15/02/2026
Enam belas tahun pernikahan.
Bukan waktu yang sebentar untuk dua manusia yang berbeda latar, sifat, dan cara memandang dunia, lalu memilih berjalan dalam satu arah yang sama.
Kami memulai dengan harapan-harapan sederhana: membangun rumah tangga yang tenang, saling mencintai, dan menua bersama dalam kebahagiaan. Namun perjalanan ternyata tidak selalu seindah doa-doa di awal akad.
Ada hari-hari ketika kami tertawa lepas, merasa dunia begitu ramah.
Ada p**a hari-hari ketika ujian datang bertubi-tubi, menguras tenaga, menguji kesabaran, bahkan menggoyahkan keyakinan.
Kami pernah berada di titik lelah.
Pernah salah memahami.
Pernah terluka oleh kata-kata yang seharusnya tak terucap.
Namun setiap badai yang datang justru mengajarkan kami satu hal:
bahwa pernikahan bukan tentang mencari pasangan yang sempurna, tetapi tentang dua insan yang bersedia saling melengkapi dalam ketidaksempurnaan.
Ia memiliki kekurangan yang tak kumiliki.
Aku memiliki kelemahan yang tak mampu ia pahami sepenuhnya.
Namun di situlah kami belajar—bukan untuk menuntut, tetapi untuk menerima.
Bukan untuk mengubah, tetapi untuk mendampingi.
Kami belajar bahwa cinta bukan hanya rasa yang berdebar, tetapi keputusan yang diulang setiap hari.
Keputusan untuk tetap tinggal.
Keputusan untuk memaafkan.
Keputusan untuk saling menggenggam meski keadaan tidak baik-baik saja.
Enam belas tahun ini mengajarkan kami bahwa sabar bukan berarti tidak menangis, dan ikhlas bukan berarti tidak merasa lelah. Sabar adalah tetap melangkah meski hati bergetar. Ikhlas adalah menerima takdir Allah sambil terus berusaha menjadi lebih baik.
Kami mungkin bukan pasangan yang sempurna.
Rumah tangga kami tidak selalu tanpa cela.
Namun di setiap kekurangan, Allah titipkan ruang untuk saling melengkapi.
Dan hari ini, hati kami semakin dipenuhi syukur.
Di saat yang paling Allah tahu sebagai waktu terbaik, Dia menghadirkan seorang putra dalam kehidupan kami—sebuah amanah yang melengkapi kebahagiaan rumah tangga yang telah kami rawat dengan sabar dan doa.
Kehadirannya bukan hanya menambah tawa di rumah kami, tetapi juga mengingatkan bahwa setiap penantian tidak pernah sia-sia di sisi Allah. Bahwa di balik ujian panjang, selalu ada hadiah yang datang pada waktu yang paling tepat.
Ya Allah…
Jadikanlah rumah tangga kami sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Lembutkan hati kami saat perbedaan datang.
Kuatkan kami saat ujian mengetuk.
Lapangkan dada kami untuk saling memaafkan dan memahami.
Jadikan kami orang tua yang mampu menjaga amanah-Mu dengan penuh cinta dan tanggung jawab.
Tuntun langkah kami agar tetap berjalan beriringan,
bukan hanya sampai usia menua,
tetapi hingga Engkau pertemukan kami kembali di jannah-Mu.
Aamiin 🤍