23/09/2019
LAHAN TAMBAK UDANG
Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan budidaya, wajib hukumnya dilakukan pengolahan lahan yang meliputi:
Pengangkatan Lumpur ==> Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran tersebut dikeluarkan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan p***a air/alkon.
Pembalikan Tanah ==> Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah yang membunuh bibit penyakit karena terkena sinar matahari/ultra violet.
Pengapuran ==> Untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit dilakukan dengan kapue Zeolit dan Dolomit dengan dosis masing-masing 500kg/ha atau sesuai keasaman tanah.
Pengeringan ==> Setelah tanah dikapur, biarkan hingga tanah menjadi kering dan pecah-pecah, untuk membunuh bibit-bibit penyakit.
Perlakuan pupuk TON (Tambak Organik Nusantara) dan TANGGUH Probiotik (TAPRO) untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberikan TON dosis 2,5 kg/hektar dan Probiotik TANGGUH dosis 2-3 liter/hektar. Caranya masukkan sejumlah TON & TAPRO ke dalam air, kemudian aduk hingga larut, siramkan secara merata keseluruh areal lahan tambak.
Pemasukan Air ==> Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang pertama setinggi 10 - 25 cm dan biarkan 3 hari, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan TON. Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm. Perlakuan saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit atau Zeolit dengan dosis 300kg/ha.
PEMILIHAN BENUR
Benur (Benih Urang/Udang) yang baik mempunyai tingkat kehidupan (survival Rate/SR) yang tinggi, berwarna tegas/tidak pucat baik hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat dan mempunyai alat tubuh yang lengkap. Penebaran benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh yang ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30 - 40 cm.
Penebaran benur dilakukan hati-hati karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan yang baru.
Tahap penebaran benur adalah:
Adaptasi suhu ==> Plastik wadah benur direndam selama 15 - 30 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air di tambak dan di dalam plastik.
Adaptasi Udara ==> Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 - 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik.
Adaptasi Kadar Garam/Salinitas ==> Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya, sehingga benur dapat menyesuaikan dengan sanilitas air tambak.
Pengeluaran Benur ==> Dilakukan degan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak dengan hati-hati dan perlahan.
PEMELIHARAAN UDANG
Pada awal budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengan waring atau hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat dapat dibuka.
Pada bulan pertama yang harus diperhatikan adalah kualitas air harus selalu stabil. Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis. Untuk menjaga kualitas dan kestabilan air, setiap penambahan air baru atau maksimal 15 hari sekali diberi perlakuan TON dengan dosis 1 kg/ha dan Probiotik TANGGUH dosis ½ liter/ha.
Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui perkembangan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang per-kg) 250 - 300. Untuk selanjutnya sampling dilakuka
Wa 085384716745