25/11/2025
Dalam dunia kedokteran modern, herbal sering dipandang sebelah mata.
Padahal itulah laku pengobatan tetua kita —
cara penyembuhan yang sudah ada jauh sebelum ribuan paper terbit,
jauh sebelum nama-nama besar menguasai wacana dan memonopoli “kebenaran.”
Bagi sebagian orang, daun, rimpang kulit pohon yang direbus terdengar lucu.
Bagaimana mungkin satu tanaman bisa menaikkan birahi dan daya tahan ternak atau menurunkan tingkat ke-stres-an ternak?
Bagaimana mungkin ia mampu mengobati penyakit ternak dan pada saat yang sama
memperbaiki metabolisme tubuh.
Seperti impian yang sulit digapai?
Yang tidak mereka pahami adalah ini:
daun, kulit batang, akar, dan rimpang yang tumbuh alami di hutan
menyimpan senyawa aktif — saponin, flavonoid, tanin, polifenol —
yang bekerja bukan pada angka,
tetapi pada akar masalahnya: peradangan kronis.
Sementara kedokteran modern, tanpa disadari,
sering kali lupa bahwa obat-obatan yang dibuat oleh “rekan kerjanya” — industri farmasi —
hanya unggul sebagai penolong fase akut,
penjembatan agar tubuh stabil kembali,
sebelum obat-obatan itu perlahan diturunkan
dan digantikan oleh pola hidup yang benar,
yang sebenarnya merupakan terapi paling tua sekaligus paling fundamental.
Inilah istilah yang mewakili penyebab mayoritas penyakit kronis modern:
inflamasi yang berjalan pelan, diam, tetapi pasti.
Dan herbal bekerja dengan ritme yang sama: pelan, lembut, namun sustain.
Herbal sangat bijak untuk pencegahan,
untuk penyakit yang berjalan lambat,
dan untuk rehabilitasi tubuh yang butuh pulih tanpa terburu-buru.
Di balik kesederhanaannya,
herbal bukan sekadar warisan nenek moyang.
Ia adalah ilmu yang mendekatkan kita kembali pada fitrah —
bahwa penyembuhan sejati bekerja mengikuti ritme alam,
bukan ritme industri