Pakar Parenting Indonesia

Pakar Parenting Indonesia Ini adalah fanpage bagi orang tua yang peduli dengan perkembangan anak maupun para pemerhati anak

19/03/2026

Hari ini saya berkesempatan berbagi cerita dan perspektif yang sangat mendalam bersama Pak Rizki Tajudin dari Lingkar Ayah Indonesia di acara NGOPI (Ngobrol Perkara GATI) by Kami membahas isu yang sedang hangat dan krusial, ya tentang kesehatan mental di dalam keluarga, khususnya pada sosok ayah.

Banyak yang sering lupa bahwa keluarga itu adalah sebuah sistem. Kalau satu peran bermasalah, misalnya kesehatan mental sang ayah atau ibu yang terganggu maka dampaknya seperti virus yang bisa merusak seluruh sistem keluarga tersebut.

Selama ini, kita sering melihat laki-laki dibebani oleh stigma yang berat. Sejak kecil mereka diajarkan untuk tidak boleh menangis, harus selalu hebat, kuat, dan menjadi pelindung yang sempurna. Padahal, ayah juga manusia yang punya keterbatasan emosional. Menangis dan marah itu adalah bentuk ekspresi yang wajar dan sah-sah saja bagi seorang laki-laki.

Jika seorang ayah memaksakan diri menjadi "sempurna" tanpa meregulasi emosinya, ia berisiko mewariskan luka batin tersebut kepada anak-anaknya. Dalam psikologi, kita mengenal trauma antar generasi, di mana sebuah pola pengasuhan yang buruk, trauma yang tidak disebuhkan, dan luka yang tidak diobati bisa berulang dan terus diturunkan ke anak cucu.

12/03/2026

Sebagai seorang psikolog klinis, saya sadar betul bahwa perjalanan meniti karier di bidang kesehatan mental bukan hanya tentang menghafal teori, tetapi tentang ketahanan mental dalam menghadapi realitas manusia yang kompleks. Perjalanan menjadi seorang psikolog memang panjang dan penuh tantangan, namun setiap langkahnya adalah proses pendewasaan profesional yang esensial.

​Berbagi kisah perjuangan ini kepada rekan-rekan calon psikolog, mulai dari mahasiswa tingkat awal hingga akhir di Bandung, merupakan bentuk tanggung jawab moral bagi saya. Teori di kampus adalah fondasi, namun pengalaman di lapangan adalah guru yang memberikan perspektif utuh tentang empati, batasan diri (boundaries), dan integritas klinis.

​Semoga apa yang saya bagikan bisa menjadi bagian yang melengkapi pengetahuan yang kalian dapatkan di bangku kuliah. Ingatlah, menjadi psikolog bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang kemauan untuk terus belajar dan memahami diri sendiri sebelum kita mencoba memahami orang lain.

​Untuk kalian mahasiswa psikologi, apa tantangan terbesar yang sedang kalian hadapi di semester ini?

06/03/2026

Ada alasan kenapa Jogja selalu terasa seperti 'pulang'. Di kota ini, waktu seolah melambat, memberi ruang bagi sistem saraf kita yang selama ini dipaksa lari oleh tuntutan hidup untuk sejenak menarik napas sedalam-dalamnya.

​Kemarin, di Mindful Retro Meet Up Yogyakarta, saya melihat sesuatu yang jarang kita temui di layar ponsel: Kejujuran yang telanjang.

​Sebagai seorang Psikolog Klinis, saya sering katakan bahwa penyembuhan tidak dimulai saat kita menemukan jawaban, tapi saat kita berani mengakui bahwa kita sedang terluka. Di bawah langit Jogja, kita tidak hanya sekadar 'ngumpul' atau sharing biasa. Kita sedang melakukan Kataris Kolektif.

​Kami membedah kembali 'file-file' masa lalu yang selama ini tersimpan rapi di bawah alam sadar.
​Tentang rumah yang gagal memberi rasa aman.
​Tentang janji yang berubah jadi racun.
​Tentang mantan yang masih menghantui karena proses griefing yang dipaksa berhenti.

​Di sini, di ruang retro ini, kita belajar bahwa menoleh ke belakang itu perlu, bukan untuk terjebak, tapi untuk memastikan tidak ada lagi 'urusan yang belum selesai' (unfinished business) yang menghambat langkah kita ke depan.

​Ternyata, saat kita berhenti berpura-pura kuat dan mulai berani bicara jujur, beban kognitif yang tadinya terasa seberat gunung, perlahan mulai luruh. Kita belajar bahwa memaafkan itu bukan kewajiban moral, tapi keputusan personal untuk mengambil kembali kendali atas kebahagiaan kita sendiri.

​Terima kasih untuk setiap jiwa yang sudah hadir dan berani 'telanjang' secara emosional. Jogja bukan lagi sekadar kota kenangan, tapi saksi bisu tempat kamu memilih untuk mulai pulih.

​Buat kamu yang belum bisa hadir, kalau Jogja punya satu pesan untuk hatimu yang lagi berisik, kira-kira apa yang ingin kamu dengar?

01/03/2026

Miris! Kasus Pencurian Motor oleh Anak di Bawah Umur Makin Marak Terjadi 😥

Belakangan ini, aksi pencurian sepeda motor yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur—bahkan ada yang masih duduk di bangku SD (berusia 10-11 tahun)—semakin meresahkan. Kasus terbaru terekam kamera pengawas di Malang dan Jombang, Jawa Timur, di mana pelaku mengincar motor yang tidak dikunci stang.

Motif di balik aksi ini cukup beragam, mulai dari sekadar ingin memiliki sepeda motor sendiri, hingga alasan himpitan ekonomi karena hidup tanpa pengasuhan yang layak usai orang tua bercerai.

⚖️Bagaimana hukum di Indonesia menindak kasus ini?

Berdasarkan KUHP baru Pasal 41, anak di bawah usia 12 tahun yang melakukan tindak kriminal tidak akan dipidana. Mereka akan dikembalikan kepada orang tua atau diikutsertakan dalam program pembinaan oleh instansi pemerintah selama 6 bulan. Keputusan ini diambil bersama oleh penyidik, pembimbing kemasyarakatan, dan pekerja sosial profesional.

Kondisi sosial ekonomi yang kurang memadai serta minimnya edukasi dan pengawasan orang tua menjadi pemicu utama perilaku kriminal pada anak ini. Jika anak-anak ini hanya dikembalikan tanpa adanya rehabilitasi psikologis dan edukasi bagi orang tuanya, mereka sangat berisiko tumbuh dengan pola pikir kriminal hingga dewasa.

Mari kita jadikan ini sebagai pengingat untuk terus memantau pergaulan anak, menanamkan nilai moral, serta membangun kedekatan emosional di dalam keluarga.

26/02/2026

Hari ini suasana klinik .id terasa berbeda dengan kehadiran tamu-tamu kecil yang luar biasa dari Mentari Intercultural School Jakarta (MISJ) .sch.id .

Meskipun masih di bangku sekolah dasar, semangat riset mereka benar-benar patut diapresiasi.

​Melihat cara mereka melakukan wawancara dan menggali informasi dengan begitu serius, saya teringat betapa pentingnya menjaga "Childlike Wonder" atau rasa penasaran.

​Menemani diskusi mereka bukan hanya soal berbagi ilmu, tapi soal memberikan ruang bagi suara-suara muda ini untuk didengar.

23/02/2026

Sering merasa cemas kalau jauh dari HP? Atau lelah dengan notifikasi yang tak ada habisnya?

Halo teman-teman, saya Bunda Lucy. Sebagai psikolog klinis, saya sering sekali mendapati orang-orang bahkan dari usia bayi sekalipun yang mengalami *Digital Anxiety* atau kecemasan digital.

Banyak klien atau orang tua yang datang dan langsung menyalahkan gadget atau situasi pandemi atas kecemasan ini. Tapi tahukah kalian? Sebenarnya yang salah bukanlah handphone atau alat digital itu sendiri.

Saat ini kita hidup di dunia yang hyperconnected, di mana otak kita terus-menerus mengalami overstimulate (kelebihan stimulasi) sejak pertama kali membuka mata di pagi hari. Rentetan notifikasi, cahaya layar, kebiasaan scrolling konten negatif, hingga paparan radiasi membuat sistem saraf kita kelelahan dan memicu stres berlebih.

Dalam webinar bersama Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) baru-baru ini, saya mengajak kita semua untuk mulai menavigasi stres di era digital ini. Berikut beberapa pesan dari saya untuk kalian:

1. Berikan ruang jeda
Otak kita butuh istirahat dari layar agar bisa kembali tenang dan pulih. Jangan ragu untuk menengkurapkan HP-mu saat sedang fokus bekerja.

2. Kendalikan teknologi
Manfaatkan teknologi, jangan biarkan teknologi atau algoritma yang memanfaatkan dan membentuk emosi kita.

3. Ingat realitas
Social media is a highlight, not the whole story. Jangan sampai kamu kehilangan jati dirimu di dunia nyata hanya karena terlalu asyik membandingkan diri dengan kehidupan 'palsu' di dunia maya.

4. Kurangi paparan radiasi.
Biasakan untuk mematikan perangkat digital dan jauhkan stop kontak dari area kepala saat tidur agar otak dan tubuh bisa benar-benar beristirahat.

Mari kita kembali tampil seutuhnya di kehidupan nyata tanpa harus terus dibayang-bayangi oleh layar gadget kita.

~ Bunda Lucy, Psikolog Anak dan Remaja, Ahli Psikologi Forensik& Dosen

Address

PTB Duren Sawit Barat Blok D 3 No 1. Klender Jakarta Timur
Jakarta
13470

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pakar Parenting Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Pakar Parenting Indonesia:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram

Category