03/04/2026
Sebagai seorang psikolog klinis, saya sering menggunakan analogi sederhana untuk menjelaskan konsep Selective Attention dalam pola asuh. Salah satunya adalah melalui sepotong donat.
Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana kita bereaksi saat sedang lapar? Mata kita secara otomatis akan tertuju pada tekstur roti yang empuk, glaze yang manis, dan bagian utuh dari donat tersebut. Kita fokus pada apa yang "ada", bukan pada lubang di tengahnya yang "kosong".
Sayangnya, dalam mendidik anak, orang tua sering kali melakukan hal sebaliknya. Kita cenderung menjadi "pemburu lubang donat". Kita terlalu fokus pada apa yang kurang, apa yang belum bisa, dan apa yang menjadi kekurangan anak, hingga kita lupa menikmati dan mengapresiasi potensi utuh yang sebenarnya sudah mereka miliki.
Secara klinis, fokus yang berlebihan pada kekurangan anak (lubang donat) dapat merusak self-esteem mereka dan menciptakan hubungan yang penuh tekanan. Anak akan merasa dirinya tidak pernah "cukup" karena orang tuanya hanya melihat celah kosong dalam dirinya.
Mendidik dengan sadar (mindful parenting) berarti belajar melihat donatnya secara utuh. Fokuslah pada kelebihan mereka, bakat uniknya, dan usaha yang telah mereka lakukan. Jangan biarkan "lubang" kecil di tengah membuatmu kehilangan kelezatan seluruh donatnya.
Apa satu kelebihan "manis" dari anakmu yang sering kali tertutup oleh fokusmu pada kekurangannya?