11/02/2026
Penelokan bukan tempat medelokan ( berkunjung ke tempat duka)
Dari udara, jalur Penelokan, Kintamani, tak lagi sekadar bentang alam megah yang menghadap Danau dan Gunung Batur. Ia kini berubah menjadi etalase beton: deretan coffee shop, restoran, Indomaret, Alfamart, berdiri rapat di bibir jurang—tempat yang seharusnya steril dari bangunan permanen.
Bangunan-bangunan ini berdiri di atas zona rawan longsor, melanggar Perda Sempadan Jurang yang dibuat bukan tanpa alasan. Retakan tanah, dinding penahan darurat, dan tebing yang tergerus hujan adalah tanda peringatan alam yang diabaikan. Di sini, keuntungan jangka pendek seolah lebih penting daripada keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.
Ironisnya, semua ini terjadi di kawasan ikon pariwisata Bali—pulau yang selama ini dijual ke dunia sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam. Namun dari ketinggian, yang terlihat justru pembiaran: tata ruang yang kalah oleh modal, aturan yang kalah oleh kepentingan, dan pengawasan yang entah ke mana.
Pertanyaannya sederhana namun mendesak:
Apakah kita menunggu longsor besar terjadi lebih dulu, baru semua pihak bertindak?
Atau tragedi memang harus selalu menjadi alarm terakhir di negeri ini?
Alam tidak pernah lupa. Ia hanya menunggu waktu untuk menagih kelalaian manusia.
Foto hanya ilustrasi, jangan sampai benar² terjadi.
Dari udara, jalur Penelokan, Kintamani, tak lagi sekadar bentang alam megah yang menghadap Danau dan Gunung Batur. Ia kini berubah menjadi etalase beton: deretan coffee shop, restoran, Indomaret, Alfamart, berdiri rapat di bibir jurang—tempat yang seharusnya steril dari bangunan permanen.
Bangunan-bangunan ini berdiri di atas zona rawan longsor, melanggar Perda Sempadan Jurang yang dibuat bukan tanpa alasan. Retakan tanah, dinding penahan darurat, dan tebing yang tergerus hujan adalah tanda peringatan alam yang diabaikan. Di sini, keuntungan jangka pendek seolah lebih penting daripada keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.
Ironisnya, semua ini terjadi di kawasan ikon pariwisata Bali—pulau yang selama ini dijual ke dunia sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam. Namun dari ketinggian, yang terlihat justru pembiaran: tata ruang yang kalah oleh modal, aturan yang kalah oleh kepentingan, dan pengawasan yang entah ke mana.
Pertanyaannya sederhana namun mendesak:
Apakah kita menunggu longsor besar terjadi lebih dulu, baru semua pihak bertindak?
Atau tragedi memang harus selalu menjadi alarm terakhir di negeri ini?
Alam tidak pernah lupa. Ia hanya menunggu waktu untuk menagih kelalaian manusia.
Foto hanya ilustrasi, jangan sampai benar² terjadi.