Yassir & Elly Zulfa

Yassir & Elly Zulfa muslimahcenter.id

Enam belas tahun pernikahan.Bukan waktu yang sebentar untuk dua manusia yang berbeda latar, sifat, dan cara memandang du...
15/02/2026

Enam belas tahun pernikahan.
Bukan waktu yang sebentar untuk dua manusia yang berbeda latar, sifat, dan cara memandang dunia, lalu memilih berjalan dalam satu arah yang sama.

Kami memulai dengan harapan-harapan sederhana: membangun rumah tangga yang tenang, saling mencintai, dan menua bersama dalam kebahagiaan. Namun perjalanan ternyata tidak selalu seindah doa-doa di awal akad.

Ada hari-hari ketika kami tertawa lepas, merasa dunia begitu ramah.
Ada p**a hari-hari ketika ujian datang bertubi-tubi, menguras tenaga, menguji kesabaran, bahkan menggoyahkan keyakinan.

Kami pernah berada di titik lelah.
Pernah salah memahami.
Pernah terluka oleh kata-kata yang seharusnya tak terucap.

Namun setiap badai yang datang justru mengajarkan kami satu hal:
bahwa pernikahan bukan tentang mencari pasangan yang sempurna, tetapi tentang dua insan yang bersedia saling melengkapi dalam ketidaksempurnaan.

Ia memiliki kekurangan yang tak kumiliki.
Aku memiliki kelemahan yang tak mampu ia pahami sepenuhnya.
Namun di situlah kami belajar—bukan untuk menuntut, tetapi untuk menerima.
Bukan untuk mengubah, tetapi untuk mendampingi.

Kami belajar bahwa cinta bukan hanya rasa yang berdebar, tetapi keputusan yang diulang setiap hari.
Keputusan untuk tetap tinggal.
Keputusan untuk memaafkan.
Keputusan untuk saling menggenggam meski keadaan tidak baik-baik saja.

Enam belas tahun ini mengajarkan kami bahwa sabar bukan berarti tidak menangis, dan ikhlas bukan berarti tidak merasa lelah. Sabar adalah tetap melangkah meski hati bergetar. Ikhlas adalah menerima takdir Allah sambil terus berusaha menjadi lebih baik.

Kami mungkin bukan pasangan yang sempurna.
Rumah tangga kami tidak selalu tanpa cela.
Namun di setiap kekurangan, Allah titipkan ruang untuk saling melengkapi.

Dan hari ini, hati kami semakin dipenuhi syukur.
Di saat yang paling Allah tahu sebagai waktu terbaik, Dia menghadirkan seorang putra dalam kehidupan kami—sebuah amanah yang melengkapi kebahagiaan rumah tangga yang telah kami rawat dengan sabar dan doa.

Kehadirannya bukan hanya menambah tawa di rumah kami, tetapi juga mengingatkan bahwa setiap penantian tidak pernah sia-sia di sisi Allah. Bahwa di balik ujian panjang, selalu ada hadiah yang datang pada waktu yang paling tepat.

Ya Allah…
Jadikanlah rumah tangga kami sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Lembutkan hati kami saat perbedaan datang.
Kuatkan kami saat ujian mengetuk.
Lapangkan dada kami untuk saling memaafkan dan memahami.

Jadikan kami orang tua yang mampu menjaga amanah-Mu dengan penuh cinta dan tanggung jawab.
Tuntun langkah kami agar tetap berjalan beriringan,
bukan hanya sampai usia menua,
tetapi hingga Engkau pertemukan kami kembali di jannah-Mu.

Aamiin 🤍

Aku dinyatakan normal.Tes hormon normal.USG normal.HSG normal.Semua baik. Semua sesuai standar medis. Semua seperti seha...
12/02/2026

Aku dinyatakan normal.

Tes hormon normal.
USG normal.
HSG normal.

Semua baik. Semua sesuai standar medis. Semua seperti seharusnya.

Dokter bahkan mengatakan, “Secara teori, tidak ada masalah.”

Kalimat itu terdengar seperti kabar baik. Tapi entah mengapa, hatiku justru terasa kosong.

Aku p**ang membawa map berisi hasil pemeriksaan yang sempurna, tapi hati yang terasa retak. Rasanya seperti berdiri di depan pintu yang tidak terkunci—namun tetap saja tidak bisa masuk.

Lalu dokter menyebut satu kata, IVF.

Aku terdiam.

Bukan karena tubuhku bermasalah.
Bukan karena ada yang harus diperbaiki.
Tapi karena ternyata “normal” tidak menjamin hadirnya takdir yang kita inginkan.

Di situlah keikhlasanku mulai diuji.

Aku harus menerima bahwa meskipun tidak ada yang salah pada tubuhku, tetap saja aku harus menjalani suntikan demi suntikan. Prosedur demi prosedur. Ruang tindakan yang dingin. Jarum yang menusuk bukan hanya kulit, tapi juga rasa percaya diriku sebagai perempuan.

Ada bisikan halus yang menyakitkan:
“Kenapa harus aku?”
“Bukankah aku sudah baik-baik saja?”

Aku menangis bukan karena sakit fisik.
Aku menangis karena egoku runtuh.

Selama ini mungkin aku merasa jika semuanya normal, maka hasilnya juga akan normal. Jika aku menjaga kesehatan, maka Allah pasti memberi dengan mudah.

Ternyata tidak.

Allah tidak pernah terikat pada logika medis.
Allah tidak tunduk pada hasil laboratorium.

Dan di situlah aku sadar…
Yang sedang Allah sembuhkan bukan rahimku.
Yang sedang Allah bentuk adalah hatiku.

IVF mengajariku sesuatu yang tak pernah kupelajari sebelumnya.
Bahwa keikhlasan itu mahal.
Bahwa tawakal itu tidak mudah.
Bahwa menerima takdir ketika kita merasa “sudah pantas” adalah ujian yang paling sunyi.

Setiap suntikan adalah pengingat bahwa aku ini hamba.
Setiap ruang tindakan adalah ruang belajar untuk berserah.
Setiap air mata adalah saksi bahwa aku sedang diproses, bukan dihukum.

Aku mulai berhenti bertanya, “Kenapa aku?”
Dan perlahan belajar berkata,
“Ya Allah, kalau ini jalan dari-Mu, genggam aku agar aku kuat.”

Kini aku tahu, menjadi ibu bukan tentang kondisi yang sempurna.
Bukan tentang hasil yang ideal.
Tapi tentang izin Allah yang turun pada waktu terbaik menurut-Nya.

Dan hari ini, saat aku benar-benar memeluk anakku, aku tahu…
Ia bukan hadir karena semua hasilku normal.
Ia hadir karena Allah memilih waktunya.

Perjalanan panjang ini mengajarkanku
bahwa takdir Allah tidak pernah salah alamat.

Hari itu, waktu berjalan terasa aneh— terlalu cepat sekaligus terlalu lambat.Kami duduk berdampingan di ruang tunggu rum...
10/02/2026

Hari itu, waktu berjalan terasa aneh— terlalu cepat sekaligus terlalu lambat.

Kami duduk berdampingan di ruang tunggu rumah sakit, dengan bau khas antiseptik dan suara langkah kaki perawat yang mondar-mandir. Wajah suamiku terlihat tenang, tapi aku tahu… di balik senyum kecilnya, ada badai besar yang sedang ia tahan sendiri.

Operasi pengambilan sperma.
Sebuah tindakan medis yang mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang, tapi bagi kami—terutama baginya—ini adalah salah satu pengalaman paling mendebarkan dalam hidup.

Ia bukan hanya menghadapi jarum, alat bedah, dan ruang operasi yang dingin.
Ia sedang berhadapan dengan rasa takut gagal.
Takut mengecewakan.
Takut jika tubuhnya tidak mampu memberi apa yang kami doakan selama ini: kehidupan kecil yang kami sebut harapan.

Saat namanya dipanggil, ia menggenggam tanganku sedikit lebih erat. Tidak banyak kata. Hanya tatapan yang berkata,

“Doakan aku ya”,,

Aku melihat punggungnya menghilang di balik pintu ruang operasi, dan di situlah dadaku mulai sesak. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar menyadari: betapa berat beban yang ia pikul sebagai seorang suami. Ia rela tubuhnya disakiti, egonya diuji, dan ketakutannya ditelan—demi satu kemungkinan kecil yang bernama anak.

Waktu menunggu terasa panjang. Doa-doa kecil tak henti keluar dari hatiku, bercampur antara harap dan pasrah.
Aku belajar bahwa dalam proses bayi tabung, bukan hanya rahim yang berjuang—hati dan keberanian seorang suami juga ikut dipertaruhkan.

Ketika akhirnya ia keluar, masih lemah tapi tersenyum, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Bukan karena sedih—melainkan karena terharu.
Terharu pada pria yang memilih bertahan.
Terharu pada pasangan yang tak lari dari kenyataan.
Terharu karena kami berani menempuh jalan yang tidak mudah, tapi penuh cinta.

Hari itu akan selalu kami ingat.
Sebagai hari di mana kami belajar bahwa perjuangan menjadi orang tua dimulai jauh sebelum ada detak jantung kecil terdengar.
Ia dimulai dari keberanian.
Dari pengorbanan.
Dan dari cinta yang memilih untuk tidak menyerah.

Jogjakarta, November 2023

Setiap pernikahan pasti akan diuji dengan kisahnya masing-masing. Memaknai bahwa ujian bukanlah sebuah hukuman, tapi seb...
03/02/2026

Setiap pernikahan pasti akan diuji dengan kisahnya masing-masing. Memaknai bahwa ujian bukanlah sebuah hukuman, tapi sebuah “pendewasaan” dalam menjalani hidup. Seringkali bukan tentang ujian itu, tapi tentang “siapa saya” saat sedang menjalani ujian.

Apakah saya bisa menjadi pribadi yang lebih sabar, ikhlas, bertaqwa, ataukah justru sebaliknya menjadi pribadi yang sedih, kecewa, menyalahkan, lalu putus asa.

14 tahun perjalanan pernikahan masih menggenggam keyakinan bahwa pasti bisa alami. Sampailah kemudian Allah kasih peristiwa dan petunjuk untuk belajar “melepaskan”. Bukan lagi sebuah keharusan untuk bisa hamil alami, karena ikhtiar panjang selama 14 tahun sepertinya sudah cukup memberikan banyak pelajaran hidup dengan berbagai tempaan jiwa yang menguji kesetiaan, kesabaran dan keikhlasan.

Sampailah di titik, “ya sudah, ikuti saja bagaimana maunya Allah”. Dikasih secara alami ya Alhamdulillah, harus melalui tindakan medis juga Alhamdulillah. Apapun itu disyukuri saja, karena Allah lebih tahu mana yang terbaik.

2 tahun berdamai dengan kenyataan untuk menjalani IVF dengan rentetan proses yang tidak sebentar dan tidak murah. Belum lagi berdamai dengan obat-obatan kimia sintetik yang harus dimasukkan ke dalam tubuh. Awalnya seolah tubuh tidak langsung menerima, karena mungkin selama 14 tahun itu hampir tidak pernah memasukkan obat kimia sintetik. Jangan ditanya bagaimana sakitnya, jujur aja “sakit”. Beberapa tindakan operasi juga perlu dijalani sehingga mau gak mau obat bius pun masuk. Tapi “sakit” itu menjadi biasa aja manakala bisa “menerima” kenyataan rasa sakit itu. Mungkin berbeda cerita kalau “menolak sakit”, sehingga penderitaan tercipta karena adanya penolakan.

Puluhan kali bolak balik ke RS, belum lagi proses mengantri, menunggu dokter, suntikan jarum yang tak lagi kuhitung, dan prentilan-prentilan lain menjadikan “sarana” pendidikan jiwa untuk melatih kesabaran dan keikhlasan. Mungkin inilah cara Allah untuk bisa lebih dekat dengan Nya.



14/12/2025

Kenapa ada suami yang tidak izinkan istrinya bekerja atau jalankan bisnis ?



12/12/2025

Pernikahan adalah Ruang untuk Bertumbuh Bersama Pasangan Halal ♥️




Elly Zulfa El Ihsani
Elly Zulfa El Ihsani
Yassir Al Fatarukani

Address

Griya PIR 5 Blok D1
Pemalang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yassir & Elly Zulfa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram

Category