Pusat Obat Cina Semarang

Pusat Obat Cina Semarang Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Pusat Obat Cina Semarang, Medical and health, Jalan Pucang Adi V No. 32, Demak.

*PANKREATITIS KRONIS*Pankreatitis kronis adalah peradangan pada pankreas yang menyebabkan kerusakan permanen dan berhent...
01/10/2021

*PANKREATITIS KRONIS*

Pankreatitis kronis adalah peradangan pada pankreas yang menyebabkan kerusakan permanen dan berhentinya fungsi pankreas. Penyakit ini sering ditandai dengan nyeri perut berat yang timbul berulang. Nyeri perutnya juga bisa terasa seperti terbakar di bagian tengah atau kiri perut yang bisa menjalar sampai ke punggung.
Pankreas adalah organ yang terletak di belakang lambung dan berfungsi memproduksi enzim untuk mencerna makanan. Pankreas juga memproduksi insulin untuk membantu mengatur kadar gula di dalam darah.

Kerusakan permanen pada organ ini akibat pankreatitis kronis dapat mengganggu fungsinya untuk memproduksi dan mengalirkan enzim percernaan dan insulin. Hal ini kemudian membuat tubuh sulit untuk mencerna makanan dan mengendalikan kadar gula darah.
Pankreatitis kronis berbeda dengan pankreatitis akut. Peradangan pada pankreatitis akut terjadi tiba-tiba dan hanya berlangsung singkat, sedangkan peradangan pada pankreatitis kronis berlangsung selama bertahun-tahun.

*GEJALA PANKREATITIS KRONIS*
Gejala utama pankreatitis kronis adalah nyeri perut atas yang parah dan muncul berulang. Nyeri perut yang terasa seperti terbakar atau tertusuk ini muncul di bagian tengah atau kiri perut yang menjalar sampai ke punggung, dan bisa hilang-timbul selama beberapa jam sampai beberapa hari.
Gejala pankreatitis kronis dapat muncul tanpa dipicu oleh apa pun. Pada penderita pankreatitis kronis yang memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol, dapat muncul nyeri perut yang ringan hingga sedang di antara dua episode nyeri perut yang parah.
Peradangan yang berlanjut akan semakin merusak kelenjar pankreas dan semakin mengganggu fungsinya dalam menghasilkan enzim pencernaan dan insulin. Pada tahap lanjut, akan muncul keluhan dan gejala berupa:
• Hilang nafsu makan.
• Mual dan muntah terus-menerus.
• Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
• Tinja berbau tidak sedap dengan tekstur berminyak.
• Kulit dan bagian putih mata menguning (penyakit kuning).
• Gejala diabetes, seperti sering merasa haus, mudah lelah, dan meningkatnya frekuensi buang air kecil.

*PENYEBAB PANKREATITIS KRONIS*
Sebanyak 70% kasus pankreatitis kronis disebabkan oleh konsumsi minuman beralkohol selama bertahun-tahun. Berulangnya peradangan akut pada pankreas dapat memicu pankreatitis kronis.
Beberapa penyakit yang juga diduga dapat memicu pankreatitis kronis adalah:
• Defisiensi Alfa-1 Antitripsin.
• Penyakit autoimun yang menyerang pankreas.
• Penyumbatan saluran pankreas akibat batu empedu.
• Efek samping obat, seperti azathioprine, sulfonamide, dan thiazide.
• Kelenjar paratiroid yang terlalu aktif (hiperparatiroidisme).
• Tingginya kadar trigliserida dalam darah.
• Riwayat pankreatitis pada keluarga.
• Cystic fibrosis.
Pankreatitis kronis dapat menyerang siapa saja. Namun, penyakit ini lebih sering terjadi pada orang yang berusia 30-40 tahun, berjenis kelamin laki-laki, dan memiliki kebiasaan merokok.
Diagnosis Pankreatitis Kronis
Dokter akan menanyakan gejala yang dialami pasien dan melakukan pemeriksaan fisik. Bila pasien diduga terkena pankreatitis kronis, dokter akan memastikannya dengan pemeriksaan penunjang, seperti:
• Tes darah, untuk mengukur kadar enzim dalam pankreas.
• Pemindaian dengan CT scan atau MRI, guna melihat kemungkinan adanya batu empedu dan memeriksa kondisi pankreas secara keseluruhan.
• Biopsi pankreas, yaitu pengambilan sampel jaringan pankreas untuk diteliti di laboratorium.

*PENGOBATAN PANKREATITIS KRONIS*
Tujuan pengobatan pankreatitis kronis adalah untuk meredakan nyeri, mengatasi penyebabnya, dan menangani gangguan akibat penurunan fungsi kelenjar ini.
Meskipun kerusakan pankreas tidak dapat disembuhkan, namun pengobatan dapat mengurangi keluhan yang dialami oleh penderita dan mengatasi gangguan yang disebabkan oleh tidak berfungsinya pankreas.

Beberapa metode pengobatan pankreatitis kronis adalah:
Perubahan gaya hidup
berhenti mengonsumsi minuman beralkohol dan berhenti merokok melalui konseling atau terapi.
Pemberian obat-obatan
Jenis obat yang diberikan meliputi:
• Obat pereda nyeri, mulai dari paracetamol, antiinflamasi nonsteroid, hingga obat golongan opiod, seperti codein atau tramadol.
• Tambahan obat untuk membantu mengurangi nyeri, seperti amitriptilin dan gabapentin.
• Suplemen pengganti enzim pankreas.
• Obat golongan steroid, pada pasien pankreatitis kronis yang disebabkan oleh penyakit autoimun.
• Insulin, bila pankreatitis kronis menyebabkan pasien diabetes.
Perubahan pola makan
Pankreatitis kronis akan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mencerna makanan, sehingga pasien akan disarankan untuk banyak mengonsumsi kacang-kacangan, sayuran, buah-buahan, susu rendah lemak, makanan tinggi protein dan kaya antioksidan, serta menghindari makanan tinggi lemak dan gula.
Pengaturan diet atau pola makan ini akan dilakukan oleh dokter spesialis gizi dengan mempertimbangkan kondisi pasien.
Operasi
Kebanyakan pasien pankreatitis kronis tidak perlu menjalani operasi. Namun, bila nyeri perut semakin berat dan tidak membaik dengan pemberian obat-obatan, operasi dapat dilakukan untuk menyingkirkan bagian pankreas yang rusak, membuka sumbatan yang ada di saluran pankreas, atau mengalirkan cairan dari kista.

*KOMPLIKASI PANKREATITIS KRONIS*
Pankreatitis kronis berpotensi menimbulkan komplikasi, baik secara fisik maupun mental. Beberapa komplikasi tersebut adalah:
• Diabetes, akibat pankreas sudah tidak mampu lagi memproduksi insulin.
• Pseudocysts, atau munculnya kantung berisi cairan di permukaan pankreas.
• Malnutrisi, akibat gangguan penyerapan nutrisi karena ketidakmampuan pankreas untuk memproduksi dan mengalirkan enzim pencernaan.
• Kanker pankreas, terutama pada penderita pankreatitis kronis berusia lanjut dan memiliki kebiasaan merokok.

*PENCEGAHAN PANKREATITIS KRONIS*
Seperti disebutkan di atas, kebanyakan kasus pankreatitis kronis disebabkan oleh kecanduan alkohol. Oleh sebab itu, pencegahan yang paling efektif adalah dengan membatasi konsumsi minuman beralkohol.
Upaya pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah mengonsumsi makanan bergizi seimbang serta menghentikan kebiasaan merokok.

*SOLUSI HERBAL*
SHUTANG dan DIACONT: mengaktifkan kerja pancreas
MUNCORD : mengurangi peradangan

Konsultasi gratis: https://bit.ly/Salsabillaanh

*OSTEOPOROSIS*  Osteoporosis adalah kondisi berkurangnya kepadatan tulang. Hal ini menyebabkan tulang menjadi keropos da...
29/09/2021

*OSTEOPOROSIS*


Osteoporosis adalah kondisi berkurangnya kepadatan tulang. Hal ini menyebabkan tulang menjadi keropos dan mudah patah. Osteoporosis jarang menimbulkan gejala dan biasanya baru diketahui ketika penderitanya jatuh atau mengalami cedera yang menyebabkan patah tulang.
Osteoporosis bisa dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak dan orang dewasa. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita yang telah memasuki masa menopause. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya kadar estrogen yang berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang.

*GEJALA OSTEOPOROSIS*
Osteoporosis terjadi secara bertahap dan sering kali tidak diiringi gejala apa pun. Namun, saat kepadatan tulang semakin berkurang, salah satu gejala yang bisa muncul adalah mudahnya terjadi patah tulang, walaupun hanya terkena benturan atau tekanan yang ringan.
Saat seseorang mengalami keretakan tulang atau patah tulang akibat cedera, akan muncul keluhan berupa nyeri, bengkak, dan memar pada area tulang yang patah, serta tidak mampu menggerakkan bagian tubuh tersebut.
Selain rasa sakit ketika tulang patah dan retak, penderita osteoporosis juga dapat mengalami gejala berikut:
• Postur tubuh membungkuk
• Berkurangnya tinggi badan
• Nyeri punggung akibat tulang belakang patah

*PENYEBAB OSTEOPOROSIS*
Osteoporosis disebabkan oleh penurunan kepadatan tulang. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan tubuh untuk melakukan regenerasi tulang, yaitu proses penggantian sel-sel tulang yang lama dan rapuh menjadi sel-sel tulang yang baru. Normalnya, kemampuan regenerasi ini akan menurun seiring bertambahnya usia.
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis. Sebagian faktor risiko ini tidak bisa dicegah atau dikendalikan (tidak dapat dimodifiksi), sebagian lagi bisa dicegah atau ditangani (dapat dimodifikasi).

*FAKTOR RISIKO*
Berikut ini adalah faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami osteoporosis, namun faktor risiko ini tidak dapat dicegah atau dikendalikan:
• Usia
Semakin bertambahnya usia, terutama jika sudah berusia lebih dari 35 tahun, risiko terjadinya osteoporosis akan meningkat.
• Jenis kelamin
Wanita lebih berisiko terkena osteoporosis daripada pria, terutama wanita yang sudah mengalami menopause.
• Keturunan
Seseorang yang anggota keluarganya menderita osteoporosis memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami osteoporosis

Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi
Sedangkan faktor risiko osteoporosis yang dapat dicegah atau ditangani adalah:
• Penurunan kadar hormon estrogen atau testosteron
• Gangguan hormonal akibat sindrom Cushing, hiperparatiroid, hiperparatirodisme, atau gangguan kelenjar pituitari (hipofisis)
• Gangguan makan, seperti anorexia nervosa
• Kurang asupan vitamin D dan kalsium
• Gangguan pencernaan, seperti malabsorbsi atau penyakit Chron yang menyebabkan penyerapan vitamin D dan kalsium terganggu
• Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti kortikosteroid dalam jangka panjang
• Gaya hidup tidak aktif dan kurang bergerak
• Kebiasaan merokok
• Kecanduan alkohol
• Penyakit tertentu, seperti cystic fibrosis, hemofilia, hemokromatosis, leukemia, atau penyakit Parkinson

• Tes bone mass density (BMD), untuk melihat tingkat kepadatan tulang dan menentukan risiko terjadinya patah tulang
Tes BMD dilakukan dengan dual energy X-Ray absorptiometryI (DXA) atau dengan quantitative computed tomography (QCT).
Pemeriksaan DXA lebih sering dilakukan. Interpretasi dari hasil pemeriksaan ini adalah sebagai berikut:
• Lebih dari -1 : Normal
• -1 sampai -2,5 : Kepadatan tulang rendah (osteopenia)
• Kurang dari -2,5 : Kemungkinan besar osteoporosis

*KOMPLIKASI DAN PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS*
Salah satu komplikasi dari osteoporosis adalah patah tulang. Patah tulang dapat menyebabkan nyeri, gangguan dalam bergerak, dan penurunan produktivitas. Patah tulang belakang akan menyebabkan nyeri punggung, postur tubuh bungkuk, dan tinggi badan yang berkurang.
Untuk mencegah terjadinya osteoporosis, langkah utama yang harus dilakukan adalah menghidari atau mengatasi faktor risikonya. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah:
• Berolahraga secara rutin, terutama olahraga angkat beban
• Mengonsumsi makanan tinggi kalsium dan vitamin D, atau mengonsumsi suplemen bila perlu
• Berhenti merokok
• Berhenti mengonsumsi minuman beralkohol
• Tidak mengonsumsi obat sembarangan, terutama obat kortikosteroid
Khusus untuk wanita yang sudah menopause atau yang sudah berusia lanjut, pencegahan bisa dilakukan dengan melakukan kontrol rutin ke dokter. Bila perlu, dokter akan menyarankan terapi penggantian hormon untuk mencegah osteoporosis.

*SOLUSI HERBAL*
CALCIUM POWDER : memulihkan kepadatan tulang

https://youtu.be/4EBBe351doc

Mau tahu seberapa besar resiko anda terkena osteoporosis?
Silakan simak videonya

Konsultasi gratis https://bit.ly/Salsabillaanh

Semoga bermanfaat bapak ibu.. salam sehat penuh semangat ✊
29/09/2021

Semoga bermanfaat bapak ibu.. salam sehat penuh semangat ✊

*OBESITAS*Obesitas adalah kondisi kronis akibat penumpukan lemak dalam tubuh yang sangat tinggi. Obesitas terjadi karena...
28/09/2021

*OBESITAS*

Obesitas adalah kondisi kronis akibat penumpukan lemak dalam tubuh yang sangat tinggi. Obesitas terjadi karena asupan kalori yang lebih banyak dibanding aktivitas membakar kalori, sehingga kalori yang berlebih menumpuk dalam bentuk lemak. Apabila kondisi tersebut terjadi dalam waktu yang lama, maka akan menambah berat badan hingga mengalami obesitas.
Masalah obesitas semakin meningkat di dunia. Hal ini menjadi tantangan yang besar dalam mencegah pertumbuhan penyakit kronis di dunia. Obesitas juga dipicu pertumbuhan industri dan ekonomi, serta perubahan gaya hidup, asupan nutrisi yang semakin banyak dari makanan olahan, atau diet dengan tinggi kalori.

Berdasarkan data WHO tahun 2016, sekitar 650 juta penduduk berusia dewasa mengalami obesitas, sedangkan 340 juta anak-anak dan remaja usia 5 hingga 19 tahun mengalami berat badan berlebih. Di Indonesia sendiri, pada tahun 2010, diperkirakan terdapat 23% orang dewasa mengalami obesitas, dan wanita lebih banyak yang mengalaminya dibanding dengan pria.
Masalah obesitas ini terkait dengan peningkatan jumlah kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, serta beberapa penyakit kanker. Jumlah kematian penderita obesitas yang disertai sejumlah penyakit tersebut lebih banyak dibanding penderita dengan berat badan yang normal.

*PENYEBAB OBESITAS*
Obesitas dapat terjadi ketika kita sering mengonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori, dengan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang sesuai. Kebutuhan rata-rata kalori bagi wanita dewasa yang aktif secara fisik per hari adalah sekitar 2000, sedangkan bagi pria dewasa yang juga aktif secara fisik adalah 2500 kalori.
Masalah berat badan berlebih atau obesitas timbul saat kita mengonsumsi makanan dengan kadar kalori dan lemak melebihi dari jumlah yang dibutuhkan. Kalori yang tidak berubah menjadi energi dan tidak terpakai tersebut akan disimpan dalam bentuk lemak dalam tubuh. Seiring waktu, penumpukan lemak ini menambah berat badan yang mengarah pada berat badan berlebih hingga obesitas.
Selain pola makan yang tidak sehat serta tubuh yang kurang aktif bergerak, obesitas juga bisa disebabkan oleh faktor-faktor lainnya, seperti:
• Keturunan atau genetik. Faktor ini dapat berpengaruh pada jumlah lemak yang diserap tubuh atau digunakan sebagai energi. Contoh masalah genetik yang langka adalah sindrom Prader-Willi.
• Efek samping obat-obatan. Beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan adalah antidepresan, antipsikotik, antikonvulsan, kortikosteroid, obat diabetes, dan obat penghambat beta.
• Kehamilan. Saat hamil, wanita akan membutuhkan banyak asupan nutrisi dari makanan. Namun tidak sedikit p**a dari mereka yang mengalami kesulitan untuk menurunkan berat badannya kembali setelah melahirkan.
• Kurang tidur. Perubahan hormon yang terjadi ketika kita kurang tidur dapat meningkatkan nafsu makan. Hal ini dapat mengarah kepada obesitas.
• Pertambahan usia. Makin tua usia kita, maka makin besar p**a risiko bertambahnya berat badan. Hal ini diakibatkan oleh metabolisme tubuh yang menurun dan massa otot yang berkurang.
• Penyakit atau masalah medis tertentu. Contohnya adalah sindrom Cushing dan hormon tiroid yang kurang dalam tubuh (hipotiroidisme ).

*DIAGNOSIS OBESITAS*
Seseorang dewasa dinyatakan mengalami obesitas, jika indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25. Perhitungan tersebut didapat dengan membandingkan berat badan dengan tinggi badan. Nilai IMT ini digunakan untuk mengetahui berat badan seseorang normal, kurang atau berlebih, hingga obesitas.
Penanganan obesitas ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang normal dan sehat. Untuk mencapai tujuan ini, maka perlu dilakukan perubahan pola makan, melakukan beberapa cara menahan nafsu makan, dan peningkatan aktivitas fisik. Di samping itu, ada beberapa metode pengobatan lain untuk mengatasi obesitas, misalnya:
• Mengonsumsi obat penurun berat badan
• Mengikuti konseling dan support group untuk mengatasi masalah psikologis terkait berat badan.
• Menjalani operasi bariatrik untuk mengobati obesitas pasien.
Penurunan berat badan, meski dalam jumlah kecil, dan mempertahankannya secara stabil dapat mengurangi risiko seseorang mengalami komplikasi penyakit terkait obesitas. Selain dengan cara-cara tersebut, penurunan berat badan juga bisa dilakukan dengan cara tradisional.

*KOMPLIKASI OBESITAS
Sejumlah kondisi medis dapat muncul pada seseorang yang mengalami obesitas. Penderita obesitas dengan lemak tubuh yang banyak membuat beban terhadap tulang, sendi, dan organ internal bertambah berat. Selain itu, risiko peradangan dalam tubuh juga meningkat. Berikut ini sejumlah penyakit yang terkait obesitas, di antaranya:
• Diabetes tipe 2
• Sindrom metabolik, berupa tekanan darah tinggi atau hipertensi, serta kadar trigliserida tinggi dan kadar kolesterol HDL yang rendah
• Stroke
• Gangguan jantung, seperti aritmia, serangan jantung, dan angina.
• Sleep apnea
• Asma
• Penyakit refluks asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD)
• Gangguan kantong empedu, seperti kolesistitis dan batu empedu
• Gangguan ginjal
• Gangguan hati
• Gangguan kandungan, berupa infertilitas atau menstruasi yang tidak menentu
• Osteoarthritis
• Komplikasi kehamilan.
• Beberapa jenis kanker, seperti kanker rahim, usus, hati, pankreas, ginjal, dan prostat.

*SOLUSI HERBAL*
CHITOSAN & JIANGZHITEA : membuang lemak berlebihan dalam tubuh

https://youtu.be/c69yWNB9-ow

KONSULTASI GRATIS https://bit.ly/Salsabillaanh

*MENINGITIS*  Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu lapisan pelindung yang menyelimuti otak dan...
23/09/2021

*MENINGITIS*


Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu lapisan pelindung yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang. Meningitis terkadang sulit dikenali, karena penyakit ini memiliki gejala awal yang serupa dengan flu, seperti demam dan sakit kepala.
Meningitis atau radang selaput otak dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit. Kondisi-kondisi tertentu, seperti melemahnya sistem imun tubuh, juga dapat memicu munculnya meningitis.

Semua golongan usia berpotensi terjangkit meningitis, termasuk bayi. Apabila meningitis tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat memburuk dan memicu komplikasi seperti kejang, gagal ginjal, atau bahkan kematian.

*GEJALA MENINGITIS*
Gejala meningitis dapat berbeda-beda, tergantung tipe, usia, dan keparahan kondisi pasien. Gejala yang umumnya muncul pada penderita meningitis yang berusia di atas 2 tahun meliputi:
• Demam tinggi
• Leher kaku
• Sakit kepala berat
• Kejang
• Sensitif terhadap cahaya
• Mual atau muntah
• Sulit berkonsentrasi atau kebingungan
• Ruam
• Nafsu makan berkurang
Pada bayi atau anak-anak di bawah 2 tahun, beberapa gejala yang muncul umumnya serupa dengan penderita meningitis yang berusia di atas 2 tahun, seperti demam tinggi, mengalami gangguan tidur, nafsu makan berkurang, dan kaku pada leher. Namun, terdapat beberapa gejala lain yang lebih spesifik, seperti adanya benjolan di bagian kepala dan bayi terus menangis. Ketika gejala ini muncul, pasien harus segera mendapatkan penanganan yang tepat.

*PENYEBAB MENINGITIS*
Berdasarkan penyebabnya, meningitis terbagi menjadi beberapa tipe, yaitu:
Meningitis Bakterialis
Meningitis tipe ini disebabkan oleh bakteri dan dapat menular. Bakteri yang menyebabkan meningitis meliputi:
• Streptococcus pneumoniae
Bakteri ini sering menjadi penyebab meningitis bakterialis. Meningitis akibat bakteri ini kerap dikaitkan dengan infeksi bakteri ini di bagian tubuh lain, seperti pneumonia, sinusitis, atau endokarditis.
• Neisseria meningitidis
Bakteri ini menyebar melalui air liur atau lendir saluran pernapasan.
• Haemophilus influenza
Haemophilus influenza tipe B atau Hib adalah jenis bakteri yang dapat menyebabkan meningitis pada anak-anak. Selain meningitis, bakteri ini juga dapat menyebabkan infeksi pada darah, tenggorokan, kulit, dan sendi.
• Listeria monocytogenes
Bakteri tipe ini umumnya terdapat pada makanan, seperti melon, keju, dan sayuran mentah.
• Staphylococcus aureus
Bakteri tipe ini umumnya ditemukan pada kulit dan saluran pernapasan. Kondisi ini kerap di kaitkan dengan prosedur operasi di otak atau cedera otak.
Meningitis Virus
Virus yang menyebabkan meningitis meliputi virus kelompok enterovirus, virus herpes simplex, virus HIV, virus West Nile, atau virus mumps. Masing-masing jenis virus memiliki pola penyebaran dan penularan yang berbeda-beda.
Kondisi ini umumnya menimbulkan gejala yang tergolong ringan dan dapat pulih dengan sendirinya. Namun, pada beberapa keadaan kondisinya tetap membutuhkan perawatan dan bisa memburuk.
Meningitis Jamur
Meningitis yang disebabkan oleh jamur masih tergolong jarang terjadi. Meningitis tipe ini biasanya menyerang seseorang yang memiliki sistem imun lemah, seperti penderita kanker dan AIDS.
Beberapa jenis jamur yang dapat menyebabkan meningitis adalah cryptococcus, blastomyces, histoplasma, dan coccidioides. Jamur umumnya ini terdapat pada kotoran hewan seperti burung dan kelelawar. Penyebaran jamur dapat melalui tanah atau debu yang terkontaminasi dan terhirup oleh pasien.
Meningitis Parasit
Parasit penyebab meningitis, seperti Angiostrongylus cantonensis dan Baylisascaris procyonis, tidak disebarkan melalui kontak langsung. Parasit ini umumnya terdapat pada hasil bumi, serta kotoran, makanan, dan hewan seperti siput, ikan, unggas. Memakan makanan yang berbahan dasar hewan tersebut atau melakukan aktivitas seperti berenang berpotensi tertular parasit penyebab meningitis.
Meningitis juga dapat dipicu oleh kondisi yang diderita pasien, seperti cedera kepala, kanker, dan lupus. Penggunaan obat-obatan tertentu atau pernah menjalani tindakan medis seperti operasi otak juga dapat memicu munculnya meningitis.

*FAKTOR PEMICU MENINGITIS*
Ada beberapa faktor lain yang dapat memicu meningitis, di antaranya:
• Usia
Umumnya, meningitis virus muncul pada anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun, dan meningitis bakteri muncul pada orang di bawah 20 tahun.
• Kehamilan
Kehamilan meningkatkan potensi meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi berupa keguguran.
• Lingkungan
Tinggal dalam lingkungan yang ramai, seperti siswa yang tinggal di asrama, bisa meningkatkan risiko meningitis.
• Melewati jadwal vaksinasi
Risiko akan meningkat apabila pasien melewati jadwal vaksinasi yang telah dianjurkan dokter.

*DIAGNOSIS MENINGITIS*
Dalam mendiagnosis meningitis (radang selaput otak), awalnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, mengamati potensi penyebaran penyebab meningitis di tempat tinggal pasien, menanyakan riwayat penyakit atau tindakan medis yang pernah dijalani, dan memeriksa faktor risiko lain. Kemudian, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan melakukan tes untuk mencari tahu secara pasti penyebab meningitis. Tes yang dilakukan dapat berupa:
Tes darah
Dokter akan mengambil sampel darah pasien untuk kemudian diperiksa lebih lanjut. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat adakah mikroorganisme yang membahayakan di dalam darah pasien.
Pemindaian
CT scan atau MRI dapat dilakukan untuk memeriksa pembengkakan atau peradangan di sekitar kepala.
Spinal tap (lumbal pungsi)
Dalam tes ini, cairan serebrospinal digunakan sebagai sampel untuk mendiagnosis meningitis. Penderita meningitis umumnya memiliki kandungan gula yang rendah serta terjadi peningkatan pada jumlah sel darah putih dan protein dalam cairan serebrospinalnya.
Tes PCR
Dokter juga dapat melakukan tes polymerase chain reaction (PCR) atau tes molekular untuk melihat materi genetik virus dalam tubuh, apabila meningitis yang ada dicurigai disebabkan oleh virus.
Terdapat p**a tes sederhana yang dapat dilakukan untuk memeriksa meningitis. Tes tersebut hanya menggunakan gelas sebagai medianya. Dokter akan menekankan gelas pada area kulit yang mengalami ruam.
Apabila ruam yang ditekan dengan gelas tidak memudar, maka ruam tersebut bisa jadi merupakan ruam pada penderita meningitis. Namun, tes ini tidak bisa dijadikan patokan dan tetap harus dipastikan dengan pemeriksaan-pemeriksaan lain.

*KOMPLIKASI MENINGITIS*
Komplikasi yang muncul akibat meningitis pada tiap orang dapat berbeda-beda. Berikut adalah beberapa komplikasi yang dapat terjadi:
• Kehilangan penglihatan
• Kejang
• Gangguan ingatan
• Migrain
• Kehilangan pendengaran
• Arthritis atau radang sendi
• Gagal ginjal
• Syok
• Kesulitan berkonsentrasi
• Kerusakan otak
• Hidrosefalus

*PENCEGAHAN MENINGITIS*
Pencegahan meningitis dapat dilakukan dengan mengurangi kemungkinan penyebaran infeksi dan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Beberapa upaya di bawah ini dapat dilakukan dalam mencegah meningitis:
• Cuci tangan dengan benar tiap kali beraktivitas
• Jaga jarak dengan orang yang terinfeksi
• Gunakan masker jika sedang sakit
• Rutin berolahraga
• Jangan berbagi makanan atau barang pribadi
• Pilih makanan yang telah dipasteurisasi
• Menghindari asap rokok
• Istirahat yang cukup
Selain beberapa upaya di atas, pencegahan meningitis juga dapat dilakukan dengan menerima vaksinasi atau imunisasi. Pemberian vaksin bertujuan agar melindungi pasien dari penyebab seperti bakteri atau virus. Beberapa vaksin yang digunakan untuk mencegah meningitis meliputi:
• Vaksin pneumococcal, untuk memberikan perlindungan terhadap bakteri pneumococcal.
• Vaksin Hib, untuk melindungi pasien dari bakteri Haemophilus influenzae tipe B penyebab meningitis.
• Vaksin MenC, untuk melindungi pasien dari bakteri meningococcal grup C.
• Vaksin MMR, untuk melindungi pasien dari kondisi yang memicu meningitis, seperti gondongan, campak, dan rubella.
• Vaksin ACWY, untuk memberikan perlindungan pada pasien terhadap bakteri meningococcal grup A, C, W, dan Y.
• Vaksin meningitis B, untuk melindungi pasien dari bakteri meningococcal tipe B.
Pemberian vaksin harus disesuaikan dengan umur pasien. Konsultasikan dengan dokter terkait vaksin yang tepat dengan kondisi.

Pengobatan meningitis atau radang selaput otak umumnya berbeda-beda tergantung kepada penyebabnya. Sebagai contoh, dokter bisa meresepkan obat antimikroba, atau menjalankan terapi lain bila meningitis disebabkan oleh kanker atau lupus.
Penyakit ini bisa dicegah dengan menjalani gaya hidup sehat dan menghindari kondisi yang dapat memicu penyebaran infeksi. Guna meningkatkan kekebalan tubuh dari kuman penyebab meningitis, lakukan vaksinasi (termasuk vaksin PCV) sesuai anjuran dokter. Vaksin ini juga perlu diperoleh oleh setiap orang yang hendak menjalani ibadah haji.

*SOLUSI HERBAL*
MUNCORD : anti inflamasi
CALCIUM & VITALINE : utk menjaga kinerja otak

HIPOTIROIDPenyakit hipotirodisme adalah kelainan akibat kekurangan hormon tiroid. Kelainan ini akan membuat penderitanya...
21/09/2021

HIPOTIROID

Penyakit hipotirodisme adalah kelainan akibat kekurangan hormon tiroid. Kelainan ini akan membuat penderitanya mudah lelah dan sulit untuk berkonsentrasi.

Hipotirodisme atau hipotiroid lebih sering ditemui pada wanita lanjut usia. Umumnya, penyakit ini menimbulkan gejala yang tidak spesifik di tahap awal, misalnya kenaikan berat badan atau mudah lelah yang dianggap biasa terjadi seiring pertambahan usia. Namun seiring perkembangan penyakit, gejala tersebut akan makin berat.

Meski jarang terjadi, hipotiroidisme juga dapat diderita oleh bayi baru lahir. Kondisi ini disebut hipotiroidisme kongenital. Bayi baru lahir yang mengalami hipotiroidisme kongenital akan mengalami gejala berupa penyakit kuning, lidah berukuran besar, hingga sesak napas.

*Gejala Hipotiroidisme*

Gejala hipotirodisme bervariasi, tergantung seberapa rendah kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Gejala tersebut meliputi:

Mudah lelah dan pusing.
Sembelit atau susah buang air besar.
Otot-otot terasa lemah, nyeri, dan kaku.
Lebih sensitif pada cuaca dingin.
Kulit kering, kasar, mudah mengelupas, dan keriput.
Berat badan naik tanpa penyebab yang jelas.
Wajah bengkak dan suara menjadi parau.
Rambut rontok dan tipis.
Kuku rapuh.

Mudah lupa dan sulit berkonsentrasi.
Gejala-gejala di atas berkembang cukup lambat, bahkan hingga hitungan tahun. Hal ini membuat gejala hipotiroidisme tidak langsung disadari.

Meski lebih sering dialami oleh wanita berusia lanjut, namun hipotiroid dapat diderita oleh siapa saja, termasuk bayi baru lahir (hipotiroidisme kongenital). Meski begitu, gejala hipotiroid pada bayi sedikit berbeda dengan orang dewasa, yaitu:

Sering kentut atau bersendawa (perut kembung).
Tidak mau makan dan jarang buang air besar (sembelit).
Tidur terlalu lama.
Tangan dan kaki terasa dingin.
Lebih rewel dan suara tangisannya parau.
Lidah bengkak dan menjulur keluar.
Penyakit kuning.
Sulit bernapas.
Pertumbuhannya terhambat, berat badan rendah, dan terlambat berjalan.

Berikut ini adalah beberapa gejala hipotiroid berdasarkan usia penderitanya:

Hipotiroid pada bayi

Gejala terjadinya hipotiroid pada bayi adalah wajahnya tampak membengkak, lidahnya besar dan menonjol, sering tersedak, dan kulit serta bagian putih pada mata bayi berwarna kuning. Apabila tidak segera diobati, bayi bisa mengalami sembelit, kesulitan menyusu, mengantuk secara berlebihan, tangan dan kaki teraba dingin, serta otot yang lemah. Lebih jauh lagi, perkembangan bayi menjadi tidak optimal. Bahkan, dapat memengaruhi perkembangan mentalnya.

Hipotiroid pada anak dan remaja

Gejala hipotiroid yang terjadi pada anak-anak dan remaja cenderung sama dengan yang dialami orang dewasa. Namun, pada anak-anak dan remaja kadang-kadang gejalanya disertai penundaan pertumbuhan gigi, masa pubertas yang terlambat, serta buruknya pertumbuhan fisik dan mental.

Hipotiroid pada usia dewasa

Pada orang dewasa, secara umum beberapa gejala hipotiroid termasuk kelelahan, detak jantung melemah, konstipasi/sembelit, sensitif terhadap suhu dingin, peningkatan berat badan, peningkatan kolesterol dalam darah, bengkak pada wajah, nyeri otot atau nyeri sendi. Pada wanita, hipotiroid juga bisa berupa jadwal haid yang tidak teratur atau bahkan lebih banyak dari biasanya. Gejala hipotiroid juga dapat berupa gangguan daya ingat dan depresi.

*Penyebab Hipotiroidisme*

Kelenjar tiroid adalah kelenjar kecil berbentuk kupu-kupu yang terletak di sisi depan leher, tepat di bawah jakun. Kelenjar ini bertugas menghasilkan hormon tiroid yang membantu tubuh menggunakan energi, termasuk mengatur metabolisme, suhu tubuh, serta detak jantung.

Hipotiroidisme terjadi saat kelenjar tiroid tidak dapat memproduksi hormon tersebut dalam jumlah cukup. Gangguan ini biasa disebabkan oleh beberapa hal berikut:

Penyakit autoimun

Penyakit autoimun, terutama penyakit Hashimoto, adalah penyebab hipotirodisme paling umum. Pada penyakit ini, tubuh menghasilkan antibodi yang justru menyerang kelenjar tiroid, sehingga fungsinya terganggu.
Pengobatan pada kelenjar tiroid
Radioterapi pada area leher dapat merusak sel-sel kelenjar tiroid, sehingga kelenjar tersebut sulit untuk memproduksi hormon. Selain itu, operasi tiroid juga dapat menjadi penyebab hipotiroidisme.

Obat-obatan tertentu

Penggunaan beberapa jenis obat, seperti lithium, amiodarone, serta interferon, dapat menyebabkan hipertiroidisme. Obat-obatan ini digunakan untuk gangguan mental, gangguan irama jantung, dan kanker.

Pola makan rendah yodium

Yodium adalah mineral penting yang dibutuhkan oleh kelenjar tiroid agar dapat memproduksi hormon. Kekurangan yodium bisa menyebabkan hipotirodisme.

Kelainan bawaan

Beberapa bayi lahir dengan kelenjar tiroid yang tidak berkembang sempurna, bahkan tanpa kelenjar tiroid. Kondisi yang disebut hipotiroidisme kongenital ini terjadi akibat beragam hal, mulai dari pola makan ibu hamil yang rendah yodium hingga faktor genetik.

Gangguan hormon TSH

TSH (thyroid-stimulating hormone) adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar pituitari untuk membantu kelenjar tiroid dalam memproduksi dan melepaskan hormon. Gangguan pada hormon TSH akan memengaruhi produksi hormon tiroid.
Terdapat juga sejumlah kondisi yang bisa membuat seseorang lebih berisiko menderita hipertiroidisme, di antaranya:

Berjenis kelamin wanita dan berusia di atas 60 tahun.
Memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit tiroid.
Sedang hamil atau baru melahirkan dalam waktu 6 bulan terakhir.
Menderita penyakit autoimun lainnya, seperti diabetes tipe 1, penyakit celiac, atau multiple sclerosis.

Menderita gangguan bipolar, sindrom Down, atau sindrom Turner.

*Diagnosis Hipotiroidisme*

Untuk mendiagnosis hipertiroidisme, dokter akan menanyakan keluhan yang dialami pasien, obat-obatan yang sedang dikonsumsi, serta prosedur medis yang pernah dijalani pasien. Dokter juga akan menanyakan riwayat penyakit yang pernah diderita pasien dan anggota keluarganya.

Selanjutnya, pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengamati kondisi kulit, kemampuan otot, refleks, hingga laju detak jantung pasien. Bila pasien diduga mengalami hipotirodisme, tes darah akan dilakukan untuk memastikan diagnosis.

Tes darah dapat mengukur kadar hormon tiroid dan TSH di dalam tubuh. Rendahnya kadar tiroid atau tingginya kadar TSH di dalam darah dapat menandakan terjadinya hipotirodisme.

*Komplikasi Hipotiroidisme*

Jika tidak ditangani, hipotiroidisme bisa menyebabkan beragam komplikasi, seperti:

Nyeri sendi
Obesitas
Penyakit gondok
Infertilitas atau gangguan kesuburan
Kerusakan saraf
Penyakit jantung
Koma miksedema

Sedangkan hipotiroid yang terjadi pada wanita hamil dapat menimbulkan komplikasi berupa:

Anemia
Preeklamsia
Keguguran
Bayi lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah
Bayi lahir dalam kondisi cacat
Bayi mengalami gangguan perkembangan fisik atau mental.
*Berbagai Penyebab Hipotiroid*

Ada banyak penyebab hipotiroid yang mungkin terjadi.

Penyebab-penyebab tersebut adalah:

Konsumsi obat-obatan tertentu
Beberapa jenis obat-obatan dapat memicu hipotiroid, seperti obat untuk kanker, penyakit jantung, dan kondisi kejiwaan. Hal ini disebabkan karena obat-obatan tersebut bisa memengaruhi produksi hormon tiroid.

Wanita hamil

Sebagian wanita hamil mungkin mengalami hipotiroid. Penyebabnya masih belum jelas, namun pada saat hamil kelenjar tiroid terkadang mengalami peradangan, sehingga terjadi peningkatan kadar hormon tiroid. Tapi setelah itu, terjadi penurunan kadar hormon tiroid secara drastis. Di sinilah hipotiroidisme terjadi. Namun, jangan khawatir umumnya kondisi ini akan kembali normal dengan sendirinya.

Radioterapi di sekitar leher
Limfoma atau kanker tertentu lainnya memerlukan pengobatan berupa radiasi di daerah leher. Radiasi di daerah ini membuat sel-sel di tiroid menjadi rusak, sehingga kemampuannya dalam memproduksi hormon tiroid, terganggu. Akibatnya, tubuh pun kekurangan hormon tersebut.

Pengobatan hipertiroid

Pada kondisi hipertiroid, kelenjar tiroid Anda justru terlalu aktif, sehingga Anda perlu mendapatkan pengobatan untuk menurunkan aktivitas tiroid. Salah satunya melalui terapi radioaktif. Sayangnya, efek samping dari radiasi pada pengobatan ini dapat menyebabkan kerusakan sel-sel di kelenjar tiroid, sehingga memungkinkan terjadinya hipotiroidisme.

Operasi tiroid

Operasi ini berupa pengangkatan kelenjar tiroid. Jika sebagian kelenjar masih ada, hormon tiroid masih bisa diproduksi. Namun, jika seluruh jaringan kelenjar tiroid sudah diangkat, tidak ada lagi hormon tiroid yang bisa diproduksi. Akibatnya, sudah pasti tubuh akan kekurangan hormon ini.

Gangguan tiroid sejak lahir

Ada bayi yang lahir dengan kelainan pada kelenjar tiroid dan produksi hormon tiroid yang rendah. Kondisi ini disebut dengan kongenital hipotiroidisme. Pada kondisi ini kelenjar tiroid tidak berkembang dengan semestinya. Sekalipun berkembang, kemampuan produksi hormon tiroidnya tidak baik. Bayi atau orang dewasa yang sudah memiliki masalah tiroid sejak lahir, sangat mungkin mengalami hipotiroid.

Kekurangan atau kelebihan yodium
Untuk membuat hormon tiroid, kelenjar tiroid membutuhkan yodium. Jangan sampai Anda kekurangan zat yang satu ini. Penuhi kebutuhan tubuh akan zat tersebut dengan mengonsumsi sumber yodium, seperti telur, produk susu, kerang, dan garam meja beryodium.

Untuk memastikan Anda mengalami hipotiroid atau tidak, dapat melakukan pemeriksaan fungsi tiroid. Apabila benar-benar mengalami hipotiroidisme, dokter kemungkinan akan memberikan pengobatan berupa pemberian hormon tiroid sintetis.

*Pencegahan Hipotiroidisme*

Penyakit hipotirodisme dapat dicegah dengan menghindari penyebab dan faktor risikonya. Caranya adalah dengan:
Menerapkan pola makan sehat dan seimbang.

Mengonsumsi makanan beryodium, termasuk garam beryodium, rumput laut, telur, udang, dan produk susu.
Menjalani pengobatan dan pemeriksaan secara berkala bila menderita penyakit autoimun atau pernah menjalani pengobatan penyakit tiroid.
Menjalani pemeriksaan rutin ke dokter kandungan selama masa kehamilan.

*SOLUSI HERBAL :*

ZINC : Mengendalikan hormon
MUNCORD : meningkatkan daya tahan tubuh
VITALINE : Antioksidan

Address

Jalan Pucang Adi V No. 32
Demak
59567

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pusat Obat Cina Semarang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram