Cerita kisah nyata bikin nangis

Cerita kisah nyata bikin nangis Sebelum baca rate 5 star dulu ya jangan lupa . copy lalu paste kan di status kamu .
@[3323587337824

°Kisah Sedih Perempuan yang Diceraikan Suami karena Idap Penyakit Gagal Ginjal dan Leukimia°Namaku Nia (nama samaran). A...
21/12/2025

°Kisah Sedih Perempuan yang Diceraikan Suami karena Idap Penyakit Gagal Ginjal dan Leukimia°

Namaku Nia (nama samaran). Aku ibu dari seorang anak laki-laki yang kini berusia 39 tahun. Disini aku ingin berbagi pengalaman berjuang melawan dua penyakit kronis yang aku derita. Ya …. Sembilan tahun lalu aku divonis gagal ginjal dan leukimia. Vonis itu datang secara bersamaan.

Tahun 2008 adalah tahun yang paling bahagia sepanjang hidupku, karena aku dipersunting oleh laki-laki yang sangat aku cintai. Aku menikah di usia ke 28 tahun.

Layaknya pengantin baru pada umumnya, aku dan suamiku sangat bahagia karena Tuhan telah mempersatukan kami. Aku rela berpindah keyakinan demi menunjukan bahwa aku siap untuk hidup bersamanya.

Sudah dua tahun lebih kami menikah tapi Tuhan tak kunjung menitipkan bayi dalam rahimku. Suamiku sangat mendambakan kehadiran tangisan-tangisan bayi mungil dirumah kami. Itu salah satu alasan pernikahan kami sering sekali diwarnai pertengkaran. Bukan saja suami, bahkan mertua dan iparku juga turut menghujatku, mereka bilang aku mandul.

Hatiku seperti tersayat sembilu dengan perkataan mereka. Wanita mana yang tidak ingin segera memberikan keturunan untuk suaminya. Tapi, apalah dayaku jika Tuhan belum berkehendak. Bukankan tidak ada satupun makhluk yang bisa melawan takdirNya?.

Pekerjaan suamiku hanyalah supir angkot, kadang juga beralih sebagai tukang ojek. Sementara aku bekerja di salah satu perusahaan. Penghasilanku cukup besar dibandingkan suamiku. Kebetulan aku tinggal satu atap bersama mertua dan iparku dan akulah tulang punggung mereka. Bahkan aku tidak peduli dengan kesehatanku, pergi pagi p**ang malam aku lakukan demi mencukupi kebutuhan rumah tangga kami, serta mertua dan iparku.

Suatu hari kepalaku pusing sekali dan keluar darah dari hidung, hingga menyebabkan aku tak sadarkan diri. Aku buka mata perlahan ternyata aku sudah berada disebuah rumah sakit.

“Dok, apa yang terjadi dengan istriku?” Sayup-sayup terdengar olehku percakapan suami dan dokter yang menanganiku. Aku terbaring lemas di atas tempat tidur pasien.

“Istri bapak terkena gagal ginjal dan leukimia stadium 2. yang sabar ya pak,” Jawab seorang dokter dengan nada pelan.

Tangisku pecah. Aku membisu sesaat. Dunia seperti berhenti berputar dengan vonis itu. Rasanya aku ingin berlari menghindari kenyataan ini. Ingin aku bertemu Tuhan lalu bertanya, kenapa harus aku yang Kau uji dengan penyakit kronis seperti ini.

Semenjak vonis itu keadaan rumah tanggaku semakin tidak harmonis. Suamiku tidak bisa menerima keadaanku yang sudah sakit. Seringkali aku ingin bersandar dipundaknya, menceritakan rasa sakit yang sering menderaku. Tapi, suamiku begitu acuh dan tidak mau tahu. Hanya bentakan dan makian yang aku terima.

“Mas, kepalaku sakit sekali,” keluhku lemah.

“Sudahlah tidak usah terlalu banyak mengeluh, percaya ko sama dokter, semua orang pasti mati” ucap suamiku dengan nada sinis ketika aku sedikit saja mengadu dengan-nya.

Aku hanya bisa menangis. Aku merasa tidak ada yang peduli denganku di rumah ini. Padahal, sebagai seorang istri aku ingin dia memelukku, menenangkanku. Tapi, sepertinya semua itu hanyalah hayalan untukku.

Mana pernah suamiku mengasihaniku sebagai istri yang harus bekerja mati-matian meski dengan segala keterbatasan dan berjuang dengan rasa sakit yang kapan saja menghampiriku. Bagai seorang hamba sahaya di rumah orang tuanya ini.

Satu bulan berlalu setelah aku di vonis gagal ginjal dan leukimia, Tuhan menggantikannya dengan mengabulkan permintaanku yang selalu aku sematkan dalam doa disepertiga malamku. Dia menitipkan calon bayi di rahimku. Aku sangat bahagia. Aku berharap rumah tanggaku kembali harmonis. Aku tidak sabar untuk menyampaikan kabar bahagia ini kepada suamiku.

Air mataku mengalir dengan derasnya. Bagai mendengar suara gelegar petir di tengah hari terik, aku terkejut bukan main mendengar kata-kata dari ibu mertuaku. Bahwa anak yang ada dalam kandunganku bukanlah calon cucunya. Dia menuduhku berselingkuh dengan laki-laki lain. Pun dengan suamiku yang membenarkan apa yang ibu mertuaku ucapkan. Bagaimana bisa mereka memiliki pikiran sekejam itu?

“T-tidak!” Jeritku keras. Aku langsung berlutut kebawah kaki ibu mertuaku. Memohon agar ibu mertuaku tidak menuduhku sekejam itu.

Ketika usia kehamilan memasuki bulan ke-4, suamiku menceraikan dan mengusirku.

“Plakkkk….!” Sebuah tamparan mendarat ke p**i kananku.

“Mas, sakit,” aku berteriak saat tubuhku terlentang di kasur. Pinggangku rasanya mau patah. Perutku kontraksi begitu hebat.

“Ya Allah!” Teriakku lagi lebih kencang. Perih, sakit, p**iku rasanya panas. Bukan iba, suamiku malah terus memaki-maki dan berkata dia malu memiliki istri penyakitan sepertiku.

“M-mas, kamu benar menceraikanku?” Bibirku terbata-bata mengucapkan kata-kata itu”.

Bagaimana mungkin laki-laki yang aku puja, laki-laki yang amat sangat aku cintai, tega menceraikan-ku ketika aku sedang mengandung buah hati yang selama ini kami dambakan, hanya karena malu dengan kondisiku yang sudah sakit.

Tidak kah dia sedikit saja mengasihaniku serta janin yang sedang aku kandung. Dia malah mengusirku dan menceraikan ku.

Aku pergi dari rumah itu tanpa barang apapun. Hanya sehelai baju yang aku kenakan saat itu.

Rasa bingung menderaku. Hanya buliran air mata yang mewakili perasaanku saat itu. Kemana aku harus berlabuh, aku tidak mungkin p**ang ke rumah kedua orang tuaku, karena dulu aku pernah membangkang keluar dari keyakinan keluarga kami demi hidup bersama laki-laki yang sekarang mencampakan ku. Dalam suku kami jika seorang anak yang sudah keluar dari keyakinan maka akan sulit untuk diakui sebagai keluarga.

Akhirnya, aku menghubungi sahabatku. Aku menceritakan apa yang sedang aku alami saat itu. Hanya dia yang mengerti aku, dia menawarkan tempat tinggal untukku.

“Nia, ini kamar untukmu, anggap saja aku adalah saudaramu. Apapun kebutuhanmu bicarakan padaku, jangan sungkan,” kata perempuan cantik itu yang nampak begitu antusias sekali membantuku.

Rasa terima kasihku tidak bisa aku ucapkan dengan kata-kata. Aku bersyukur memiliki sahabat yang tulus dan begitu baik.

Tidak mudah menjalani kehamilan ketika aku sudah divonis gagal ginjal. Saat itu dokter belum menyarankan aku untuk rutin cuci darah. Dokter hanya memberikan suntikan agar kandunganku baik-baik saja. Sering sekali aku drop dan tidak terhitung berapa kali aku keluar masuk rumah sakit untuk di rawat. Enam kali cuci darah aku lakukan selama kehamilan. Belum lagi sel darah putih yang selalu naik membuat daya tahan tubuhku semakin lemah. Serta anemia yang mengharuskan aku selalu menjalani transfusi darah. Ada beberapa orang yang berbaik hati setia mendonorkan darahnya untukku sampai saat ini. Salah satu dari mereka adalah seorang anak yang ditinggalkan ayahnya karena leukimia.

Aku melahirkan seorang anak laki-laki secara normal dengan berat badan 3,8 dan panjang 52cm di kota Jakarta, ditemani oleh sahabatku. Seharusnya suamiku yang berada disampingku, seharusnya bayi mungil ini sedang tersenyum dipangkuan ayahnya, seharusnya hari ini adalah hari yang paling bahagia dalam rumah tangga kami. Tapi ternyata nasib baik belum berpihak kepadaku. Aku bertaruh nyawa melahirkan buah hatiku tanpa suami dan keluarga yang mendampingiku. Tapi, saat itu aku berjanji, aku tidak akan membiarkan anakku menderita meski tanpa ayahnya. Aku harus menunjukkan bahwa aku bisa merawat anakku meski dalam kondisi sakit.

“Kita berjuang sama-sama ya nak, bantu ibu untuk tetap kuat membesarkanmu dan mencurahkan kasih sayang ibu juga menjadi figur seorang bapak untuk-mu”, suara lirih aku bisikan dikupingnya.

Aku bersyukur Tuhan mempertemukan aku dengan seorang sahabat yang sangat peduli dengan keadaanku. Aku berusaha bangkit dan menjalani semua ini dengan iklhas dan sabar. Aku yakin ada rencana indah dibalik ujian yang Tuhan berikan.

Semenjak kelahiran putraku, hari-hari aku lalui dengan penuh semangat baru. Hati dan jiwa berbunga tiap detik yang terlewati. Matahari seakan bersinar hangat sepanjang hari.

Setelah usia anakku tiga bulan, aku memberanikan diri p**ang ke rumah orang tuaku. Meski dengan perasaan malu dan takut. Aku berharap mereka mau menerima aku serta anakku.

“Tok….tok,” aku mengetuk pintu rumahku

“Perempuan paruh baya itu membuka pintu,” Beliau adalah ibuku.

“Bu, maafkan aku”. Aku bersimpuh dikakinya.

Ibu memelukku, beliau ternyata sudah lama merindukanku. Karena semenjak aku menikah dan hidup bersama suamiku aku takut untuk p**ang. Ayah dan ibu sangat bahagia dengan kep**angan ku. Kehadiran putraku menambahkan kebahagian mereka. Cucu laki-laki yang selama ini mereka dambakan.

Kini sembilan tahun sudah aku menjalani cuci darah. Berjuang hidup dengan dua penyakit kronis yang bersarang di tubuhku. Tapi aku bersyukur dengan kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan dalam hidupku.

“Hadiah tak selalu terbungkus dengan indah, kadang Tuhan Yang Maha Baik membungkusnya dengan berbagai masalah,” aku percaya itu.

Kini aku memiliki malaikat penyemangat dalam hidupku. Seorang anak laki-laki yang tampan dan pintar. Aku beri nama ia Wisnu (nama samaran) yang kini sudah berusia delapan tahun. Meski kondisiku tidak menentu, aku harus kuat demi buah hatiku. Sekarang aku masih bekerja di salah satu perusahaan meski dengan segala keterbatasan.

Ini adalah kisah nyata dari kisah seorang pasien gagal ginjal. Demi kenyamanan, penulis sengaja menyamarkan nama pasien tersebut.

10/09/2021

Terbaru! Cerpen Cinta Segitiga "Penantian Yang Sia Sia"

Sudah penasaran seperti apa kisah cintanya? Yuk simak cerita pendek terbaru tentang cinta segi tiga berikut ini:

Di sebuah taman, duduklah dua orang sahabat yang sangat akrab. Mereka duduk di bangku dekat pohon yang cukup besar. Dari awal mereka duduk sampai sekarang, mereka masih saja membisu. Entah apa yang dipikirkan oleh dua sahabat ini. Tak lama kemudian, tiba-tiba…

“lo kejam banget sih cin! Jangan menggantungkan cintanya deddy gitu d**g…” gerutu ayana.
“ya mau gimana lagi ay, gue gak s**a dengannya. Mau dipaksakan bagaimana pun, tetap gak bisa” balas cindy.
“ya setidaknya lo kan bisa menjawab pernyataan cintanya. Entah itu di terima, atau di tolak. Kan kasihan dia kalau lo gantungin gitu” ucap ayana.
“hm, entah lah ay” singkat cindy.
“apa lo lupa dengan segala pengorbanan yang telah di lakukannya untuk lo?” lanjut ayana.
“nggak, gue ingat kok” jawab cindy dengan santai.
“terus kenapa lo masih menggantungkan cintanya? Apa mungkin semua ini karena heri, orang yang telah meninggalkan lo tanpa sebab…” tanya ayana.
“ayana, plis deh. Jangan bawa-bawa nama heri”
“tapi lo masih cinta kan dengan heri?” tanya ayana lagi.
“hm… Mungkin” balas cindy.
“aduh cin, ngapain sih lo masih mencintai heri? Dia itu udah ninggalin lo. Apa lo lupa?”
“walaupun begitu, gue masih mencintainya, ay… Gue akan terus menantikan kehadirannya kembali di dalam hidup gue”.
“ya udah lah ya, terserah lo aja! Gue nggak mau ngurus masalah ini lagi”
kata ayana dengan juteknya.
“emang, siapa yang suruh lo ngurusin masalah ini? Lagian, kok lo sih yang sewot kalau gue gantungin cintanya deddy? Jangan-jangan, lo s**a ya sama dia?” goda cindy.
“siapa bilang? Gue nggak s**a kok dengan deddy” balas ayana.

“terus?” lanjut cindy.
“ya gue kasihan aja dengan deddy. Coba cinta lo yang di gantungin dengan cowok? Apa lo mau?” ujar ayana.
“nggak sih. Terus mau lo, gue tuh harus gimana?” tanya cindy.
“jalani aja dulu hari-hari lo dengan deddy. Gue yakin, suatu saat, lo pasti bisa membuka hati lo untuknya” kata ayana memberi saran.
“hm, oke. Gue ikuti saran lo. Tapi kalau gue tetap nggak ada hati buat dia?” tanya cindy.
“nah, itu terserah lo deh. Yang penting, lo harus bilang yang sebenarnya, jangan lo gantungin lagi cintanya deddy” jawab ayana.
“baiklah, akan gue coba” ujar cindy.
Lalu, kedua sahabat itu p**ang ke rumahnya masing-masing.

Cindy dan ayana, mereka adalah sahabat yang sangat akrab. Mereka telah bersahabat sejak SMP, hingga SMA (sekarang). Tapi, beberapa hari yang lalu, seorang lelaki bernama deddy, yang sekaligus teman sekolah cindy dan ayana, menyatakan cintanya kepada cindy. Akan tetapi, cindy tidak menjawab pernyataan cinta dari deddy. Entah apa alasan cindy untuk tidak menjawabnya hingga sekarang. Atau mungkin, karena di hati cindy, masih terukir nama heri, mantannya dulu? Hm, hanya dia dan tuhan saja yang tahu alasannya.

4 bulan kemudian, cindy dan deddy terlihat semakin dekat. Hingga suatu hari, deddy mengajak cindy untuk dinner di sebuah restoran. Cindy pun menyetujui ajakan deddy.

Saat di restoran, mereka memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan datang, mereka pun saling berbincang. Tak berapa lama kemudian, pesanan pun datang. Sang pelayan mulai meletakkan makanan dan minuman yang di pesan oleh cindy dan deddy di atas meja, sebelum akhirnya sang pelayan itu kembali melayani pengunjung lainnya. Saat tengah menyantap makanan mereka, tiba-tiba deddy bertanya…
“cin, apakah sekarang kamu udah bisa memberikan jawaban tentang pernyataan cinta ku?”
“hm, kayaknya masih belum ded. Aku masih bingung tentang perasaan ini”.
“apakah cinta ku ini kurang meyakinkan mu?” tanya deddy.

Lalu dengan sengaja, cindy menumpahkan minuman ke bajunya sendiri.
“aduh, tumpah deh” kata cindy.
“duh, kamu ceroboh banget sih. Nih tisu buat bersihin baju kamu” kata deddy seraya memberikan sehelai tisu kepada cindy.
“makasih ded. Aku ke toilet dulu yah, mau bersihin baju ku” ucap cindy.
“iya” balas deddy.

Saat di toilet, cindy segera membasuh wajahnya dengan air keran. Kemudian, ia menatap ke arah cermin di hadapannya.

“duh, kok aku jadi deg-degan yah kalau berada di dekat deddy? Gak seperti biasanya. Atau jangan-jangan, aku mulai jatuh hati dengan deddy? Entah lah, hati ku menjadi semakin bimbang” kata cindy dalam hati.

Kemudian, cindy pun keluar dari toilet. Baru beberapa langkah cindy meninggalkan toilet, tiba-tiba saja dia menabrak seorang lelaki yang wajahnya sudah tak asing lagi bagi cindy.

“aduh, maaf, tadi aku jalannya sambil melamun” ucap cindy merasa bersalah.
“eh, nggak apa-apa kok” balas cowok tersebut.
“tunggu dulu, kamu… Heri kan?”
“iya, kamu cindy kan? Wah, udah lama banget kita tidak bertemu. Oh iya, sama siapa kamu disini?” tanya heri.
“anu, aku kesini sama…”
“pacar kamu yah?” kata heri memotong ucapan cindy.
“nggak kok. Aku kesini dengan teman” ujar cindy.
“oh, berarti kamu masih jomblo d**g?” tanya heri.
“iya” singkat cindy.
“wah, kalau gitu kita sama d**g. Aku juga jomblo. Berarti aku bisa d**g ngajak kamu jalan, besok?” jelas heri.
“kemana?” tanya cindy.
“ada deh, pokoknya tempatnya bagus banget. Mau ya?” pinta heri.
“iya deh, aku mau” balas cindy.
“azzeekkk.. Hm, nomor kamu masih yang lama kan?” tanya heri girang.
“iya, nomor ku masih yang lama” jelas cindy.
“oke deh, besok jam 7 malam aku jemput kamu ya” ujar heri.
“iya” balas cindy.
“see you tomorrow…” kata heri.

Kemudian, heri segera pergi meninggalkan cindy di depan toilet.

“kok saat bertemu dengan heri, perasaan ku biasa aja? Padahal seharusnya aku seneng d**g saat bertemu dengan dia, setelah sekian lama kami tak bertemu. Hm, apa mungkin aku sudah tidak mencintai dia lagi? Aaakkkhh… Perasaan ku makin kacau!” kata cindy membatin.

Lalu, cindy kembali menuju meja nya dan melanjutkan makan.

Keesokan harinya, heri datang ke rumah cindy untuk menjemputnya. Setelah berpamitan dengan orangtuanya, cindy lekas menaiki mobil heri dan segera melaju menuju tempat yang sudah di siapkan. Dan ternyata, tempat yang dituju adalah sebuah restoran yang memiliki fasilitas sangat romantis.

Saat di dalam restoran, cindy dan heri segera memesan makanan. Tak berapa lama kemudian, pesanan mereka pun datang dan siap untuk di santap. Saat mereka sedang makan, heri pun membuka pembicaraan…

“oh iya cin, kamu masih s**a ‘kan dengan ku?” tanya heri dengan yakin.
“hmm.. Aku…”
belum siap cindy menjawab pertanyaannya, tiba-tiba saja heri memotong ucapan cindy…

“kamu tahu cin, belakangan ini aku merasa sangat kesepian. Itu karena hidupku hampa tanpamu. Jujur, saat kita masih bersama dulu, aku juga telah memiliki pacar selain kamu. Namanya delima. Maksud ku melakukan itu, karena aku ingin memilih yang terbaik di antara kalian berdua. Dan akhirnya, aku lebih memilih delima dan berusaha untuk menjauh darimu. Akan tetapi, pilihan ku ternyata salah. Delima tak sebaik yang aku pikirkan. Dan ternyata, wanita yang terbaik adalah kamu. So, apakah kamu mau jadi pacarku lagi?” kata heri panjang lebar.

Tiba-tiba saja, cindy menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan.

“maaf her, aku sudah merasa nyaman dengan orang lain” ucap cindy sambil menangis.
“siapa orang itu, cin?”
“kamu gak perlu tahu, her. Intinya, cuma dia yang selalu di dekatku saat kamu pergi meninggalkan ku tanpa kabar”
“apa kamu tega dengan ku, cin? Apa kamu gak memikirkan perasaan ku yang masih menyayangimu?”
“seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! Apa kamu pernah memikirkan perasaan ku, saat kamu meninggalkan ku tiba-tiba? Apa kamu tega melihat perasaan ku yang kacau selama ini karena ulah mu?” kata cindy dengan nada tinggi.
“tapi cin….”
“sudahlah, aku sudah muak dengan keegoisan mu itu! Mulai sekarang, jangan pernah dekati aku lagi!” bentak cindy sambil pergi meninggalkan restoran tersebut.
“cindy! Tungguuu….” teriak heri.

Akan tetapi, cindy tidak menghiraukannya, dan terus berlari meninggalkan restoran itu. Di luar, cindy langsung menyetop sebuah taksi dan segera melaju menuju rumah ayana.

*tok tok tok…
“Permisi… Ayanaaa…” panggil cindy dari luar rumah ayana.
“Loh, cindy, ada apa?” tanya ayana yang telah membuka pintu.

Langsung saja cindy memeluk ayana dengan eratnya. Ayana pun heran dengan tingkah sahabatnya itu.

“ada apa, cin? Kok kamu datang kesini sambil nangis sih?”.
“heri, ay.. Heri…”
“ada apa dengan heri?” tanya ayana.
“dia tadi ngajak gue balikan lagi. Dan ternyata, alasannya dulu dia pergi meninggalkan ku tanpa kabar adalah karena ia lebih memilih selingkuhannya ketimbang gue” ucap cindy yang masih menangis di pelukan ayana.
“tuh kan, gue yakin, dia itu bukan cowok yang tepat buat lo. Terus, lo mau balikan dengannya?” tanya ayana.
“ya nggak lah. Dia udah tega menelantarkan gue demi selingkuhannya. Jelas itu membuat hati gue terpukul” jelas cindy.
“Ya udah, lo yang sabar ya…” kata ayana yang mencoba untuk menenangkan cindy.
“hiks.. hiks.. Iya ay…”
“yuk masuk, kita bicarakan semua di dalam” ajak ayana.
“iya” balas cindy.

Beberapa hari setelah kejadian itu, cindy dan deddy pun jadian. Mereka terlihat sangat bahagia. Ternyata, dari dulu cindy telah mengabaikan cinta yang tulus dari deddy. Malah lebih memilih menunggu heri yang telah menelantarkannya begitu saja. Dan akhirnya, penantian cindy akan kehadiran heri kembali ke dalam hidupnya menjadi sia-sia!

Jangan sampai kita menyia-nyiakan seseorang yang selalu ada buat kita, baik dalam keadaan susah maupun senang. Karena, hanya dia lah yang memiliki cinta dan kasih sayang yang tulus buat kita…

01/07/2020

Cerpen Sedih : Kasih Seorang Ibu, Masuk ,Baca, dan Renungkan.

Ada sebuah peristiwa yang terjadi pada sebuah desa kecil, suatu ketika ada seorang ibu yang penuh kasih pergi ke kota besar, setelah kembali ke rumah dirinya berubah total dari sebelumnya. Semula ibu ini sangat mengasihi puterinya, tak peduli seberapa larut pun anaknya p**ang rumah, dia akan menunggu untuk membuatkan makanan enak dan diantarkan ke hadapan anaknya.

Akan tetapi sejak p**ang dari kota besar, sang ibu berubah dan tidak mau lagi mengurus anaknya, biar pun anaknya p**ang sangat larut malam, sang ibu tidak pernah mengindahkannya, bahkan tidak memasak lagi di rumah. Ketika sang anak merasa lapar dan memberitahukan pada sang ibu, dia hanya menjawab dengan nada dingin: “Kamu sudah besar, apakah masih belum bisa masak sendiri?”

Dari itu, sang anak berpikir bahwa sang ibu tidak sayang padanya lagi, lalu timbul perasaan tidak senang dan benci pada sang ibu, dia mulai mencuci pakaian sendiri, menata kamar sendiri, saat lapar memasak sendiri, semua urusan harus dikerjakan sendiri, sebab biar pun dirinya merasa lelah, haus, lapar atau mengantuk, sang ibu tidak pernah memperdulikannya. Dalam hati dia beranggapan kalau sang ibu sudah tiada.

Tak seberapa lama kemudian, sang ibu pun meninggal dunia, selama selang waktu ini, sang anak sudah jauh hubungannya dengan sang ibu, bahkan bersikap dingin dan seakan bermusuhan, sehingga kematian ibunya tidak membawa dampak kesedihan sama sekali pada dirinya.

Selanjutnya ayahnya kimpoi kembali, setelah ibu tirinya tinggal di rumah mereka, dia merasa ibu tirinya sangat baik padanya, paling tidak masih menyisakan sedikit lauk dan nasi baginya, setelah lelah seharian tidak perlu memasak sendiri, jadi hubungan dengan ibu tirinya masih terhitung cukup harmonis.

Sang anak belajar dengan keras dan akhirnya berhasil dalam ujian masuk perguruan tinggi. Akan tetapi dikarenakan kondisi ekonomi keluarga tidak baik, maka dia tidak ada dana untuk membayar uang kuliah, ketika sedang diliputi kecemasan, ayahnya menyerahkan sebuah kotak kecil kepadanya dan memberitahukan kalau sebelum ibunya meninggal dunia ada berpesan agar pada saat menemui kondisi paling sulit, baru boleh menyerahkan kotak ini kepadanya.

Sang anak menerima kotak ini dari ayahnya, ketika dibuka ternyata di dalamnya ada setumpuk uang dengan selembar surat di sampingnya.

Dalam surat tersebut tertulis pesan ibunya:

Anakku, kali itu ketika ibu pergi ke kota, sebetulnya ibu pergi memeriksakan kesehatan tubuh, setelah dilakukan pemeriksaan, barulah ibu tahu kalau ibu terkena kanker dan sudah stadium akhir, saat itu ibu hampir-hampir tidak bisa berdiri lagi. Ibu bukan khawatir akan diri ibu, akan tetapi ibu khawatir akan dirimu. Ibu berpikir jika ibu sudah tiada, bagaimana dengan dirimu nanti? Kamu masih kecil, bagaimana kamu bisa melanjutkan hidup? Bagaimana menghadapi masa depanmu?

Dari itu, sep**angnya ibu ke rumah, ibu bersikap dingin kepadamu dan ingin kamu mengerjakan sendiri semuanya, juga tidak peduli lagi padamu agar kamu membenci ibu, dengan demikian sesudah ibu sudah tidak ada di dunia ini lagi nanti, kamu tidak akan diliputi dengan kesedihan.

Anakku, walau ibu tidak pernah bertanya padamu, namun di dalam hati ibu sebetulnya tetap mengkhawatirkan dirimu, setiap kali kamu p**ang larut malam, walau ibu tidak membuka pintu untuk melihat dirimu, namun ibu tetap menunggumu p**ang.

Ketika kamu p**ang dengan tubuh lelah dan perut lapar, ibu membiarkanmu masak sendiri, sebab ibu berharap sesudah ibu tiada nanti, kamu bisa menjaga diri. Dulu ibu mengerjakan semuanya untukmu, namun sesudah ibu tiada nanti, siapa lagi yang akan menjagamu? Segala sesuatu di kemudian hari harus bergantung pada dirimu sendiri.

Ibu berlaku buruk padamu, bahkan tidak memasakkan nasi untukmu dan semua pekerjaan harus kamu lakukan sendiri, maka dengan demikian ketika nanti ayahmu kimpoi kembali, kamu akan berpikir bahwa ibu baru akan lebih baik dari ibu, sehingga kalian akan dapat berhubungan dengan baik dan hari-harimu akan lebih mudah dilalui.

Dalam kotak ini ada uang 5000 dolar yang diberikan nenek kepada ibu, sebetulnya ini adalah uang berobat ibu, namun ibu tidak rela menggunakannya, ibu tinggalkan untukmu dengan harapan ketika nanti kamu masuk perguruan tinggi dan membutuhkan uang, kamu dapat menggunakannya. Sekarang, ibu meminta bantuan ayah untuk menyampaikannya kepadamu.

Air mata segera mengaburkan mata sang anak, juga mengaburkan sepasang mata kita yang membaca kisah ini, kasih ibu terhadap anak sungguh tanpa pamrih dan penuh akal budi, mana mungkin ada ibu yang tidak mengasihi anaknya?

Ketika dia harus menahan perhatian dan kasih dalam hatinya kepada anak, harus berusaha keras untuk memperlihatkan wajah dingin kepada anaknya, saya sungguh sulit membayangkan, betapa menderitanya perasaan ibu ketika itu, namun demi perkembangan anak yang lebih baik dan kehidupan anak yang lebih berbahagia di masa mendatang, ibu rela menerima segala kesedihan, bahkan tidak menyesal untuk membiarkan sang anak salah paham terhadapnya.

Namun apakah sebagai anak, kita mau memahami isi hati ibu?

Teringat pernah sekali, di dalam sebuah lift bertemu dengan seorang anak, ketika ibunya dengan sabar membimbingnya, anak ini terlihat tidak sabaran dan mengeluhkan kalau ibunya cerewet, bahkan marah-marah dan meminta ibunya agar tutup mulut. Ibunya juga marah, namun tetap menahan diri dengan terus meminum air mineral di tangannya, pada saat ini sang anak sama sekali tidak sadar akan betapa sedihnya hati ibunya.

Cinta kasih harus dirasakan dengan kesungguhan hati, ketika kita membantah ayah dan ibu kita, mengapa kita tidak menyadari kalau sepatah perkataan penuh emosi kita telah pun menyebabkan luka mendalam di dalam hati ayah dan ibu. Ketika ayah dan ibu sedang memberi bimbingan kepada kita, apakah kita dapat menyadari betapa besarnya hati kasih orangtua kepada anak? Atau kita menganggap ayah dan ibu tidak senang melihat kita dan selalu mencari masalah pada diri kita.

Ketika ibu memukul dan memarahi kita, apakah itu benar-benar disebabkan karena ibu tidak menyukai kita?

Pernah mendengar seorang ibu berkata demikian: Anak-anak tersayang, tidak semua ibu dapat berbuat seperti yang kalian harapkan, kalian semestinya mau mengerti akan tindakan ibu kalian dan jangan pernah menyalahkannya. Saya percaya, ibu kalian dan termasuk ayah kalian akan mencintai kalian selama-lamanya, tak peduli metode apa yang dipergunakan, mereka akan tetap berdiri di sisi kalian untuk selama-lamanya, tetap berharap kalian agar kalian cepat tumbuh dewasa dan nantinya dapat berbuat lebih banyak bagi negara dan masyarakat.

Benar sekali, ibu selalu mengasihi kita, mengapa kita masih saja meragukannya?

Apakah kita tahu kalau di mata ibu, kita selama-lamanya adalah anak-anak, biar pun kita telah berusia 80 tahun dan punya banyak anak cucu, ibu kita tetap mengkhawatirkan diri kita: apakah pakaian yang dikenakan sudah cukup hangat, apakah di malam hari tubuh ada ditutup selimut dengan baik, apakah ada makan kenyang, dan seterusnya.

Kasih ibu adalah sedemikian besar dan tanpa pamrih, bagaikan sumber air yang terus mengalir deras tanpa pernah berhenti. Akan tetapi, bilakah kita sebagai anak dapat benar-benar memahami akan isi hati ibu?

Pernah ada orang yang mengumpamakan kasih ibu bagaikan tanaman bunga di tepi jalan, tiada orang yang peduli, tiada orang yang merawat, tiada orang yang memberi perhatian, namun tak peduli dalam cuaca bertopan, hujan deras atau hawa dingin membeku, asalkan ada sedikit sinar mentari dan embun hujan, dia akan tetap tumbuh dan berbunga lebat.

Jangan lagi mengenyampingkan tali kasih ini, kasih ibu tiada pamrih dan kita perlu secepatnya memahaminya dengan sepenuh hati, merasakannya dengan sepenuh hati dan membalas budi luhurnya dengan sepenuh hati.

“Pohon ingin tetap tenang, namun angin terus berhembus; anak ingin berbakti, namun orangtua sudah tiada”, pastikan penyesalan seperti ini jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita ini. Kita harus tahu bahwa ketika kita membuka pintu rumah dan memanggil “Ibu”, masih ada orang orang yang menyahut adalah suatu hal yang sangat membahagiakan. Dari itu, marilah kita menghargai kasih sayang termurni dan paling sulit diperoleh di dunia ini, kita juga harus membalas budi luhur ibu dengan cinta kasih kita yang paling tulus.
Ane baru pertama buat thread terima kasih yang sudah mau cape2 membaca kisah ini semoga jadi bahan renungan bahwa Ibu adalah malaikat di dunia yang mengajarkan kita semua tentang kehidupan , semoga setelah baca thread ini agan2 dapat lebih menyangi ibu dan mencintainya dan menjaganya dengan sepenuh hati.

26/04/2020

Hari jadian paling menguras air mata, cowoknya meninggal dunia.

Bukan perkara mudah lho jika ditinggal orang yang kita cintai. Apalagi, jika perpisahan itu karena ajal menjemput pasangan kita. Perasaan inilah yang dirasakan Elga Mutrika (20).

Elga harus rela kehilangan kekasihnya Rangga Citra Prayoga (21) yang meninggal akibat sakit, 29 Maret lalu. Mereka sudah tiga tahun menjalin kasih.

Awalnya Yoga -begitu Elga biasa menyapa kekasihnya itu- didiagnosa menderita infeksi tulang dan radang sendi. Belakangan diketahui Yoga mengidap TBC tulang. Yoga juga sempat terkena demam berdarah dengue (DBD). "Sama sekali gak nyangka. Karena Yoga udah bener-bener kelihatan sehat dan emang mau p**ang. Tapi sempet drop. Gue ga tau kalau dia akan pergi selamanya," kata Elga yang baru bisa bercerita tentang kisah pahitnya.

Selama tiga bulan Yoga harus merasakan sakit. Dia beberapa kali harus masuk rumah sakit. Terakhir dia dirawat di RS Jakarta. Namun, penyakit yang dideritanya begitu cepat menjalar meskipun dia sudah empat kali menjalankan operasi.

"Penyakitnya benar-benar cepat banget. Kelihatannya dia sehat-sehat saja. Cuma dia sempat kena DBD. Setelah itu dia tidak bisa jalan lagi," tambahnya.

Setelah sekian lama merasakan sakit, akhirnya pada 29 Maret 2019, Yoga mengembuskan nafas terakhir. Elga yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama kakaknya Yoga, syok begitu dikabarkan sang kekasih telah pergi untuk selamanya.

Dia pun menangis meraung-raung karena tak menyangka Yoga akan pergi secepat itu. "Kakaknya dapat telepon pas gue lagi di jalan. Tiba-tiba kakaknya nangis. Pikiran gue sudah negatif. Lalu kakaknya bilang kalau Yoga meninggal. Di situ gue langsung nangis dan jerit-jeritan," cerita Elga.

Jenazah Yoga kemudian disemayamkan di rumah neneknya di daerah Depok, Jawa Barat. Dengan setia Elga selalu berada di samping jenazah Yoga. Dia tak dapat menahan isak tangisnya. Elga terus menangis di samping jenazah kekasihnya itu.

Elga sempat menyampaikan penyesalan terdalamnya.

26/10/2019

Perjalanann Hidup Anak Rantau

“pengalaman membuat kita mengerti tentang banyak hal. Mengerti akan arti hidup yang sesungguhnya dan berada jauh dari orangtua, merubah kita menjadi dewasa. Dewasa dalam berpikir, dewasa dalam bertingkah dan dewasa dalam mengambil keputusan”.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti, tak terasa 3 tahun sudah kulalui. Canda, tawa, susah dan senang datang silih berganti. Itulah seni dari kehidupan. Sekian lama aku bergumul bersama orang-orang asing di tempat yang asing p**a. Kesendirian, kesunyian dan kehampaan selalu kurasa dalam hidupku. Betapa sulitnya aku menyesuaikan diri di tempat yang asing ini. Tak ada saudara, tak ada keluarga, sahabat pun jarang. Dalam keadaan seperti ini, aku bingung, aku ragu dan aku bimbang dalam mengarungi kahidupan dan menjalani hidup ini sendiri. Dalam hati kecilku, aku bertanya-tanya, mampukah aku menjalani semua ini?

Kasih sayang kini tak lagi kurasakan dari kedua orangtua dan sanak saudaraku. Saat ini, aku dituntut untuk bisa mencari dan menemukan kasih sayang dari orang-orang asing ini. Tanpa kasih sayang dari keluarga aku harus bisa menentukan hidupku sendiri. Betapa sulitnya hidup ini. Hidup ini tak segampang seperti kita membalikkan telapak tangan. Dengan segala kesederhanaan, dengan segala kekurangan aku mulai menapaki hidup ini tanpa ditemani seorangpun. Ketika bersama orangtua dan sanak-saudaraku, walaupun sederhana tapi aku selalu santai dalam menjalani hidup. Tetapi kini kenyataan mulai berbalik. Bersama diriku sendiri, aku harus membuat segala sesuatu yang tak ada menjadi ada. Membuat segala sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.


Demi hidup dan masa depanku, aku harus rela meninggalkan kampung halaman, meninggalkan ayah-ibu dan sanak saudaraku. Demi sesuap nasi, aku harus tinggal di tanah orang. Tinggal dengan orang yang tak dikenal, dengan orang yang tak punya hubungan apapun, aku harus nunut hidup dengan mereka untuk bisa bertahan hidup. Ini adalah pengalaman pertamaku tinggal bersama dengan orang. Betapa sulitnya aku menghadapi semua ini, tetapi semua ini kulakukan demi hidupku.
Sekian lamanya aku terlarut dalam pikiranku. Aku terlena dengan kenyataan hidup seperti ini sehingga pada akhirnya aku lalai untuk merangkai dan merencanakan kehidupanku kedepannya.

Berteman sebuah laptop tua dan sebatang rok*k, aku coba merenungi dan merefleksi hidupku. Seketika, aku terbangun dan teringat akan kata-kata kuno yang sangat sederhana yang pernah kudengar dari seorang sahabatku. Katanya, “di dalam menjalani hidup ni, janganlah beban yang lebih besar daripada hidup, tetapi hidup ini yang harus lebih besar dari pada beban”.

Berpijak dari kata-kata ini, aku sadar dan mulai dengan kehidupanku yang baru. Perlahan-lahan aku mulai merubah arah hidupku dan mengejar semua ketertinggalanku. Setelah aku sendiri, baru aku sadari, ternyata hidup ini tidak terlalu sulit, apabila kita menikmati hidup apa adanya, menjalani hidup apa adanya, dan mensyukuri semua yang telah diberikan tuhan kepada kita. Interaksi yang baik dengan sesama, mencintai sesama, mencintai pekerjaan, ketekunan, kedisiplinan, kejujuran dan kesetiaan adalah kunci utama menuju pada hidup tenteram dan sejahtera.

Sekian

Address

Palembang, Sumatra Selatan
Palembang

Telephone

089611266044

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita kisah nyata bikin nangis posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share