26/05/2025
ADIK TIRIKU PACARAN SAMA CALON SUAMIKU?
OKE, AKU JUGA BISA DAPAT DOKTER GANTENG YANG KEREN!
***
Bab 6: Penawaran
"PICU?"
"Ya, kondisinya tidak stabil. Kita butuh pemantauan ketat, bantuan oksigen lebih optimal, dan kemungkinan terapi lanjutan." Dr. Adul menarik napas dalam. "Tapi biayanya cukup besar. Bag*imana?"
"Setuju. Masukkan saja ke PICU."
Nia menoleh, menatapnya tak percaya.
"Aku yang tanggung biayanya," lanjut Ray, ekspresinya tetap datar, tak membiarkan perasaan apa pun terlihat.
Ruangan terasa hening sejenak.
Nia ingin protes, tapi kata-kata terjebak di tenggorokannya.
---
Monitor masih berbunyi pelan, menampilkan ritme jantung yang kini lebih stabil. Di balik kaca ruang PICU, Ray berdiri dengan tangan terlipat di dada, matanya mengamati tubuh kecil di atas ranjang yang dikelilingi berbag*i alat medis. Ardi masih terlelap di bawah efek obat, dadanya naik turun dengan teratur.
Di sampingnya, Nia berdiri diam. Wajahnya tampak letih, matanya kosong, tapi tetap menatap Ardi dengan penuh kecemasan.
Ray akhirnya membuka suara. "Kamu beneran nggak punya siapa-siapa? Paman, bibi... keluarga jauh mungkin?"
Nia menggeleng lemah. "Nggak ada."
Jawaban itu membuat perut Ray sedikit mengerut. Bukan karena kasihan, tapi lebih ke sesuatu yang mengusik sisi lain dalam dirinya—sisi yang sudah lama ia tekan dalam-dalam.
Ia memejamkan mata sesaat, membiarkan pikirannya melayang ke masa lalu.
---
Dulu, dia juga pernah berdiri seperti ini. Bukan sebag*i dokter, tapi sebag*i seorang anak yang baru kehilangan adik perempuannya.
Karin.
Adiknya yang dulu begitu ceria, berlarian di sekitar rumah dengan tawa renyah, tiba-tiba terbaring kaku di ranjang rumah sakit. Diagnosisnya datang terlambat. Penyakit jantung bawaan yang tidak pernah terdeteksi sejak kecil, atau lebih tepatnya—tidak pernah ditangani dengan benar.
Ayahnya selalu berkata, "Nggak usah lebay, Ray. Karin baik-baik aja. Cuma kecapekan."
Kata-kata itu terus berulang, bahkan saat Naya sering pingsan, sesak napas, dan membiru di ujung-ujung jari. Ray yang masih remaja saat itu berusaha bicara, memohon agar Karin diperiksa lebih serius.
Tapi ayahnya tetap dengan egonya.
Sampai akhirnya, hari itu datang.
Karin kejang di lantai kamar. Saat dibawa ke rumah sakit, semuanya sudah terlambat. Ray melihat sendiri bag*imana tim medis berusaha menyelamatkan nyawa adiknya. CPR, intubasi, defibrillator. Semuanya sia-sia.
Saat dokter akhirnya menggeleng, menyatakan Karin meninggal, Ray tidak bisa menahan emosinya. Ia berbalik dan langsung berteriak marah kepada ayahnya.
"Ini salah Ayah!" teriaknya. "Kalau aja Ayah nggak keras kepala, kalau aja Ayah mau dengerin—"
T a m p a r a n keras menghentikan kata-katanya.
"Jangan kurang ajar!"
Tapi Ray sudah tidak peduli. Sejak hari itu, hubungannya dengan ayahnya rusak. Ia tumbuh dengan kemarahan yang membara, dengan tekad untuk menjadi dokter yang tidak akan mengabaikan pasien seperti ayahnya mengabaikan Karin.
Dan melihat Nia hari ini, dia seperti melihat dirinya sendiri.
---
Ray membuka mata kembali ke masa kini. Nia masih berdiri di sampingnya, wajahnya pucat dan lelah.
Mungkin dia sama seperti dirinya dulu. Sendirian. Tidak punya siapa-siapa. Tidak ada yang bisa dimintai bantuan.
Tanpa pikir panjang, ia berkata, "Ayo ikut aku ke tempatku sebentar."
Nia mengerutkan dahi. "Ke mana?"
"Kontrakan. Kamu butuh istirahat. Ardi sudah stabil, perawat akan jag*in."
Nia terlihat ragu. "Aku nggak bisa ninggalin Ardi."
"Apa kamu lupa kalau kita ada janjian sore ini," Ray menatap Nia tajam, "soal mobilku," ucap Ray tanpa memberi ruang untuk penolakan.
"Jangan-jangan kamu berniat kabur!"
Nia tergagap. Wajahnya memerah. "Aku nggak lupa, kok. Aku nggak berniat kabur."
Ray tersenyum sinis. "Ayo. Dan jangan kira pengobatan adikmu itu gratis!" Kemudian berjalan ke parkiran.
"Iya, baik. Aku tahu. Aku pasti bayar. Hey..." Nia menjajari langkah Ray.
---
Kontrakan Ray ternyata tidak sebesar yang ia bayangkan. Sederhana, tapi cukup nyaman. Tidak ada kesan rumah dokter kaya, hanya rumah kecil yang rapi dan bersih. Letaknya tidak jauh dari rumah sakit, hanya butuh beberapa menit naik motor.
Nia duduk di kursi kayu dekat meja makan, menggenggam cangkir teh hangat yang baru saja diberikan Ray. Tangannya masih gemetar sedikit, efek dari kelelahan dan ketegangan seharian.
"Om tinggal sendirian di sini?" tanya Nia akhirnya, mencoba mengalihkan pikirannya dari kecemasan tentang Ardi.
Ray mengangguk sambil membuka kulkas. "Iya. Tempat ini dekat rumah sakit, jadi praktis."
Dia mengeluarkan beberapa bahan makanan dan mulai memasak. Nia mengamatinya dalam diam. Ada sesuatu yang berbeda dari Ray saat di rumah dibanding saat di rumah sakit. Di sini, dia terlihat lebih santai, lebih manusiawi.
Tidak ada jas dokter, tidak ada ekspresi dingin seperti saat menangani pasien.
"Kenapa Om bantu aku?" tanya Nia tiba-tiba.
Ray berhenti sejenak, lalu melanjutkan memotong sayur. "Itu nggak gratis, kok. Kamu harus bayar."
"Iya tahu. Tapi, tetap terima kasih."
"Mobilnya juga."
Mau kesal, tapi udah ditolong, pikir Nia.
Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Suara panci yang disentuh Ray saat memasak adalah satu-satunya yang terdengar. Nia masih duduk di kursi kayu, mengusap pinggiran cangkir teh dengan ibu jarinya, pikirannya melayang.
Dia lelah. Bukan hanya fisik, tapi juga mental. Seharian ini seperti mimpi buruk yang tak kunjung selesai.
Ardi sakit. Biaya rumah sakit mahal. Dia tak punya siapa-siapa.
Lalu sekarang, dia ada di sini. Di rumah seorang pria yang bahkan baru benar-benar ia kenal hari ini.
Ray menaruh sepiring nasi dan sup ayam di depannya, kemudian duduk di seberang. "Makan dulu."
Nia menatap makanan itu ragu.
"Kalau kamu pingsan, siapa yang bakal jag*in adikmu?" lanjut Ray, suaranya tetap tenang, tapi cukup tajam untuk membuat Nia menghela napas dan akhirnya menyendok makanannya.
Ray menyesap kopi panas yang sudah mulai hangat. Pandangannya tetap fokus pada Nia yang duduk di seberangnya. Gadis itu tampak lelah, tapi matanya masih menyimpan kewaspadaan.
"Kamu umur berapa?" tanya Ray, suaranya datar tapi tidak mengintimidasi.
"19 tahun, mau 20," jawab Nia cepat.
"Tinggal sama siapa?"
"Berdua sama Ardi."
Ray mengangguk pelan. "Adikmu itu kelas berapa?"
"Kelas 4 SD."
"Kamu punya keluarga lain nggak?"
Ekspresi Nia berubah. Ada jeda sesaat sebelum dia menjawab, "Ada. Mama dan adik tiri, tapi kami nggak serumah. Dan mereka punya kehidupan sendiri."
Ray mengamati ekspresi gadis itu. Jawabannya singkat, tapi ada banyak hal yang tersirat di dalamnya.
"Kamu kuliah atau kerja?"
"Kuliah."
"Di mana? Jurusan apa?"
"Universitas Negeri Malang."
"Jurusan apa?"
"Pendidikan Luar Sekolah."
Dahi Ray berkerut. "Apa itu?"
Nia mengangkat bahu sedikit. "Kayak pendidikan nonformal, sih. Fokusnya lebih ke masyarakat yang nggak sekolah formal, kayak anak putus sekolah, pendidikan keaksaraan, pelatihan keterampilan. Intinya, pendidikan di luar sistem sekolah biasa."
Ray mengangguk, mencoba memahami. "Kamu ambil jurusan itu karena memang mau atau karena keadaan?"
Kali ini, Nia tersenyum tipis, tapi ada kepahitan di sana. "Karena keadaan. Aku s**a dunia pendidikan, tapi aku juga realistis. Jurusan ini lebih murah dibanding fakultas lain, dan peluang kerja tetap ada."
Ray diam sejenak. Jawaban Nia mengingatkannya pada sesuatu. Seseorang.
Sebuah kenangan lama yang masih menghantui sampai sekarang.
---
Sepuluh tahun lalu, dia duduk di ruang tunggu rumah sakit, menggenggam tangan kecil yang mulai dingin.
Adiknya, Karin, baru berumur tujuh tahun. Seharusnya dia sedang belajar membaca, menggambar, atau bermain boneka seperti anak-anak lain. Tapi tidak. Karin malah terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.
"Mas Ray, aku boleh minta sesuatu?" suara Karin lemah.
Ray menggenggam tangannya lebih erat. "Apa aja buat Karin."
"Aku pengen sekolah beneran, kayak anak-anak lain…"
Napas Ray tercekat. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Karin sakit sejak kecil, tubuhnya terlalu lemah. Ayah mereka selalu berkata, "Gimana bisa sekolah kalau sakit-sakitan?"
Ray membenci kalimat itu.
Membenci bag*imana ayahnya menyerah pada Karin begitu saja.
Dan pada akhirnya, Karin benar-benar pergi.
Tanpa pernah merasakan duduk di kelas, tanpa pernah menikmati masa kecilnya sepenuhnya.
---
Ray menarik napas panjang, kembali ke kenyataan.
Dia menatap Nia, yang masih menunggu.
"Jadi, kamu sendirian nanggung Ardi?" tanyanya lagi.
Nia mengangguk pelan. "Iya."
"Nggak kepikiran cari bantuan dari keluarga?"
"Untuk apa?" Nia tersenyum kecil, tapi kali ini tanpa emosi. "Mereka punya kehidupan sendiri. Aku udah cukup merepotkan mereka selama ini."
Ray menatap gadis di depannya lebih lama. Ada sesuatu dalam cara Nia bicara—seolah dia sudah terbiasa bertahan sendiri.
Seperti dia dulu. Semenjak adiknya meninggal, ia memutuskan untuk pergi dari rumah. Dan itu benar-benar ia kerjakan setelah lulus dari SMA. Saat kuliah, ia benar-benar putus hubungan dengan ayahnya. Tidak mau lagi bahkan hanya sekedar menjejakkan kaki ke rumah itu. Bahkan, ia sama sekali tidak meminta biaya kuliah. Untuk hidup sehari-hari ia mengandalkan dari beasiswa dan bermain saham.
Ray kangen Mamanya, tapi egonya terlalu tinggi untuk kembali menemui ayahnya di rumah. Akhirnya, Mamanya yang mengalah dengan datang ke tempat kos atau kontrakan Ray.
Setelah beberapa saat hening, Ray akhirnya berujar, "Aku ada tawaran buat kamu."
Nia menatapnya waspada. "Apa?"
Ray menyandarkan punggung ke kursi, lalu menatapnya lurus.
"Bayar dengan tubuhmu, jadilah istriku."
"Apa?"
PLAK!
Judul: Gadis Desa Jadi Nyonya
Oleh: Nurisa Purwito
Baca selengkapnya di aplikasi KBM