22/11/2025
Sikap Seimbang dalam Menyikapi Pencarian Buhul Sihir
"Antara Ruqyah, Tauhid, dan Ikhtiar yang Proporsional"
Salahudin Sunan
Dalam dunia ruqyah, salah satu pernyataan yang sering muncul adalah: "Tidak usah sibuk mencari buhul, fokus ruqyah saja".
Sebagian praktisi ruqyah menerima kalimat ini sepenuhnya. Sebagian lain menolak dan menilai pencarian buhul sebagai bagian penting dalam memutus sihir.
Keduanya benar, tetapi hanya dalam konteks-konteks tertentu.
Kesalahan terjadi bukan pada isinya, tetapi pada pemahaman yang terlalu umum dan tidak proporsional. Tulisan ini mencoba memberikan sikap yang paling adil: tidak berlebihan dalam mencari buhul, tetapi juga tidak meremehkan keberadaannya.
Saya akan mencoba memberikan pendapat melalui 5 tahapan, dan saya juga berusaha memperluasnya dari sisi aqidah, psikologi pasien, adab ruqyah, dan dalil.
1. Kapan Pernyataan Ini Benar?
Pernyataan "nggak usah sibuk cari buhul, fokus ruqyah saja" bukan pernyataan yang salah, selama ia berada dalam konteks yang tepat. Bahkan dalam banyak situasi, pernyataan ini adalah nasihat yang paling aman, paling syar’i, dan paling menenangkan bagi pasien.
Berikut perluasan penjelasannya:
A. Ketika Tujuannya Menguatkan Aqidah Pasien
Banyak pasien secara tidak sadar menggantungkan keyakinan pada:
▪︎. buhul
▪︎. lokasi buhul
▪︎. siapa yang meletakkan
▪︎. benda media sihir
▪︎. tukang sihirnya
Padahal hakekat penyembuhan hanya dari Allah semata.
Ruqyah syar’iyah dimaksudkan untuk membalik fokus hati:
Dari "Jika aku menemukan buhul, aku sembuh" menjadi"Jika Allah berkehendak, aku sembuh meski buhulnya tidak ditemukan".
Sikap seperti ini membuat hati:
▪︎. tidak bergantung pada makhluk,
▪︎. tidak terperangkap ketakutan,
▪︎. dan tidak mudah dipermainkan waswas setan.
Dalam kondisi inilah, pernyataan "fokus ruqyah saja" menjadi benar, karena ia menjaga tauhid dari kerusakan.
B. Ketika Tujuannya Menenangkan Hati Pasien
Banyak pasien sihir cenderung:
▪︎. sensitif,
▪︎. mudah terpancing ketakutan,
▪︎. banyak su’udzon,
▪︎. dan imajinasinya meningkat.
Jika ia diberi tahu "buhulmu ditanam di rumah si A, di bawah tanah, di atas atap…", kebanyakan pasien:
▪︎. sulit tidur,
▪︎. ketakutan,
▪︎. mulai membayangkan hal-hal yang tidak ada,
▪︎. dan akhirnya depresi.
Maka fokus kepada ruqyah tanpa membahas buhul adalah:
▪︎. terapi mental,
▪︎. pelindung dari waswas,
▪︎. dan cara menyalurkan energi pasien ke ibadah, bukan kecemasan.
Bagi tipe pasien seperti ini, pernyataan "fokus ruqyah saja" adalah yang paling tepat dan paling penyelamat.
C. Ketika Ingin Menghindarkan Pasien dari Pencarian Buhul yang Berbahaya
Banyak tragedi terjadi karena salah paham soal "buhul".
Sebagian orang:
▪︎. menggali makam,
▪︎. membongkar genteng rumah orang,
▪︎. menuduh tetangga atau keluarga,
▪︎. bahkan menghancurkan barang pribadi orang lain.
Semua tindakan itu haram, melanggar privasi, dan membuka pintu fitnah yang lebih besar dari sihir itu sendiri.
Maka pembimbing ruqyah yang bijak sering mengatakan:"Jangan cari-cari buhul. Fokus ruqyah dan taubat saja".
Ini adalah pesan pengaman, agar pasien tidak melampaui batas syariat dan tidak jatuh ke tindak kriminal atau fitnah.
D. Ketika Mengikuti Jejak Nabi Muhammad ﷺ
Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh paling sempurna dalam menangani sihir.Beliau ﷺ:
▪︎. tidak mencari buhul,
▪︎. tidak memaksa sahabat mencari,
▪︎. tidak mengutus detektif spiritual,
▪︎. dan tidak menuduh siapa pun.
Yang mengabarkan keberadaan buhul adalah Jibril, bukan usaha manusia. Artinya:
▪︎. Mencari buhul secara fisik bukan kewajiban.
▪︎. Dan dalam kasus Nabi, bukan itu inti penyembuhannya.
Inti penyembuhannya adalah:
▪︎. tawakkal,
▪︎. doa,
▪︎. ruqyah,
▪︎. kesabaran,
▪︎. dan percaya bahwa Allah Maha Melindungi.
Maka ucapan "fokus ruqyah saja" sesuai dengan spirit sunnah bahwa ruqyah, taubat, dan keyakinan lebih penting daripada pencarian buhul.
Kesimp**an Bagian Pertama
Pernyataan "fokus ruqyah saja, tidak usah sibuk mencari buhul" adalah benar bila:
1. Untuk menjaga tauhid,
2. Untuk menenangkan jiwa pasien,
3. Untuk mencegah bahaya dan fitnah,
4. Untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
Dalam konteks-konteks ini, pernyataan tersebut bukan pengabaian, tapi justru hikmah, kebijaksanaan, dan keselamatan bagi pasien.
2. Kapan Pernyataan Itu Menjadi Tidak Tepat?
Pernyataan "fokus ruqyah saja, tidak usah cari buhul" menjadi tidak tepat bila diucapkan secara mutlak, tanpa melihat situasi, tanpa menimbang kondisi pasien, dan tanpa memahami karakter sihir yang sedang bekerja.
Dalam beberapa kasus, pencarian buhul justru bagian penting dari penyembuhan, sebagaimana para ulama ruqyah klasik dan modern sering tekankan:
"Sihir akan terus bekerja selama buhulnya tetap utuh"
Artinya, ada kondisi di mana buhul harus dihancurkan, bukan diabaikan. Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Bila Sihir Berulang Setelah Ruqyah Dihentikan
Ini salah satu tanda paling kuat bahwa:
▪︎. buhul masih aktif,
▪︎. jin masih mendapatkan suplai energi,
▪︎. atau pintu sihir belum tertutup sepenuhnya.
Contoh kasus:
▪︎. Pasien ruqyah → membaik → berhenti → gejala kembali.
▪︎. Pasien ruqyah → jin melemah → tetapi "mesin sihir"-nya masih beroperasi.
Jika pada kondisi seperti ini pasien diberi nasihat:
"Sudah, tidak usah cari buhul, ruqyah saja".
maka nasihat itu kurang tepat, karena inti sengsaranya justru berpangkal dari buhul yang belum dihancurkan.
2. Bila Ada Tanda Fisik yang Jelas dan Terukur
Buhul adalah objek fisik yang kadang dapat dilihat atau ditemukan.
Misalnya:
▪︎. benang terikat simpul,
▪︎. jarum panjang menghitam,
▪︎. boneka atau kain berisi jarum,
▪︎. tanah kuburan di dalam rumah,
▪︎. kain berbau menyengat tidak wajar,
▪︎. cairan hitam di tempat tertentu.
Jika sudah ada indikasi fisik yang kuat, maka:
▪︎. menutup mata,
▪︎. mengabaikan bukti,
▪︎. dan hanya berkata "ruqyah saja", atau berdo'a saja,… adalah kurang bijak, bahkan bisa memperpanjang penderitaan pasien.
Sebab:
▪︎. objek itu bisa berfungsi sebagai antena sihir,
▪︎. pusat energi negatif,
▪︎. atau media tempat jin dipasung.
Dalam kasus seperti ini, buhul memang perlu dicari dan dinetralisir.
3. Bila Jin Sendiri Mengabarkan, dan Buktinya Terbukti
Catatan penting:
Informasi jin tidak boleh dipercaya 100%, karena mereka kebanyakan pendusta. Namun bukan berarti selalu salah.
Yang boleh dilakukan adalah:
▪︎. jin menyebut tempat, namun kita verifikasi secara nyata.
Jika ternyata:
▪︎. tempat itu ditemukan persis,
▪︎. benda buhulnya ada,
▪︎. dan gejala pasien mereda setelah dihancurkan, maka itu indikasi kuat bahwa buhul memang berperan.
Pada situasi seperti ini, menolak pencarian buhul justru:
▪︎. mengabaikan data lapangan,
▪︎. mengabaikan sunnatullah kausalitas, dan membuat ruqyah menjadi tidak optimal.
4. Bila Buhul Membahayakan Lingkungan
Buhul kadang ditempatkan di:
▪︎. bawah kasur anak kecil,
▪︎. bantal tidur,
▪︎. dapur atau makanan,
▪︎. sumur atau tempat wudhu,
▪︎. atap rumah,
▪︎. halaman yang sering dilalui orang.
Jika lokasi buhul rawan seperti ini tidak dipedulikan, maka dampaknya bukan hanya pada pasien, tetapi juga:
▪︎. keluarga,
▪︎. anak-anak,
▪︎. tempat tidur,
▪︎. makanan,
▪︎. bahkan tetangga.
Pada situasi semacam ini, pernyataan "tidak usah cari buhul" menjadi tidak tepat, karena masalahnya bukan hanya sihir, tetapi keamanan dan kebersihan energi rumah.
Kesimp**an Bagian Kedua
Pernyataan "tidak usah cari buhul" menjadi kurang tepat bila:
1. Sihir terus berulang dan tidak tuntas.
2. Ada bukti fisik yang jelas.
3. Jin mengabarkan dan ternyata terbukti di lapangan.
4. Buhul berada di tempat yang membahayakan keluarga.
Pada kondisi-kondisi seperti ini, mencari buhul bukanlah tindakan berlebihan, tapi justru:
▪︎. bagian dari syariat,
▪︎. bagian dari usaha,
▪︎. bagian dari "menghilangkan sumber penyakit",
▪︎. dan termasuk ihtiar yang realistis dan amanah.
3. Pencarian Buhul: Sunnah atau Ikhtiar?
Dalam syariat Islam, ada perbedaan jelas antara ibadah dan ikhtiar teknis. Ruqyah termasuk ibadah, dan pengobatan. Sedangkan pencarian buhul adalah bagian dari ikhtiar teknis.
A. Secara syariat:
1. Ruqyah = Ibadah dan pengobatan
Ruqyah adalah bentuk tawassul, doa, dan membaca ayat-ayat Allah untuk memohon kesembuhan.
Hukumnya sunnah dan dianjurkan, karena mengandung dzikir, doa, dan tawakal.
2. Pencarian Buhul = Ikhtiar Mubah
Mencari buhul bukan ibadah, sehingga tidak memiliki nilai "pahala ritual" secara langsung.
Hukumnya mubah, yaitu boleh selama tidak ada pelanggaran syariat.
Termasuk usaha tambahan, seperti mencari penyebab penyakit fisik (virus, alergen, dll).
B. Bukan Syariat Utama dalam Pengobatan
Perlu dipahami:
▪︎. Pencarian buhul bukan syarat sah ruqyah.
▪︎. Bukan rukun pengobatan.
▪︎. Bukan kewajiban.
Bahkan banyak kasus sembuh tanpa pernah menemukan buhul apa pun.
Karena itu, menjadikannya sebagai syarat, ritual wajib, atau bagian baku ruqyah adalah kekeliruan.
C. Kapan Boleh Mencari Buhul?
Hanya bila:
▪︎. Ada indikasi kuat, misalnya mimpi berulang yang menggambarkan lokasi buhul, perubahan perilaku tajam, arah tertentu di rumah yang terasa menekan, atau petunjuk-petunjuk lain yang sudah dikenal oleh dalam ruqyah syar'iyah
▪︎. Pencarian dilakukan seperlunya tanpa keyakinan berlebihan.
▪︎. Tidak memunculkan waswas, paranoia, atau menyalahkan orang tanpa bukti.
D. Sikap Terbaik:
"Kita fokus ruqyah dulu. Tetapi jika ada tanda buhul, kita cari tanpa berlebihan".
Artinya:
▪︎. Prioritas utama tetap membaca ayat-ayat Allah, memperbanyak dzikir, memperbaiki hati, dan mendekat kepada Allah.
▪︎. Jika terdapat tanda-tanda yang layak diselidiki, maka dilakukan secukupnya, tenang, sederhana, tanpa dramatisasi, tanpa menuduh siapa pun.
E. Ringkasan untuk Orang Awam
▪︎. Ruqyah = ibadah yang berpahala
▪︎. Mencari buhul = usaha duniawi, hukumnya boleh
▪︎. Tidak wajib, tidak sunnah khusus
▪︎. Jangan dijadikan ritual atau keharusan
▪︎. Fokus utama tetap pada Al-Qur’an, dzikir, dan tawakal
4. Dua Ekstrem yang Harus Dihindari
Dalam penanganan sihir dan ruqyah, ada dua kutub ekstrem yang sama-sama berbahaya. Syariat selalu memerintahkan kita berada di jalan tengah: tidak berlebihan dan tidak meremehkan.
Ekstrem 1 — Terobsesi Buhul
Ini terjadi ketika seseorang meyakini bahwa segala problem pasti disebabkan buhul. Sikap ini sering muncul dari rasa takut, minimnya ilmu, atau pengalaman buruk di masa lalu.
Ciri-cirinya:
▪︎ Semua masalah dianggap karena buhul
Apapun yang terjadi pusing, rumah berantakan, mimpi buruk langsung disimpulkan: "Ini karena buhul!"
Padahal problem manusia punya banyak sebab: fisik, psikis, emosi, trauma, atau konflik relasi.
▪︎ Kesembuhan 100% dikaitkan dengan ditemukannya buhul
Seakan-akan tanpa menemukan buhul, ruqyah tidak akan berhasil. Ini keliru, sebab kesembuhan berasal dari Allah, bukan dari benda itu sendiri.
▪︎ Menuduh orang sembarangan
Ini bahaya besar. Keliru menuduh termasuk dosa. Sihir itu ada, tetapi menuduh tanpa bukti adalah kezaliman, merusak silaturahmi, dan menambah luka batin.
▪︎ Paranoid: takut rumah, takut keluarga
Ini tanda setan berhasil menanamkan waswas, sehingga energi psikis habis untuk ketakutan.
▪︎ Ini melemahkan tauhid dan menumbuhkan syirik halus
Ketika seseorang merasa buhul lebih menentukan daripada Allah, itu menurunkan tawakal dan menggeser keyakinan.
Padahal Allah berfirman di banyak ayat bahwa setan tidak punya kuasa atas hamba-hamba yang bertawakal.
Kesimp**annya:
Obsesi terhadap buhul menjadikan hati tidak tenang, fikiran tidak jernih, dan relasi sosial rusak. Ini ekstrem yang harus dihindari.
Ekstrem 2 — Meremehkan Buhul
Ini kebalikan dari ekstrem pertama: mengingkari sisi teknis dari sihir padahal Al-Qur’an sendiri menegaskannya.
Ciri-cirinya:
▪︎ Menolak pencarian buhul sama sekali
Seolah-olah mencari buhul adalah bid’ah atau tidak perlu sama sekali, padahal ia termasuk ikhtiar mubah, bukan ibadah.
▪︎ Meremehkan tanda fisik yang jelas
Misalnya:
▪︎. Benang yang diikat ganjil dan dikubur
▪︎. Kertas lipat berisi tulisan tertentu
▪︎. Barang tertentu yang muncul berulang di lokasi aneh
Jika tanda-tanda ini diabaikan, proses ruqyah bisa berjalan lebih lama karena media fisik masih aktif.
▪︎ Menganggap semua ruqyah cukup lewat bacaan
Betul bahwa bacaan Al-Qur’an adalah inti. Tetapi dalam beberapa kasus, melenyapkan medianya adalah bagian dari ikhtiar penyempurna.
Seperti menghilangkan racun: doa itu penting, tapi menyingkirkan racunnya pun penting.
▪︎ Tidak mau membuka opsi ikhtiar teknis
Ini termasuk sikap kaku, tidak seimbang, dan tidak bijak dalam memahami realitas sihir.
Landasan Syariat
Allah menegaskan bahwa sihir menggunakan media fisik, termasuk benda-benda simpul.
Hal ini tersurat dalam:
وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
"Dan dari kejahatan para penyihir yang meniup pada buhul-buhul."( Al-Falaq: 4).
Ayat ini menunjukkan bahwa buhul adalah realitas, bukan tahayul.
Ringkasan Jalan Tengah
Jalan yang benar adalah:
▪︎."Ruqyah tetap prioritas, tetapi ikhtiar teknis tidak ditutup bila tanda-tanda kuat muncul."
▪︎. Tidak obsesif → agar tidak terjerumus pada syirik halus.
▪︎. Tidak menolak total → agar tidak menutup pintu ikhtiar.
5. Sikap Moderat: Tauhid di Tengah Dua Ikhtiar
Dalam dunia ruqyah, sikap moderat adalah jembatan antara dua kutub: keimanan yang kuat dan ikhtiar yang proporsional. Syariat tidak meminta kita menjadi pemberani yang gegabah, tidak p**a menjadi penakut yang pasrah tanpa usaha. Ia mengajarkan keseimbangan.
1. Prioritas Utama: Ruqyah dan Penguatan Tauhid
Ruqyah adalah pilar utama penanganan sihir karena:
▪︎. Melemahkan jin
▪︎. Membakar energi sihir
▪︎. Memutus perjanjian gaib
▪︎. Menguatkan jiwa dan keyakinan pasien
Lebih dari sekedar bacaan, ruqyah adalah proses mengembalikan hati kepada Allah. Ketika tauhid naik, pengaruh sihir turun. Ketika tawakal menguat, kelemahan setan terlihat.
Inilah pondasi yang tidak boleh digeser oleh apapun, termasuk oleh obsesinya manusia terhadap buhul.
2. Ikhtiar Pelengkap: Mencari Buhul Bila Ada Indikasi yang Valid
Mencari buhul bukan ibadah, bukan kewajiban, bukan syarat kesembuhan. Ia hanyalah ikhtiar teknis:
▪︎. Dibolehkan bila ada tanda
▪︎. Berguna bila ditemukan
▪︎. Tidak mengapa bila tidak ditemukan
▪︎. Haram bila menimbulkan tuduhan dan madharat
Pencarian buhul yang dilakukan secara bijak, terukur, dan berilmu dapat mempercepat kesembuhan. Namun bila dilakukan dengan ketakutan, kecurigaan, dan asal menebak, ia justru menjadi fitnah.
Karenanya, posisi buhul adalah:
"Boleh dicari, bukan sesuatu yang harus dikejar."
3. Ketenangan: Tidak Berlebihan, Tidak Meremehkan
Sikap moderat adalah:
▪︎. Tidak menjadikan buhul sebagai pusat perhatian
▪︎. Tidak p**a menolak pencarian buhul secara mutlak
Hikmah berada di tengah.
Orang yang moderat tidak mudah panik, tidak mudah termakan cerita, tidak mudah menuduh siapa pun. Ia berjalan dengan kepala yang jernih dan hati yang tawakal.
Ketenangan inilah yang membuat ruqyah efektif, karena ruqyah tidak bekerja di dalam hati yang penuh ketakutan.
4. Verifikasi: Jangan Menuduh Tanpa Bukti
Salah satu bahaya terbesar dalam kasus sihir adalah tuduhan liar. Menuduh seseorang sebagai penyihir:
▪︎. Merusak ukhuwah
▪︎. Mengundang permusuhan
▪︎. Membuka pintu dosa besar
▪︎. Tidak sesuai adab Al-Qur’an
Syariat memerintahkan kita untuk tabayyun, bukan terjebak emosi.
Siapa pun bisa menjadi korban sihir; tidak semua orang bisa dijadikan tersangka.
Kesimp**an Besar: Tauhid sebagai Pusat, Ikhtiar sebagai Sarana
Pada akhirnya, kalimat yang paling adil dan paling mendekati syariat adalah:
"Ruqyah adalah inti, buhul adalah pelengkap. Tauhid adalah pusat, ikhtiar hanyalah sarana."
Dengan keseimbangan seperti ini:
▪︎. Pasien tidak panik
▪︎. Praktisi tidak berlebihan
▪︎. Pengobatan berjalan lebih tenang
▪︎. Keluarga tetap rukun
▪︎. Semua langkah selaras dengan nilai-nilai Islam
Inilah sikap yang paling dekat dengan jalan para ulama:
tenang, moderat, bertauhid tinggi, dan tidak terjebak ekstrem mana pun. Semoga bermanfaat. Aamiin
Sumber
Ustad Salahudin Al Sasaki
Share ulang Pustaka Ruqyah fb, ig dan tiktok