11/10/2012
Terapi Tertawa
Tertawa itu sehat dan mudah dilakukan. Maka tertawalah karena tertawa juga dapat membantu penyembuhan penyakit, seperti stres, depresi, atau gangguan halusinasi.
Tentu tidak sembarang tertawa bisa dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah kejiwaan tersebut. Ada terapi khusus untuk itu. Namanya terapi tertawa, seperti dilakukan oleh Rumah Sakit Khusus Kejiwaan Dharma Graha di Jalan Astek No. 17, Lengkong Gudang Timur, BSD. RSKJ Dharma Graha bahkan telah mengenal terapi tertawa sejak 1990-an.
Selain membuat seseorang merasa bahagia, tertawa juga dapat membantu penyembuhan bagi penderita skizofrenia (schyzofrenia). Penyakit yang dialami penderita skizofrenia ini meliputi penyakit depresi, gangguan halusinasi, gangguan emosi, dan susah tidur.
Di RSKJ Dharma Graha, penderita skizofrenia mendapatkan terapi tertawa sebanyak tiga kali setiap pekan oleh para terapis. Tidak semua penderita gangguan jiwa bisa mengikutinya. Terapi tertawa hanya boleh diikuti oleh mereka yang sudah mulai stabil mental atau emosinya, bisa berkomunikasi dengan baik, tahu siapa dirinya atau namanya, dan bisa beraktivitas.
Mulanya, sekitar 30 orang dikumpulkan di tengah lapangan. Mereka semua membentuk lingkaran dan berpegangan tangan. Terapis yang berada di tengah peserta terapi memberikan perintah kecil untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Setelah itu mereka diberi rangsangan tertawa terlebih dahulu dan memberikan senyuman untuk meregangkan otot-otot wajah.
Terapis pun memberikan rangsangan tertawa di mana para peserta mengikuti kata yang dikeluarkan terapis. "Ha-ha-ha, hi-hi-hi, hu-hu-hu," begitulah para terapis mengajarkan kepada para peserta. Hal ini dilakukan agar otot-otot wajah tidak kaku. Setelah itu, mereka dipersilakan untuk tertawa lepas tanpa menggunakan rangsangan. Terapi tertawa ini pun dilakukan selama 30 menit.
Menurut salah satu terapis, Saiful Anam, berpegangan tangan dapat memberikan energi kepada teman sesamanya untuk tertawa. "Ketika temannya tidak tertawa atau tertawanya kurang, maka teman lainnya harus membantunya tertawa dengan memberikan energi lewat genggaman tangannya," kata Saiful. Tertawa itu ditularkan. Melalui kontak mata juga bisa membantu rangsangan tertawa karena itulah dilakukan dalam bentuk melingkar.
"Tertawa itu suatu hal yang menular. Ketika orang lain tertawa kadang kita akan ikut tertawa juga. Dalam terapi tertawa untuk membuat bagaimana mereka melakukan tertawa secara lepas, tidak ada yang tersinggung, dan tidak ada yang merasa ditertawakan," tambah Saiful.
Menurut Saiful, orang dengan gangguan jiwa yang mengikuti terapi tertawa, perasaan dan fungsi mentalnya tidak tumpul. Mereka akan mudah dikendalikan, bahasa non-verbal akan lebih mudah diterimanya saat bersosialisasi, dan gangguan emosi lebih terkendali. Semua itu menunjang proses pengobatan para penderita skizofrenia menjadi lebih baik.
Saiful mencontohkan salah satu penderita di RSKJ Dharma Graha. Waktu pertama masuk, penderita itu mengalami gangguan emosi, halusinasi, dan sulit tidur. Setelah ikut terapi tertawa, ada perubahan pola perilaku pada diri penderita. Saiful menargetkan waktu sekitar 100 hari untuk para penderita ini untuk bisa mulai mengontrol diri, memiliki perasaan yang lebih bahagia, dan perasaan dapat diterima dalam kelompok.
Saiful mengatakan, saat terapi tertawa, otak kita mengeluarkan zat melatonink, selatonink, dan endorfin. Zat-zat yang dikeluarkan itulah yang membuat kita bahagia.
Pada awalnya terapi tertawa memang dianggap aneh. Namun, saat dilihat dari segi manfaatnya, sebagian kelompok mulai melakukan terapi ini. Terapi tertawa tak hanya untuk penderita gangguan jiwa, tapi juga untuk siapa pun pada semua usia. Terkecuali pada penderita penyakit TBC karena takut menular, jantung, dan glukoma, penyakit mata yang ditakutkan berbahaya saat terjadi tekanan wajah atau mata saat tertawa.
Bagi orang pada umumnya, terapi tertawa membuat letupan emosinya lebih terkendali. Artinya, orang tersebut tidak mudah marah dan jika marah sesuai pada situasi dan kondisinya. Ha-ha-ha...