19/03/2026
Hari ini saya berkesempatan berbagi cerita dan perspektif yang sangat mendalam bersama Pak Rizki Tajudin dari Lingkar Ayah Indonesia di acara NGOPI (Ngobrol Perkara GATI) by Kami membahas isu yang sedang hangat dan krusial, ya tentang kesehatan mental di dalam keluarga, khususnya pada sosok ayah.
Banyak yang sering lupa bahwa keluarga itu adalah sebuah sistem. Kalau satu peran bermasalah, misalnya kesehatan mental sang ayah atau ibu yang terganggu maka dampaknya seperti virus yang bisa merusak seluruh sistem keluarga tersebut.
Selama ini, kita sering melihat laki-laki dibebani oleh stigma yang berat. Sejak kecil mereka diajarkan untuk tidak boleh menangis, harus selalu hebat, kuat, dan menjadi pelindung yang sempurna. Padahal, ayah juga manusia yang punya keterbatasan emosional. Menangis dan marah itu adalah bentuk ekspresi yang wajar dan sah-sah saja bagi seorang laki-laki.
Jika seorang ayah memaksakan diri menjadi "sempurna" tanpa meregulasi emosinya, ia berisiko mewariskan luka batin tersebut kepada anak-anaknya. Dalam psikologi, kita mengenal trauma antar generasi, di mana sebuah pola pengasuhan yang buruk, trauma yang tidak disebuhkan, dan luka yang tidak diobati bisa berulang dan terus diturunkan ke anak cucu.