18/02/2026
SEMBAH SEPI PAMRIH
Oleh: I Gede Adnyana
Om sembah ning anatha tinghalana de Trilokasarana
wahyâdhyatmika sembah inghulun ijöngta tan hana waneh...
Om dan sembah sebagai pembuka tembang mredukomala karya Empu Kanwa menarik untuk dikaji lebih dalam. Suku kata Om yang sudah tidak asing lagi, bagi umat Hidu merupakan suku kata yang paling inti yang merefleksikan atau mewakili Tuhan itu sendiri sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur yang diuraikan menjadi tiga huruf yaitu A-U-M. Inilah tiga kekuatan atau manifestasi utama Sang Hyang Widdhi untuk mengatur seluruh alam semesta. Hakikatnya seluruh ciptaan memiliki awal, tengah dan akhir yang berupa, lahir, hidup dan mati. Yang lahir pasti akan hidup, yang hidup pasti akan mati, dan yang mati pasti akan lahir kembali. Hal ini adalah siklus alami yang merupakan hukum adi kodrati yang tak dapat ditolak oleh siapapun, bahkan Awatara sekalipun mengikuti hukum ini.
Leluhur kita mengetahui dan memahami dengan sebenar-benarnya bahwa isi dari kelahiran adalah kehidupan. Kehidupan ini berbekal s**a, duhka, lara, pati yang merupakan isinya kehidupan. Kebahagiaan, kesedihan, penyakit dan kematian adalah sesuatu yang pasti yang tidak dapat di hindari. Kesadaran semacam ini telah berakar dalam tradisi megeguritan dalam geguritan Tamtam pupuh sinom,19 disuratkan:
Titiang janma sunantara, Nista lacur manumadi,
Malarapan s**a legawa, Catur bekel titiang pasti,
S**a duka lara pati, Nika wantah titiang tikul,
titiang mewasta I Tamtam, Nyadia titiang tangkil mangkin,
Ring sang Ayu, Sane telas tunas titiang.
Hal ini menunjukan bahwa kesadaran akan inti dari kehidupan yang terdiri atas empat hal yang disebut Catur bekel (S**a duka lara pati) mengkristal menjadi sebuah filosofi hidup, sebagai wujud dari kepasrahan diri bahwa segala sesuatunya telah diatur. Manusia bisa berusaha namun suatu saat pasti hukumnya mengalami kesenangan, kesedihan, penyakit dan pada akhirnya mengalami kematian. Menjadi pertanyaan besar dari waktu kewaktu, mungkinkah menghindari empat hal ini?
Melalui berbagai sastra kita akan mendapat gambaran bahwa hidup ini adalah penderitaan atau samsara. Samsara sering p**a diterjemahkan sebagai kelahiran kembali atau punarbhawa, dimana kelahiran ini hakikatnya adalah penderitaan karena diliputi oleh s**a, duhka, lara, pati. Utuk mengakhiri penderitaan satu-satunya jalan adalah dengan menghentikan kelahiran kembai atau punarbhawa sehingga penderitaan atau samsara juga terhenti. Upaya menghentikan kelahiran ini dikenal sebagai empat jalan yang disebut catur marga (bhakti, karma, jnana dan raja yoga). Hakikat dari empat jalan ini adalah hubungan antara sang jiwa (atman) yang terbelenggu oleh kelahiran kembali sebagai yang mendrita dengan Brahman yang berkeadaan ananda atau kebahagiaan abadi. Jiwatman yang berada dalam lingkaran punarbhawa berusaha menghubungkan dirinya kembali kepada asalnya yang murni yaitu Brahman.
Hubungan ini haruslah bersifat pribadi, sebab yang mengalami penderitaanlah yang seharusnya menyadari kemana seharusnya ia pergi untuk melenyapkan penderitaan. Kepada yang menguasai kelahiran yang lahir hendaknya mengadu, kepada yang menguasai kehidupan hendaknya yang hidup mendekat, dan kepada yang menguasai kematian hendaknya semua yang akan mengalaminya berlindung. Untuk ketiga hal ini Om adalah jawaban singkat, jalan, tujuan, suluh yang hanya dapat digapai dengan perenungan dalam kesendirian, menarik segenap keinginan dan indriya dari obyek kesenangannya, bagaikan kura-kura menarik keempat kaki dan satu kepala kedalam cangkangnya untuk berlindung dari mara bahaya.
Jika kesadaran akan marabahaya tentang kelahiran kembali atau samsara telah benar benar disadari, maka kalimat Om sembah ning anatha terasa begitu istimewa. Ada kandungan cinta, kepasrahan, ketulusan, ketidakberdayaan, tanpa kepemilikan, dan pada akhirnya terasa tak ada satupun materi yang mampu mengikat. Hanya ikatan cinta kasih bhakti kepada “Sesuhunan” yang menguasai kelahiran, kehidupan dan kematian semata yang hadir dalam langkah-langkah pasti menuju sembah yang sepi pamerih.
Empu Kanwa telah mengalami sembah yang sepi pamerih dengan menyebut dirinya sebagai anatha yang artinya tak punya tahta, tempat duduk, kekuasaan, kedudukan. Kepasrahan yang teramat dalam yang bahkan ia (Empu Kanwa) sendiri menyatakan sebagai orang yang benar-benar “miskin”, tidak memiliki sesuatu untuk dibanggakan. Lepasnya rasa kepemilikan merupakan proses mutlak yang harus dialami guna mencapai pembebasan. Pembebasan memerlukan pengorbanan terhadap berbagai rasa kepemilikan yang melekat.
Jadi hakikatnya sembah itu hendaknya mampu membawa pembebasan dengan melepas segenap ikatan pamrih. Sembah bukan untuk memohon kekayaan, harta benda, ketenaran, kemasyuran dan sebagainya yang cenderung mengikat sang atma. Sembah yang sepi pengharapan atau sepi pamrih justru mengantarkan sang atma menaiki tangga kesadaran. Bagaikan bola yang diikat pada sebongkah batu yang tenggelam di dasar lautan, saat bongkahan batu lepas, bola akan naik kepermukaan.
Namun demikian memang sudah menjadi hukum sebab akibat bahwa sesuatu yang sangat berharga itu mesti diperoleh dengan cara yang tidak mudah. Selalu ada rintangan dan hambatan dalam meraih kesuksesan, termasuk sukses yang sejati. Panca Klesa adalah lima rintangan, dalam mencapai tujuan hidup yaitu pembebasan abadi. Ada lima rintangan klesha yang bersumber dari diri sendiri, antara lain :
1. Awidya ; Kegelapan atau ketidaktahuan / kebodohan
2. Asmita ; Kesombongan atau keangkuhan
3. Raga ; Keterikatan dan kes**aan akan sesuatu
4. Abhiniwesa ; Ketakutan yang berlebihan terhadap kematian.
5. Dwesa ; Rasa benci / dendam.
Rintangan-rintangan ini hadir silih berganti dalam hidup seperti siang malam yang selalu menanti, menunggu giliran. Yoga memberikan solusi untuk persoalan ini mealui delapan tahapan Yoga yang populer sebagai astangga yoga. Tahapan-tahapan Yoga ini merupakan sebuah disiplin ilmu untuk menghentikan gelombang pikiran, sehingga muncul pencerahan yang membawa atma pada kondisi ananda (mengalami kebahagiaan sejati), mencapai ke-Shiwa-an atau tingkat kesucian yang murni. Empu kanwa menyebutkan bahwa kehadiran Shiwa merupakan buah dari ketekunan dalam melaksanakan Yoga. Pelaksanaan yoga yang benar haruslah menumbuhkan bhakti, bhakti menumbuhkan jnana atau pengetahuan kesadaran yang dialami sebagai buah dari disiplin yoga. Tanpa lepasnya ikatan kepemilikan semua itu tak akan tercapai, langkah terdekat adalah mulailah menerapkan sembah yang sepi pamerih.