11/04/2026
Menembus batas peran ganda sebagai ibu dan fisioterapis.
"nduk... jadi perempuan itu harus mandiri dan kuat" Pesan dari alm. ibu yang melekat dalam hidup saya. Saya seorang perempuan yang harus menembus batas peran ganda sebagai ibu dan seorang fisioterapis berpraktik mandiri punya tanggung jawab tidak ringan di keluarga, masyarakat, juga menjadi pengurus cabang WKRI, pengurus lingkungan, pengurus organisasi profesi dan ikut kegiatan gereja.
Saya merasakan kebahagian yang utuh dengan di karuniai 3 anak dan suami selalu support dan cinta keluarga. Namun Kebahagian terasa sirna dan putus begitu saja saat suami mendadak berpulang kepada Tuhan. Itulah titik nol dalam hidup saya, yang tidak pernah terbayang untuk menjadi single parent. Pukulan psikis maupun finansial itu seolah mengunci hidup saya. Tapi saya sadar bahwa di sekeliling saya masih menaruh harapan.
Pagi hari berjibaku pekerjaan rumah tangga, selanjutnya sebagai ibu masyarakat yang membutuhkan pertolongan akan uluran tangan seorang perempuan untuk menghapus rasa sakit dan memberi harapan hidupnya yang lebih baik saat mereka datang. Memulihkan kondisi keterbatasan gerak dan fungsi, memberi motivasi, edukasi bagaimana cara mencegah suatu kondisi sakit.
Walaupun sering diragukan kemampuannya hanya karena saya perempuan yang identik dengan kaum lemah. Dimana menjadi seorang fisioterapis harus memiliki fisik yg kuat, karena ada saatnya harus menopang pasien lumpuh, menganalisa gerak yang teliti, komunikasi yang baik dalam melayani pasien. Dengan berjalannya waktu keraguan masyarakat berlalu dan kepercayaan terbangun tanpa melihat saya seorang perempuan. Betapa pentingnya kemandirian seorang perempuan dan harus punya nilai lebih, sekalipun single parent tidak akan membatasi memberi yang terbaik untuk keluarga dan masyarakat.