31/12/2025
Goresan pena # 99
*Ketika Umat Melupakan Kalender Hijriyah*
Ada satu hal yang perlahan hilang dari kehidupan umat Islam,
bukan karena dicabut,
tetapi karena dilupakan yaitu
kesadaran akan waktu ibadahnya sendiri.
Kita hafal tanggal Masehi dengan rapi.
Tahu awal bulan gajian, tagihan akhir bulan, tanggal lahir dll.
Tapi ketika ditanya, “Sekarang tanggal berapa Hijriyah?”
banyak dari kita terdiam.
Padahal, Islam tidak hanya mengatur apa yang kita lakukan,
tetapi juga kapan kita melakukannya.
Ramadhan datang tanpa persiapan,
puasa Arafah terlewat,
bulan-bulan mulia berlalu tanpa makna.
Bukan karena kita menolak ibadah,
tetapi karena kita tidak lagi hidup di dalam waktunya.
Kalender Hijriyah bukan sekadar penanggalan.
Ia adalah denyut nadi ibadah umat.
Setiap pergantian bulan mengajak jiwa bertanya:
Apa yang sudah aku perbaiki?
Apa yang harus aku siapkan?
Ketika kalender Hijriyah tidak hadir dalam keseharian,
iman kehilangan ritmenya.
Ibadah menjadi spontan,
bukan kesadaran yang terjaga.
Lebih dari itu, kalender Hijriyah adalah identitas peradaban.
Ia lahir dari peristiwa hijrah sebuah
perjalanan meninggalkan gelap menuju cahaya.
Saat umat meninggalkannya,
bukan hanya tanggal yang hilang,
tetapi arah sejarah.
Anak-anak tumbuh tanpa mengenal bulan-bulan Allah.
Muharram, Rajab, Dzulhijjah hanya terdengar asing.
Padahal dari sanalah seharusnya iman ditanamkan,
pelan-pelan, dari waktu ke waktu.
Ketika hidup hanya diukur dengan kalender dunia,
kita menjadi sibuk tapi kehilangan makna.
Produktif, namun kering ruhani.
Tahun berganti, usia bertambah,
namun jiwa tidak beranjak mendekat kepada-Nya.
Hijriyah mengingatkan kita:
hidup ini bergerak menuju akhir,
bukan berputar tanpa tujuan.
Maka menggunakan kalender Hijriyah
bukan soal menolak Masehi,
tetapi soal mengembalikan kompas hidup.
Kita perlu bijak dalam menggunakan kalender waktu.
Agar kita tidak hanya pandai mengatur waktu,
tetapi juga selamat hingga ujung perjalanan.
Supaya ibadah yang mengatur hidup, bukan hidup yang mengatur ibadah.
Wallahualam
Copypaste Bekam Ruqyah Purworejo