 dan diterjemahkan oleh Mahalli.[:]

Email:

https://pld.ub.ac.id/indonesia-sekilas-sejarah-kursi-roda/

Perayaan Hari Kursi Roda Internasional - SEIDESeide.id – Kursi roda pada umumnya merupakan sebuah alat bantu bagi seseor...
01/03/2023

Perayaan Hari Kursi Roda Internasional - SEIDE

Seide.id – Kursi roda pada umumnya merupakan sebuah alat bantu bagi seseorang yang memiliki kesulitan untuk berjalan.

Sejarah mencatat konsep kursi roda yang paling awal yakni ditemukannya prasasti berisi furnitur beroda di Cina pada abad ke-6 M.

Perkembangan teknologi membuat orang Eropa menciptakan desain serupa menjelang tahun 1600an M.

Pada masa itu, pembuatan kursi roda diperuntukkan bagi Raja Philip II.

Hari Kursi Roda Internasional

Mengingat guna kursi roda yang sangat bermanfaat bagi banyak orang, seorang warga Inggris bernama Steve Wilkinson berinisiatif untuk memperingati Hari Kursi Roda Internasional.

Steve Wilkinson dikenal dengan sebutan “Wheelchair Steve” atau “Steve si kursi roda”.

Steve sendiri sudah 20 tahun fokus memperjuangkan niat mulianya agar dunia lebih aksesibel bagi para penyandang disabilitas.

Steve lebih lanjut menjelaskan walaupun di Inggri sudah ada peraturan yang mengatur tentang disabilitas tetapi masih banyak pemilik usaha yang mengabaikan kewajiban mereka untuk menyingkirkan penghalang fisik.

UU pertama yang berlaku yakni pada tahun 2004 yang dimana memuat Peraturan Diskriminasi terhadap Kaum Difabel.

Peraturan tersebut dilengkapi dengan Peraturan Penyetaraan.

Steve memilih tanggal 1 Maret sebagai Hari Kursi Roda Internasional karena merupakan hari ulang tahun ibunya.

Ibu Steve sangat membantu dalam menyadarkan Steve jika menjadi difabel bukan berarti sebuah halangan untuk memiliki kehid**an normal dan menebar manfaat bagi orang lain.

Pada tahun 2015, Steve menerima penghargaan dari SmartChair yakni perusahaan penyedia alat bantu mobilitas di AS sebagai salah satu dari “Tokoh Pengguna Kursi Roda Paling Inspiratif untuk Diikuti di Media Sosial,’ sebuah daftar yang kemudian mencantumkan Stephen Hawking.

Hari Kursi Roda Internasional telah dilakukan di Australia, Nepal, Senegal, Afrika Selatan, Bangladesh, Pakistan, Inggris dan AS usai disepakati pada tahun 2008.

Oleh: Khoirunnis Salamah
https://seide.id/perayaan-hari-kursi-roda-internasional/

Seide.id – Kursi roda pada umumnya merupakan sebuah alat bantu bagi seseorang yang memiliki kesulitan untuk berjalan. Sejarah mencatat konsep kursi roda yang paling awal [...]

Oleh MarjonoBoedi Oetomo, 114 tahun silam telah meletakkan tiga hal besar bagi kebangkitan nasional yakni memerdekakan c...
10/06/2022

Oleh MarjonoBoedi Oetomo, 114 tahun silam telah meletakkan tiga hal besar bagi kebangkitan nasional yakni memerdekakan cita-cita kemanusiaan, memajukan nusa dan bangsa, serta mewujudkan kehid**an bangsa yang terhormat dan bermartabat di mata dunia. Problema ratusan tahun silam pun kini rupanya masih juga masih menyembul, seperti kemiskinan, pengangguran, kesenjangan dan sebagainya.

Barangkali, soalan lama itu menganga akibat hantaman pandemi Covid-19 dan bencana di beberapa wilayah di negeri maupun dampak perang Rusia-Ukrania. Turut menyokong atas kusut dan kurusnya kesehatan, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, lingkungan hidup.

Kemurungan ini nampaknya berdampak pada perubahan sikap dan perilaku masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. Beberapa kelompok masyarakat terbelah mimpinya, terkoyak akan nasib dan masa depannya, termasuk kalangan disabilitas.

Kawan disabilitas yang tertimpa pemutusan hubungan kerja. Hal ini diperparah dengan ketiadaan skill lain bagi mereka untuk memasuki dunia baru atau tepatnya memulai tahapan baru, seperti tiba-tiba harus menjadi buruh di desa, berprofesi petani, peternak atau sekadar berdagang kecil-kecilan hanya untuk menutup kebutuhan subsisten, makan sehari dua.

Kepedihan menjalar, kelompok disabilitas yang semula punya usaha tiba-tiba ambruk, atau yang kebetulan terimbas virus pandemi menjadi bahan olokan, bully, penolakan bahkan terpaksa harus mengungsi di tanah sendiri. Terbitnya UU 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas telah mendorong dan menggerakkan pemangku kepentingan, terutama pemerintah sejak pusat hingga desa dalam memberdayakan kaum disabilitas.

Baru-baru ini di Jawa Tengah, munculnya gerakan bersama bagi para penyandang disabilitas melalui pendataan, perekaman dan penerbitan dokumen kependudukan guna membangun masyarakat inklusif layak kita apresiasi pemerintah sekaligus titik balik perhatian, kepedulian terhadap keberadaan kelompok disabitas. Karena melalui agenda strategis tersebut, para disabilitas bisa mendapatkan dokumen kewarganegaraan, yakni KTP-el maupun KIA (kartu identitas anak).

Pasal 53 regulasi tersebut mewajibkan perusahaan mempekerjakan tenaga kerja difabel sebanyak 1 persen dan bagi pemerintah, pemda, BUMN dan BUMD, sekurang-kurangnya 2 persen dari jumlah pekerja. Oleh karena itu, pemangku kepentingan perlu terus mendorong BUMD bahkan mungkin bisa diperluas ke sektor BUMDes untuk memberikan ruang bekerja bagi masyarakat difabel.

Terkait pemenuhan hak-hak masyarakat difabel ini tak sedikit Pemda selalu melibatkan komunitas difabel dalam perencanaan pembangunan daerah. Seperti di Pemprov Jateng, setiap pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dari mulai tingkatan paling bawah hingga tingkat provinsi selalu mengundang komunitas difabel untuk memberikan usulan, masukan dan ide dalam rangka membangun daerahnya.

Juga melibatkan mereka dalam penanganan penanggulangan bencana. Pelibatan dalam respon kemanusiaan, seperti pada pendataan awal longsor, dapur umum banjir, pendataan distribusi bantuan non pangan dan cash transfer, penanganan banjir bandang beberapa waktu lalu, serta pelibatan dalam berbagai kegiatan pelatihan dan perencanaan penanggulangan bencana. Kalangan difabel juga penting terus didorong untuk berprestasi melalui bidangnya.

Banyak rekan-rekan difabel yang berprestasi olahraga, seperti di ajang Paralimpic Games, PeSONas, Peparnas, pemerintah pusat hingga Pemda memberikan bantuan dana pembinaan yang memadai. Pada aras lain, terdapat sejumlah 40 penyandang disabilitas terdaftar sebagai calon legislatif di Pemilu 2019.

Banyak sekali kita jumpai kawan-kawan difabel yang sukses di berbagai bidang. Ada yang sukses menjadi pengusaha, pebisnis online, menjuarai olimpiade sains, berprestasi di bidang olah raga, ASN, politisi, dan lain-lain. Sebut saja F***y Evrita Rotua Ritonga, penyandang tuna daksa yang memiliki bisnis produk kecantikan; Angkie Yudistia, seorang sociopreuneur penyandang tuna rungu pendiri Thisable Enterprise (pusat pemberdayaan ekonomi kreatif bagi difabel) yang sukses menjalankan bisnisnya dan sekarang menjadi staf khusus Presiden.

Ada juga Habibie Afsyah yang sukses sebagai pebisnis online, atau Tarjono Slamet yang sukses menjadi produsen aneka mainan edukatif, dan masih banyak contoh lainnya. Mereka bahkan tidak hanya menghidupi diri dan keluarganya, tetapi memberikan kesempatan kerja bagi orang lain.

Yang perlu ditekankan, seorang wirausahawan harus bisa melihat kesempatan, mengubah ancaman menjadi peluang. Selain itu, juga berani mengambil risiko, tetapi risiko yang diperhitungkan, bukan berspekulasi.

Penulis, Kasubbag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng

Sumber Berita Ucnews

Momentum Kebangkitan Disabilitas - Bali Update

Address

Denpasar

Telephone

85220238220

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Komunitas Penyandang Disabilitas Bali - Kpdb posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram