08/01/2026
MENGULAS KEDIGJAYAAN KI BUYUT MANGUNTAPA.
Legenda ki Buyut Manguntapa, menjadi cerita rakyat bagi masyarakat Pesawahan dan sekitarnya, beliau tokoh sakti yang mengabdi pada keluarga susuhan Sunan Gunung Jati. Pada masa 90- an, nama Ki Buyut Manguntapa, sangat masyhur dibelahan Indinesia seiring tayangan kolosal sandiwara Nini Pelet diputar seluruh radio Nusantara.
Lalu dimanakah pesarean ki Buyut Manguntapa, berada?.
Disini banyak versi, sebab dibeberapa daerah, mereka juga mengklaim, memiliki makam dari sang tokoh legendaris, seperti di Tasik dan Indramayu. Hanya saja bila kita meruntut pada sejarah, ki Buyut Manguntapa, pada masa hidupnya lebih banyak bertapa di gunung Ciremai, dan paling dekat dengan areal tersebut adalah Pesawahan.
Desa Singkup, Kec, Pesawahan, Kab, Cirebon, salah satu kaki bukit gunung Ciremai, disini terdapat pesarean (makam) ki Buyut Manguntapa, yang setiap saat banyak peziarah datang berkunjung. Tempat ini sangat wingit bagi pemula pecinta olah bathin tapi di s**ai bagi pecinta ilmu Hikmah yang hatinya sudah tidak memiliki rasa takut.
Kenapa tempat ini sangat wingit?
Karena diatas pesarean ki Buyut Manguntapa, ada satu hutan yang sama sekali tidak pernah di jamah manusia, disana ada satu goa sebagai pemuja pesugihan.
Kembali ke cerita awal, dulu pada tahun 2009, saya dan kang Rosyadi, pernah bertirakat lama disana, pada waktu itu areal pemakaman belum tersalurkan aliran listrik hingga bila malam tiba, suasana bak hutan belantara. Hanya cahaya lampu tanah yang kami bawa, itupun sesekali mati bila tertiup angin kencang.
Sebelum saya dan kang Rosyadi, datang, disana sudah ada (dua) orang yang lagi menjalankan tirakat, mereka datang dari Demak Jateng. Namun malam itu salah satu dari mereka terjadi kesurupan dengan berprilaku seperti se ekor harimau. Pagi harinya keduanya ampun- ampunan dan langsung p**ang kampung. Konon mereka tidak kuat dengan gangguan bangsa goib yang ada disekitar pesarean.
Hari- hari berikutnya hanya kami berdua yang saban malam selalu berdzikir ditemani cahaya kecil dari lampu minyak tanah. Suasana disini memang berbeda dengan tempat wingit lain, suara kuntilanak yang setiap saat terdengar nyaring, auman harimau yang kerap menggema diantara pepohonan hutan. Belum lagi penampakkan mayit dan dedemit yang selalu datang silih berganti menampakkan diri.
Penampakkan semacam ini bagi kami berdua sudah tidak berarti sama sekali, mereka sama- sama makhluk Allah, yang memiliki kelemahan dan rasa takut juga. Yang saya khawatirkan saat itu adalah datangnya ular berbisa dari hutan yang bisa membahayakan nyawa kami berdua.
Setelah mengarungi lebih dari 7 malam, perubahanpun mulai terasa, mereka para penunggu pesarean banyak memberi mustika, dari yang bersifat asihan hingga tahta. Namun bukan ini yang kami cari!
Tepatnya dimalam ke- 21, sosok arif, bijak dan penuh kharisma, datang menjumpai kami, mereka seperti orang yang sudah berumur 80 tahunan, beruluk salam dengan lembut, mengajak dzikir bersama, mengajarkan ilmu bangsa ke Tauhidan dan memberikan beberapa cindramata, beliau inilah yang kami tunggu, di datangi langsung oleh tokoh legendaris ki Buyut Manguntapa.
Banyak pengalaman yang kami terima dari penuturannya, banyak ilmu bathin yang kami serap dari keluasan ilmunya. Banyak pengenalan mustika yang masya Allah, dari pembedarannya, salah satunya adalah mustika tingkat tertinggi Sulthonul Alam, dari jalur Derajat. Mustika ini sebagai wasilah Penakluk semua bangsa ghoib.
Inilah penampakkan mustika Sulthonul Alam Derajat. Ki Buyut Manguntapa.
Bagi yang berminat dengan mustika ini bisa langsung japri..