29/09/2020
Judul tema di atas ditujukan untuk Petani desa dan atau kota sebagai suatu profesi untuk mangangkat harkat "Profesi Petani"(Agriculture Livelihood) pedesaaan. Karena apapun alasannya berprofesi sebagai Petani Pedesaaan (kota) (Rural Farmer Communities) sebagai "Jalan Hidup"(pekerjaan Utama) adalah sesuatu hal yang amat berat, enggan atau banyak tidak disukai karena identik dengan kerja keras di sawah, ladang, hutan, kerja buruh mangolah tanah, kotor dan gatal, tidak punya Lahan sendiri dan berpenghasilan jauh dari layak, kadang secara ekstrim dan praktis bahwa menjadi petani karena pilihan keterpaksaan karena faktor faktor di atas alternatif terakhir. Apalagi dimasyarakat kita faktanya adalah lebih banyak status petani penggarap yang bukan Pemilik Lahan , ketimbang petani Pemilik Lahan. Kalaupun petani Pemilik Lahan statusnya adalah Petani Gurem yang memiliki Lahan kutang dari 0,5 Ha. Hal ini tentu berdampak pada income ekonomi dan kesejahteraan kehidupan keluarga untuk bisa "menyesuaikan" dengan "tuntutan" kebutuhan sesuai "perkembangan" jaman. Sering disebut terminologi "petani Gurem" yang hidup bersahaja atau penuh kesederhanaan di desa - desa. Hal inilah yang menjadikan "generasi milenial" sangat enggan terjun ke profesi ini, pastilah profesi lain apapun DILUAR petani desa(kampung) yang kurang menjajikan sinerjitas akselerasi era industeri digital. Apakah sebuah peluang atau tantangan menuju "era industeri 4.0" bagi regenerasi profesi petani ? Padahal dari merekalah (Rural Farmer Communities) sebagai Agriculture Livelihood (farmer profession) merupakan motor penggerak atau penghasil "Sumber Bahan Pangan Pokok Utama"(Staples Food) maupun Sumber Bahan Pangan tambahan Sayur Mayur (vegetables/vegam) dan daging/ternak,(veterinary). Bahan Pangan yang dihasilkan inilah merupakan "kebutuhan dasar/utama" (basic needs) yaitu soal "Pangan"(food resilience) untuk seluruh umat manusia agar bertahan hidup yaitu membutuhkon kecukupan ketersediaan bahan pangan(security food system) untuk tantangan kedepan menuju era industeri 4.0 baik di kawasan nasional maupun global dimana saat ini jumlah penduduk global sekitar 6,7 milyar tahun 2020 sedang bertumbuh menuju ke jumlah 9,7 milyar tahun 2030.(UN.ORG , UN FAO, SDGs 2030).
Ulasan opini ini bukan suatu kekawatiran karena dampak era industeri 4.0 yang akan mendegradasi kwantitas(Sumber daya yang sangat marjinal) bahkan rentan(vulnerable) karena kurangnya suport atau dukungan insentif maupun terdegradasi secara kwalitas(rendahnya kapasitas untuk mampu mentransformasi dan berinovasi) dalam menghadapi tantangan perkembangan global (geopolitik dan geoekonomi) dan tak kalah penting tantangan perubahan iklim yang sangat ekstrim(climate change emergency/climate change issues) dan mereka harus siap adaptif(need an educative techical approach). Bagaimana agar kita mampu untuk mendukung dan mendorong meningkatkan kwalitas , kwantitas dan kapasitas masyarakat petani pedesaaan kususnya agar mereka juga terangkat ekonominya kesejahteraannya sehingga akan p**a mangangkat harkat dan martabat yang bisa dibanggakan untuk memilih profesi paling kurang diminati ini di negara besar yang sangat "agraris" yang selalu impor beras maupun sayuran dan daging(ternak). Semoga para pemangku kepentingan (stakeholders), pemerintah selaku regulator(kementrian pertanian), industeri dan swasta (supply chained key player), masyarakat petani desa(rural farmer communities) dan masyarakat luas(user) harus bisa bersinerjitas untuk sebuah komitmen bagi nilai tambah dalam arti luas bagi atribusi positif(tangible and intagible value/ekonomi dan harkat ) sehingga menjadi pilihan profesi yang menarik minat masyarakat luas. (Berseri dengan tema yang sama , berbeda issues). (RH.