02/09/2019
SEBERAPA BERHARGA HIDUPMU ?
By : Bang Lubis
Ini kisah Seorang Anak remaja yang duduk dan berbincang dengan Ayahnya di teras rumah mereka. Anak remaja itu kemudian bertanya kepada Ayahnya, tentang seberapa berharga hidupnya. namun Ayahnya malah tidak menjawab pertanyaan Anak itu, justru Ayah kemudian masuk kedalam rumah beberapa saat, kemudian tiba tiba membawa sebuah batu kecil dan menyerahkan batu itu kepada anaknya sambil berkata.
"Bawalah batu ini ke pasar, tawarkan kepada orang orang di pasar, jika ada yang bertanya berapa harganya, kamu hanya boleh menunjukkan dua jarimu kepadanya, tanpa berkata kata apapun."
Berangkatlah Anak remaja itu ke pasar dan menjajakan sebuah batu yang dibawanya sesuai dengan petunjuk Ayahnya. singkat cerita bertemulah anak itu dengan seorang perempuan, yang tertarik dengan batu itu.
"Berapa harga batu ini ? sepertinya bagus kalau aku jadikan hiasan di rumahku." kata perempuan itu.
Si Anak remaja kemudian melaksakan arahan dari Ayahnya, dia hanya megangkat dua jari di tangan kanannya. jari telunjuk dan jari tengahnya dia arahkan kepada perempuan yang ingin membeli batunya.
"Berapa? 20.000 rupiah ya?" tanya perempuan itu. sambil mengambil selembar uang dua puluh ribu dari dompetnya.
Setelah menerima uang dari perempuan itu, anak itu kemudian berjalan pulang ke rumah menemui ayahnya. dan menyerahkan selembar uang 20.000 itu kepada Ayahnya.
Anak remaja itu masih belum faham apa maksud ayahnya dari tugas yang baru saja dia lakukan. baru saja ia bertanya tentang apa maksud ayahnya, kemudian Ayahnya memberikan batu berikutnya kepada Anaknya.
"Kalau tadi kamu jual batumu di pasar, besok bawa batu ini ke museum. dan tawarkan pada orang orang disana. kalau ada yang berminat, kamu cukup tunjukkan dua jarimu pada mereka."
Ke esokan harinya, anak remaja itu berangkat ke museum, dia duduk di depan museum, sambil menunggu siapa kira kira yang mau membeli batu yang dia bawa.
Tak lama lewatlah seorang bapak yang kira kira berusia lima puluh tahunan, dengan pakaian rapi dan membawa sebuah tas, ia berjalan agak terburu buru. Si anak remaja menghentikan jalan bapak itu dan menawarkan batu yang ia bawa.
Melihat batu yang dibawa anak remaja itu, bapak tua itu tampak sangat tertarik. kemudian bertanya, kamu mau jual berapa batu ini?
sebagaimana Arahan ayahnya , si anak remaja kemudian hanya menunjukkan dua jarinya.
"Ayo ke ruangan saya" kata di bapak tua itu.
Sesampainya di ruang kerja bapak tua itu, dia memasukkan uang sebanyak dua juta rupiah kedalam amplop lalu memberikan kepada Anak remaja itu.
Anak remaja itu merasa gembira, batunya laku dua juta rupiah di museum. ia pun pulang ke rumah lalu menceritakan pengalamannya kepada ayahnya sambil menyerahkan amplop berisi uang dua juta rupiah itu.
Baru saja Ayah menerima uang dari anaknya, ia langsung menyerahkan lagi satu batu yang hampir sama dengan dua batu yang sudah laku sebelumnya. sambil berkata.
"Ini batunya, besok kamu jual lagi ya... tapi besok bukan dipasar dan bukan di museum, tapi besok tolong bawa batu ini ke sebuah toko batu mulia dan tawarkan pada mereka, dan kamu tetap tidak boleh bicara saat ditanya harga , cukup tunjukkan dua jarimu."
Karena sudah beberapa kali berhasil menjual, anak ini sudah faham petunjuk Ayahnya. lalu ke esokan harinya saat pagi hari dia berangkat dari rumahnya dengan membawa batu dari ayahnya dan membawanya ke toko batu mulia.
Sesampaikan di toko batu mulia, sipemilik toko langsung terkesima dengan batu yang dibawa anak remaja ini, dan berminat membelinya.
Saat si anak remaja menunjukkan dua jarinya, si pemilik toko batu mulia itu langsung merespon dengan antusias.
"berapa dua ratus juta? ok deal. " kata si pemilik toko batu mulia sambil menyiapkan uangnya.
Si Anak remaja benar benar gembira, Dia masukkan semua uang dari pemilik toko kedalam tasnya, lalu bergegas pulang.
Sesampaikan di rumah Dia serahkan tasnya kepada Ayahnya.
"Laku dua ratus juta Yah" kata anak itu dengan wajah yang sangat bergembira.
Ayahnya kemudian tersenyum dan mengatakan pada Anaknya,
"Wahai anak ku, Apakah Sekarang engkau faham tentang harga hidupmu? apakah sekarang kamu tahu berapa nilai hidupmu?"
Anaknya hanya terdiam, menyimak setiap pertanyaan yang disampaikan ayahnya.
"Dari pengalamanmu menjual batu itu, kamu bisa lihat tidak penting dari mana kamu berasal. Tidak penting dimana kamu lahir, apa warna kulitmu. atau berapa banyak uang yang kamu miliki. "
Anak remaja itu duduk mendengarkan pelajaran penting yang disampaikan Ayahnya. Dan ayahnya meneruskan nasihatnya
"Wahai anakku, tahukah kamu apa yang penting dalam hidupmu? yang penting adalah dimana kamu MENEMPATKAN dirimu. Yang penting adalah orang orang yang ada disekitarmu, Dan bagaimana kamu memilih jalan hidupmu "
---
Begitulah sahabat sekalian Ayah yang mengajarkan pada anak nya tenyang bagaimana mengargai diri kita sendiri.
Kita diberikan kebebasan oleh Allah menentukan pilihan dalam hidup kita. kita bisa menganggap diri kita hanya batu yang bernilai dua puluh ribu, dan kita memilih hidup di tengah orang orang yang hanya menghargai kita senilai dua puluh ribu.
Namun kita semua perlu sadar bahwa kita memiliki berlian dalam diri kita dan kita bisa memilih untuk bersama orang orang yang bisa melihat nilai berlian dalam diri kita. Kita bisa memilih mau berada dipasar atau di toko batu mulia.
Dan kita juga memilih untuk bisa melihat nilai berlian pada diri orang lain. Bahkan kita bisa memilih untuk membantu orang lain agar mampu meliat berlian yang ada pada dirinya. KIta perlu bijak dalam memilih orang orang yang ada di sekeliling kita . Apakah orang orang yang hanya menghargai kita dnegan harga dua puluh ribu, atau orang orang yang bisa melihat nilai kita adalah dua ratus juta. atau bahkan ada orang orang yang mampu melihat bahwa berlian dalam diri kita memiliki harga yang tiada ternilai.
Semua pilihan kita. Perghargaan orang lain berbanding lurus dengan bagaimana kita menghargai dan menempatkan diri kita sendiri.
Semoga bermanfaat.
Jogjakarta, 2 September 2109