25/04/2026
Kilas catatan dari Camat Camat OSIBA
ketika Suara dari Kaimana
Di bawah bayang-bayang kuasa Kolonial di Kaimana, Residen Fakfak, Tuan Eibrink Jansen, tak henti-hentinya menebar teror administratif. Ia terus mencecar saya dengan pertanyaan yang sama, menuntut mengapa saya tidak memasang mata-mata terhadap mereka yang berjiwa 'Merah-Putih' di Kaimana dan Arguni.
Namun, ia lupa satu hal mendasar: Saya adalah pelayan rakyat, bukan intelijen dari Pihak manapun saya adalah pelayan rakyat, seorang camat dari utusan pribumi, bekerja untuk rakyat, bukan untuk idiologi Kerajaan Belanda, Jepang atau Indonesia.
Prinsip Kemanusiaan di Atas Segelintir Loyalitas
Bagi saya, mereka bukan sekadar objek pengawasan; mereka orang Kaimana dan Arguni adalah darah dan daging saya sendiri. Bukan hak saya untuk membedah isi kepala mereka dan menghakimi identitas yang mereka peluk.
Apakah Anda pro-Indonesia?
Apakah Anda pro-Belanda?
Apakah Anda pro-Jepang, atau bahkan pengikut Iblis sekalipun?
Bagi saya, itu tak mengubah hakikat mereka sebagai manusia. Selama mereka menjaga harmoni dan menjauhi kriminalitas, mereka tetaplah rakyat saya yang sah. Saya menolak menjadi algojo ideologi bagi orang-orang yang bahkan tidak memiliki bukti kesalahan. Biarlah mekanisme negara yang kaku mengurusi paranoia mereka sendiri; saya memilih berdiri di sisi rakyat.
Gugatan terhadap Kemunafikan Kolonial
Puncak ketegangan terjadi saat Tuan Jansen menekan saya lebih jauh: "Mengapa Anda tidak memantau pergerakan RMS (Republik Maluku Selatan)?"
Saya menatapnya lurus dan bertanya dengan nada yang menggetarkan meja kekuasaannya:
"Yang Mulia Tuan Residen, izinkan saya bertanya balik: Apakah simbol-simbol RMS itu lahir dari rahim Kaimana, Fakfak, Biak, atau Jakarta? Tidak. Saya tahu pasti, semuanya diproduksi di Belanda! Jika tangan Belanda yang mencetaknya, maka sebenarnya Belanda jugalah yang menyulut api perpecahan ini."
Ultimatum untuk Tanah Papua
Jangan jadikan kami bidak dalam permainan catur global yang kotor. Jika Belanda terus bersiasat dan Indonesia terus menekan, janganlah menipu orang Papua dengan janji-janji palsu atau topeng kemerdekaan yang semu.
Akan jauh lebih jujur jika Belanda dan Indonesia bersekutu saja untuk memusnahkan kami semua. Habisi kami, ambil tanah kami, dan wujudkan rencana lama kalian yang telah terpendam berabad-abad: membiarkan rakyat Papua tergeser, hilang dari peta sejarah, dan terlupakan selamanya di bawah kaki kekuasaan kalian. catatan dari Arnold Mampioper Kepala Distrik di Kaimana