28/03/2026
Mataram — Wacana pembongkaran bangku kuning di depan Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) memantik beragam reaksi dari masyarakat. Fasilitas sederhana itu dinilai bukan sekadar elemen penataan kawasan, melainkan memiliki fungsi sosial sebagai tempat beristirahat dan ruang singgah bagi warga.
Rama, seorang pengemudi ojek online, mengaku keberatan dengan rencana tersebut. Ia kerap memanfaatkan bangku itu untuk beristirahat di sela aktivitasnya.
“Untuk sekadar duduk di depan kantornya saja tidak boleh, rasanya rakyat kecil seperti najis yang tidak boleh dekat dengan istana ini,” ujarnya, Sabtu (28/3).
Menurut Rama, lokasi bangku tersebut cukup strategis karena berada di jalur yang ramai serta dekat dengan pos jaga Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemprov NTB, sehingga relatif aman. Ia menilai, jika ada kekhawatiran terkait penyalahgunaan, seharusnya tidak berujung pada pembongkaran.
“Kalau merasa terganggu, seharusnya ditegur saja, bukan dibongkar bangkunya. Kasih lampu biar terang supaya transparan siapa saja yang duduk di sana,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Yunita, warga Mataram. Ia melihat bangku kuning tersebut sebagai bagian dari ruang publik yang sederhana namun memiliki manfaat sosial bagi masyarakat.
“Kalau bicara penyalahgunaan, apa sih di negeri ini yang tidak disalahgunakan? Kadang anggaran saja bisa disalahgunakan,” katanya. “Seharusnya fungsi pengawasan yang diperkuat.”
Menurut Yunita, bangku tersebut kerap dimanfaatkan warga untuk bersantai bersama keluarga tanpa harus mengeluarkan biaya. Ia menilai langkah pembongkaran bukan solusi yang tepat, melainkan perlu diimbangi dengan peningkatan pengawasan dan pencahayaan.
Ia juga menyoroti ironi kebijakan tersebut. Di satu sisi, pemerintah mendorong pengembangan sektor pariwisata, namun di sisi lain ruang publik sederhana justru berpotensi dihilangkan.
Perdebatan ini mencerminkan isu yang lebih luas terkait pengelolaan ruang publik. Bagi sebagian warga, bangku kuning di depan Kantor Gubernur NTB bukan sekadar fasilitas, melainkan simbol ruang kota yang terbuka dan dapat diakses semua lapisan masyarakat.