Bali Alternative

Bali Alternative Holiday Services Bali TOUR Alternative will be arrange your holiday more deeply. Do you assess that Bali is good, it was ugly or not according to your expected?

The Bali Island is a mass tourism, there are many tourism facilities modern, which gives new value to the Bali tourism. That is your vote, but Bali Alternative will be arrange your holiday to be able to interact directly with the culture and customs. That excess Bali now, though Bali is a mass tourism, but keep the Bali culture and customs of remain sustainable. Even the Bali Alternative will carry out your holiday program according to you want and return home with happiness.

Map depicting the 9 Kingdoms of Bali c. 1850Mannosuke. M. PressPublic domainKingdoms of Bali circa 1850 edit by ⓈⒿⓂ™.j18...
18/02/2026

Map depicting the 9 Kingdoms of Bali c. 1850

Mannosuke. M. Press

Public domain

Kingdoms of Bali circa 1850 edit by ⓈⒿⓂ™.j

1850

Penelokan bukan tempat medelokan ( berkunjung ke tempat duka) Dari udara, jalur Penelokan, Kintamani, tak lagi sekadar b...
11/02/2026

Penelokan bukan tempat medelokan ( berkunjung ke tempat duka)

Dari udara, jalur Penelokan, Kintamani, tak lagi sekadar bentang alam megah yang menghadap Danau dan Gunung Batur. Ia kini berubah menjadi etalase beton: deretan coffee shop, restoran, Indomaret, Alfamart, berdiri rapat di bibir jurang—tempat yang seharusnya steril dari bangunan permanen.

Bangunan-bangunan ini berdiri di atas zona rawan longsor, melanggar Perda Sempadan Jurang yang dibuat bukan tanpa alasan. Retakan tanah, dinding penahan darurat, dan tebing yang tergerus hujan adalah tanda peringatan alam yang diabaikan. Di sini, keuntungan jangka pendek seolah lebih penting daripada keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Ironisnya, semua ini terjadi di kawasan ikon pariwisata Bali—pulau yang selama ini dijual ke dunia sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam. Namun dari ketinggian, yang terlihat justru pembiaran: tata ruang yang kalah oleh modal, aturan yang kalah oleh kepentingan, dan pengawasan yang entah ke mana.

Pertanyaannya sederhana namun mendesak:
Apakah kita menunggu longsor besar terjadi lebih dulu, baru semua pihak bertindak?

Atau tragedi memang harus selalu menjadi alarm terakhir di negeri ini?
Alam tidak pernah lupa. Ia hanya menunggu waktu untuk menagih kelalaian manusia.

Foto hanya ilustrasi, jangan sampai benar² terjadi.

Dari udara, jalur Penelokan, Kintamani, tak lagi sekadar bentang alam megah yang menghadap Danau dan Gunung Batur. Ia kini berubah menjadi etalase beton: deretan coffee shop, restoran, Indomaret, Alfamart, berdiri rapat di bibir jurang—tempat yang seharusnya steril dari bangunan permanen.

Bangunan-bangunan ini berdiri di atas zona rawan longsor, melanggar Perda Sempadan Jurang yang dibuat bukan tanpa alasan. Retakan tanah, dinding penahan darurat, dan tebing yang tergerus hujan adalah tanda peringatan alam yang diabaikan. Di sini, keuntungan jangka pendek seolah lebih penting daripada keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Ironisnya, semua ini terjadi di kawasan ikon pariwisata Bali—pulau yang selama ini dijual ke dunia sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam. Namun dari ketinggian, yang terlihat justru pembiaran: tata ruang yang kalah oleh modal, aturan yang kalah oleh kepentingan, dan pengawasan yang entah ke mana.

Pertanyaannya sederhana namun mendesak:
Apakah kita menunggu longsor besar terjadi lebih dulu, baru semua pihak bertindak?

Atau tragedi memang harus selalu menjadi alarm terakhir di negeri ini?
Alam tidak pernah lupa. Ia hanya menunggu waktu untuk menagih kelalaian manusia.

Foto hanya ilustrasi, jangan sampai benar² terjadi.

Penelekonan bukan untuk medelokan
11/02/2026

Penelekonan bukan untuk medelokan

Dari udara, jalur Penelokan, Kintamani, tak lagi sekadar bentang alam megah yang menghadap Danau dan Gunung Batur. Ia kini berubah menjadi etalase beton: deretan coffee shop, restoran, Indomaret, Alfamart, berdiri rapat di bibir jurang—tempat yang seharusnya steril dari bangunan permanen.

Bangunan-bangunan ini berdiri di atas zona rawan longsor, melanggar Perda Sempadan Jurang yang dibuat bukan tanpa alasan. Retakan tanah, dinding penahan darurat, dan tebing yang tergerus hujan adalah tanda peringatan alam yang diabaikan. Di sini, keuntungan jangka pendek seolah lebih penting daripada keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Ironisnya, semua ini terjadi di kawasan ikon pariwisata Bali—pulau yang selama ini dijual ke dunia sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam. Namun dari ketinggian, yang terlihat justru pembiaran: tata ruang yang kalah oleh modal, aturan yang kalah oleh kepentingan, dan pengawasan yang entah ke mana.

Pertanyaannya sederhana namun mendesak:
Apakah kita menunggu longsor besar terjadi lebih dulu, baru semua pihak bertindak?

Atau tragedi memang harus selalu menjadi alarm terakhir di negeri ini?
Alam tidak pernah lupa. Ia hanya menunggu waktu untuk menagih kelalaian manusia.

Foto hanya ilustrasi, jangan sampai benar² terjadi.

Bali info
05/02/2026

Bali info

BALI 🥺

Jalan Lingkar Bali Selatan
27/01/2026

Jalan Lingkar Bali Selatan

Address

Denpasar
80362

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00

Telephone

+6281338773577

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bali Alternative posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Bali Alternative:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram