IISA VISIWASKITA: Assessment, Consultancy & Research Centre

IISA VISIWASKITA: Assessment, Consultancy & Research Centre Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang terjadi alami keseharian. Namun bagi kami, tiada masalah yang tak terpecahkan untuk selamanya.

IISA Visi Waskita bergerak di bidang asesmen, riset, dan consulting masa depan berbasis multiple intelligences yang membantu individu dan institusi membaca perubahan, memahami potensi, dan menyusun road map strategis di tengah ketidakpastian zaman. Masalah mungkin justru menjadi sinyal dan peluang untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik dan lebih membahagiakan. Berangkat dan bersama Anda, kami berupaya membantu menemukan dan menentukan rute mana yang perlu ditempuh agar Anda tumbuh dalam pengetahuan, penalaran, dan pengomunikasian keyakinan, sikap, niatan dan tindakan terbaik dari diri Anda.

09/04/2026

๐๐š๐ค๐š๐ญ-๐›๐š๐ค๐š๐ญ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ฎ๐š๐ฉ

Pernahkah Anda menyadari bahwa sistem sosial kita saat ini lebih sibuk mencetak keseragaman daripada merawat keberagaman? Dari situlah tak terhitung bakat berubah menjadi asap yang hilang tanpa jejak.

Buku ๐‘ฑ๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐‘ท๐’–๐’๐’‚๐’๐’ˆ ๐‘ด๐’†๐’๐’–๐’‹๐’– ๐‘ฒ๐’†๐’‹๐’†๐’๐’Š๐’–๐’”๐’‚๐’ karya Edy Suhardono mendobrak pandangan tersebut. Buku ini mengingatkan kita semua bahwa kejeniusan bukan sekadar milik segelintir orang terpilih. Setiap anak adalah orkestra , dan dunia yang meminta ikan memanjat pohon adalah dunia yang gagal memahami tanggung jawab etis.

Seorang anak tidak perlu dilatih menjadi sosok orang lain, mereka hanya perlu difasilitasi secara tepat untuk menjadi dirinya sendiri.

Mari temukan potensi Anda, karena mengenal diri sendiri merupakan jalan pulang yang paling sejati dan juga hakiki selamanya.



Tertarik? Klik https://tk.tokopedia.com/ZSmkpNsJk/

๐‰๐ž๐›๐š๐ค๐š๐ง ๐€๐ฆ๐›๐ข๐ฌ๐ข ๐๐ž๐ซ๐ค๐ž๐๐จ๐ค ๐๐ž๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค๐š๐ง ๐€๐ง๐š๐คSaya kadang harus geli mengamati bagaimana janin modern yang telinganya dibombard...
07/04/2026

๐‰๐ž๐›๐š๐ค๐š๐ง ๐€๐ฆ๐›๐ข๐ฌ๐ข ๐๐ž๐ซ๐ค๐ž๐๐จ๐ค ๐๐ž๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค๐š๐ง ๐€๐ง๐š๐ค

Saya kadang harus geli mengamati bagaimana janin modern yang telinganya dibombardir sonata Mozart dari luar rahim. Mereka tidak dipersiapkan menjadi manusia, melainkan diindoktrinasi layaknya kuda sirkus demi melayani ego narsistik penciptanya. Sejak berbentuk embrio, anak malang ini dikomodifikasi murni sebagai aset derivatif dalam bursa saham masa depan.

Mari kita telanjangi berhala kognitif ini melalui jurnal ๐ผ๐‘›๐‘ก๐‘’๐‘™๐‘™๐‘–๐‘”๐‘’๐‘›๐‘๐‘’ tahun 2010 terbitan Jakob Pietschnig berjudul โ€œMozart Effectโ€. Riset itu menampar mitos stimulasi musikal karena kemiskinan bukti ilmiahnya. Sayangnya, para orangtua urban tetap memuja jadwal les semata karena menggigil melihat beringasnya taring kapitalisme lanjut.

Sosiolog Annette Lareau dalam ๐‘ˆ๐‘›๐‘’๐‘ž๐‘ข๐‘Ž๐‘™ ๐ถโ„Ž๐‘–๐‘™๐‘‘โ„Ž๐‘œ๐‘œ๐‘‘๐‘  tahun 2003 menguliti obsesi konyol ini sebagai jebakan pengembangan terencana. Saya lebih s**a menyebutnya dengan sebutan pabrik kognitif, tempat rumah dilucuti magisnya lalu disulap menjadi kandang gladiator akademik. Anak dipahat paksa menjadi pion penurut demi mengamankan kasta sosial orangtuanya.

Ritual kanibalisme intelektual ini lantas memproduksi kelelahan eksistensial yang mengerikan. Laporan Pew Research Center bertajuk "Parenting In America Today" tahun 2023 membongkar fakta bahwa 41 persen orangtua hangus terbakar oleh neraka ekspektasinya sendiri. Kita memutilasi kewarasan ruang bermain demi kemapanan ilusif, tanpa sadar sedang menggali kuburan kehangatan keluarga.

Kegilaan ini semakin telanjang bila kita menengok riset Michael Yogman dalam jurnal ๐‘ƒ๐‘’๐‘‘๐‘–๐‘Ž๐‘ก๐‘Ÿ๐‘–๐‘๐‘  berjudul "The Power Of Play" tahun 2018. Ia membuktikan telak bahwa manipulasi kognitif berlebihan justru sangat efektif menghancurkan ketahanan mental anak. Saya percaya bahwa resiliensi serta kebijaksanaan sejati mekar secara organik dari kebosanan, bukan dari rentetan medali artifisial.

Kini, sudah saatnya kita mengakhiri sandiwara konyol yang menjadikan darah daging sendiri sebagai tumbal untuk meredam rasa cemas akibat gaya hidup yang sungguh keliru. Berikanlah hamparan ruang kosong yang memadai supaya sanubari mereka berani memberontak lalu tumbuh merdeka, tanpa harus dicekik oleh algoritma penilaian industrial yang sangat menjemukan.

Di tengah panggung kehidupan yang makin banal ini, apakah kita sungguh akan terus menyalib masa kecil mereka secara biadab, semata demi menyelamatkan kemunafikan harga diri kita yang sejatinya sudah lama membusuk di dasar peradaban modern?



Selengkapnya baca

Pernahkah Anda membayangkan betapa absurdnya nasib seorang janin di era modern ini? Belum genap organ tubuhnya terbentuk sempurna, ia sudah dipaksa menjadi pendengar pasif dari dentingan sonata Mozart . . .

๐‘ซ๐’Š๐’“๐’†๐’Œ๐’”๐’Š ๐’…๐’‚๐’ ๐‘บ๐’•๐’‚๐’‡ ๐‘ฐ๐‘ฐ๐‘บ๐‘จ ๐‘จ๐’”๐’”๐’†๐’”๐’”๐’Ž๐’†๐’๐’• ๐‘ช๐’๐’๐’”๐’–๐’๐’•๐’‚๐’๐’„๐’š & ๐‘น๐’†๐’”๐’†๐’‚๐’“๐’„๐’‰ ๐‘ช๐’†๐’๐’•๐’“๐’† mengucapkan selamat merayakan Paskah kepada para klien da...
04/04/2026

๐‘ซ๐’Š๐’“๐’†๐’Œ๐’”๐’Š ๐’…๐’‚๐’ ๐‘บ๐’•๐’‚๐’‡ ๐‘ฐ๐‘ฐ๐‘บ๐‘จ ๐‘จ๐’”๐’”๐’†๐’”๐’”๐’Ž๐’†๐’๐’• ๐‘ช๐’๐’๐’”๐’–๐’๐’•๐’‚๐’๐’„๐’š & ๐‘น๐’†๐’”๐’†๐’‚๐’“๐’„๐’‰ ๐‘ช๐’†๐’๐’•๐’“๐’† mengucapkan selamat merayakan Paskah kepada para klien dan relasi terkasih. Semoga kebangkitan Yesus Kristus membawa harapan baru, s**acita, dan damai sejahtera yang menguatkan langkah kita bersama. Kiranya berkat-Nya senantiasa menyertai kehidupan serta karya yang kita jalankan.

๐‘ซ๐’Š๐’“๐’†๐’Œ๐’”๐’Š ๐’…๐’‚๐’ ๐‘บ๐’•๐’‚๐’‡ ๐‘ฐ๐‘ฐ๐‘บ๐‘จ ๐‘จ๐’”๐’”๐’†๐’”๐’”๐’Ž๐’†๐’๐’• ๐‘ช๐’๐’๐’”๐’–๐’๐’•๐’‚๐’๐’„๐’š & ๐‘น๐’†๐’”๐’†๐’‚๐’“๐’„๐’‰ ๐‘ช๐’†๐’๐’•๐’“๐’† menyampaikan penghormatan mendalam kepada klien serta rel...
03/04/2026

๐‘ซ๐’Š๐’“๐’†๐’Œ๐’”๐’Š ๐’…๐’‚๐’ ๐‘บ๐’•๐’‚๐’‡ ๐‘ฐ๐‘ฐ๐‘บ๐‘จ ๐‘จ๐’”๐’”๐’†๐’”๐’”๐’Ž๐’†๐’๐’• ๐‘ช๐’๐’๐’”๐’–๐’๐’•๐’‚๐’๐’„๐’š & ๐‘น๐’†๐’”๐’†๐’‚๐’“๐’„๐’‰ ๐‘ช๐’†๐’๐’•๐’“๐’† menyampaikan penghormatan mendalam kepada klien serta relasi yang merayakan Jumat Agung. Semoga peringatan wafat Yesus Kristus menuntun kita pada refleksi, pengharapan, dan kasih yang memperkuat langkah bersama. Damai dan berkat senantiasa menyertai perjalanan hidup serta karya kita.

๐’๐ฎ๐ง๐ฒ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ง๐ Saya menatap layar, dan layar menatap balik. Ironi ini mengingatkan saya pada mitos Narcissus: jatuh ci...
01/04/2026

๐’๐ฎ๐ง๐ฒ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ง๐ 

Saya menatap layar, dan layar menatap balik. Ironi ini mengingatkan saya pada mitos Narcissus: jatuh cinta pada pantulan diri, lalu tenggelam dalam genangan ilusi. Shoshana Zuboff dalam ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐ด๐‘”๐‘’ ๐‘œ๐‘“ ๐‘†๐‘ข๐‘Ÿ๐‘ฃ๐‘’๐‘–๐‘™๐‘™๐‘Ž๐‘›๐‘๐‘’ ๐ถ๐‘Ž๐‘๐‘–๐‘ก๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘š (2019) sudah mengingatkan, pengalaman manusia kini direduksi menjadi bahan mentah data perilaku. Apakah kita sadar sedang diternakkan?

Jonathan Haidt dalam ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐ด๐‘›๐‘ฅ๐‘–๐‘œ๐‘ข๐‘  ๐บ๐‘’๐‘›๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘› (2024) mencatat transisi dari masa kecil yang bermain di tanah lapang menuju masa kecil yang menatap piksel. Hasilnya: generasi yang cemas, depresif, dan terfragmentasi. Saya melihatnya setiap hariโ€”remaja yang lebih percaya notifikasi daripada nasihat orang tua. Bukankah ini tragedi yang lebih subtil daripada sekadar hoaks?

Oxford Internet Institute dalam riset ๐ต๐‘–๐‘Ž๐‘  ๐ด๐‘š๐‘๐‘™๐‘–๐‘“๐‘–๐‘๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘› ๐‘–๐‘› ๐ท๐‘–๐‘”๐‘–๐‘ก๐‘Ž๐‘™ ๐ธ๐‘โ„Ž๐‘œ ๐ถโ„Ž๐‘Ž๐‘š๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘  (2021) menunjukkan bagaimana algoritma memompa bias konfirmasi hingga batas kelahiran. Kita bukan lagi sekadar berbeda pendapat, melainkan hidup dalam semesta fakta yang berlainan. Balkanisasi epistemik ini membuat demokrasi kehilangan alun-alun rasionalnya. Apakah kita rela ruang publik berubah jadi labirin sunyi?

Gary Small dalam ๐‘–๐ต๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘–๐‘› (2008) meramalkan mutasi sirkuit saraf akibat rendaman digital. Saya melihat percabangan evolusi kognitif: antara mereka yang kesadarannya disetir mesin, dan mereka yang menumbuhkan imunitas kognitif. Literasi hari ini bukan lagi soal hafalan, melainkan kapasitas merebut kembali kedaulatan atensi. Apakah kita siap menunda vonis seketika dan memeluk ambiguitas?

Ekonomi perhatian menjadikan kemarahan dan kecemasan sebagai komoditas bernilai tertinggi. Konten negatif terbukti menyebar lebih buas, mencetak triliunan dolar. Ironisnya, kita marah bukan karena kebenaran, melainkan karena algoritma tahu titik lemah kita. Apakah kita masih manusia, atau sekadar kode digital yang diperah tanpa nyawa?

Di ujung hari, saya bertanya: bagian mana dari kemanusiaan yang masih tersisa murni, saat rindu, benci, dan rahasia kita telah direduksi menjadi barisan algoritma? Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi, melainkan alarm. Jika kita tak berani merebut kembali ruang hening, siapa yang akan menyalakan obor peradaban?

Selengkapnya baca https://geotimes.id/opini/labirin-sunyi-di-balik-layar/

Saban hari, kita menatap layar yang berpendar, mengusap linimasa Meta, atau membiarkan YouTube mengalirkan videonya. Di momen-momen itu, kita merasa menjadi kapten atas kapal kesadaran kita sendiri. Asumsi kolektif kita cukup naif: teknologi sekadar etalase netral, dan kitalah pemilih mutlaknya. Ilu

Segenap Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. ...
19/03/2026

Segenap Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Semoga hari kemenangan ini membawa kedamaian, kesejahteraan, dan berkah bagi kita semua. Mohon maaf lahir dan batin.

Segenap Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi, Tahun Baru S...
19/03/2026

Segenap Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1948. Semoga Catur Brata Penyepian membawa kedamaian dan pencerahan bagi kita semua. Rahajeng.

Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre

16/03/2026

๐’๐ญ๐จ๐ฉ ๐Œ๐ž๐ซ๐š๐ฌ๐š ๐๐จ๐๐จ๐ก!

Penasaran dengan isi buku di video ini? ๐Ÿ‘€ Buku "Jalan Pulang Menuju Kejeniusan" siap membongkar mitos IQ yang selama ini mengurung potensimu! ๐Ÿคฏ Temukan rahasia kecerdasan jamak dan temu-kenali kejeniusan dalam dirimu. Yuk, baca sekarang! ๐Ÿš€

๐ˆ๐ง๐ญ๐ž๐ฅ๐ž๐ค๐ญ๐ฎ๐š๐ฅ: ๐ˆ๐ง๐ฏ๐ž๐ฌ๐ญ๐š๐ฌ๐ข ๐๐š๐ง๐ ๐ฌ๐š ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐๐ซ๐จ๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ข?Menyekolahkan anak bangsa adalah investasi, namun memperlakukan mereka bak b...
24/02/2026

๐ˆ๐ง๐ญ๐ž๐ฅ๐ž๐ค๐ญ๐ฎ๐š๐ฅ: ๐ˆ๐ง๐ฏ๐ž๐ฌ๐ญ๐š๐ฌ๐ข ๐๐š๐ง๐ ๐ฌ๐š ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐๐ซ๐จ๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ข?

Menyekolahkan anak bangsa adalah investasi, namun memperlakukan mereka bak barang inventaris adalah tragedi kemanusiaan yang sunyi.

Saya kerap termenung melihat bagaimana narasi "balas budi" bergeser dari rasa syukur yang organik menjadi kewajiban yang mekanistik dan dingin. Apakah kita sedang memupuk tunas peradaban, atau sebenarnya sedang menyemai barisan aset yang hak miliknya telah berpindah tangan ke laci birokrasi?

Dalam ๐ธ๐‘ฅ๐‘โ„Ž๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘’ ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘ƒ๐‘œ๐‘ค๐‘’๐‘Ÿ ๐‘–๐‘› ๐‘†๐‘œ๐‘๐‘–๐‘Ž๐‘™ ๐ฟ๐‘–๐‘“๐‘’ (1964), Peter Blau membedah betapa ngerinya relasi kuasa ketika salah satu pihak merasa memiliki "utang" yang tak terukur.

Saat seorang sarjana pulang dengan kepala penuh mimpi namun kakinya dipasung kontrak kaku, ia berhenti menjadi subjek yang merdeka. Riset Marginson (2016) dalam ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐ท๐‘Ÿ๐‘’๐‘Ž๐‘š ๐ผ๐‘  ๐‘‚๐‘ฃ๐‘’๐‘Ÿ mengingatkan bahwa ambisi negara sering kali menelan kedaulatan individu, mengubah manusia menjadi sekadar instrumen pencapaian angka.

Kita merayakan keberhasilan mereka di podium, tapi abai pada sesak napas mereka saat dipaksa bekerja di ruang-ruang yang mematikan imajinasi. Investasi sejati seharusnya memberikan ruang bagi intelektual untuk menjadi oase, bukan sekadar menjadi baut kecil dalam mesin kekuasaan yang sering kali macet dan karatan.

Mengapa kita begitu ketakutan kehilangan kendali atas mereka, seolah-olah pengabdian hanya sah jika dilakukan di bawah ancaman denda dan sanksi administratif?

Sudah saatnya kita memanusiakan kembali kontrak-kontrak beasiswa dengan memberikan kepercayaan penuh pada integritas nurani setiap purna beasiswa.

Jika pendidikan gagal menumbuhkan kesadaran untuk berbagi tanpa dipaksa, bukankah itu berarti sistem pendidikan kita sendiri yang sebenarnya sedang mengalami kebangkrutan moral?

Masihkah kita sanggup menatap mata mereka dan menyebutnya sebagai "anak bangsa," jika di saat yang sama kita memperlakukan mereka layaknya properti yang bisa disita?

Selengkapnya: https://www.kompas.com/edu/read/2026/02/24/080255271/balas-budi-purna-beasiswa


Beasiswa seharusnya membuka jalan bagi kebebasan, bukan menutupnya dengan kewajiban yang timpang.

๐๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ ๐š๐๐š๐ข ๐Œ๐š๐ฌ๐š ๐ƒ๐ž๐ฉ๐š๐ง ๐€๐ง๐š๐คSaya sering terenyuh melihat orangtua menangis terharu, rela menggadai sertifikat ruma...
23/02/2026

๐๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ ๐š๐๐š๐ข ๐Œ๐š๐ฌ๐š ๐ƒ๐ž๐ฉ๐š๐ง ๐€๐ง๐š๐ค

Saya sering terenyuh melihat orangtua menangis terharu, rela menggadai sertifikat rumah demi menebus ijazah sarjana anaknya. Kita menabung mati-matian demi selembar tiket VIP Titanic, padahal es disrupsi sudah merobek lambung kapal. Inilah tragedi cinta buta, sebuah fetisisme jurusan yang rutin kita sembah dengan penuh kepasrahan.

Mengutip laporan ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐น๐‘ข๐‘ก๐‘ข๐‘Ÿ๐‘’ ๐‘œ๐‘“ ๐ฝ๐‘œ๐‘๐‘  ๐‘…๐‘’๐‘๐‘œ๐‘Ÿ๐‘ก 2023 dari World Economic Forum, daya resiliensi dan ๐‘Ÿ๐‘’๐‘ ๐‘˜๐‘–๐‘™๐‘™๐‘–๐‘›๐‘” kini jauh melampaui kemilau program studi. Jurusan favorit persis kereta kencana Cinderella; saat tengah malam, ia kembali menjadi labu di tengah brutalnya seleksi algoritma. Kasih kita justru kejam membelenggunya.

Dahulu, jas dokter diyakini sebagai jimat ajaib penolak kemiskinan. Kini, mengacu riset ๐บ๐‘™๐‘œ๐‘๐‘Ž๐‘™ ๐ธ๐‘š๐‘๐‘™๐‘œ๐‘ฆ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘ก ๐‘‡๐‘Ÿ๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘  ๐‘“๐‘œ๐‘Ÿ ๐‘Œ๐‘œ๐‘ข๐‘กโ„Ž 2020 terbitan ILO, lulusan unggulan pun tergagap menahan gempuran otomasi. Kita ngotot mencetak gladiator untuk arena Colosseum, padahal peperangan zaman ini murni bergejolak pada ruang senyap dunia maya.

Kekeliruan masal ini menyayat hati, mengingatkan saya pada mitos Sisifus yang dikutuk mendorong batu ke puncak. Generasi muda terus didikte menghafal teori usang, lalu tergelincir jatuh ke jurang pengangguran karena gagal membaca zaman. Tangisan batin mereka adalah harga sangat mahal dari tingginya ego keras kita.

Masa depan tidak pernah digambar menggunakan penggaris lurus, melainkan lewat kanvas surealis yang menuntut kelenturan akal. Jika riset OECD dalam ๐น๐‘ข๐‘ก๐‘ข๐‘Ÿ๐‘’ ๐‘œ๐‘“ ๐ธ๐‘‘๐‘ข๐‘๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘› ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘†๐‘˜๐‘–๐‘™๐‘™๐‘  2030 memuja inovasi lintas disiplin, mengapa kita tetap buta menyembah penyekatan jurusan? Mereka lebih butuh kompas, bukan sekadar peta mati.

Pada akhirnya, kemuliaan nasib manusia tidak akan pernah dikalkulasi dari stempel akreditasi pada selembar ijazah lapuk yang menipu. Lantas, masihkah kita tega menukar kemerdekaan anak dengan kebanggaan semu, ataukah kita akhirnya bersedia meruntuhkan ego guna membiarkan mereka melukis mahakarya kurikulum masa depannya tanpa paksaan lagi?

Baca selengkapnya: https://visiwaskita.com/main/blog/detail/37/fatamorgana-jurusan-kuliah

Apakah jurusan kuliah benar-benar menjamin masa depan? Pertanyaan ini adalah โ€œtop of public mindโ€ sekaligus fakta paling tidak pasti yang terus menghantui calon mahasiswa dan orangtua. Di . . .

Seluruh Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre dengan penuh s**acita mengucapkan: ๐ŸŽ‰ ๐‘ฏ๐’‚๐’‘๐’‘๐’š ๐‘ช๐’‰๐’Š๐’๐’†๐’”...
16/02/2026

Seluruh Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre dengan penuh s**acita mengucapkan: ๐ŸŽ‰ ๐‘ฏ๐’‚๐’‘๐’‘๐’š ๐‘ช๐’‰๐’Š๐’๐’†๐’”๐’† ๐‘ต๐’†๐’˜ ๐’€๐’†๐’‚๐’“ 2026! ๐ŸŒธโœจ

Semoga Tahun Baru Cina ini membawa keberuntungan, kesehatan, dan kebahagiaan bagi kita semua. ๆ–ฐๅนดๅฟซไน (Xฤซnniรกn kuร ilรจ), ๆญๅ–œๅ‘่ดข (Gลngxว fฤcรกi)! ๐Ÿงง๐ŸŽ Mari kita sambut Tahun Kuda dengan semangat baru, penuh harapan dan keberhasilan bersama.







๐•๐š๐ฅ๐ข๐๐š๐ฌ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐Œ๐ž๐ง๐ฒ๐š๐ค๐ข๐ญ๐ค๐š๐งSaya masih terngiang suara Nyi Raras yang menolak formulir kotak-kotak itu, lalu memilih temban...
11/02/2026

๐•๐š๐ฅ๐ข๐๐š๐ฌ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐Œ๐ž๐ง๐ฒ๐š๐ค๐ข๐ญ๐ค๐š๐ง

Saya masih terngiang suara Nyi Raras yang menolak formulir kotak-kotak itu, lalu memilih tembang Dhandhanggula sebagai jalan rekonsiliasi.

Ironi ini menampar kita: cinta yang gagal justru lebih jujur daripada cinta yang dipoles algoritma. Sistem sosial kita kini menjadikan trauma sebagai utang dan validasi mantan sebagai aset. Bukankah ini parodi birokrasi rasa?

Dalam survei GoodStats (2025), sebanyak 70,2% publik optimis budaya Indonesia dikenal luas hingga global. Optimisme itu indah, tetapi sering dikomodifikasi menjadi angka statistik belaka. Sama halnya dengan riset Ismail Alviano & Gazi Saloom (2022) yang menunjukkan bagaimana pengukuran identitas bisa memengaruhi sikap dan perilaku. Di sini saya melihat absurditas: kejujuran yang seharusnya menjadi inti budaya malah dipaksa tunduk pada logika pasar jodoh.

Kisah Wiryo dan Raras mengingatkan saya pada film ๐ป๐‘’๐‘Ÿ (Spike Jonze, Warner Bros, 2013), di mana cinta dikalkulasi oleh sistem operasi. Bedanya, di Yogyakarta, sebagaimana dalam cerpen ini, cinta dikalkulasi oleh negara.

Artikel BINUS University berjudul โ€œAdat dan Algoritmaโ€ (2025) menulis tentang persimpangan adat dan teknologi, bagaimana AI mengubah cara hidup masyarakat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apakah kita rela membiarkan algoritma menentukan siapa yang layak dicintai?

Saya percaya, kejujuran tentang kegagalan adalah bentuk cinta paling radikal. Nyi Raras menyanyi bukan untuk menutup aib, melainkan untuk membuka luka agar cucunya bebas dari karma administratif. Bukankah ini pelajaran bahwa cinta tidak harus sempurna untuk layak dihormati?

Pertanyaannya kini: apakah kita akan terus membiarkan algoritma mengaudit emosi, atau berani menyanyikan kegagalan kita sendiri sebagai tembang kejujuran?

Selengkapnya: https://www.kompasiana.com/edysuhardono/698c4170ed641540b74115b2/cerpen-ingatan-di-alun-alun-ngayogyakarta











Tradisi dan teknologi bertarung di Alun-Alun Kidul. Tembang Macapat jadi senjata terakhir melawan sistem yang menilai cinta sebagai data.

Address

Surabaya

Opening Hours

Monday 08:00 - 16:00
Tuesday 08:00 - 16:00
Wednesday 08:00 - 16:00
Thursday 08:00 - 16:00
Friday 08:00 - 16:00
Saturday 08:00 - 16:00

Telephone

+6281318882382

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when IISA VISIWASKITA: Assessment, Consultancy & Research Centre posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram

Category