18/01/2026
Seringkali, masyarakat menganggap orang mini atau orang dengan dwarfisme sebagai hiburan atau keunikan (novelty), namun Erin Pritchard membongkar realitas gelap di baliknya melalui konsep Midgetism.
Apa saja poin utama konsep tersebut?
1. Midgetism adalah istilah akademik untuk menjelaskan diskriminasi dan eksploitasi spesifik yang dialami orang dengan dwarfisme—perpaduan antara prasangka tinggi badan (heightism) dan diskriminasi disabilitas (disablism).
2. Kata tersebut memiliki sejarah kelam dari pertunjukan freak show dan digunakan untuk mendenyutkan opresi. Dr. Pritchard menegaskan bahwa kata ini bukan kondisi medis, melainkan istilah budaya yang menghina.
3. Praktik seperti gulat midget atau dwarf tossing adalah bentuk dehumanisasi. Hal ini membuat orang dengan dwarfisme dipandang seperti “hewan peliharaan” atau objek tontonan, bukan manusia yang setara.
4. Banyak representasi media yang memperlakukan orang dewasa dengan dwarfisme seperti anak kecil, terutama dalam hal seksualitas dan kecerdasan. Kita perlu representasi yang menghargai profesionalisme mereka, bukan sekadar “lucu” atau “menggemaskan”.
5. Dunia dirancang untuk tubuh non-difabel. Bahkan fasilitas difabel pun seringkali hanya fokus pada pengguna kursi roda, padahal orang dengan dwarfisme memiliki hambatan jangkauan tangan yang berbeda dan seringkali tidak terakomodasi oleh standar bangunan saat ini.
Dr. Pritchard menekankan bahwa perubahan hanya bisa terjadi jika masyarakat berhenti tertawa pada lelucon diskriminatif dan mulai mendengarkan pengalaman hidup mereka secara langsung.
Mari jadi sekutu yang lebih baik dengan memahami bahwa hak aksesibilitas dan penghormatan adalah milik semua orang, tanpa memandang ukuran tubuh.
Referensi:
Pritchard, Erin. 2023. Midgetism: The Exploitation and Discrimination of People with Dwarfism. London: Routledge.