Menu Maqan Qita

Menu Maqan Qita Kumpulan berbagai informasi, foro, artikel, video, atau link; yang berhubungan dengan menu makan yang sehat, dan bisa dibuat/ditangani sendiri.

22/11/2025

Siapa sangka, makanan sederhana yang sering kita makan tiap hari ternyata menyimpan rahasia besar dalam cara makannya. Tempe,si pangan rakyat yang kerap disepelekan, kini kembali jadi sorotan para ahli gizi dunia. Bahkan menurut CNBC Indonesia (19/11/2025), para peneliti dari IPB University menyebut bahwa cara makan tempe yang salah bisa membuat manfaatnya menurun drastis.

Menurut Prof. Antonius Suwanto, Guru Besar Fakultas MIPA IPB University, tempe bukan sekadar lauk pauk tradisional. Ia adalah hasil fermentasi kompleks yang melibatkan mikroorganisme baik dari kelompok Rhizopus. Proses inilah yang membedakan tempe dari sekadar kedelai rebus biasa. Di balik lapisan putihnya, tempe menyimpan pasukan mikroba baik yang membantu menyehatkan usus, memperkuat daya tahan tubuh, bahkan menurunkan risiko peradangan kronis.

Sayangnya, banyak orang justru merusak manfaat itu tanpa sadar. Kesalahan paling umum? Menggoreng tempe dengan suhu tinggi hingga kering kecoklatan. Tempe yang digoreng terlalu lama atau terlalu panas justru membunuh bakteri baik hasil fermentasinya, itu kata Prof. Antonius. Padahal, kandungan enzim dan probiotik alami dalam tempe adalah harta karun yang membuatnya lebih unggul dibanding sumber protein lain. Alih-alih digoreng, Prof. Antonius menyarankan cara konsumsi yang lebih bijak, kukus, tumis ringan, atau buat pepes tempe. Proses pengolahan yang tidak terlalu panas akan menjaga keseimbangan bakteri baik serta mempertahankan nutrisi seperti vitamin B12, asam folat, dan isoflavon. Kalau ingin makan gorengan, tempe yang digoreng sebentar dengan minyak segar masih bisa diterima, tapi jangan sampai kering dan garing, sarannya untuk para konsumen tempe.

Penelitian juga menunjukkan bahwa tempe yang difermentasi secara alami lebih unggul dibanding produk yang dipercepat dengan ragi instan. Mikroba alami menghasilkan lebih banyak antioksidan dan senyawa bioaktif yang membantu mencegah kanker usus besar, diabetes tipe 2, hingga kolesterol tinggi. Semakin lama fermentasi, semakin kaya enzim baik di dalamnya. Tempe sejatinya termasuk dalam kelompok makanan fermentasi sehat, bersama yoghurt, kefir, dan kimchi. Bedanya, tempe punya kelebihan unik, kandungan proteinnya tinggi, tapi mudah diserap tubuh. Itulah sebabnya banyak ilmuwan luar negeri kini meneliti tempe sebagai alternatif sumber protein nabati masa depan. Bahkan, beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Jepang mulai mengekspor tempe Indonesia dalam bentuk ready-to-eat fermented food.

Namun di tanah kelahirannya sendiri, banyak masyarakat belum memahami nilai ilmiahnya. Tempe masih sering dianggap makanan murah. Padahal dalam dunia sains, ia dipuji sebagai superfood khas Nusantara, versi lokal dari yoghurt dan kombucha. Ironisnya, saat masyarakat kota sibuk berburu makanan impor yang katanya gut-friendly, di meja makan mereka sering terhidang tempe yang justru disia-siakan manfaatnya karena digoreng habis-habisan. Menurut data IPB, konsumsi tempe secara rutin dapat meningkatkan kadar bakteri baik (lactobacillus and bifidobacterium) di usus dalam waktu kurang dari dua minggu. Ini penting, karena 70% sistem imun tubuh manusia bergantung pada kesehatan mikrobiota usus. Artinya, tempe bukan hanya memberi tenaga, tapi juga melatih sistem imun agar lebih tangguh terhadap infeksi.

Konsumsi tempe akan membuat tubuh jadi lebih siap menghadapi ancaman penyakit karena mikroorganisme di tempe membantu mengenali antigen asing tanpa merusak jaringan tubuh. Kalimat itu terdengar ilmiah, tapi maknanya sederhana makan tempe yang benar bisa bikin daya tahan tubuh lebih kuat,bahkan tanpa suplemen mahal.Selain itu, proses fermentasi juga menurunkan kadar anti nutrisi seperti asam fitat yang biasanya menghambat penyerapan mineral. Maka, mineral seperti zat besi, kalsium, dan magnesium dalam tempe bisa diserap lebih optimal dibandingkan kedelai biasa. Tak heran, para vegetarian dunia menjadikan tempe sebagai sumber utama protein pengganti daging.

Lalu, kapan waktu terbaik makan tempe? Ahli gizi menyarankan untuk mengkonsumsi tempe di pagi atau siang hari. Alasannya, kandungan protein nabati dan asam amino di tempe membantu menjaga energi dan menstabilkan gula darah sepanjang hari. Di sisi lain, makan tempe malam hari juga baik, karena fermentasi dan seratnya membantu proses pencernaan saat tidur. Tapi dengan satu syarat: jangan digoreng keras, cukup dipepes atau ditumis ringan.Menariknya, di Jepang, menu tempe donburi (nasi dengan topping tempe kukus berbumbu ringan) kini sedang naik daun di restoran vegetarian. Mereka menyebutnya protein masa depan dari Asia. Lucu juga membayangkannya,di luar negeri tempe dipuja sebagai makanan bergengsi, sementara di Indonesia masih sering dijadikan lauk pelengkap sambal dan nasi kucing.

Prof. Antonius menegaskan, penghargaan terhadap tempe seharusnya dimulai dari cara kita mengolahnya. “Kalau diolah dengan benar, tempe bisa jadi suplemen alami untuk imun tubuh. Kalau salah, malah cuma jadi gorengan biasa,” ujarnya menutup wawancara.Jadi, kalau selama ini kamu bangga jadi “pecinta tempe goreng kering kriuk,” mungkin sudah waktunya berpikir ulang. Karena menurut sains, tempe bukan sekadar lauk,tapi warisan fermentasi cerdas yang bikin tubuh sehat, perut bahagia, dan bangsa ini sebenarnya sudah punya superfood sebelum Barat tahu apa itu probiotik.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

13/11/2025
CILOK KUAH ENAK
06/11/2025

CILOK KUAH ENAK

‎RESEP CILOK KUAH

‎🧄 Bahan Cilok:
‎200 gram tepung tapioka (aci)
‎100 gram tepung terigu protein sedang
‎2 siung bawang putih, haluskan
‎1 sdt garam
‎1/2 sdt merica bubuk
‎1 batang daun bawang, iris halus
‎200 ml air panas (tuang sedikit-sedikit)


‎🍢 Cara Membuat Cilok:
‎1. Campur bahan kering:
‎Masukkan tepung terigu, tepung tapioka, garam, merica, daun bawang, dan bawang putih. Aduk rata.

‎2. Tuang air panas:
‎Masukkan air panas sedikit demi sedikit sambil diaduk dengan sendok kayu sampai adonan bisa dipulung (jangan terlalu lembek).

‎3. Bentuk bulat:
‎Ambil sedikit adonan, bentuk bulat-bulat kecil (seukuran kelereng).

‎4. Rebus:
‎Didihkan air dalam panci, tambahkan sedikit minyak agar tidak lengket. Rebus cilok hingga mengapung dan matang, lalu tiriskan.

‎🍲 Bahan Kuah Cilok:
‎3 siung bawang putih
‎5 buah cabai rawit merah (sesuaikan selera pedas)
‎2 buah cabai merah keriting
‎1 sdt kaldu ayam bubuk
‎1/2 sdt garam
‎1/2 sdt gula pasir
‎600 ml air kaldu ayam / air biasa
‎1 sdm minyak goreng

‎🔥 Cara Membuat Kuah:
‎1. Haluskan bawang putih, cabai rawit, dan cabai merah.

‎2. Tumis bumbu halus hingga harum.

‎3. Masukkan air kaldu, beri garam, gula, dan kaldu bubuk. Aduk rata, koreksi rasa.

‎4. Masak sampai mendidih dan harum.

‎🍜 Penyajian:
‎Masukkan cilok matang ke dalam mangkuk.
‎Siram dengan kuah panas.
‎Tambahkan topping opsional seperti:
‎Daun bawang iris
‎Kecap manis / saus sambal
‎Bawang goreng
‎Jeruk limau

Address

Hutan Utara, Dago-Atas
Bandung
40135

Telephone

+6281322853223

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Menu Maqan Qita posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Menu Maqan Qita:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram