19/09/2025
Dulu saya sering bikin target tinggi-tinggi, tapi ujungnya malah stres sendiri. Rasanya kayak mimpi yang terlalu jauh. 😅
Kalau teman-teman pernah ngalamin hal yang sama, berarti kita sejalan.
Dari situ saya mulai mikir: mungkin masalahnya bukan di mimpinya, tapi di cara saya menetapkan langkahnya. Jadi pelan-pelan, saya belajar bikin target yang lebih jelas dan realistis. Bukan lagi sekadar “pengen sukses, pengen laris”, tapi saya coba ubah kalimatnya. Misal, “nambah 10 klien pijat bulan ini” atau “jual 50 produk herbal”. Dengan begitu, tujuan yang tadinya samar mulai terasa lebih konkret dan bisa diukur.
Begitu arahnya kelihatan, saya coba pecah target besar itu jadi langkah-langkah kecil. Kalau targetnya 50 produk sebulan, berarti saya cukup mengusahakan closing 2 produk per hari. Rasanya lebih enteng dikerjain, daripada mikirin angka 50 sekaligus.
Saya juga belajar melihat apa yang bisa dimaksimalkan dari kondisi saya. Modal memang terbatas, tapi saya punya waktu, keterampilan, dan jaringan kecil. Dari situ saya mulai bikin rencana sederhana: posting konten sedikitnya 3 kali seminggu, follow up pelanggan lama, upgrade ilmu bisnis dan marketing.
Yang paling membantu ternyata fokus ke prioritas. Karena kalau semua dikerjain sekaligus, hasilnya malah setengah-setengah. Dengan memilih hal yang benar-benar mendekatkan ke target, energi bisa lebih terarah.
Dan setiap minggu, saya biasakan cek progress. Kadang ada yang meleset, tapi itu nggak masalah. Namanya juga proses. Bahkan langkah kecil sekalipun layak dirayakan, supaya semangat tetap terjaga.
Akhirnya saya sadar, mencapai target itu bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling konsisten. Selama kita fleksibel menyesuaikan kondisi dan terus bergerak, hasilnya pasti akan nyusul. 🚀
Nah, kalau targetnya teman-teman apa nih. Komen di bawah yaa.