18/02/2026
Perjalanan mustika Wilayatul Alam, Waliyullah Mbah Burhan Godong Demak (kekuasaan)
Dulu saya bagian dari hidupnya, kemanapun beliau pergi saya selalu menjadi khodimnya (ikut serta). Pada tahun 1997- 1999, saya pernah khidmat dan berguru kepadanya, menjadi tukang pijet dan pengantar kebutuhannya.
Saban malam saya selalu menemani dalam pengajian maupun saat sendiri. Banyak ilmu dan karomah yang beliau tunjukkan kepadaku. Salah satunya. Ada dua orang suami istri. Keduanya datang sambil menangis penuh isak, menceritakan jeratan hidupnya yang penuh hutang. Dari sini Mbah Burhan bertanya;
" Berapa hutangmu lek" tanyannya.
Beliau menjawab.
"Banyak Mbah, kisaran 90 jtan."
Lalu Mbah Burhan menuding tangannya ke arah pot bunga yang berada di pojok ruangan.
"Ambil saja uangnya disitu. Bayar semuanya biar hidupmu tenang" jelasnya.
Lalu bapak tadi bergegas ke pot tadi dan ternyata didalamnya ada segepok uang sejumlah yang ia butuhkan. Padahal saban hari saya berada disitu, membersihkan pot ini tanpa terlihat secuilpun ada benda lain didalamnya, apalagi uang.
Pernah juga ada seorang pedagang kaya datang kepadanya dengan sedikit memaksa, beliau meminta syareat untuk diambilkan mustika merah delima. Pada waktu itu Mbah Burhan, mengindahkan tanpa menjawab permintaannya. Namun orang itu mulutnya gak bisa diam, terus meracau dan meminta tiada henti. Melihat ulahnya Mbah Burhan dengan wajah memerah (menahan amarah) langsung menarik tangannya dari atas ke bawah. Disitu ratusan batu kecil berwarna merah saling berjatuhan tiada henti.
"Koe jupukno sewaregmu, ojo mrene meneh" yang artinya "Silahkan ambil ses**amu dan jangan lagi kamu datang kemari".
Pada suatu malam dimana mbah Burhan, membutuhkan pijatanku, malam itu beliau bercerita agak nyeleneh dan sulit dicerna akal sehat. Konon kata beliau. Dulu nabi Hidir As, pernah berkunjung kemari dengan paras menyerupai pak Tani (tukang garap sawah) beliau membawa satu tumpuk padi yang masih ada tangkainya dan memintaku untuk membelinya.
"Yang bikin aku pusing dia meminta uang yang ada dilaciku semuanya. Sudah uangku tinggal 19.900rb, katanya. Diminta semuanya lagi. Belum lagi besok berasku habis. Pasti saya akan kena omel istri" jelasnya. Sambil sedikit tertawa kecil.
Nah setelah beliau menaruh padinya keteras depan, langsung pergi tanpa permisi. Tapi anehnya setiap langkah kakinya selalu membekas (ada tapaknya). Aku langsung memanggilnya, wahai nabi Hidir? Eh malah beliau melempar kantong kecil kepadaku dan langsung pergi kabur. Sambil Mbah Burhan tertawa renyah.
Ternyata dalam kantong ada dua tepak kecil, satu berisi 7 butir padi dan satunya lagi berupa 7 butir batu. Nah yang batu buatmu saja. Terangnya. Sambil menyodorkannya kepadaku.
Betapa terkejutnya diriku tanpa tedeng aling- aling langsung memberikannya kepadaku. Sambil masih gemetaran karena sama sekali tidak menyangka sebelumnya. Dengan perasaan campur aduk, saya beranikan diri bertanya.
"Maaf Simbah, ini kegunaannya buat apa?" Beliaupun menjawab.
"Dulu mustika ini kerap berpindah tangan dari satu pejabat ke pengusaha lain, dipinjam buat kekuasaan tahta, jabatan, usaha ataupun kharisma yang dia inginkan. Entah sudah berapa puluh orang yang minjam" dengan polosnya Mbah Burhan, menceritakan perjalanan mustika ini.
"Mustika ini bila kamu bacakan kuncinya (asma' kuncinya) siapapun akan tunduk dan nurut" sambil tertawa lirih. "Pokoknya kamu cekel (pegang) mustika ini tapi ingat jangan buat melet wanita" lalu beliau tertawa terkekeh- kekeh.
Kalau diceritakan mungkin akan panjang sekali.
Dan inilah penampakan mustika Wilayatul Alam Waliyulloh Mbah Burhan Godong Demak.
Bagi yang ingin memiliki bisa langsun ke..
Wa : 081280320803