Dunia Parenting

Dunia Parenting Menyediakan berbagai produk keluarga dan artikel parenting

*Tips Wanita Haid & Nifas Meraih kemuliaan Ramadhan* - Haid & Nifas, ngerasa kurang maksimal di bulan Ramadhan?...👉 Ini ...
11/03/2026

*Tips Wanita Haid & Nifas Meraih kemuliaan Ramadhan*

- Haid & Nifas, ngerasa kurang maksimal di bulan Ramadhan?...
👉 Ini tipsnya..

📌 1. Tetap bangun di dini hari, layaknya orang sahur seperti biasa.
Membantu anggota keluarga dalam mempersiapkan makan sahur, adalah sebuah amal kebaikan.

Selain itu, kita juga bisa tetap panjatkan doa di waktu-waktu makbul, termasuk saat sahur (sebab masih masuk 1/3 malam).
Meskipun tidak shaum, tidak ada salahnya bila kita turut makan sahur, anggap saja sarapan di awal waktu.

💭Rasulullah Saw. bersabda, “Makan sahurlah kalian. Sesungguhnya pada makan sahur tersebut terdapat keberkahan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

📌 2. Senantiasa menjawab adzan dan memanjatkan doa di waktu antara usai adzan dan sebelum iqomah.

💭“Tidak akan ditolak doa antara adzan dan iqamah.” (H.R. Abu Dawaud, At-Tirmidzi)

📌 3. Perbanyak sedekah
💭Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (H.R. Tirmidzi)

📌 4. Perbanyak dzikir dan wirid (termasuk bershalawat)
Ada dari kita yang meyakini bahwa membaca Al-Quran saat haid adalah diperbolehkan. Jadi, bagi yang mengambil keyakinan ini, tetaplah bertilawah.

Bila yang meyakini pendapat lain (tidak memperbolehkan tilawah saat haid), maka kita lakukan saja murajaah, membaca terjemah, atau mendengarkan murotal.

Tetap berdzikir al-matsurat, tetap memanjatkan doa, membaca tasbih-tahmid-takbir, bershalawat serta memperbanyak istighfar.

📌 5. Membaca buku-buku bermanfaat, mendatangi taklim, majelis ilmu atau sekadar mendengarkan ceramah dari berbagai media.

📌 6. Memberi makan orang yang berbuka puasa.
Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka orang lain akan mendapatkan pahala seperti apa yang didapatkan oleh orang yang diberi makanan tersebut, tidak berkurang dari pahalanya sedikit pun.” (H.R. Tirmidzi)

📌 7. Tetap melatih kebersihan hati, dan menjaga ahlak baik.
💭Rasulullah Saw. bersabda, “Bertakwalah di manapun kalian berada dan berbuatlah kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapus keburukan; perlakukanlah orang-orang dengan ahlak baik.” (H.R Ahmad)

📌 8. Tetap saling menasihati dalam kebaikan, misalnya saling berbagi tausyiah. (Q.S Al-Ashr: 3)

******

Sumber : .jember.official
_____





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

10/03/2026

*HUKUM I’TIKAF BAGI WANITA*

- I’tikaf menurut bahasa adalah terikatnya seseorang pada sesuatu dan menahan dirinya tetap pada sesuatu itu, baik sesuatu itu merupakan perbuatan baik atau perbuatan jelek. Sedangkan I’tikaf menurut istilah syara’ adalah tinggal di rumah Allah dengan niat ibadah. Sebagaimana firman Allah dlm surat Al-Baqarah 187:”… . janganlah kamu mencampuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf di mesjid”. Atau menekuni atau menetap diri didalam mesjid dengan niat untuk mendekatkan diri (taqarrub) kpada Allah SWT.

Hukum I’tikaf adalah sunnah, sebagaimana firman Allah SWT dlm QS. Al-Baqarah : 125: ”Bersihkanlah rumahku untuk orang-orang yang tawaf, yang I’tikaf, yang ruku dan sujud”. Juga dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat muslim, dari Aisyah ra, katanya: ”Bahwasanya Nabi SAW, beri’tikaf pada tiap-tiap sepuluh yang akhir bulan ramadhan”.

KEUTAMAAN I’TIKAF
Kelebihan I’tikaf yang besar terutama pada sepuluh ramadhan yang akhir, yang diharapkan tentu saja adalaah mendapatkan 1000 bulan “lailatul Qadar”. Rasulullah bersabda: ”Barangsiapa yang I’tikaf satu hari semata-mata mengharap keridhoan Allah, niscaya Allah jadikan (jarak) di antaranya api neraka sejauh tiga parit dan tiap-tiap parit jaraknya adalah lebih jauh daripada jarak antara dua mata angin.”

Tentu saja sebagai muslimah yang mnginginkan pahala yang besar dan keridhoan dari Allah kita ingin melakukan amalan apa saja termasuk I’tikaf. Namun bagaimana sebenarnya hukum I’tikaf bagi muslimah?

I’tikaf bagi wanita
Seorang wanita diperbolehkan untuk mengunjungi suaminya yang sedang beri’tikaf di masjid. Bahkan syari’at memerintahkan bahwa hendaknya sang suami mengantarkan istrinya sampai keluar dari pintu masjid. Hal ini sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Shafyyah ra. : “Ketika itu Nabi SAW beri’tikaf di masjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka aku datang menengoknya di malam hari dan disisinya istri istrinya yang sedang bergembira, lalu aku berbicara dengan beliau beberapa saat lalu aku berdiri untuk kembali, maka beliau SAW mengatakan “Jangan kau terburu buru sehingga aku antarkan”, maka beliaupun berdiri bersamaku untuk mengantarkanku..” (HR. Bukhari)
Sementara itu hukum bagi seorang wanita yang beri’tikaf adalah diperbolehkan, baik bersama suaminya atau sendirian. Hal ini didasarkan pada ucapan Aisyah ra. “Telah I’tikaf bersama Nabi SAW seorang wanita yang isthihadhah, diantara istri istrinya dan dalam keadaan dia masih melihat kemerahan, kekuningan bahkan kadang kadang kami meletakkan bejana di bawahnya dalam keadaan dia tetap shalat” (HR. Bukhari)
Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa Aisyah juga mengatakan : ”Dahulu Rasulullah SAW beri’tikaf 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, sampai Allah mewafatkannya. Kemudian istri istri beliau beri’tikaf setelahnya”. ((HR. Bukhari)

Namun diperbolehkannya seorang wanita untuk beri’tikaf harus memperhatikan p**a pada hukum hukum lain yang berkaitan deengan keluar rumahnya seorang wanita. Seorang wanita ketika keluar rumah harus mendapatkan izin dari suaminya. Hukum meminta izin keluar rumah bagi wanita itu berlaku untuk urusan apa saja termasuk keluar rumah untuk beri’tikaf. Selain syarat tersebut, seorang wanita yang akan beri’tikaf juga harus menjaga agar keadaannya aman dari fitnah serta tidak berkhalwat (menyendiri) dengan kaum laki laki.

Patut diperhatikan p**a bahwa dalam I’tikaf adalah bahwa kewajiban kewajiban sebagai ibu dan istr jangan sampai terlalaikan. Jangan sampai mengejar amalan sunnah tetapi melalaikan amalan amalan yang wajib. Tentu siapapun yang menginginkn melakukan semua kewajiban dan melakukan amalan amalan sunnah sebanyak banyaknya, memperhatikan hal tersebut agar mendapatkan ridho dan pahala yang sebesar besarnya

Waktu I’tikaf
Masa untuk melakukan I’tikaf wajib seperti nazar adalah seuai dengan masa yang telah dinazarkan. Jika bernazar sehari atau lebih, maka wajib ditunaikan sebagaimana masa yang telah dinazarkan. Adapun jika yang dilakukan adalah I’tikaf sunnah, seperti I’tikaf pada sepertiga bagian akhir Ramadhan, maka tidak ada batas waktunya. Seseorang yang telah berniat melakukan I’tikaf di dalam masjid, sama saja apakahvpanjang atau pendek waktunya. Minimal sekedar tuma’ninah didalam ruku atau sujud.

Tempat I’tikaf
Tempat I’tikaf adalah di masjid yang didalamnyya terdapat aktifitas shalat berjamaah dan lebih utama jika masjid itu juga menjadi tempat shalat jum’ah. Menurut jumhur ulama, tidak sah I’tikaf kaum wanita jika dilakukan didalam “masjid rumah” yakni bilik tertentu di dalam rumah yang djadikan tempat khusus untuk untuk sholat berjamaah bersama keluarga. Hal ini karena “masjid rumah” tidak memenuhi makna masjid menurut istilah dalam agama. Hal ini dikuatkan lagi menurut riwayat yang shahih dari para istri Rasulullah, beri’tikaf didalam masjid nabawi.
Para fuqaha sependapat bahwa I’tikaf yang dilakukan di dalam masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawiy di Madinah serta masjid Al Aqsa di Palestina adalah lebih utama karena kelebihannya masing masing.

Syarat Syarat I’tikaf
Pelaku I’tikf, baik laki laki maupun perempuan, hendaknya muslim, berakal, mumayyiz, bersih dari haid, nifas atau pun junub. Bagi kaum wanita, maka wajib mendapat izin dari suaminya. Sementara itu bagi wanita yang belum bersuami, maka wajib mendapat izin dari walinya. Selain itu kehadiran kaum wanita di dalam masjid untuk I’tikaf tidak menimbulkan fitnah.

Ramadhan adalah bulan mulia, bulan dimana Allah SWT melipatgandakan pahala kebaikan. Amalan sunnah, seperti I’tikaf dinilai sebagai amalan wajb. Amalan wajib dilipatgandakan pahalanya sampai 700 kali lipat. Pada bulan ini juga terdapat satu malam kemuliaan yaitu malam Lailatul Qadr, sebagaimana sabda Rasulullah Saw “Sesungguhnya telah datang padamu suatu bulan yang penuh barakah, ditutup pintu neraka dan setan dibelenggu. Padanya terdapat suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan, kepada siapa saja yang tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebaikan”

Semoga kita bisa menjadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum peningkatan kualitas diri dihadapan Allah SWT dan tidak hanya pada rutinitas melakukan amalan amalan yang diwajibkan pada bulan mulia ini, tetapi betul betul melakukannya dengan kesadaran penuh untuk meraih keridhoanNya. (Yun/FR)

Sumber : Majalah FemaleReaders
_______






___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

*Mencegah Zina Dalam Keluarga*Oleh : Kholda Najiyah - Banyak kasus perzinaan dalam keluarga. Ada suami yang menjual istr...
10/03/2026

*Mencegah Zina Dalam Keluarga*
Oleh : Kholda Najiyah

- Banyak kasus perzinaan dalam keluarga. Ada suami yang menjual istrinya untuk berzina dengan orang lain. Ada ayah tiri yang berzina dengan anak tirinya. Ada paman berzina dengan ponakannya. Ada pelakor yang berzina dengan suami orang. Ada suami yang selingkuh dengan istri orang. Bahkan ada kakak berzina dengan adik kandungnya. Na'uzubillahi minzalik.

Semua itu fakta yang ada di masyarakat. Sekump**an gunung es yang tampak di permukaan, tetapi jauh lebih luas dan dalam angka sebenarnya. Menunjukkan betapa zina demikian merajalela. Lantas bagaimana mencegah terjadinya zina dalam sebuah keluarga?

1. Kuatkan Rasa Takut pada Allah SWT

Keluarga seluruhnya harus ngaji. Harus paham Islam. Kuat akidahnya sehingga memiliki rasa takut yang sangat kepada Allah SWT. Memiliki pemahaman yang utuh bahwa zina dan bahkan sekadar mendekatinya adalah tindakan kemaksiatan yang dilarang Allah SWT.

Rasa takut pada Allah, yang digambarkan seperti kita berdiri di tepian jurang yang dalam, akan mengerem diri. Rasa takut yang mengalahkan bayangan nikmat sesaat akibat berbuat zina. Takut yang tidak mudah membuat goyah dan terjerumus dalam godaan setan.

Ya, salah satu kelemahan manusia adalah urusan syahwat. Ingat, setan akan terus mengganggu manusia agar terjerumus dalam maksiat yang satu ini. Maka itu perbanyak mendekatkan diri pada Allah SWT.

2. Kuatkan Kepemimpinan Suami

Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga yang juga wajib menjaga dan mengamankan seluruh anggota

keluarganya, la akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diberikan di pundaknya. Suami harus memastikan seluruh anggota keluarganya selamat dari bencana zina, Istri dan anak-anaknya harus dia ayomi. Tidak dirusaknya, tapi dilindungi.

Jika suami memiliki hasrat, ia harus tegas
membicarakan kepada istri dengan cara yang baik. Komunikasi mesra, agar istri melayani dengan gembira. Jangan diam-diam memendam kecewa. Bosan sama istri. Jenuh. Malas. Tapi diam-diam menjalin hubungan dengan wanita lain. Suami adalah pemimpin. la berhak tegas dalam kepemimpinan. Toh di sisi lain, Allah SWT sudah mengajarkan para istri agar taat pada suami. Termasuk taat dalam urusan pemenuhan kebutuhan syahwat.

3. Kuatkan Ketaatan Istri

Istri adalah representasi dari kebahagiaan keluarga. Jika istri bahagia, pancaran bahagia itu niscaya akan menular pada suami dan anak-anak. Kebahagiaan istri harus dipupuk dengan taat pada suami. Jangan ada kata bosan, malas dan enggan melayani suami. Apalagi merasa benci.

Tanpa bermaksud menyalahkan para istri, namun munculnya fenomena pelakor dan suami yang selingkuh, harus jadi bahan introspeksi. Jangan-jangan juga karena andil istri. Dimana, istri tidak taat pada suami. Istri kurang bersemangat melayani suami. Entah karena kelelahan mengurus anak-anak, atau memang suami yang juga kurang bisa membuatnya bergairah mesra. Jangan sampai terbalik. Pasangan zina saja begitu giat ingin bercinta, tapi pasangan halal malah enggan melakukannya.

4. Bersihkan Rumah dari Pemicu Syahwat

Selamatkan anggota keluarga dari rangsangan seksual yang bisa memicu tindakan perzinaan. Baik dalam obrolan maupun dalam mengakses media. Jangan sampai rumah dimasuki konten konten berbau syahwat. Seperti tayangan video mesum, gambar mengumbar aurat, sinetron, film, bacaan cabul, berita berita mesum di media dan sejenisnya.

Misal, orang tua tidak mengumbar nafsu di depan anak-anak. Tidak mengajak mereka nonton ke bioskop Tidak membiarkan anak nonton film-film yang ada adegan romance-nya. Tidak berbicara seputar hubungan jinsi, walau sekadar candaan. Seperti, menggoda anak dengan istilah pacaran.

5. Bersikap Tegas dan Berani Mempertahankan Harga diri

Seluruh anggota keluarga harus ditanamkan sikap tegas untuk membela harga diri. Kalau perlu, harga diri harga mati. Maksudnya, tidak takut pada ancaman apapun dan dari siapapun. Kalau menyangkut kehormatan diri, harus dibela.

Tidak p**a mudah tergiur dengan iming-iming apapun bila kehormatan diri jadi taruhan. Jadi, anak, istr dan suami tidak tunduk untuk berbuat maksiat. Walau diancam nyawa sekalipun. Bahkan, antaranggota kelu harus saling mengingatkan. Bukan saling menjerumus Berani berteriak jika ada tanda-tanda anggota keluarga yang berlaku tidak senonoh. Berani melaporkan jika menjadi korban perilaku penyimpangan seksual dalam keluarga. Berani mengingatkan jika anggota keluarga berlaku melanggar syatiat-Nya. Semia demi keselamata seluruh keluarga, baik di dunia maupun akhirat. (Sumber : MU)
--------------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

08/03/2026

*Jika Istri Merasa Lebih Dari suami*
Oleh : Dra. (PSi.) Zulia Ilmawati

-Assalaamu'alaikum Wr.Wb.
Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, saya seorang ibu ingin bertanya, bagaimana menyikapinya jika karakter istri lebih kuat dibanding suami. Misal dalam kecepatan berpikir ketika mengambil keputusan, kegesitan dalam mengambil langkah untuk menambah pemasukari RT dan lain-lain. Terkadang kondisi ini membuat istri merasa lebih "superpower" dibanding suami. Mohon solusinya. Syukron.
FR- Tasik

Wassalaamu'alaikum Wr.Wb.
Ibu FR yang baik,

Sebagai sebuah ibadah, pernikahan memiliki sejumlah tujuan mulia. Memahami tujuan itu sangatlah penting guna menghin-darkan pernikahan bergerak tak tentu arah yang akan membuatnya sia-sia tak bermakna: Menikah adalah menjalankan sunnah Nabi, sesuai dengan fitrah manusia. Hikmah yang dapat diambil jika sunnah Nabi ini dijalankan adalah munculnya ketentraman jiwa. Dengan pernikahan akan tumbuhlah kecintaan, kasih sayang, dan kesatuan antara pasangan suami isteri. Dengan pernikahan, keturunan umat manusia akan tetap berlangsung semakin banyak dan berkesinambungan. Pernikahan juga bertujuan untuk menjalin silaturahmi. Bertemunya suami istri akan dibarengi dengan bertemunya dua keluarga. Semestinya pernikahan juga diarahkan sebagai sarana untuk dakwah, amar ma'ruf nahi mungkar.

Ibu FR yang baik,

Dalam kehidupan rumah tangga, seringkali muncul persoalan relasi antara suami istri. Tidak mudah memang menyatukan dua orang pribadi yang berbeda, berasal dari latar belakang yang berbeda, yang memiliki kebiasaan, karakter, keinginan, yang berbeda p**a. Keadaan ini jika tidak dihadapi dengan penuh kesabaran dan saling menghargai satu sama lainnya seringkali akan menimbulkan ketidaknyamanan pada kedua belah pihak, suami dan istri. Seperti halnya persoalan yang Anda sampaikan. Ada kalanya memang istri memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan suami. Karenanya, sangatlah penting bagi setiap pasangan yang akan menikah untuk mempersiapkan pernikahannya dengan baik, sehingga dapat mengantisipasi segala sesuatu yang akan dihadapi dalam kehidupan rumah tangga.

Ibu FR yang baik,

Dalam kehidupan rumah tangga, ada hak dan kewajiban masing-masing yang semestinya dijalankan dan diterima. Keluarga sakinah hanya bisa dicapai bila pasangan suami istri dan anak-anak menyadari hak dan kewajiban masing-masing serta mampu melaksanakan semua itu dengan baik dalam kehidupan sehari hari. Sakinah sesungguhnya hanyalah buah dari interaksi seluruh anggota keluarga yang dijalankan secara islami. Tak terkecuali relasi antara suami dan istri. Layaknya dua orang "sahabat yang harus tetap memperhatikan hak dan kewajibannya masing-masing. Ketika hak dan kewajibannya ini berjalan dengan sempurna, maka masing-masing akan merasa nyaman dan tentram tinggal di dalam rumah. Rumah akan benar-benar dirasakan sebagai tempat yang memberikan ketenangan, kebahagiaan, kedamaian dan perlindungan, bukan sebaliknya keresahan, pertentangan dan keributan yang membuat para penghuninya tidak betah tinggal di sana.

Ibu FR yang baik,

Sehebat apa pun istri dalam kehidupan rumah tangga, maka peran masing-masing tetap harus jelas. Kepemimpinan tetap harus berada di tangan suami. Ketika istri memiliki

kemampuan lebih, tetaplah hormat kep suami. Hindari melakukan hal-hal y membuat suami merasa disepelekan teruta soal keuangan. Terkadang tanpa disadar yang lebih "sukses" dari pasangannya me lebih berkuasa. Saat sikap tersebut munce situlah mulai timbul konflik. Biarkan suami merasa memberikan kontribusi terh rumah tangga, jangan sampai muncul merendahkan suami. Tetaplah mengh pendapat suami, sampaikan dengan le sekiranya memang pendapatnya tidak Suami akan merasa tidak dihargai oleh is pola komunikasi berubah, terutama membahas keuangan rumah tangga. sampai istri merasa memimpin rumah Harus diingat, rumah tangga dipimp suami, bukan istri. Jika sudah merasa melakukan semuanya sendiri, mengingatkan bahwa suami adala rumah tangga.

"Kaum laki-laki itu adalah kaum wanita, karena Allah telah sebagian mereka (laki-laki) atas seb lain (wanita) dan karena mereka (la menafkahkan sebagian dari ham (TQS. Annisaa: 34)

Sumber : MediaUmat
------------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

07/03/2026

*Perkataan Sopan dan Lembut pada Orang Tua*
Oleh : Ustaz Iwan Januar

— Anakku, pernahkah membaca ayat ini?

۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS Al-Isra [17]: 23)

Dalam ayat tersebut, Allah Swt. memperingatkan kita dua perkara; pertama, janganlah berkata uff (اُفٍّ) pada kedua orang tua. Apa itu uff? Menurut ulama, kata uff dalam bahasa Arab itu menunjukkan sesuatu yang kecil seperti potongan kuku, kotoran telinga, ranting, atau kerikil.

Uff dari kata al-Afaf [الأَفف] yang artinya sedikit, sehingga kata uff artinya meremehkan, menganggap kecil. Ini pendapat al-Anbari.

Seorang alim bernama as-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan, “Ini adalah bentuk menyakiti orang tua yang paling ringan, hal ini diingatkan dari bentuk menyakiti lainnya. Maknanya adalah jangan sakiti keduanya walaupun itu dianggap ringan.”

Kedua, dalam ayat tadi, Allah Ta’ala melarang kita sebagai anak membentak kedua orang tua seperti meninggikan suara, mengeluarkan perkataan yang tidak pantas seperti celaan atau menyebut namanya, atau memandang marah pada mereka.

Sebaliknya, kita diperintahkan berkata dengan perkataan yang baik (qawlan kariman). Imam al-Qurthubiy menafsirkan qawlan kariman dengan perkataan yang halus/lembut (qawlan lathifan). Ibnu al-Badah al-Tajibiy pernah bertanya pada Imam Sa’id bin Musayyab rahimahullah; “Segala hal yang ada di dalam Al-Qur’an berupa (perintah) berbakti pada kedua orang tua telah kuketahui, kecuali ayat, ‘dan berkatalah pada keduanya dengan perkataan yang mulia (qawlan kariman)’, apakah maksud perkataan yang mulia itu?” Imam S’aid bin Musayyab ra. menjawab, “Seperti perkataan seorang budak/sahaya yang berbuat salah pada majikannya yang kasar/kejam.”

Bisakah kamu bayangkan, seperti apa perkataan seorang budak/sahaya yang telah berbuat salah pada majikannya, sedangkan ia tahu majikannya sosok yang kejam. Pastilah sang budak akan merendahkan suaranya, menjaga perkataannya agar ia tidak diberikan hukuman, serta memuliakan sang majikan. Begitulah kira-kira semestinya seorang anak bertutur kata pada kedua orang tua.

Mengapa Allah sampai memerintahkan kita, sebagai anak, hati-hati saat bicara pada ayah dan ibu? Pertama, karena perintah Allah Swt. yang berhak menentukan siapa di antara manusia yang pantas dimuliakan oleh manusia lain. Ketika Allah meletakkan seseorang dalam kemuliaan, itu adalah benar. Karenanya, untuk setiap anak, tidak ada sosok yang pantas amat dimuliakan kecuali kedua orang tuanya, terutama ibunya, karena Allah telah memerintahkan manusia untuk memuliakan kedua orang tuanya. Ayah dan ibu adalah sosok yang bersusah payah membesarkan setiap anak, melindungi dan mendoakan anak-anak mereka agar selamat dunia dan akhirat.

Kedua, Nabi saw. menyebutkan bila keridaan Allah untuk anak terletak bukan pada kawan, atau pada atasan, atau manusia lain, tapi ada pada kedua orang tua. Sabda Nabi,

رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ

“Keridaan Allah tergantung pada rida orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR Tirmidzi)

Manusia yang ingin berhasil harus membahagiakan kedua orang tuanya, memuliakan mereka, bertutur kata yang lembut dan santun, serta merawat mereka di saat lanjut. Ketika keduanya rida pada sang anak, seketika rida Allah akan turun padanya dan mengantarkannya pada kebahagiaan dunia-akhirat.

Seringkali anak mendebat dan membantah orang tua karena merasa orang tua mereka punya pemikiran dan sikap yang keliru. Sadarilah, orang tuamu bukan sosok yang sempurna. Tidak ada orang tua yang selalu benar dalam tutur dan perbuatan. Setiap manusia pasti ada kesalahan padanya, termasuk kedua orang tuamu. Dari situ, memungkinkan antara kamu dan kedua orang tuamu ada “perdebatan”.

Kamu juga bukan orang yang pasti dan selalu benar. Mungkin orang tua melihat salatmu tergesa-gesa, maka mereka mengingatkanmu. Bisa jadi kamu kurang bisa menjaga pergaulan dengan lawan jenis, jadilah orang tuamu menegurmu. Atau kamu terlalu asyik dengan duniamu sendiri, di dalam kamar, di ruang tamu, ketika jalan bareng dengan orang tua, kamu malah asyik dengan gawaimu, sementara orang tua butuh bantuanmu untuk mengganti galon air, mengepel, atau membeli sembako, pantaslah bila ayah atau ibumu memanggil dan menegurmu. Kamu tidak menerima, terjadilah perdebatan.

Kamu dan orang tuamu juga tidak mesti selalu satu pendapat, satu selera, dan satu cita-cita. Kepalamu dan kepala kedua orang jelas berbeda, isi kepala pun bisa berbeda. Lagi-lagi ini juga memungkinkan ada perdebatan antara kamu dan kedua orang tuamu.

Namun itu bukan pembenaran untuk mengeluarkan perkataan yang meremehkan orang tua, membentaknya dan kasar pada keduanya. Allah meminta setiap anak bersabar saat menghadapi orang tua, terutama saat usia mereka kian menua.

Bahkan, seandainya orang tua berbuat salah sekalipun, tetap terlarang bagi seorang anak meninggikan suara, memaki, dan membentak keduanya. Perhatikanlah ketika Nabi Ibrahim as. mendakwahi ayahnya yang musyrik, beliau tetap memanggil ayahnya dengan panggilan hormat ‘ya abati’. Ketahuilah sebutan ‘abati’ lebih sopan ketimbang ‘abi’. Empat kali Nabi Ibrahim memanggil ayahnya dengan sebutan ‘abati’ dalam QS Maryam: 42-47, di antaranya,

اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا

“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?” (QS Maryam: 42)

Bila Nabi Ibrahim yang merupakan utusan Allah dan Khalilullah (kekasih Allah) saja berkata lembut dan sopan pada ayahnya yang musyrik, maka adakah pembenaran untukmu, anak-anakku, meninggikan suara pada ayah bundamu? Membentaknya dan marah padanya? Apalagi bila kedua orang tuamu mengajak pada kebaikan?

Terakhir, anak-anakku, ingatlah kelak kalian akan menjadi orang tua, dan insyaallah akan dikaruniai oleh Allah rizki berupa anak-anak. Saat itu, kalian akan sangat menginginkan mereka menjadi anak-anak yang saleh/salihah, taat dan hormat, juga senantiasa berkata santun dan lembut pada kedua orang tuanya. Ternyata, salah satu cara agar anak-anak kalian kelak berbakti dan taat pada kedua orang tua adalah dengan kalian terlebih dahulu berbakti pada kedua orang tua. Nabi saw. bersabda,

بُرُّوا آبَاءَكُمْ تَبُرَّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ

“Berbuat baiklah kepada orang tua kalian, maka anak-anak kalian akan berbuat baik kepada kalian.” (HR Thabrani)

Sumber: iwanjanuar.com
-------------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

*Mengambil Faidah Dari Luqmanul Hakim Tentang Pendidikan Anak*  --Allah Ta’ala menceritakan kisah Luqman Al Hakim dalam ...
06/03/2026

*Mengambil Faidah Dari Luqmanul Hakim Tentang Pendidikan Anak*

--Allah Ta’ala menceritakan kisah Luqman Al Hakim dalam surat Luqman ayat 13 sampai 19, ketika ia memberikan nasehat yang berharga kepada anaknya:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”” (Luqman: 13).

Jauhilah kesyirikan dalam ibadah kepada Allah, seperti berdoa kepada orang mati atau berdoa kepada orang yang tidak ada di hadapan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الدعاء هو العبادة

“Doa adalah ibadah” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hasan shahih”).

Dan juga berdasarkan firman Allah Ta’ala:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik)” (Al An’am: 82).

Terkait ayat ini, disebutkan dalam hadits:

قُلْنَا: يا رَسولَ اللَّهِ، أَيُّنَا لا يَظْلِمُ نَفْسَهُ؟ قالَ: ليسَ كما تَقُولونَ {لَمْ يَلْبِسُوا إيمَانَهُمْ بظُلْمٍ} [الأنعام: 82] بشِرْكٍ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إلى قَوْلِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ يا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ باللَّهِ إنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Para sahabat berkata: wahai Rasulullah, siapa diantara kami yang tidak pernah berbuat zalim pada dirinya sendiri? Maka Nabi menjelaskan: makna ayat [tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman] tidak sebagaimana yang kalian pahami, namun maksudnya kesyirikan. Bukankah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anaknya: “sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman terbesar?”” (Muttafaqun ‘alaih).

***

Nasehat Luqman selanjutnya:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (Luqman: 14).

Kemudian Allah gandengkan perintah untuk bertauhid dengan perintah untuk berbakti kepada orang tua, karena besarnya hak kedua orang tua. Seorang ibu mengandung anaknya dengan penuh kesusahan. Seorang ayah menanggung nafkah keluarganya. Maka mereka berdua berhak mendapatkan bakti anaknya, sebagai bentuk syukur kepada Allah dan syukur kepada orang tuanya.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Luqman: 15).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan yang ringkasnya: “jika kedua orang tua berupaya sepenuh tenaga untuk membuatmu mengikuti agama mereka yang kufur, maka jangan ikuti mereka berdua. Namun hal ini tidak boleh menghalangimu untuk tetap mempergauli mereka dengan ma’ruf di dunia, yaitu dengan baik. Dan tetaplah ikuti jalannya kaum yang beriman”.

Hal ini dikuatkan oleh hadits:

لا طاعةَ لأحد في معصيةِ اللهِ . إنما الطاعةُ في المعروفِ

“tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf (baik)” (HR. Al Bukhari 7257, Muslim 1840).

***

Nasehat Luqman selanjutnya:

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (Luqman: 16).

Ibnu Katsir menjelaskan: “sesungguhnya kezaliman dan dosa walaupun sebesar biji sawi, kelak di hari Kiamat akan Allah hadirkan ketika menimbang amalan-amalan. Dan semua itu akan diganjar. Jika amalannya baik, maka ganjarannya baik. Jika amalannya buruk, maka ganjarannya buruk”.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ

“Hai anakku, dirikanlah shalat” (Luqman: 17).

Tunaikan shalat sesuai dengan tuntunannya dan rukun-rukunnya, serta pada waktunya.

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar” (Luqman: 17).

Lakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan lemah lembut sesuai kemampuan.

وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ

“dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu” (Luqman: 17).

Ketahuilah bahwa ketika melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, pasti akan mendapatkan gangguan dari orang lain. Maka Allah perintahkan untuk bersabar. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

المؤمنُ الذي يخالطُ الناسَ ويَصبرُ على أذاهم خيرٌ منَ الذي لا يُخالطُ الناسَ ولا يصبرُ على أذاهمْ

“Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. At Tirmidzi 2507, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 388, Ahmad 5/365, syaikh Musthafa Al ‘Adawi mengatakan hadits ini shahih dalam Mafatihul Fiqh 44).

***

Nasehat Luqman selanjutnya:

إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang agung” (Luqman: 17).

Maksudnya, bersabar ketika amar ma’ruf nahi mungkar adalah termasuk perkara yang agung.

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)” (Luqman: 18).

Maksudnya, jangan palingkan wajahmu dari orang lain karena meremehkan dan sombong, ketika berbicara dengan mereka. Namun bersikap lembutlah dan pasanglah wajah yang cerah kepada mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا تسبن أحدا ، ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تكلم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك ، إن ذلك من المعروف ، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار ؛ فإنه من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة

“Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud 4084, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

تبسمك في وجه أخيك لك صدقة

“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah” (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: “Hasan gharib”. Di-shahih-kan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib).

***

Nasehat Luqman selanjutnya:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Luqman: 18).

Maksudnya, jangan berjalan dengan sombong dan angkuh. Karena itu ak

an membuat Allah murka. Oleh karena itu Allah berfirman setelahnya :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Maksudnya, orang yang sombong dan bangga pada dirinya sendiri (mukhtal), dan meremehkan orang lain (fakhur).

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan” (Luqman: 19).

Maksudnya berjalanlah dengan penuh kesederhanaan, tidak dengan lambat dan juga tidak dengan terlalu cepat. Namun jalan pas dan pertengahan.

***

Nasehat Luqman selanjutnya:

وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 19).

Maksudnya janganlah berlebihan dalam berbicara, dan janganlah meninggikan suara tanpa kebutuhan. Oleh karena itu setelahnya Allah berfirman (yang artinya) : “Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.

Mujahid rahimahullah berkata: “suara yang paling buruk adalah suara keledai. Maksudnya orang yang meninggikan suaranya diserupakan seperti keledai karena keledai itu suaranya keras dan melengking. Ini menunjukkan haramnya perbuatan tersebut dan sangat tercela. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ليس لنا مثل السوء, العائدَ في هبتِه كالكلبِ يعودُ في قَيْئِه

“Tidak ada permisalan orang yang paling buruk, kecuali orang yang meminta kembali apa yang ia berikan, seperti anjing yang menjilat kembali muntahannya” (HR. Bukhari no. 1490, Muslim no. 1620).

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ، فإنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وإذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا باللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فإنَّه رَأَى شيطَانًا

“Kalau kalian mendengar ayam berteriak (berkokok) maka berdoalah meminta nikmat kepada Allah. Namun jika kalian mendengar suara keledai berteriak (meringkik) maka mintalah perlindungan kepada Allah, karena keledai tersebut sedang melihat setan” (Muttafaqun ‘alaihi)” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/711).
Wallahu a’lam.

Sumber: Muslim.Or.Id

============================





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

Address

Jalan Banda, Watulondo, Puuwatu
Kendari
93411

Telephone

+6282252964727

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dunia Parenting posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Dunia Parenting:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram