05/09/2021
TAPAK DARA
Tapak Dara (+), simbol pertemuan antara Bapa Angkasa (garis vertikal) dan Ibu Pertiwi (garis horizontal), Purusha dan Prakerti. Dalam Ta**ra, perjumpaan garis vertikal dan horizontal merupakan dasar dari mandala atau ruang. Simbol ini dipercaya menyembunyikan kekuatan yang dahsyat. Orang Bali meyakini perempatan atau catus pata, yang juga berbentuk Tapak Dara (+), sebagai tempat keramat, sehingga setiap ritual yang berhubungan dengan upaya menetralkan energi negatif pun dilakukan di sana. Di setiap titik tengah catus pata didirikan patung sebagai simbol poros bumi. Tapak Dara juga menjadi dasar dari simbol Sw****ka Hindu-Buddha dan Bintang Dawud.
Di Jawa, Tapak Dara dikaitkan dengan Sadulur Papat Kalima Pancer, di mana titik tengahnya adalah Pancer dari 4 orientasi arah. Di jagat pewayangan, Tapak Dara direpresentasikan oleh Punakawan.
Dalam salah satu tafsir, Siwa-Buda sejatinya bermakna sama dengan itu. Siwa sebagai Purusha (Bapa Angkasa) dan Buda sebagai Prakerti (Shakti, Ibu Pertiwi). Menarik untuk ditelusuri apakah kata Bunda terkait dengan atau berasal dari kata Buda ini. Jika memang demikian, maka Siwa-Buda, agama resmi Majapahit di masa lalu, yang saat ini bertahan di Bali dengan nama Hindu Bali, adalah agama Ta**ra, yang menitikberatkan pada pemujaan Lingga-Yoni, Bapa-Ibu, Rahman-Rahim, sebagai Rwabhineda yang lahir dari sabda Ong dari Sanghyang Paramasunya yang tan kena kinaya ngapa, laysa kamitslihi syai'un.