21/11/2017
Apa yang dimaksud dengan SI (Sensori Integrasi)
Sensory integrasi adalah
bagaimana seseorang mengatur informasi yang diperoleh dari lingkungan disekitarnya sehingga informasi tersebut dapat digunakan sesuai dengan situasi
Yang termasuk kategori "Sensory" adalah panca indra (mata, hidung, telinga, kulit, lidah) ditambah dengan 2 sistem sensorik lain, yaitu vestibular (berkaitan dengan gaya gravitasi bumi, keseimbangan) dan proprioseptif (kerja otot dan sendi). kedua sistem ini sering kali disebut The Hidden Sense, karena kedua sistem ini tidak terlihat secara kasat mata.
Sedangkan "Integrasi" adalah suatu proses yang berlangsung secara berkesinambungan, yang meliputi proses penerimaan, penggabungan dan penyesuaian informasi yang diperoleh, sehingga dapat menentukan reaksi yang sesuai dengan suara.
Kemudian ia melakukan orientasi dengan beranjak dari kasur dan berlari ke arah sumber bunyi (merespon dengan gerak otot dan sendi), dan seterusnya. dalam kehidupan sehari-hari, proses penerimaan informasi ini berlangsung dengan cepat.
Lalu bagaimana dengan anak-anak yang kurang dapat mengolah input sensorik dengan baik ?
Apabila seorang anak kurang dapat megnolah informasi yan diterima dari lingkungan, ia dikategorikan dalam gangguan SI, misalnya :
Terlalu sensitif terhadap suara, sentuhan atau gerakan. aktifitas geraknya sangat banyak atau terkesan tidak bisa diam atau sebaliknya tidak mau atau takut untuk bergerak. S**a memilih-milih makanan (Picky). Biasanya ada riwayat keterlambatan dalam berbahasa atau prestasi akademiknya menurun.
Anak-anak yang mengalami gangguan SI dapat diibaratkan seperti arus lalu lintas yang sedang macet, sehingga mobil atau kendaraan tidak dapat bergerak lancar.
Demikian juga denga proses di dalam otak, informasi yang diperoleh dari lingkungan tidak dapat diproses dengan baik, sehingga respon yang muncul biasanya tidak sesuai denga stimulus yang diterima. Misalnya kalau dipanggil tidak menoleh atau terlalu sensitif, jika mukanya dibasuh atau kepalanya dikeramas, ia akan menangis.
Terkadang tanggapan orang awam, anak-anak dengan gangguan SI dianggap sebagai anak manja tapi sebenarnya mereka merasakan bahwa informasi atau input yang diterima sangat tidak mengenakan atau sangat menyakitkan.
Berikut ini beberapa panduan deteksi dini gangguan SI untuk anak usia 0-2 tahun :
Mandi, berpakaian, sentuhan :
Marah/menangis pada saat memakai atau mengganti popok. Hanya s**a pada jenis pakaian tertentu, tidak s**a dengan tekstur kain tertentu. Tidak s**a / menangis ketika mandi, keramas dan muka dibasuh / dibersihkan. S**a memakai baju lengan panjang meskipun hari panas. Tidak s**a jenis permainan yang amburadul (bermain bedak, tepung, air). Tidak mudah merasa sakit ketiak jatuh, terantuk atau tidak menangis ketika disuntik.
Gerakan (Movement) :
Pada tahap perkembangan motorik, anak tiak melalui tahapan merangkak atau tahap merangkaknya pendek. Tidak bisa diam : banyak gerak, lari-lari, lompat-lompat, berayun. Tidak s**a / menangis ketika diayun. Mudah jatuh, kikuk, keseimbangan tubuh kurang bagus, mudah jatuh, sering menabrak benda (setelah usia 1 Tahun), Takut atau ragu-ragu bergerak dipermukaan yang tidak rata atau takut bergerak pada permukaan yang tidak sama (misalnya dari lantai keramik ke karpet).
Pendengaran, Bahasa dan Suara :
Tidak s**a/menghindar dari bunyi-bunyian tertentu (musik, vacum cleaner, hair dryer, flushing toilet). Organ pendengaran normal, tapi ketika dipanggila namanya, anak tidak merespon/menoleh. Tidak ada/sedikit fase mengoceh (Babbling). Sangat mudah terganggu/beralih perhatian pada suara tertentu (Suara iklan TV). Sensitif pada sinar terang (kilat foto, matahari). Sulit untuk memusatkan perhatian pada satu benda/permainan. takut atau sebaliknya sangat s**a pada pola-pola tertentu (pola bulat-bulat seperti roda mobil-mobilan/yang berputar).
Kemampuan bermain :
Tidak bisa melakukan permainan meniru (usia lebih dari 10 bulan). Tidak bisa diam, bergerak terus dan tidak dapat melakukan permainan yang bermakna (lebih dari 15 bulan). Sering merusak barang (melempar, membanting). Asyik dengan satu permainan dan dilakukan berulang-ulang
Emotional attachment :
Lebih s**a bermain dengan benda/mainan daripada dengan orang. Tidak ada komunikasi dua arah (hubungan timbal balik antara anak dengan orangtua/pengasuh). Menyakiti diri sendiri dan orang lain (membenturkan kepala, memukul, menggit, menjambak). Tidak mencari kedekatan dengan orantua atau pengasuh. Semua orang yang berada di sekitar anak, sering kali tidak tahu keinginan anak.
Perhatian (Attention) :
Mudah beralih perhatian, sulit untuk fokus pada satu kegiatan/permainan. Terlalu fokus pada satu kegiatan/permainan (acara TV, roda berputar, dan lainnya).
Pola tidur dan makan :
Sulit untuk memulai tidur. Perlu cara khusus untuk menidurkan anak, misalnya harus diayun-ayun, naik mobil, digendong sambil berjalan. Mengalami kesulitan dalam menyedot, mengunyah, dan menelan makanan. Tidak dapat menahan air liur atau ngiler yang terlalu berlebihan. Hanya s**a pada jenis makanan tertentu, tidak mau mencoba makanan baru.
Apabila terlihat adanya gejala-gejala di atas, segeralah eminta bantuan para profesional (terapis, psikolog atau dokter) yang memiliki pengetahuan tentang Sensory Integration.