27/01/2026
Ritualnya jauh lebih ramai dan berwarna: slametan besar dengan uba rampe lengkap (berbagai jenis makanan, kembang tujuh rupa, d**a, dll), ruwatan, nyadran, sedekah bumi, dan sebagainya. Banyak unsur animisme dan dinamisme masih hidup kuat di sini.
Mayoritas penganut Kejawen saat ini adalah orang Islam (golongan abangan atau Islam Kejawen). Mereka tetap sholat, tetap puasa Ramadhan, tapi juga tetap melakukan slametan, bersih desa, dan ritual-ritual lain yang sebenarnya sudah jauh dari ajaran Islam murni. Di KTP mereka tetap tertulis “Islam”, bukan “Kejawen”.
Jadi intinya:
- Kapitayan ingin kembali ke agama Jawa murni sebelum ada pengaruh India dan Arab, sangat puritan, anti-sinkretisme, dan menganggap dirinya sebagai agama tersendiri.
- Kejawen adalah hasil akulturasi panjang Jawa dengan Hindu-Buddha-Islam (bahkan sedikit Kristen), sangat terbuka, fleksibel, dan hidup harmonis di dalam agama-agama resmi (terutama Islam).
Karena itulah kalau kamu bertemu orang Sedulur Sikep (penganut Kapitayan keras), mereka bisa menolak salam “Assalamu’alaikum” atau upacara bendera karena dianggap bukan tradisi Jawa asli. Sementara orang Kejawen biasa saja menjalankan semua itu sambil tetap nguri-uri tradisi leluhur.
Semoga lebih jelas sekarang perbedaan keduanya! Kalau ada bagian yang ingin diperdalam lagi, silakan tanya ya.