Rahayu Fitri

Rahayu Fitri Parenting enthusiast ❤️
leader of TIRA SATRIA NIAGA
Open Reseller komisi 10%

30/04/2026

ICe land time 😍❄️ ⛄️

Lahiran tahun 1992 d**g 😍, katanya generasi terbaik yang hidup di 2 zaman sekaligus, zaman telpon trotoar sampai ke zama...
28/04/2026

Lahiran tahun 1992 d**g 😍, katanya generasi terbaik yang hidup di 2 zaman sekaligus, zaman telpon trotoar sampai ke zaman iphone 17 🤣🌸🌺 Cung yang samaan☝🏻

28/04/2026

Menginjak usia ingin selalu membahagiakan diri sendiri🥰💙🤍🫶🏻 ❤️ #

Thank's you more sayang 😘
27/04/2026

Thank's you more sayang 😘

Menikmati setiap waktu bersama mereka 🥰🫶🏻💦
26/04/2026

Menikmati setiap waktu bersama mereka 🥰🫶🏻💦

Waktu yang terlewati tak akan pernah kembali, tapi setiap moment kebersamaan ini akan tetap tumbuh di memory ingatan ana...
25/04/2026

Waktu yang terlewati tak akan pernah kembali, tapi setiap moment kebersamaan ini akan tetap tumbuh di memory ingatan anak-anak kita🤍💙🫶🏻

Tidak bersaing dengan siapapunNamun bersaing dengan diri sendiri utk setiap harinya bisa menjadi ibu yg lebih baik dari ...
21/04/2026

Tidak bersaing dengan siapapun
Namun bersaing dengan diri sendiri utk setiap harinya bisa menjadi ibu yg lebih baik dari hari ke hari

Selamat hari Kartini utk semua ibu dengan Profesi apapun, semoga bisa menjadi Madrasah terbaik bagi putra putrinya di rumah

Serta bisa membantu diri sendiri dan sesama, Aamiin Yra 🥰

Tentang aku dan senja 🤍💙
17/04/2026

Tentang aku dan senja 🤍💙

Save dulu yuk bun😍
12/07/2025

Save dulu yuk bun😍



“Anakku Lebih Dekat dengan Neneknya daripada Ibunya”> “Aku melahirkannya, tapi ia lebih memilih berlari ke pangkuan ibuk...
11/07/2025

“Anakku Lebih Dekat dengan Neneknya daripada Ibunya”

> “Aku melahirkannya, tapi ia lebih memilih berlari ke pangkuan ibuku.”

Bagian 1: Pelukannya untuk Nenek, Bukan Aku

Aku berdiri di ambang pintu, melihat anakku tertawa lepas di pelukan ibuku. Ibunya. Ibuku. Neneknya.

Dan entah kenapa, hatiku terasa... sepi.

Hari ini dia terjatuh saat belajar berlari. Dan seperti biasa, bukan pelukanku yang ia cari, tapi lengan neneknya.

Padahal aku yang mengandungnya.
Aku yang menahan rasa mual, kontraksi, dan robekan saat melahirkan.
Tapi mengapa ia lebih nyaman dengan neneknya?

Bagian 2: Ibu yang Terlalu Sibuk

Aku mulai menyalahkan diriku sendiri.
Apakah karena aku terlalu sibuk bekerja?
Apakah karena saat malam aku lelah dan cepat naik suara?
Ataukah karena aku sering menyerahkan dia ke ibuku saat aku ingin sekadar mandi lebih lama?

Aku merasa jadi ibu yang gagal.
Bagaimana mungkin anakku lebih dekat dengan orang yang tak melahirkannya?

Tapi... bagaimana aku bisa tidak bekerja? Rumah harus dibayar. Susu harus dibeli. Hidup harus berjalan.

Bagian 3: Nenek yang Luar Biasa

Ibuku bukan nenek biasa.
Ia penuh kelembutan.
Penuh kesabaran.

Saat aku bangun kesiangan karena begadang kerja, ibuku sudah memasak bubur anakku.
Saat aku marah karena rumah berantakan, ibuku membersihkan semuanya tanpa protes.
Saat aku kehabisan tenaga, ibuku yang mengambil alih, bermain dan menyuapi cucunya dengan senyum.

Maka tak heran, anakku merasa nyaman padanya.
Karena di usianya yang kecil, ia hanya mencari satu hal: kasih sayang yang hadir sepenuhnya.

Bagian 4: Kecemburuan yang Tak Terucap

Terkadang aku merasa iri.
Aku ingin dipeluk oleh anakku seperti dia memeluk ibuku.
Aku ingin jadi tempat aman baginya.

Tapi saat dia menangis mencari nenek, aku hanya bisa berdiri mematung.
Ada yang menyesak di dada.
Ada rasa asing yang menghantui:
“Apakah aku ibu yang ia cintai?”

Aku mencintainya tanpa batas. Tapi apakah cintaku sampai padanya?

Bagian 5: Malam yang Membuka Mata

Suatu malam, aku menangis di kamar.
Lelah.
Sedih.
Dan patah hati.

Ibuku masuk, duduk di sampingku, dan berkata,
“Kenapa menangis?”

Aku tak langsung jawab. Hanya lirih,
“Anakku lebih dekat sama Mama. Bukan aku.”

Ibuku tersenyum, menggenggam tanganku dan menjawab,
“Nak… dulu kamu juga begitu. Kamu lebih sering tidur di pelukan nenekmu daripada aku. Tapi lihat sekarang, kamu tetap pulang ke ibumu. Tetap butuh ibumu.”

Aku terdiam.

Bagian 6: Cinta Itu Tak Pernah Salah Alamat

Ibuku melanjutkan,
“Anak kecil tidak tahu bagaimana mengungkapkan cinta. Yang mereka tahu hanya siapa yang hadir saat mereka butuh. Tapi percaya, cinta anak itu tak pernah salah alamat.”

“Jangan merasa gagal hanya karena dia lebih sering ke pelukan neneknya. Justru karena kamu mempercayakan anakmu pada ibumu, kamu memberinya dua cinta sekaligus.”

Aku mulai menangis.
Pelan.
Diam-diam.
Tapi air mata itu membawa sedikit lega.

Bagian 7: Menyadari Peranku Kembali

Sejak malam itu, aku tak lagi memaksa anakku memilih antara aku atau neneknya.
Karena kenyataannya, ia tak harus memilih.
Ia bisa punya dua rumah untuk hatinya.

Aku belajar hadir lebih tulus.
Bukan sekadar ada, tapi benar-benar hadir.
Aku matikan HP saat bermain dengannya.
Aku peluk dia tanpa terburu-buru.
Aku tak lagi meminta dia memilihku — aku memilih dia setiap hari.

Dan perlahan, dia pun mulai mencari pelukanku.
Meski masih sering ke neneknya, kali ini ia juga mengulurkan tangan padaku.

Bagian 8: Tumbuh Bersama sebagai Ibu

Menjadi ibu bukan soal siapa yang paling dekat.
Tapi siapa yang tetap mencintai meski belum jadi pilihan utama.

Aku belajar bahwa anak itu bukan milik kita sepenuhnya.
Ia adalah titipan Tuhan.
Yang tumbuh sesuai takdirnya, dengan cinta yang kita semai.

Aku tidak ingin lagi cemburu.
Karena melihat anakku bahagia — bahkan jika bukan bersamaku — adalah kebahagiaan juga

Bagian 9: Terima Kasih, Mama

Kini, aku menatap ibuku dengan mata berbeda.
Tanpa beliau, aku mungkin sudah menyerah.
Tanpa beliau, anakku mungkin tak tumbuh sehangat itu.

Ternyata, ibu bukan hanya melahirkan anak,
tapi juga melahirkan seorang ibu lain melalui anaknya.

Terima kasih, Mama.
Sudah mencintaiku sampai sekarang.
Dan kini, mencintai cucumu sehangat itu.
Sumber Seniparenting

Para suami tolong pahami istrinya lagi yah...Karena jika seorang ibu bahagia 1x suami bahagia dan 3x bahagia anak. Maka ...
10/07/2025

Para suami tolong pahami istrinya lagi yah...
Karena jika seorang ibu bahagia 1x suami bahagia dan 3x bahagia anak. Maka dari itu jika ada anak yang bermasalah cobalah berbaiki ibunya, kebahagian ibu bersumber dari seorang ayah atau pasangannya

🍭Parenting Anak💮Hal-Hal Dasar Dalam Mendidik Anak dari Kecil🌼Berusaha menjadi baik sebagai ibu,Berusaha mendidik si buah...
09/07/2025

🍭Parenting Anak

💮Hal-Hal Dasar Dalam Mendidik Anak dari Kecil🌼

Berusaha menjadi baik sebagai ibu,
Berusaha mendidik si buah hati dengan cinta & kesabaran, adalah idaman setiap insan yang bergelar "ibu/bunda/ummu".

Semoga sedikit tips ini, menjadikan motivasi bagiku dan kalian semua ibunda sholihaat. Walau sering kita khilaf, tapi terus berusaha mengulang lagi dari awal dengan segenap cinta dan daya upaya.

1. Sering Tersenyum,
Tersenyumlah mengawali perbuatan ingin menegur kesalahan anak. Agar dari kepala sudah termindset ketenangan hati. Yang tadinya mau marah, jadi tenang dan calm down. Bismillah harus bisa!

2. Ucapkan Bismillah dan Maa Syaa Allah.
Sebelum menasehati dan memuji, hati-hati. Jangan sampai salah niat. Tujuannya semua untuk kebaikannya, di dunia & akhirat si anak, karena jika memuji berlebihan bisa menjadikan anak sombong karena sering mendapatkan pujian. Sebaliknya tidak pernah memberikan penghargaan walau dalam bentuk ciuman, akan menciutkan nyalinya.

3. Nada lembut dan rendah,
Ketika memuji keberhasilannya pakailah nada lembut dengan memuji kebesaranNya disertai panggilan kes**aan si anak, ketika marah usahakan menegurnya dengan nada rendah, lalu pandang matanya. Dengan begitu nasihat lebih cepat masuk. "Nak..., Sayang..., Sweety ummi.. dll".

4. Sering minta ciuman dari anak.
Alhamdulillaah saya sering melakukannya, menjadikan anak-anak merasa sangat dibutuhkan. Saya banyak belajar ini dari suami, beliau selalu mencium dan minta dicium oleh anak-anak. Bukan hanya mereka yang butuh kasih sayang, buatlah dirimu sangat merasa butuh kasih sayang mereka. Agar bonding itu selalu ada.

5. Memberi hukuman.
Boleh memberikan hukuman jika dia bersalah, tapi hukuman yang wajar, misal dia tidak boleh main-maianan selama dua hari jika permainan di rumah tidak diberesin selesai bermain. Alhamdulillaah salah satu cara ini berhasil, membuatnya selalu berbenah setelah bermain, walau rumah berantakan lagi. Alhamdulillaah.

6. Sering-sering libatkan anak dalam urusan Rumah tangga berkaitan wanita, tidak masalah laki-laki atau perempuan. Dari usia dua tahun sudah bisa in syaa Allah. Misal kita minta masukkan sampah-sampah yang berserak dalam rumah ke dalam wadah. Jika usia di atas itu lebih mudah lagi, minta tolong rapikan benda-benda yang berserakan, rapikan tempat tidur, sapu-sapu kecil rumah, dan pekerjaan ringan lain. Katakan padanya pahalanya besar kalau bantui ibu di rumah. In Syaa Allah mereka akan bersemangat dalam berbenah dan merasa ada tanggung jawab. Dengan demikian kelak terbiasa dengan pekerjaan rumah, baik setelah menjadi seorang istri ataupun suami.

7. Pelukan ketika mereka menangis.
Saya banyak belajar dari suami juga terkait hal ini, ketika anak murung dan menangis ternyata pelukan itu membuat mereka tenang. Pelukan adalah salah satu cara terbaik memberi rasa tenang setelah membiarkan mereka nangis sepuasnya.

8. Jangan selalu menuruti kemauan anak. Walau dia menangis jangan menuruti semua kemauannya agar tangisan itu reda. Hal ini akan menjadikan tameng baginya, bahwa ibunya akan memberikan keinginannya dengan cara menangis. Tentu ini akan membentuk karakter manja pada anak.

9. Jangan berbohong agar anak-anak tidak menangis, atau untuk menenangkan suatu perkara. Misal anak menangis, lalu kita katakan "eh nanti kecoak datang kalau nangis". Selain berbohong, itu malah menjadikannya pribadi yang penakut.

10. Jangan s**a melarang anak-anak untuk berkreasi dari kecil. Misal main air tidak boleh, coret-coret tidak boleh, keluar tidak boleh, dan lainnya. Perbolehkan tapi beri medianya, misalnya untuk coret-coret berikan pensil dan kertas, main air boleh sekalian mandi dan pakai waktu agar tidak masuk angin, keluar boleh asal ikut mengawasi. Alhamdulillaah anak-anak sudah saya fahamkan mencoret dinding tidak boleh, dan selalu memberikan media buku gambar dan pensil warna untuk anak-anak agar bebas berkreasi dari usia mereka dua tahun. Buku gambar ini adalah salah satu jajanan wajib anak-anak tiap minggu, ketika habis maka akan dibelikan lagi yang baru. Daripada sekedar jajan di luar, hal ini lebih bermanfaat. Jangan hambat kreasi mereka hanya karena khawatir ya ibu. Justru mereka susah berkembang jika semua dilarang.

Semoga sedikit tips ini bermanfaat ya para ibu sholihaat. Coba tambahkan di kolom komentar sebagai sharing kita.
Baarakallahu fiikunna

🌸Ummu Syaima'
Bogor, 28 Safar 1443H

Address

Jalan Cendrawasih Residence Blok C No 9
Batam

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rahayu Fitri posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share