Bekasi fram

Bekasi fram Perpaduan peternakan dan perkebunan demo tercukupi makanan organik sehingga tercipta kesehatan yg holistik

18/08/2016
19/06/2016
04/04/2016

The Age of Deception

Kategori : Entrepreneurship
Published on Monday, 04 April 2016 06:24
Oleh : Muhaimin Iqbal

Saat ini kita hidup dalam jaman yang menipu, suatu kebaikan bisa terlihat sebagai suatu kejahatan atau keburukan dan sebaliknya. Ini berlaku secara umum di dunia usaha, politik, ekonomi, sosial sampai hal-hal yang khusus seperti pertanian dan kesehatan. Lantas bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu yang nampaknya kebaikan itu bener-bener kebaikan, atau sesuatu yang nampak keburukan itu bener-bener keburukan ? Itulah gunanya petunjuk, selagi kita berpegang kepadanya – insyaAllah kita tidak akan tersesat selamanya.



Saya ambilkan untuk contoh kasusnya adalah di dunia kesehatan dan pertanian.



Dalam tubuh rata-rata manusia hidup sekitar 100 trilyun bakteri, mereka hidup dari ujung rambut kita sampai ujung kaki, dari kulit terluar kita sampai organ paling dalam dari tubuh kita. Apakah dengan ini kita akan sangat mudah sakit ? justru dengan memahami keberadaan mereka, insyaAllah kita akan jauh lebih mudah sehat. Seperti pop**asi manusia, mayoritas manusia itu sebenarnya asalnya baik. Demikian p**a bakteri, ada bakteri pathogen – pembawa penyakit, tetapi bila pop**asi bakterinya normal – yang pathogen ini akan mudah ditumpas oleh bakteri yang baik – yang jumlahnya jauh lebih banyak.



Sebelum manusia memproduksi berbagai jenis anti bakteri seperi sabun, pencuci tangan sampai antibiotics – apakah manusia saat itu lebih rentan penyakit ? pastinya tidak. Kita bunya bukti yang shahih untuk ini, yaitu kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau di abad ke 7 M – sangat-sangat sedikit yang menceritakan adanya penyakit atau yang terkena penyakit.



Jaman itu kira-kira adalah 12 abad sebelum Louis Pasteur di pertengahan abad 19 memperkenalkan apa yang disebut proses Pasteurisasi. Semenjak saat itulah manusia tertipu dengan dzon-nya ilmu pengetahuan bahwa untuk susu harus di-Pasteurisasi untuk aman di minum. Bahkan di negara-negara maju, susu tidak boleh dijual kecuali telah di-Pasteurisasi.



Minuman yang oleh Allah sendiri dikabarkan sebagai minuman yang sangat bersih yang keluar di antara darah dan kotoran, tiba-tiba manusia merasa lebih tahu dan menduga bahwa minuman ini berbahaya bila diminum tanpa diproses oleh prosesnya Louis Pasteur ?





“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih (murni) antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. “(QS 16 : 66)



Konon kata para peneliti minum susu segar tanpa di-Pasteurisasi memiliki tingkat resiko terkena penyakit 9 kali dari susu yang di-Pasteurisasi. Tetapi kalau toh ini benar, secara absolut hasil peluang orang terkena penyakit dari minum susu segar menurut para peneliti ini p**a hanya 1 per 6 juta orang. Minum susu Pasteurisasi bisa jadi lebih aman dari serangan penyakit langsung, tetapi dengan itu juga kehilangan begitu banyak dari nutrisi yang ada di dalamnya dan hilangnya kekebalan tubuh yang terbawa oleh susu segar.



Lantas mengapa kita tidak minum susu segar ? Kita tidak bisa minum susu segar karena kita meninggalkan perintahNya untuk menggembala (QS 16:10-11 dan QS 20:53-54), kita meninggalkan perintah yang dilaksanakan oleh seluruh Nabi. Kenapa manusia di jaman ini tidak melaksanakan perintah menggembala ini ? karena pekerjaan menggembala dianggap kuno, tidak modern, tidak bergengsi, ndeso dlsb. padahal inilah pekerjaan terbaik kedua setelah berjihad. Begitulah kita, ketika meninggalkan satu perintah atau sunnah, kita akan cenderung meninggalkan perintah yang lain. Sebaliknya begitu kita mulai melaksanakan satu perintah atau sunnah, kita akan cenderung melanjutkannya dengan perintah atau sunnah lainnya.



Kita yang hidup di jaman anti bakteri ini berusaha semaksimal mungkin membunuh bakteri di mana saja keberadaannya. Pada tubuh kita dibunuh dengan antibiotics, di tanah-tanah pertanian dibunuh dengan pupuk kimia dan pestisida.



Bersamaan dengan terbunuhnya bakteri, menurunlah kekebalan tubuh kita karena 70 % dari pembangun kekebalan tubuh itu diproses di dalam perut kita oleh bakteri. Sama halnya dengan tanah pertanian yang hidup adalah dipenuhi ber-ratus milyar bakteri di setiap genggaman tangan, mayoritasnya akan mati manakala di tanah tersebut diguyur dengan pupuk kimia dan pestisida.



Siapa yang memberitahu bahwa tubuh manusia itu sama seperti lahan pertanian ? lebih dari seribu tahun sebelum manusia mengenal bakteri – kita sudah diberi tahu oleh Allah : “Istri-istrimu adalah seperti tanah untuk bercocok tanam…” (QS 2:223).



Memang ayat ini terkait dengan hubungan suami istri, tetapi ketika Allah menyebutkan sesuatu itu seperti sesuatu yang lain – maka persamaan yang lain akan sangat banyak. Salah satunya adalah karakter tubuh istri kita – yang berari juga tubuh kita – yang memang banyak persamaannya dengan lahan pertanian.



Lahan pertanian yang baik adalah yang hidup, gembur dan menghidupkan (ihtazzat warabat wa-anbatat) – maka demikian p**a manusia yang sehat tubuhnya dipenuhi dengan bertrilyun bakteri tersebut diatas.



Karena sesuatu itu sama dengan yang lain, maka penyelesaian masalahnya juga sama. Lahan-lahan kita mati, menjadi pejal dan kalau toh masih bisa menumbuhkan tanaman kwalitas dan kawantitas hasilnya sangat menurun – dan menjadi sangat tergantung dengan pupuk dan obat-obatan kimia.



Bagaimana kalau kita mau menghidupkannya kembali ? hentikan penggunaan bahan-bahan kimia dan terapkan konsep ihtazzat warabat waanbatat , insyaAllah tanah akan hidup dan di tanah yang hidup segala macam jenis tanaman akan bisa tumbuh secara indah atau maksimal ( QS 22:5).



Karena tubuh kita sama seperti tanah pertanian tersebut, maka bila timbul penyakit solusinya juga sama. Anak-anak yang sejak kecil dihantam begitu banyak antibiotic, maka dia seperti tanah yang dihantam pupuk dan obat-obat kimia.



Tubuhnya tidak bertambah sehat dari waktu kewaktu, karena bakteri yang berada di dalam perut – yang memproses 70 % daya tahan tubuh – ikut mati ketika antibiotic mengguyur tubuhnya.



Semakin dia kehilangan daya tahan tubuh, semakin banyak antibiotic dimasukkan kedalam tubuhnya – semakin banyak lagi bakteri yang mati termasuk bakteri yang baik – begitu seterusnya tubuh menjadi semakin lemah dari waktu kewaktu. Persis seperti tanah pertanian yang perlahan-lahan menjadi tanah yang mati.



Lantas bagaimana menghentikan proses degradasi daya tahan tubuh tersebut ? sama dengan menghidupkan bumi yang mati. Bila bumi yang mati dihidupkan dengan biji-bijian (QS 36:33) dan kemudian penggembalaan (QS 16:10-11; QS 22:53-54), tubuh kita disehatkan dengan makanan yang sesuai petunjukNya.



Lihatlah kemiripan urutannya yang dirangkum oleh Allah dalam makanan yang kita disuruh memperhatikannya. Rangkaian ayat tersebut dimulai dari biji-bijian (QS 80:27) dan ditutup dengan rerumputan untuk penggembalaan ternak (QS 80 :31-32).



Di antara dua ayat tersebut adalah 4 ayat yang membahas kategori makanan mayoritas kita yaitu buah dan sayur. Apa hubungannya buah dan sayur dengan kesehatan kita ? Selain kaya akan nutrisi, buah dan sayur (khususnya buah) umumnya dimakan mentah.



Bersamaan dengan kita mengkonsumsi buah dan sayur segar, masuklah kedalam tubuh kita bermilyar bakteri – jangan kawatir kita akan sakit gara-gara itu – karena prinsip dasar ecosystem yang ada di alam ini adalah lebih banyak yang baik dari yang buruk. Demikian p**a dengan ekosistem mikroba yang disebut microbiome – mayoritas terdiri dari mikroba-mikroba yang baik, yang salah satu tugasnya menyiapkan daya tahan tubuh di dalam perut kita.



Pendekatan semacam ini layak dicoba bila Anda atau saudara Anda ada yang sakit-sakitan, bayangkan bagaimana menghidupkan kembali tanah yang mati – maka seperti itulah kita menyehatkan tubuh yang berpenyakitan.



Bila terasa aneh, tidak sesuai dengan praktek yang luas di masyarakat dlsb. jangan kawatir – karena kita memang hidup di jaman yang menipu – the age of deception, yang benar kelihatan salah, yang baik kelihatan buruk – sejauh kita punya pegangan yang kita yakini kebenarannya, insyaAllah kita akan selamat.

04/04/2016

Lifestyle Business Baru : 7 Peluang Microgreen

Setelah sukses pada pengenalan perdananya di Bazaar Organic Said Naum (2/4/2016), business gaya hidup (lifestyle) baru berbasis microgreens kini bisa menjadi peluang siapa saja yang mau menekuninya. Bahkan bukan sekedar business, ini bisa mengkoreksi kesalahan pengelolaan makanan ala dunia barat yang mengandalkan makanan HED (High Energy Density) – kaya energy tetapi minim nutrisi. Maupun mengoreksi kesalahan pengelolaan bahan pangan ala timur – yang membuat orang yang ber-uang-pun harus ngantri 5-6 jam hanya untuk beli bahan pangan.

Bagaimana pekerjaan besar mengkoreksi makanan kita dari hulu ke hilir ini bisa dimulai dari gaya hidup berbasis microgreens ini ?

Pertama dari hulunya, microgreen adalah tanaman sayur utamanya yang dipanen pada usia sangat muda antara 14-21 hari sejak ditanam dari biji. Karena usianya yang pendek, dia tidak terlalu banyak membutuhkan lahan, media tanam, sinar matahari, air dlsb. Dia nyaris bisa ditanam dimana saja, bahkan dalam ruangan sekalipun.

Usia yang sangat pendek juga berarti turnover yang tinggi, putaran uang modal yang cepat, dan memberikan milestone keberhasilan dengan sangat cepat bahkan bagi petani yang baru belajar sekalipun.

Artinya kalau masyarakat kita pada mau saja menanam microgreens ini, ketahanan dan kemandirian pangan kita akan melonjak – bahkan bila terjadi krisis pangan seperti yang di Venezuela sekalipun – kita tidak akan perlu antri untuk membeli makanan.

Dari sisi kandungan nutrisi, hasil riset di University of Maryland microgreens bisa mengandung nutrisi sampai 40 kali lebih banyak per satuan beratnya dari tanaman sejenis yang dipanen pada usia normalnya. Hasil penelitian mereka pada microgreen bayam merah misalnya, vitamin E di microgreennya lebih banyak 40 kali dibandingkan dengan vitamin E pada bayam merah dewasa. Sedangkan vitamin C-nya , enam kali lebih banyak dari bayam merah dewasa.

Maka membiasakan makan sayur dari microgreens akan dapat secara significant memperbaiki kelemahan pola makan normal kita yang terlalu banyak mengandalkan HED tersebut diatas.

Lantas dimana peluang bisnisnya dari gaya hidup microgreens ini ? Saya mengidentifikasi setidaknya ada 7 peluang yang bisa digarap oleh petani baru dari masyarakat perkotaan sekalipun – atau yang disebut para urban farmers.

Peluang di microgreens business
Pertama adalah penyedia bibit-bibit tanaman microgreens. Prinsipnya sama dengan bibit-bibit sayuran pada umumnya, hanya yang untuk microgreens dipilih bibit yang murni – genetic asli – bukan GMO (Genetically Modified Organism) dan non-treated – tidak boleh ada perlakuan kimiawi apapun pada bibit.

Peluang pertama ini bisa diambil oleh para petani tradisional yang sudah terbiasa membibitkan tanaman-tanaman sayuran organic. Atau kalau diambil para pedagang, maka dia harus tahu betul asal-usul dari bibit tersebut.

Yang kedua adalah peluang untuk mengadakan media tanam yang baik, baik dari sisi kesuburannya maupun dari sisi tampilan atau aromanya. Karena microgreens bisa ditanam di dalam rumah, di dapur, teras dlsb, maka tentu Anda ingin yang tampilannya bagus dan tidak berbau.

Kalau toh menggunakan media dari kotoran ternak sekalipun, harus sudah melalui proses fermentasi yang sempurna sehingga tidak menimbulkan bau yang kurang enak.

Yang ketiga adalah peluang untuk mennyediakan nutrisi yang baik bagi tanaman microgreens. Meskipun nutrisi ini bisa dibuat sendiri dari limbah rumah tangga, sebagian besar masyarakat pasti tidak s**a mengolah limbah dapur tersebut sendiri karena terkesan kotor.

Lagi-lagi bila ada yang mau mengolahnya dan menjadikannya nutrisi untuk microgreens, maka harus menyajikannya dengan tampilan dan aroma yang menarik – disamping tentu saja harus kaya nutrisi untuk menunjang pertumbuhan maksimal dari microgreens.

Yang keempat adalah bertani microgreen-nya sendiri, ini menjadi peluang usaha sektor riil terbaik karena skills-nya mudah dipelajari dan nilai tambah dari bibit ke microgreenya sangat tinggi terutama karena usia panennya yang maksimal 21 hari. Bayangkan kalau ada turn-over usaha sektor riil yang berlipat-lipat dibandingkan modalnya hanya dalam 21 hari, itulah usaha microgreens.

Yang kelima adalah lanjutannya, bila microgreens tersebut tidak dipanen atau dijual pada waktunya (sebelum 21 hari), microgreens dapat digunakan sebagai bibit siap tanam untuk tanaman sayur normal – yang nanti dipanen pada usia antara 45-60 hari. Caranya tinggal memindahkan microgreens dari media tanamnya, ke media tanam sayuran normal yang lebih longgar.

Yang keenam adalah peluang bagi yang tidak menanam sendiri, tetapi mau membangun system dan jaringan. Yaitu memfasilitasi para urban farmers untuk memperoleh resources yang dibutuhkan, sekaligus penyaluran ekses produk dari yang dikonsumsi sendiri. Solusi seperti iGrow adalah termasuk yang akan mengambil peluang keenam ini, iGrow menyediakan platform yang mengitegrasikan tiga resources utama dari industry pertanian – yaitu pasar, skills dan modal.

Yang ketujuah adalah peluang bagi yang mau mempopulerkan aneka jenis makanan sehat kaya nutrisi yang berbasis dari microgreen tersebut. Tentu berat bagi para pioneer karena perlu meng-edukasi pasarnya – akan pentingnya makanan yang sehat dan bernutrisi ini, namun ketika pasar bener-bener terbangun para pioneer inilah yang akan memperoleh kesempatan pertamanya. Diantaranya adalah project 101salads dari Startup Center yang akan ikut mengambil peluang yang ketujuh ini.

Lantas dimana masyarakat luas bisa belajar tentang seluk beluk microgreens dari hulu ke hilir, lengkap dengan segala macam jaringan dan peluangnya tersebut ? kami di Startup Center – Depok sedang menyiapkan segala infrastruktur yang dibutuhkan untuk melatih masyarakat trampil dalam mengelola microgreens dari ujung ke ujung ini.

Kesempatan pelatihan perdananya akan diadakan tanggal 23 atau 24 buan April 2016 ini - peserta boleh milih tanggal dan hari yang sesuai, eventnya kita sebut Urban Farmers Workshop 23/24 April 2016. Setelah itu pelatihan bisa diberikan secara khusus – kelas private – bagi siapa saja yang membutuhkannya. Peminat pelatihan yang sifatnya umum maupun khusus/private , dapat menghubungi kontak kami di : event@agrore.com.

04/04/2016

Food Crash : Before It’s Too Late…

Tidak banyak yang tahu bahwa di balik bumi kita ada negeri yang lumayan besar dengan jumlah penduduk 31.5 juta – atau no 43 besar dunia dari sisi jumlah penduduk – yang kini sedang menderita krisis pangan yang amat sangat hebat. Antrian untuk sekedar membeli bahan pangan yang mengular sampai berkilometer adalah pemandangan sehari-hari. Krisis semacam ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga baik bagi pemerintah maupun penduduk negeri lain. Bagaimana ini bisa terjadi ? Dan apa yang bisa kita lakukan agar krisis yang sama tidak terjadi di negeri ini ?

Venezuelan Food Crash
Negeri tersebut adalah Venezuela dan mereka bukanlah negeri miskin, dengan GDP per capita mereka yang mencapai US$ 17,759 – penduduk negeri tersebut rata-rata jauh lebih kaya dari penduduk negeri kita Indonesia. Mengapa mereka sampai harus mengantri bahan makan sampai setengah harian ? Mereka punya uang tetapi tidak ada yang bisa dibeli !

Bagaimana ini bisa terjadi ? kita lihat kronologisnya yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Tiga tahun sebelumnya (2013) pemerintah Venezuela mulai kesulitan untuk menyediakan bahan pangan bagi penduduknya. Saat itulah pemerintah mulai mengeluarkan larangan bagi penduduk untuk menimbun makanan. Hukumnya benar, tetapi ibarat penyakit salah diagnose – sehingga salah juga treatmentnya. Saat itu krisisnya bukan karena rakyat menimbun, tetapi lebih pada produksi yang memang tidak cukup.

Segera setelah itu toko-toko bahan pangan diwajibkan menjatah pembeli bahan makanan agar tidak terjadi penimbunan, bahkan untuk membeli makanan-pun perlu cap jempol – untuk mengambil sidik jari pembeli. Lagi-lagi solusi dari diagnose penyakit yang salah.

Dan solusi yang salah pasti juga tidak menyelesaikan masalah, antrian bahan pangan terus bertambah panjang. Orang perlu mengantri 5-6 jam untuk mendapatkan bahan pangan yang ingin dibelinya.

Pemerintah negeri itu menjadi semakin panik dan membuat kebijakan lanjutan yang memperparah situasi. Kebijakan tersebut adalah memaksa petani dan produsen bahan pangan untuk menjual antara 30 % sampai 100 % bahan pangan yang dihasilkannya ke pemerintah – dan dibeli dengan harga yang juga ditentukan oleh pemerintah.

Apa akibatnya ? petani enggan bertani lagi karena toh hasilnya akan dibeli paksa oleh pemerintah, demikian p**a produsen bahan pangan – tidak lagi bergairah untuk produksi. Pemerintah menjadi semakin panik lagi, apa yang dilakukan kemudian ?

Pemerintah memaksa rakyatnya untuk menanam makanannya sendiri, bahkan untuk ini dibuatlah Kementrian Urban Farming di negeri itu – Kementrian Urban Farming yang pertama yang ada di dunia ! Ide ini sebenarnya bagus, tetapi tidak bisa dijalankan di Venezuela – mengapa ?

Pertama mayoritas penduduk negeri itu utamanya yang tinggal di perkotaan – sama sekali tidak biasa bertani. Kalau toh ada satu dua yang bisa mengajari, tidak mungkin bisa mengajari puluhan juta penduduk kota untuk tiba-tiba siap bertani.

Disamping itu langkah pemerintah yang meminta rakyat mendaftarkan lebih dahulu tanaman apapun yang mau ditanam atau ternak apapun yang akan dipelihara, membuat rakyatnya kawatir – jangan-jangan setelah mereka menanam atau memelihara ternak-pun akhirnya akan diambil pemerintah ?

Walhasil, krisis pangan negeri itu menjadi food crash – kecelakaan pangan terbesar yang ada di jaman modern ini. Siapa yang salah ? pemerintah yang salah mendiagnose masalah sehingga salah p**a dalam mengambil kebijakan, dan rakyat yang memang tidak siap untuk menanam bahan pangannya sendiri.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari food crash-nya Venezuela ini ? Bagi bapak-bapak yang ada di jalur pemerintahan – hati-hati Anda bila mengambil keputusan tentang kebutuhan pokok pangan ini. Bila rakyat biasa yang salah ambil keputusan, hanya dia sendiri yang tidak makan – tetapi bila pemerintah yang salah ambil keputusan – bisa satu negeri yang tidak makan.

Bagi kita rakyat kebanyakan, jangan sampai juga kita tidak makan hanya gara-gara kesalahan pemerintah dalam mengambil kebijakan. Kita harus siap mencukupi kebutuhan pangan kita sendiri dengan sedini mungkin – jauh sebelum gejala food crash mulai nampak di ufuk horizon – kita sudah membiasakan menanam makanan kita sendiri.

Point terakhir inilah yang sedang kita kampanyekan, baik melalui pelatihan-pelatihan kita di bidang Integrated Organic Farming, Urban Farming dlsb. Juga yang mulai kita kampanyekan melalui serangkian video-video pendek yang kami siapkan khusus untuk ini, diantaranya yang sudah siap dapat Anda saksikan di link ini.

31/03/2016

Revolusi Satu Kaki

Dalam urusan kemandirian pangan, 70 tahun negeri ini merdeka – kita tidak kunjung sampai. Tetapi ini juga bukan untuk menyalahkan pemerintah atau siapapun yang berwenang selama ini, mereka punya tugas – dan rakyat juga punya tugas sendiri. Selama rakyat acuh tak acuh dengan urusan pangan ini, selama itu p**a pemerintah tidak akan berdaya mengatasi urusan yang satu ini. Lantas apa yang bisa kita lakukan ? Harus ada perubahan yang cepat dan mendasar yang melibatkan sebanyak mungkin rakyat, itulah yang disebut revolusi. Tetapi revolusi seperti apa yang bisa mendongkrak food security negeri ini ?


Revolusi ini di sebut Revolusi Satu Kaki (RSK), karena sebenarnya setiap orang dari kita hanya butuh kurang lebih satu kaki persegi untuk mencukupi kebutuhan sayur sehari. Revolusi pertanian di tanah yang sangat sempit ini ini di luar negeri disebut Bertani Dengan Saku Kaki Persegi atau Square Foot Farming (SQF).

Karena satu kaki persegi cukup untuk memenuhi kebutuhan sayur per orang per hari, maka bila satu keluarga memiliki empat anggota sebenarnya rata-rata keluarga hanya butuh empat kaki persegi untuk mencukupi kebutuhan sayurnya.

Bagaimana kalau kita ingin swasembada sayuran ini sepanjang hari sepanjang tahun ? berapa luasan lahan yang kita butuhkan ? tergantung apa yang kita tanam. Bila yang kita tanam adalah microgreen – semua jenis sayur yang dipanen sangat muda maksimal 21 hari, maka satu keluarga dengan empat orang anggota keluarga hanya butuh luas lahan 84 kaki persegi atau 7.8 m2 – untuk bisa menikmati sayurnya sendiri setiap hari sepanjang tahun.

Kalau yang ditanam adalah sayuran normal yang waktu panennya antara 40 sampai 60 hari, maka yang dibutuhkan oleh keluarga tersebut adalah 4 x 60 =240 kaki persegi atau 22.30 m2.

Siapa yang punya lahan 7.8 m2 atau 22.30 m2 ini ? rata-rata keluarga di Indonesia – yang punya rumah hampir pasti memiliki luas lahan yang dibutuhkan ini, bisa di halaman, teras atau dek di atas rumahnya. Selama ini mungkin sudah ditanami rerumputan atau tanaman lainnya yang enak dipandang. Tinggal satu lagi sebenarnya yaitu mengajak masyarakat untuk membuat lahannya enak dipandang dan enak dimakan – ini yang disebut edible landscape.

Bagaimana kalau luasan lahan yang Anda miliki lebih dari angka-angka tersebut di atas ?, Anda berpotensi menjadi produsen sayur segar – bukan hanya untuk keluarga Anda, tetapi juga untuk lingkungan sekeliling Anda.

Hanya bertanam sayur untuk keperluan sendiri memang tidak serta merta akan membuat negeri ini swasembada pangan. Tetapi inilah setidaknya langkah awal yang sehat, bagaimana masyarakat bisa diajak untuk rame-rame terlibat dalam pemenuhan kebutuhan makanan mereka sendiri. Ini small win yang harus bisa kita menangkan, sebelum menaklukkan tantangan yang lebih besarr. belajar bertani dengan segala kendala yang ada di perkotaan. Setelah pandai menanam sayur yang usianya rata-rata pendek, masyarakat akan dengan mudah menjadi siap untuk menanam buah – yang usianya rata-rata lebih panjang.

Kombinasi buah dan sayur inilah jenis makanan yang paling banyak disebut kategorinya oleh Allah di ayat-ayat makanan seperti di surat ‘Abasa ayat 24-32 dan sejumlah ayat-ayat lainnya. Jadi fokus makanan kita adanya di buah dan sayur, kalau sudah kita mulai sayurnya – tinggal selangkah lagi buahnya.

Setelah buah dan sayur dikuasai oleh masyarakat sendiri, kebutuhan pangan untuk biji-bijian dan bahkan juga daging akan bisa turun drastis
Di satu kaki persegi inilah kami bisa melihat langkah awal untuk mandiri di bidang pangan itu bisa dimulai. Lantas mengapa kita tidak mulai ?

Solusi itu kini di depan maya.
03/11/2014

Solusi itu kini di depan maya.

Gerai Dinar, Resources on Islamic Gold Dinar, Gold Based Capital, Business and Entrepreneurship Education

14/09/2014

Gerai Dinar, Resources on Islamic Gold Dinar, Gold Based Capital, Business and Entrepreneurship Education

Makanan alternatif..
14/09/2014

Makanan alternatif..

Gerai Dinar, Resources on Islamic Gold Dinar, Gold Based Capital, Business and Entrepreneurship Education

Wakaf pohon...
02/09/2014

Wakaf pohon...

Gerai Dinar, Resources on Islamic Gold Dinar, Gold Based Capital, Business and Entrepreneurship Education

Beternak jangkrik-Jati makmur
29/08/2014

Beternak jangkrik-Jati makmur

Address

Pd Gede-Jt Makmur
Depok
16952

Telephone

02198974181

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bekasi fram posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram

Category