Pustaka Ruqyah

Pustaka Ruqyah Pustaka Ruqyah Adalah ; Sebuah Halaman Tempat Mencari dan Menambah Sharing wawasan Tentang Ruqyah

Cara Membedakan Mimpi Petunjuk , Bunga Tidur atau Godaan SyetanMimpi bisa dibedakan dalam 3 Hal.1. Ru’yâ shâdiqah – mimp...
23/11/2025

Cara Membedakan Mimpi Petunjuk , Bunga Tidur atau Godaan Syetan

Mimpi bisa dibedakan dalam 3 Hal.

1. Ru’yâ shâdiqah – mimpi benar, petunjuk dari
Allah.
2. Hulm – gangguan atau bisikan setan.
3 Adghâtsu ahlâm – bunga tidur, campuran
pikiran sehari-hari.

🌠 Agar Mudah Membedakan itu Semua Begini ;

1. Ciri Mimpi Petunjuk dari Allah (Ru’yâ Shâdiqah)

a. Jelas, tenang, dan memberi rasa sejuk
➡️ Saat bangun, hati terasa damai, ada nur yang lembut. Tidak takut, tidak gelisah.

b. Gambarnya terang dan tidak berantakan
➡️ Biasanya simbolnya jelas, runtut, seperti ada “aliran hikmah” di balik peristiwa mimpi itu.

c. Tidak bertentangan dengan syariat
➡️ Mimpi dari Allah tidak akan memerintahkan kemaksiatan, kebencian, atau keputusasaan.

d. Ada ba’tsa (dorongan hati) untuk kembali kepada Allah
➡️ Baik berupa peringatan, penguatan, atau bisikan lembut untuk introspeksi.

e. Datangnya biasanya di akhir malam
➡️ Waktu menjelang subuh disebut Nabi ﷺ sebagai masa turunnya ruh ilham.

2. Ciri Mimpi Gangguan (Setan)

a. Menakutkan atau membuat dada berat
➡️Ketakutan, rasa terancam, atau kesedihan yang tidak jelas.

b. Isinya kacau dan tidak beraturan
➡️ Seperti campuran adegan aneh yang tidak nyambung.

c. Memancing syahwat, marah, atau putus asa
➡️ Karena setan tujuannya mengguncang kestabilan hati.

d. Bangun tidur terasa gelisah
➡️ Ada beban, rasa tidak enak, atau pikiran jadi keruh.

3. Ciri Bunga Tidur (Adghâtsu Ahlâm)

a. Isi mimpi terkait apa yang dipikirkan sebelum tidur
➡️Misal banyak menonton film, memikirkan masalah, atau sedang stres.

b. Tidak ada pesan ruhani yang dalam
➡️Seolah hanya “putaran ulang” dari memori otak.

c. Tidak meninggalkan pengaruh kuat pada hati
➡️ Bangun tidur ya biasa saja.

Rumus Mudahnya

Kalau ingin membedakan dengan cepat, gunakan 1 pertanyaan:

“Setelah bangun, hatiku tambah dekat atau tambah jauh dari Allah?”

🔹Kalau tambah dekat → itu ilham/petunjuk.
🔹Kalau tambah keruh → itu gangguan.
🔹Kalau biasa saja → itu bunga tidur.

🌠 Catatan Ruhani (Spiritual Ilmiah) Dalam perspektif nurani:

Hati yang sering dzikir nafas, bersih, dan stabil frekuensinya lebih mudah menerima ru’yâ shâdiqah.

Hati yang lelah atau penuh pikiran akan memproduksi mimpi dari memori otak (bunga tidur).

Hati yang longgar dari benteng dzikir mudah diganggu gelombang rendah (setan).

Jadi semakin kuat koneksi hatimu dengan Allah, semakin jernih p**a kualitas mimpimu.

➡️ Rumus Memahami Secara Cepat begini :
🔹Jika setelah bangun hati makin dekat
ke Allah → petunjuk.
🔹Jika makin gelisah → gangguan.
🔹Jika netral → bunga tidur.

Fb, IG dan Tiktok

Pembelian kitab admin wa 082138064460 only

Sikap Seimbang dalam Menyikapi Pencarian Buhul Sihir"Antara Ruqyah, Tauhid, dan Ikhtiar yang Proporsional"Salahudin Suna...
22/11/2025

Sikap Seimbang dalam Menyikapi Pencarian Buhul Sihir
"Antara Ruqyah, Tauhid, dan Ikhtiar yang Proporsional"

Salahudin Sunan

Dalam dunia ruqyah, salah satu pernyataan yang sering muncul adalah: "Tidak usah sibuk mencari buhul, fokus ruqyah saja".

Sebagian praktisi ruqyah menerima kalimat ini sepenuhnya. Sebagian lain menolak dan menilai pencarian buhul sebagai bagian penting dalam memutus sihir.
Keduanya benar, tetapi hanya dalam konteks-konteks tertentu.

Kesalahan terjadi bukan pada isinya, tetapi pada pemahaman yang terlalu umum dan tidak proporsional. Tulisan ini mencoba memberikan sikap yang paling adil: tidak berlebihan dalam mencari buhul, tetapi juga tidak meremehkan keberadaannya.

Saya akan mencoba memberikan pendapat melalui 5 tahapan, dan saya juga berusaha memperluasnya dari sisi aqidah, psikologi pasien, adab ruqyah, dan dalil.

1. Kapan Pernyataan Ini Benar?

Pernyataan "nggak usah sibuk cari buhul, fokus ruqyah saja" bukan pernyataan yang salah, selama ia berada dalam konteks yang tepat. Bahkan dalam banyak situasi, pernyataan ini adalah nasihat yang paling aman, paling syar’i, dan paling menenangkan bagi pasien.

Berikut perluasan penjelasannya:

A. Ketika Tujuannya Menguatkan Aqidah Pasien

Banyak pasien secara tidak sadar menggantungkan keyakinan pada:

▪︎. buhul

▪︎. lokasi buhul

▪︎. siapa yang meletakkan

▪︎. benda media sihir

▪︎. tukang sihirnya

Padahal hakekat penyembuhan hanya dari Allah semata.

Ruqyah syar’iyah dimaksudkan untuk membalik fokus hati:

Dari "Jika aku menemukan buhul, aku sembuh" menjadi"Jika Allah berkehendak, aku sembuh meski buhulnya tidak ditemukan".

Sikap seperti ini membuat hati:

▪︎. tidak bergantung pada makhluk,

▪︎. tidak terperangkap ketakutan,

▪︎. dan tidak mudah dipermainkan waswas setan.

Dalam kondisi inilah, pernyataan "fokus ruqyah saja" menjadi benar, karena ia menjaga tauhid dari kerusakan.

B. Ketika Tujuannya Menenangkan Hati Pasien

Banyak pasien sihir cenderung:

▪︎. sensitif,

▪︎. mudah terpancing ketakutan,

▪︎. banyak su’udzon,

▪︎. dan imajinasinya meningkat.

Jika ia diberi tahu "buhulmu ditanam di rumah si A, di bawah tanah, di atas atap…", kebanyakan pasien:

▪︎. sulit tidur,

▪︎. ketakutan,

▪︎. mulai membayangkan hal-hal yang tidak ada,

▪︎. dan akhirnya depresi.

Maka fokus kepada ruqyah tanpa membahas buhul adalah:

▪︎. terapi mental,

▪︎. pelindung dari waswas,

▪︎. dan cara menyalurkan energi pasien ke ibadah, bukan kecemasan.

Bagi tipe pasien seperti ini, pernyataan "fokus ruqyah saja" adalah yang paling tepat dan paling penyelamat.

C. Ketika Ingin Menghindarkan Pasien dari Pencarian Buhul yang Berbahaya

Banyak tragedi terjadi karena salah paham soal "buhul".

Sebagian orang:

▪︎. menggali makam,

▪︎. membongkar genteng rumah orang,

▪︎. menuduh tetangga atau keluarga,

▪︎. bahkan menghancurkan barang pribadi orang lain.

Semua tindakan itu haram, melanggar privasi, dan membuka pintu fitnah yang lebih besar dari sihir itu sendiri.

Maka pembimbing ruqyah yang bijak sering mengatakan:"Jangan cari-cari buhul. Fokus ruqyah dan taubat saja".

Ini adalah pesan pengaman, agar pasien tidak melampaui batas syariat dan tidak jatuh ke tindak kriminal atau fitnah.

D. Ketika Mengikuti Jejak Nabi Muhammad ﷺ

Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh paling sempurna dalam menangani sihir.Beliau ﷺ:

▪︎. tidak mencari buhul,

▪︎. tidak memaksa sahabat mencari,

▪︎. tidak mengutus detektif spiritual,

▪︎. dan tidak menuduh siapa pun.

Yang mengabarkan keberadaan buhul adalah Jibril, bukan usaha manusia. Artinya:

▪︎. Mencari buhul secara fisik bukan kewajiban.

▪︎. Dan dalam kasus Nabi, bukan itu inti penyembuhannya.

Inti penyembuhannya adalah:

▪︎. tawakkal,

▪︎. doa,

▪︎. ruqyah,

▪︎. kesabaran,

▪︎. dan percaya bahwa Allah Maha Melindungi.

Maka ucapan "fokus ruqyah saja" sesuai dengan spirit sunnah bahwa ruqyah, taubat, dan keyakinan lebih penting daripada pencarian buhul.

Kesimp**an Bagian Pertama

Pernyataan "fokus ruqyah saja, tidak usah sibuk mencari buhul" adalah benar bila:

1. Untuk menjaga tauhid,

2. Untuk menenangkan jiwa pasien,

3. Untuk mencegah bahaya dan fitnah,

4. Untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ.

Dalam konteks-konteks ini, pernyataan tersebut bukan pengabaian, tapi justru hikmah, kebijaksanaan, dan keselamatan bagi pasien.

2. Kapan Pernyataan Itu Menjadi Tidak Tepat?

Pernyataan "fokus ruqyah saja, tidak usah cari buhul" menjadi tidak tepat bila diucapkan secara mutlak, tanpa melihat situasi, tanpa menimbang kondisi pasien, dan tanpa memahami karakter sihir yang sedang bekerja.

Dalam beberapa kasus, pencarian buhul justru bagian penting dari penyembuhan, sebagaimana para ulama ruqyah klasik dan modern sering tekankan:

"Sihir akan terus bekerja selama buhulnya tetap utuh"

Artinya, ada kondisi di mana buhul harus dihancurkan, bukan diabaikan. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Bila Sihir Berulang Setelah Ruqyah Dihentikan

Ini salah satu tanda paling kuat bahwa:

▪︎. buhul masih aktif,

▪︎. jin masih mendapatkan suplai energi,

▪︎. atau pintu sihir belum tertutup sepenuhnya.

Contoh kasus:

▪︎. Pasien ruqyah → membaik → berhenti → gejala kembali.

▪︎. Pasien ruqyah → jin melemah → tetapi "mesin sihir"-nya masih beroperasi.

Jika pada kondisi seperti ini pasien diberi nasihat:

"Sudah, tidak usah cari buhul, ruqyah saja".

maka nasihat itu kurang tepat, karena inti sengsaranya justru berpangkal dari buhul yang belum dihancurkan.

2. Bila Ada Tanda Fisik yang Jelas dan Terukur

Buhul adalah objek fisik yang kadang dapat dilihat atau ditemukan.

Misalnya:

▪︎. benang terikat simpul,

▪︎. jarum panjang menghitam,

▪︎. boneka atau kain berisi jarum,

▪︎. tanah kuburan di dalam rumah,

▪︎. kain berbau menyengat tidak wajar,

▪︎. cairan hitam di tempat tertentu.

Jika sudah ada indikasi fisik yang kuat, maka:

▪︎. menutup mata,

▪︎. mengabaikan bukti,

▪︎. dan hanya berkata "ruqyah saja", atau berdo'a saja,… adalah kurang bijak, bahkan bisa memperpanjang penderitaan pasien.

Sebab:

▪︎. objek itu bisa berfungsi sebagai antena sihir,

▪︎. pusat energi negatif,

▪︎. atau media tempat jin dipasung.

Dalam kasus seperti ini, buhul memang perlu dicari dan dinetralisir.

3. Bila Jin Sendiri Mengabarkan, dan Buktinya Terbukti

Catatan penting:
Informasi jin tidak boleh dipercaya 100%, karena mereka kebanyakan pendusta. Namun bukan berarti selalu salah.

Yang boleh dilakukan adalah:

▪︎. jin menyebut tempat, namun kita verifikasi secara nyata.

Jika ternyata:

▪︎. tempat itu ditemukan persis,

▪︎. benda buhulnya ada,

▪︎. dan gejala pasien mereda setelah dihancurkan, maka itu indikasi kuat bahwa buhul memang berperan.

Pada situasi seperti ini, menolak pencarian buhul justru:

▪︎. mengabaikan data lapangan,

▪︎. mengabaikan sunnatullah kausalitas, dan membuat ruqyah menjadi tidak optimal.

4. Bila Buhul Membahayakan Lingkungan

Buhul kadang ditempatkan di:

▪︎. bawah kasur anak kecil,

▪︎. bantal tidur,

▪︎. dapur atau makanan,

▪︎. sumur atau tempat wudhu,

▪︎. atap rumah,

▪︎. halaman yang sering dilalui orang.

Jika lokasi buhul rawan seperti ini tidak dipedulikan, maka dampaknya bukan hanya pada pasien, tetapi juga:

▪︎. keluarga,

▪︎. anak-anak,

▪︎. tempat tidur,

▪︎. makanan,

▪︎. bahkan tetangga.

Pada situasi semacam ini, pernyataan "tidak usah cari buhul" menjadi tidak tepat, karena masalahnya bukan hanya sihir, tetapi keamanan dan kebersihan energi rumah.

Kesimp**an Bagian Kedua

Pernyataan "tidak usah cari buhul" menjadi kurang tepat bila:

1. Sihir terus berulang dan tidak tuntas.

2. Ada bukti fisik yang jelas.

3. Jin mengabarkan dan ternyata terbukti di lapangan.

4. Buhul berada di tempat yang membahayakan keluarga.

Pada kondisi-kondisi seperti ini, mencari buhul bukanlah tindakan berlebihan, tapi justru:

▪︎. bagian dari syariat,

▪︎. bagian dari usaha,

▪︎. bagian dari "menghilangkan sumber penyakit",

▪︎. dan termasuk ihtiar yang realistis dan amanah.

3. Pencarian Buhul: Sunnah atau Ikhtiar?

Dalam syariat Islam, ada perbedaan jelas antara ibadah dan ikhtiar teknis. Ruqyah termasuk ibadah, dan pengobatan. Sedangkan pencarian buhul adalah bagian dari ikhtiar teknis.

A. Secara syariat:

1. Ruqyah = Ibadah dan pengobatan

Ruqyah adalah bentuk tawassul, doa, dan membaca ayat-ayat Allah untuk memohon kesembuhan.

Hukumnya sunnah dan dianjurkan, karena mengandung dzikir, doa, dan tawakal.

2. Pencarian Buhul = Ikhtiar Mubah

Mencari buhul bukan ibadah, sehingga tidak memiliki nilai "pahala ritual" secara langsung.

Hukumnya mubah, yaitu boleh selama tidak ada pelanggaran syariat.

Termasuk usaha tambahan, seperti mencari penyebab penyakit fisik (virus, alergen, dll).

B. Bukan Syariat Utama dalam Pengobatan

Perlu dipahami:

▪︎. Pencarian buhul bukan syarat sah ruqyah.

▪︎. Bukan rukun pengobatan.

▪︎. Bukan kewajiban.

Bahkan banyak kasus sembuh tanpa pernah menemukan buhul apa pun.

Karena itu, menjadikannya sebagai syarat, ritual wajib, atau bagian baku ruqyah adalah kekeliruan.

C. Kapan Boleh Mencari Buhul?

Hanya bila:

▪︎. Ada indikasi kuat, misalnya mimpi berulang yang menggambarkan lokasi buhul, perubahan perilaku tajam, arah tertentu di rumah yang terasa menekan, atau petunjuk-petunjuk lain yang sudah dikenal oleh dalam ruqyah syar'iyah

▪︎. Pencarian dilakukan seperlunya tanpa keyakinan berlebihan.

▪︎. Tidak memunculkan waswas, paranoia, atau menyalahkan orang tanpa bukti.

D. Sikap Terbaik:

"Kita fokus ruqyah dulu. Tetapi jika ada tanda buhul, kita cari tanpa berlebihan".

Artinya:

▪︎. Prioritas utama tetap membaca ayat-ayat Allah, memperbanyak dzikir, memperbaiki hati, dan mendekat kepada Allah.

▪︎. Jika terdapat tanda-tanda yang layak diselidiki, maka dilakukan secukupnya, tenang, sederhana, tanpa dramatisasi, tanpa menuduh siapa pun.

E. Ringkasan untuk Orang Awam

▪︎. Ruqyah = ibadah yang berpahala

▪︎. Mencari buhul = usaha duniawi, hukumnya boleh

▪︎. Tidak wajib, tidak sunnah khusus

▪︎. Jangan dijadikan ritual atau keharusan

▪︎. Fokus utama tetap pada Al-Qur’an, dzikir, dan tawakal

4. Dua Ekstrem yang Harus Dihindari

Dalam penanganan sihir dan ruqyah, ada dua kutub ekstrem yang sama-sama berbahaya. Syariat selalu memerintahkan kita berada di jalan tengah: tidak berlebihan dan tidak meremehkan.

Ekstrem 1 — Terobsesi Buhul

Ini terjadi ketika seseorang meyakini bahwa segala problem pasti disebabkan buhul. Sikap ini sering muncul dari rasa takut, minimnya ilmu, atau pengalaman buruk di masa lalu.

Ciri-cirinya:

▪︎ Semua masalah dianggap karena buhul

Apapun yang terjadi pusing, rumah berantakan, mimpi buruk langsung disimpulkan: "Ini karena buhul!"

Padahal problem manusia punya banyak sebab: fisik, psikis, emosi, trauma, atau konflik relasi.

▪︎ Kesembuhan 100% dikaitkan dengan ditemukannya buhul

Seakan-akan tanpa menemukan buhul, ruqyah tidak akan berhasil. Ini keliru, sebab kesembuhan berasal dari Allah, bukan dari benda itu sendiri.

▪︎ Menuduh orang sembarangan

Ini bahaya besar. Keliru menuduh termasuk dosa. Sihir itu ada, tetapi menuduh tanpa bukti adalah kezaliman, merusak silaturahmi, dan menambah luka batin.

▪︎ Paranoid: takut rumah, takut keluarga

Ini tanda setan berhasil menanamkan waswas, sehingga energi psikis habis untuk ketakutan.

▪︎ Ini melemahkan tauhid dan menumbuhkan syirik halus

Ketika seseorang merasa buhul lebih menentukan daripada Allah, itu menurunkan tawakal dan menggeser keyakinan.
Padahal Allah berfirman di banyak ayat bahwa setan tidak punya kuasa atas hamba-hamba yang bertawakal.

Kesimp**annya:
Obsesi terhadap buhul menjadikan hati tidak tenang, fikiran tidak jernih, dan relasi sosial rusak. Ini ekstrem yang harus dihindari.

Ekstrem 2 — Meremehkan Buhul

Ini kebalikan dari ekstrem pertama: mengingkari sisi teknis dari sihir padahal Al-Qur’an sendiri menegaskannya.

Ciri-cirinya:

▪︎ Menolak pencarian buhul sama sekali

Seolah-olah mencari buhul adalah bid’ah atau tidak perlu sama sekali, padahal ia termasuk ikhtiar mubah, bukan ibadah.

▪︎ Meremehkan tanda fisik yang jelas

Misalnya:

▪︎. Benang yang diikat ganjil dan dikubur

▪︎. Kertas lipat berisi tulisan tertentu

▪︎. Barang tertentu yang muncul berulang di lokasi aneh

Jika tanda-tanda ini diabaikan, proses ruqyah bisa berjalan lebih lama karena media fisik masih aktif.

▪︎ Menganggap semua ruqyah cukup lewat bacaan

Betul bahwa bacaan Al-Qur’an adalah inti. Tetapi dalam beberapa kasus, melenyapkan medianya adalah bagian dari ikhtiar penyempurna.

Seperti menghilangkan racun: doa itu penting, tapi menyingkirkan racunnya pun penting.

▪︎ Tidak mau membuka opsi ikhtiar teknis

Ini termasuk sikap kaku, tidak seimbang, dan tidak bijak dalam memahami realitas sihir.

Landasan Syariat

Allah menegaskan bahwa sihir menggunakan media fisik, termasuk benda-benda simpul.
Hal ini tersurat dalam:

وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

"Dan dari kejahatan para penyihir yang meniup pada buhul-buhul."( Al-Falaq: 4).

Ayat ini menunjukkan bahwa buhul adalah realitas, bukan tahayul.

Ringkasan Jalan Tengah

Jalan yang benar adalah:

▪︎."Ruqyah tetap prioritas, tetapi ikhtiar teknis tidak ditutup bila tanda-tanda kuat muncul."

▪︎. Tidak obsesif → agar tidak terjerumus pada syirik halus.

▪︎. Tidak menolak total → agar tidak menutup pintu ikhtiar.

5. Sikap Moderat: Tauhid di Tengah Dua Ikhtiar

Dalam dunia ruqyah, sikap moderat adalah jembatan antara dua kutub: keimanan yang kuat dan ikhtiar yang proporsional. Syariat tidak meminta kita menjadi pemberani yang gegabah, tidak p**a menjadi penakut yang pasrah tanpa usaha. Ia mengajarkan keseimbangan.

1. Prioritas Utama: Ruqyah dan Penguatan Tauhid

Ruqyah adalah pilar utama penanganan sihir karena:

▪︎. Melemahkan jin

▪︎. Membakar energi sihir

▪︎. Memutus perjanjian gaib

▪︎. Menguatkan jiwa dan keyakinan pasien

Lebih dari sekedar bacaan, ruqyah adalah proses mengembalikan hati kepada Allah. Ketika tauhid naik, pengaruh sihir turun. Ketika tawakal menguat, kelemahan setan terlihat.

Inilah pondasi yang tidak boleh digeser oleh apapun, termasuk oleh obsesinya manusia terhadap buhul.

2. Ikhtiar Pelengkap: Mencari Buhul Bila Ada Indikasi yang Valid

Mencari buhul bukan ibadah, bukan kewajiban, bukan syarat kesembuhan. Ia hanyalah ikhtiar teknis:

▪︎. Dibolehkan bila ada tanda

▪︎. Berguna bila ditemukan

▪︎. Tidak mengapa bila tidak ditemukan

▪︎. Haram bila menimbulkan tuduhan dan madharat

Pencarian buhul yang dilakukan secara bijak, terukur, dan berilmu dapat mempercepat kesembuhan. Namun bila dilakukan dengan ketakutan, kecurigaan, dan asal menebak, ia justru menjadi fitnah.

Karenanya, posisi buhul adalah:
"Boleh dicari, bukan sesuatu yang harus dikejar."

3. Ketenangan: Tidak Berlebihan, Tidak Meremehkan

Sikap moderat adalah:

▪︎. Tidak menjadikan buhul sebagai pusat perhatian

▪︎. Tidak p**a menolak pencarian buhul secara mutlak

Hikmah berada di tengah.
Orang yang moderat tidak mudah panik, tidak mudah termakan cerita, tidak mudah menuduh siapa pun. Ia berjalan dengan kepala yang jernih dan hati yang tawakal.

Ketenangan inilah yang membuat ruqyah efektif, karena ruqyah tidak bekerja di dalam hati yang penuh ketakutan.

4. Verifikasi: Jangan Menuduh Tanpa Bukti

Salah satu bahaya terbesar dalam kasus sihir adalah tuduhan liar. Menuduh seseorang sebagai penyihir:

▪︎. Merusak ukhuwah

▪︎. Mengundang permusuhan

▪︎. Membuka pintu dosa besar

▪︎. Tidak sesuai adab Al-Qur’an

Syariat memerintahkan kita untuk tabayyun, bukan terjebak emosi.

Siapa pun bisa menjadi korban sihir; tidak semua orang bisa dijadikan tersangka.

Kesimp**an Besar: Tauhid sebagai Pusat, Ikhtiar sebagai Sarana

Pada akhirnya, kalimat yang paling adil dan paling mendekati syariat adalah:

"Ruqyah adalah inti, buhul adalah pelengkap. Tauhid adalah pusat, ikhtiar hanyalah sarana."

Dengan keseimbangan seperti ini:

▪︎. Pasien tidak panik

▪︎. Praktisi tidak berlebihan

▪︎. Pengobatan berjalan lebih tenang

▪︎. Keluarga tetap rukun

▪︎. Semua langkah selaras dengan nilai-nilai Islam

Inilah sikap yang paling dekat dengan jalan para ulama:
tenang, moderat, bertauhid tinggi, dan tidak terjebak ekstrem mana pun. Semoga bermanfaat. Aamiin

Sumber
Ustad Salahudin Al Sasaki

Share ulang Pustaka Ruqyah fb, ig dan tiktok

22/11/2025
20/11/2025

Masya Allah..Yang mencengangkan itu bukan nada langgamnya,tapi nada seraknya itu luarbiasa hampir mirip banget syeikh sudais..Allahu yubaarik fiih.

18/11/2025
𝘾𝘼𝙍𝘼 𝙈𝙀𝙈𝘽𝙀𝘿𝘼𝙆𝘼𝙉 '𝘼𝙄𝙉 𝙔𝘼𝙉𝙂 𝘽𝙀𝙍𝘼𝙎𝘼𝙇 𝘿𝘼𝙍𝙄 𝙍𝘼𝙎𝘼 𝙆𝘼𝙂𝙐𝙈 𝘿𝙀𝙉𝙂𝘼𝙉 '𝘼𝙄𝙉 𝙔𝘼𝙉𝙂 𝘽𝙀𝙍𝘼𝙎𝘼𝙇 𝘿𝘼𝙍𝙄 𝙍𝘼𝙎𝘼 𝘿𝙀𝙉𝙂𝙆𝙄Tentang penyakit karena LEMPA...
17/11/2025

𝘾𝘼𝙍𝘼 𝙈𝙀𝙈𝘽𝙀𝘿𝘼𝙆𝘼𝙉 '𝘼𝙄𝙉 𝙔𝘼𝙉𝙂 𝘽𝙀𝙍𝘼𝙎𝘼𝙇 𝘿𝘼𝙍𝙄 𝙍𝘼𝙎𝘼 𝙆𝘼𝙂𝙐𝙈 𝘿𝙀𝙉𝙂𝘼𝙉 '𝘼𝙄𝙉 𝙔𝘼𝙉𝙂 𝘽𝙀𝙍𝘼𝙎𝘼𝙇 𝘿𝘼𝙍𝙄 𝙍𝘼𝙎𝘼 𝘿𝙀𝙉𝙂𝙆𝙄

Tentang penyakit karena LEMPARAN A'IN ada perbedaan, ada perbedaan antara lemparan antara

𝘓𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘈'𝘐𝘕 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘨𝘶𝘮
𝘓𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘈'𝘐𝘕 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘬𝘪

Ayuk kita bahas !

Ciri-cirinya yang menonjol merupakan qorinah/indikator yang dapat mengeluarkan kita dari kemiripan keduanya sehingga kita dapat mengetahui jenis 'ain yang sedang menimpa kita.Sebelum kita masuk ke ciri-ciri menonjol/indikatornya,mari terlebih dahulu kita mengulang kembali definisi dari 'ain mu'jabah dan 'ain haasidah.Kita ulang kembali makna keduanya hanya sebagai pengingat atau sebagai ilmu baru bagi yang sama sekali belum mengerti tentang 'ain dan hasad ini.

Berikut definisi keduanya dan perhatikan dengan baik-baik perbedaan keduanya agar tidak keliru dalam menvonis suatu penyakit:

1.'ain mu'jabah adalah 'ain/pandangan yang keluar dari jiwa yang merasa kagum kepada seseorang kepada orang lain sehingga orang lain ini merasakan perubahan negatif pada prilakunya.Jenis 'ain ini bisa keluar dari orang baik maupun tidak baik dan berpengaruh pada orang yang dikagumi yang berhubungan dengan jiwanya atau perasaannya.
Contohnya:Saya mengagumi kepintaran Ali dengan mengatakan:"Ali kamu pintar sekali"! Atau saya mengagumi kecantikan seorang wanita dengan mengatakan:"Kamu cantik sekali"! Kalau kita perhatikan rasa kagum diatas yang diungkapkan dengan kalimat pujian dan pujian itu tanpa diberkahi,dengan izin Allah,pujian atau rasa kagum tersebut dapat menyebabkan perubahan jiwa dan prilaku seseorang yang kita puji secara tiba-tiba seperti; tiba-tiba malas,ngantukan,suka menyendiri,dan kehilangan nafsu makan.Dampak-dampak tersebut adalah indikator dari seseorang itu sudah terkena 'ain mu'jabah/kagum.Perhatikan lagi dan ingat dengan baik-baik!

2.'ain haasidah adalah pandangan yang keluar dari jiwa seseorang yang merasa dengki dan ingin agar orang atau benda yang ia pandang itu rusak atau sakit.Jadi pandangan ini keluar dari jiwa yang kotor melalui mata dengan tujuan agar yang di pandang itu sakit atau rusak.

Contohnya; Saya merasa iri terhadap tetangga saya yang baru saja membeli mobil lalu ketika melihat mobilnya jiwa saya sakit atau merasa iri sekali.Rasa iri ini lalu keluar melalui pandangan mata saya dengan tujuan agar mobil ini rusak,dll.Ketika jiwa kotor ini keluar melalui mata,dengan izin Allah,mobil itu akan rusak walaupun masih baru.

Contoh lain seperti; Saya benci sekali pada teman sekolah saya yang memiliki prestasi di sekolah dan setiap kali saya bertemu dengannya,jiwa saya terasa terbakar karena dengki padanya.Jiwa kotor saya ini keluar melalui pandangan saya setiap kali saya bertemu dengannya,maka teman saya ini tiba-tiba sakit dan tidak pernah masuk sekolah lagi.Jadi indikator/qorinah dari 'ain haasidah adalah menyerang tubuh bukan menyerang prilaku orang yang kita dengki.

Misalnya orang yang kita dengki ini tiba-tiba kepalanya sakit,tiba-tiba divonis kanker,dan lain-lain yang berhubungan dengan sakit pada anggota tubuhnya.Jelasnya qorinah/indikator dari 'ain haasidah adalah menyerang fisik orang yang didengki bukan menyerang psikisnya.

Dari kedua perbedaan ciri diatas,saya berharap agar mulai sekarang kita bisa mengetahui sebab dari ciri yang timbul pada kita atau orang lain.Demikian semoga bermanfaat.
Aamiin

Wallahu a'lam

Paham Lebih dalam bisa lihat di buku tentang ain
Pembelian
082138064460 wa
fb

Address

Mojokerto

Opening Hours

Monday 09:00 - 21:00
Tuesday 09:00 - 21:00
Wednesday 09:00 - 21:00
Thursday 09:00 - 21:00
Friday 09:00 - 21:00
Saturday 09:00 - 21:00
Sunday 09:00 - 21:00

Telephone

+6282138064460

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pustaka Ruqyah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram