Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang

Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang Semoga Cahaya Pengetahuan Menjadi Suluh Bagi sang Jiwa

PANCA BAYU BERSAMA ATMANDialog antara Bhagawan Wrhaspati dengan Bhatara Shiwa tentang perbedaan antara budi dengan Atman...
19/02/2026

PANCA BAYU BERSAMA ATMAN

Dialog antara Bhagawan Wrhaspati dengan Bhatara Shiwa tentang perbedaan antara budi dengan Atman, menarik untuk disajikan sebagai pengetahuan tentang hubungan antara Tuhan (Bhatara Shiwa) dengan atman. Hubungan atman sebagai jiwa individu dengan Tuhan disebut dalam upanisad sebagai Brahman atman aikhyam ‘Brahman dan atman hakikatnya sama’. Wrhaspatti Tattwa menjelaskan ada dua hakikat yang ada yang disebut Cetana (kesadaran) dan acetana (ketidaksadaran).

Cetana terdiri atas Parama Siwa Tattwa, Sada Siwa Tattwa, dan Siwa Tattwa. Sanghyang Sada Siwa memiliki empat kekuatan: Kekuatan meresap (wibhu Sakti), Prabu Sakti, kekuatan ilmu pengetahuan (jnana Sakti), dan kekuatan perbuatan (kriya sakti). Empat kekuatan itulah yang beliau miliki (Weraspati tattwa 11-13) (Putra & Sadia, 1988:12). Keempat sakti itu (cadhu Sakti) dalam bentuk teratai. Di tengah-tengah adalah tempat duduk Tuhan, ketika ia mengambil suatu wujud, ia adalah mantramaka. Mantra membentuk badan, Isyana sebagai kepala, Tat Purusa sebagai muka, Aghora sebagai jantung, Wamadewa bagian yang dirahasiakan, dan Sadyojata adalah wujudnya. AUM ini merupakan badan Tuhan yang bercahaya, bening seperti kristal (Wrhaspati tattwa 14) (Putra & Sadia, 1988:14).

Kekuatan Tuhan yang disebut kriya sakti memasuki ahangkara, dan ahangkara memasuki Wahyu yaitu prana. Wahyulah yang bersama Atman dalam badan (Wrhaspati tattwa 35). Dalam puja pengambeyan disebutkan apah teja jiwatmanam “apah dan teja adalah jiwatma”. Didalam apah terdapat teja, didalam teja terdapat wayu, didalam wayu terdapat akasa atau ruang. Yang menjadi pertanyaan dimanakah ahamkara yang disusupi oleh Kriya Sakti dari sang Hyang Sada Siwa? Dalam puja selanjutnya disebutkan “bayu akasa pramanam” bayu dan akasa adalah pramana atau daya kekuatan hidup. Jadi apakah Ahamkara sebagai kehendak yang disusupi oleh Kriya Shakti Bhatara adalah Sang Hyang Pramana? Masih memerlukan kajian mendalam.

Sepuluh nadi utama disebut sebagai saluran Prana, yang terdiri dari prana, apana, Samana, udana, wiyana, naga, kurma, krkara, dewadatta, dhananjaya. Wahyu itu berbeda-beda karena tugas dan warnanya yang berbeda-beda. Prana ada di mulut, apana terletak di bawah, samana di jantung, udana di kepala, dan wiana di seluruh persendian tangan dan kaki. Angin Prana ada di mulut dan hidung. Tugasnya untuk mengeluarkan nafas. Prana juga ada dalam dada semua angin yang lain bergerak karena PRANA (Wrhaspati tattwa 39-41).

jadi atman ada dimana?
Atman menyusup didalam wayu menjadi kekuatan hidup, jika kita ingin memuja atman maka pujalan panca wayu, temukan kekuatan Kriya Shakti Bhatara sebagai jalan menemukan sang atman, diri sejati.

19/02/2026

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Bagi Umat Islam

PADMASANA DALAM WRHASPATI TATTWAKenyataan yang tertinggi meliputi dua hal yaitu sadar (cetana) dan tidak sadar (acetana)...
18/02/2026

PADMASANA DALAM WRHASPATI TATTWA

Kenyataan yang tertinggi meliputi dua hal yaitu sadar (cetana) dan tidak sadar (acetana). Kedua unsur ini ada pada semua tattwa dan untuk mendapatkannya diperlukan usaha yang sungguh-sungguh Apakah ini. Dua hal itulah yang harus engkau ketahui, yaitu cetana dan acetana. Cetana berarti pengetahuan (Jnanaswabhawa), tidak terpengaruh oleh ketidaksadaran, dan bersifat abadi (nitya), artinya tetap kokoh tidak dapat disembunyikan. Itulah yang disebut cetana. Acetana artinya tanpa pengetahuan, ibarat batu. Itulah yang dinamakan acetana. Apabila cetana dan acetana bertemu maka akan lahirlah seluruh tattwa, yaitu tattwa asal (pradanatattwa), triguna tattwa, budi tattwa, ahangkara tattwa, tattwa Indra di luar (bahyendria), karmendrya tattwa, panca Maha Bhuta tattwa. Semua itu dinamakan Sarwa Tattwa. Ada tiga bentuk cetana: Parama siwa tattwa, sada Siwa tattwa, dan Siwa tattwa (Weraspati tattwa 6) (Putra & Sadia, 1988:9-10).

Parama Siwa tattwa
Tidak dapat diukur, tidak berdiri tidak dapat dibandingkan, tidak tercemar, tidak tampak, ada di mana-mana, abadi, tetap dan tidak berkurang (7). Ia tidak dapat diukur dalam arti tanpa akhir. Ia tidak berciri karena ia tidak mempunyai ciri. Ia tak dapat dibandingkan, karena tidak ada yang lain seperti dia. Ia tidak tercemar karena ia tidak bernoda (8). Ia tidak tampak karena ia tidak bisa dilihat. Ia ada di mana-mana karena ia ada dalam segala benda. Iya abadi karena ia tidak berbentuk. Ia tetap karena ia tidak bergerak (9). Iya tidak berkurang karena ia tetap utuh. Ia tetap tenang. Siwa tattwa ini meliputi seluruhnya (10) (Weraspati tattwa 7-10) (Putra & Sadia, 1988:9-10).

Sada Siwa Tattwa
Aktif berguna bersinar terdiri dari unsur kesadaran, mempunyai kedudukan dan sifat-sifat. Iya memenuhi segalanya, ia dipuja Karena tanpa bentuk (11). Iya Maha Pencipta, pelebur, pengasih, bersinar, abadi, maha tahu, dan ada di mana-mana (12). Bagi orang yang tak punya tempat berlindung Ia merupakan saudara, Ibu, dan Ayah. Ia merupakan penawar dari segala rasa sakit dan membebaskan manusia dari ikatan tumimbal lahir (13).
Sawiyaparah, demikian Sanghyang Sada Siwa. Ia duduk di atas Padmasana. Apakah Padmasana itu. Padmasana itu adalah kekuatan (sakti). Beliau memiliki empat kekuatan: Kekuatan meresap (wibhu Sakti), Prabu Sakti, kekuatan ilmu pengetahuan (jnana Sakti), dan kekuatan perbuatan (kriya sakti). Empat kekuatan itulah yang beliau miliki (Weraspati tattwa 11-13) (Putra & Sadia, 1988:12).

Keempat sakti itu (cadhu Sakti) dalam bentuk teratai. Di tengah-tengah adalah tempat duduk Tuhan, ketika ia mengambil suatu wujud, ia adalah mantramaka. Mantra membentuk badan, Isana sebagai kepala, Tat Purusa sebagai muka, Aghora sebagai jantung, Wamadewa bagian yang dirahasiakan, dan Sadyojata adalah wujudnya. AUM ini merupakan badan Tuhan yang bercahaya, bening seperti kristal (Weraspati tattwa 14) (Putra & Sadia, 1988:14).

Foto: Padmasana di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar.

PRAYASCITTA MELEBUR PANCA KLESA Banten prayascitta berkaitan erat dengan ajaran Yoga yang tertuang dalam Yoga Sutra Patt...
18/02/2026

PRAYASCITTA MELEBUR PANCA KLESA

Banten prayascitta berkaitan erat dengan ajaran Yoga yang tertuang dalam Yoga Sutra Pattanjali maupun pustaka Bhagawad Gita. salah satu yang dilebur dalam banten Prayascitta adalah sarwa klesa (sumber penderitaan). Hal ini tertuang dalam mantram prayascitta:

Om I Ba Sa Ta A sarwa mala prayasciita ya namah
Om Sa Ba Ta A I sarwa papa petaka lara roga wighna prasaciita ya namah
Om A Ta Sa Ba I sarwa klesa dasa mala geleh pateleteh prayascita ya namah

KLESA TIGA GERBANG NERAKA
Bhagawad Gita menjelaskan tentang tiga gerbang yang mengantarakan manusia menuju neraka:

tri-vidhaṁ narakasyedaṁ dvāraṁ nāśanam ātmanaḥ kāmaḥ krodhas tathā lobhas tasmād etat trayaṁ tyajet

“Hawa nafsu, amarah, dan keserakahan - inilah tiga pintu neraka, yang menyebabkan jatuhnya Jiwa. Sebab itu, hindarilah ketiga-tiganyam (Bhagawad Gita XVI.21)
K**a (nafsu), krodha (kemarahan), dan lobha (ketamakan) merupakan bagian dari sad ripu (enam musuh yang ada didalam diri manusia), yang terdiri dari:
1. K**a: hawa nafsu
2. Lobha: tamak
3. Krodha: kemarahan
4. Mada: mabuk
5. Moha: kebingungan
6. Matsarya: iri hati

Untuk dapat bebas dari hawa nafsu, amarah, dan keserakahan kuncinya adalah etika pengendalian diri, sehingga ketenangan akan hadir didalam diri. Ketenangan adalah kondisi kesadaran dimana pikiran tidak lagi bergejolak dalam menghadapi s**a duka. Tidak bergejolaknya pikiran dalam menghadapi s**a dan duka disebut sebagai keseimbangan, itulah pikiran dari seorang muni. Gita menjelaskan:

duḥkheṣv anudvigna-manāḥ
sukheṣu vigata-spṛhaḥ
vīta-rāga-bhaya-krodhaḥ
sthita-dhīr munir ucyate

“Ia, yang pikirannya tak terganggu saat mengalami kemalangan; ia yang tidak lagi mengejar kenikmatan indra, jasmani; ia yang sudah bebas dari ha-wa-nafsu, rasa takut, dan amarah; ia yang senantiasa berada dalam kesadaran meditatif, seimbang dalam s**a dan duka – disebut seorang muni, seorang bijak yang telah mencapai ketenangan diri, ketenteraman batin.” (Bhagawad Gita II:56)

PANCA KLESA DALAM YOGASUTRA PATTANJALI
Maharsi Patanjali menyebutkan ada 5 sumber duka (penderitaan) yang setiap saat mengganggu kestabilan hidup manusia. Avidyaasmita raga dvesabhinivesah klesah (Yogasutra, II.3)

Menurut buku Yoga Marga Rahayu (I Wayan S**ayasa, dkk.), secara rinci dijelaskan tentang panca klesa sebagai berikut:

1. Awidya yakni kebodohan atau menjadi bodoh, tidak adanya pengetahuan pada diri dan atau memiliki pengetahuan yang keliru: Yang bukan roh dipandang roh, yang tidak kekal dipandang kekal, yang tidak Suci dipandang suci, dan seterusnya. Jika kita beradaan demikian berarti kita sedang terjangkit penyakit buta aksara, buta sastra maka berpola laku bak kala sungsang.

2. Asmita, yakni keakuan atau egois. Tiada keramahan kepada yang lain. Loba atau tamak. Mau menang sendiri, nyapa kadi aku, menyombongkan diri, sok tahu. Jika kita bersifat demikian berarti sedang terjangkit sakit rasa, maka bertingkah polah bak kala ngadang, kalajengking, atau kala caplokan.

3. Raga, yakni s**a atau keinginan yang berlebihan kepada harta dan kenikmatan duniawi, cinta buta, tresna ' terikat pada yang dipandangnya menyenangkan'. S**a memanjakan diri dengan bersenang-senang secara berlebihan, berpesta pora, mabuk-mabukan, gambar hawa nafsu. Jika kita berkataan demikian, berarti sedang terjangkit penyakit Asmara, maka berperilaku bak kala kuwuk, atau kala klingkung.

4. Dvesa, adalah kebalikan dari raga, yakni terikat pada yang tidak menyenangkan, benci kepada yang tidak disenangi, marah, sedikit-sedikit terlebih-lebih kepada yang dibenci. Jika kita berkataan demikian berarti sedang menderita sakit hati, maka berpolah seperti kala Geger. Dikatakan p**a bahwa raga, dvesa, dan asmita (lobha) adalah tiga gerbang menuju neraka.

5. Abhinivesa artinya kasih sayang atau cinta berlebihan (Zoetmulder, 1995:3), yakni cinta berlebihan terhadap hidup, mau hidup terus. Akibatnya sangat takut pada kematian. Tentulah kita sadar bahwa bagi yang lahir kematian adalah pasti. Sebaliknya, bagi yang mati kelahiran itu pasti (Bhagawad Gita, II.27). Tetapi anehnya kita justru ingin terus hidup. Maka konsekuensinya kita terjebak oleh rasa khawatir yang berlebihan (yogasutra, II.3-10). Bila kita demikian berarti sedang menderita sakit Ketug, bagaikan kala kingkingan.

Kelima klesa ini adalah perintang besar dan berat yang kini kita hadapi. Mereka adalah gerombolan musuh bawaan yang cenderung merajalela pada diri kita. Cara mereka menguasai kita adalah dengan meracuni pikiran jernih kita dengan janji-janji duniawi (S**a Yasa, dkk., 2010: 15-16).

SEMBAH SEPI PAMRIH Oleh: I Gede AdnyanaOm  sembah ning anatha tinghalana de Trilokasaranawahyâdhyatmika sembah inghulun ...
18/02/2026

SEMBAH SEPI PAMRIH

Oleh: I Gede Adnyana

Om sembah ning anatha tinghalana de Trilokasarana
wahyâdhyatmika sembah inghulun ijöngta tan hana waneh...

Om dan sembah sebagai pembuka tembang mredukomala karya Empu Kanwa menarik untuk dikaji lebih dalam. Suku kata Om yang sudah tidak asing lagi, bagi umat Hidu merupakan suku kata yang paling inti yang merefleksikan atau mewakili Tuhan itu sendiri sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur yang diuraikan menjadi tiga huruf yaitu A-U-M. Inilah tiga kekuatan atau manifestasi utama Sang Hyang Widdhi untuk mengatur seluruh alam semesta. Hakikatnya seluruh ciptaan memiliki awal, tengah dan akhir yang berupa, lahir, hidup dan mati. Yang lahir pasti akan hidup, yang hidup pasti akan mati, dan yang mati pasti akan lahir kembali. Hal ini adalah siklus alami yang merupakan hukum adi kodrati yang tak dapat ditolak oleh siapapun, bahkan Awatara sekalipun mengikuti hukum ini.

Leluhur kita mengetahui dan memahami dengan sebenar-benarnya bahwa isi dari kelahiran adalah kehidupan. Kehidupan ini berbekal s**a, duhka, lara, pati yang merupakan isinya kehidupan. Kebahagiaan, kesedihan, penyakit dan kematian adalah sesuatu yang pasti yang tidak dapat di hindari. Kesadaran semacam ini telah berakar dalam tradisi megeguritan dalam geguritan Tamtam pupuh sinom,19 disuratkan:

Titiang janma sunantara, Nista lacur manumadi,
Malarapan s**a legawa, Catur bekel titiang pasti,
S**a duka lara pati, Nika wantah titiang tikul,
titiang mewasta I Tamtam, Nyadia titiang tangkil mangkin,
Ring sang Ayu, Sane telas tunas titiang.

Hal ini menunjukan bahwa kesadaran akan inti dari kehidupan yang terdiri atas empat hal yang disebut Catur bekel (S**a duka lara pati) mengkristal menjadi sebuah filosofi hidup, sebagai wujud dari kepasrahan diri bahwa segala sesuatunya telah diatur. Manusia bisa berusaha namun suatu saat pasti hukumnya mengalami kesenangan, kesedihan, penyakit dan pada akhirnya mengalami kematian. Menjadi pertanyaan besar dari waktu kewaktu, mungkinkah menghindari empat hal ini?

Melalui berbagai sastra kita akan mendapat gambaran bahwa hidup ini adalah penderitaan atau samsara. Samsara sering p**a diterjemahkan sebagai kelahiran kembali atau punarbhawa, dimana kelahiran ini hakikatnya adalah penderitaan karena diliputi oleh s**a, duhka, lara, pati. Utuk mengakhiri penderitaan satu-satunya jalan adalah dengan menghentikan kelahiran kembai atau punarbhawa sehingga penderitaan atau samsara juga terhenti. Upaya menghentikan kelahiran ini dikenal sebagai empat jalan yang disebut catur marga (bhakti, karma, jnana dan raja yoga). Hakikat dari empat jalan ini adalah hubungan antara sang jiwa (atman) yang terbelenggu oleh kelahiran kembali sebagai yang mendrita dengan Brahman yang berkeadaan ananda atau kebahagiaan abadi. Jiwatman yang berada dalam lingkaran punarbhawa berusaha menghubungkan dirinya kembali kepada asalnya yang murni yaitu Brahman.

Hubungan ini haruslah bersifat pribadi, sebab yang mengalami penderitaanlah yang seharusnya menyadari kemana seharusnya ia pergi untuk melenyapkan penderitaan. Kepada yang menguasai kelahiran yang lahir hendaknya mengadu, kepada yang menguasai kehidupan hendaknya yang hidup mendekat, dan kepada yang menguasai kematian hendaknya semua yang akan mengalaminya berlindung. Untuk ketiga hal ini Om adalah jawaban singkat, jalan, tujuan, suluh yang hanya dapat digapai dengan perenungan dalam kesendirian, menarik segenap keinginan dan indriya dari obyek kesenangannya, bagaikan kura-kura menarik keempat kaki dan satu kepala kedalam cangkangnya untuk berlindung dari mara bahaya.
Jika kesadaran akan marabahaya tentang kelahiran kembali atau samsara telah benar benar disadari, maka kalimat Om sembah ning anatha terasa begitu istimewa. Ada kandungan cinta, kepasrahan, ketulusan, ketidakberdayaan, tanpa kepemilikan, dan pada akhirnya terasa tak ada satupun materi yang mampu mengikat. Hanya ikatan cinta kasih bhakti kepada “Sesuhunan” yang menguasai kelahiran, kehidupan dan kematian semata yang hadir dalam langkah-langkah pasti menuju sembah yang sepi pamerih.

Empu Kanwa telah mengalami sembah yang sepi pamerih dengan menyebut dirinya sebagai anatha yang artinya tak punya tahta, tempat duduk, kekuasaan, kedudukan. Kepasrahan yang teramat dalam yang bahkan ia (Empu Kanwa) sendiri menyatakan sebagai orang yang benar-benar “miskin”, tidak memiliki sesuatu untuk dibanggakan. Lepasnya rasa kepemilikan merupakan proses mutlak yang harus dialami guna mencapai pembebasan. Pembebasan memerlukan pengorbanan terhadap berbagai rasa kepemilikan yang melekat.

Jadi hakikatnya sembah itu hendaknya mampu membawa pembebasan dengan melepas segenap ikatan pamrih. Sembah bukan untuk memohon kekayaan, harta benda, ketenaran, kemasyuran dan sebagainya yang cenderung mengikat sang atma. Sembah yang sepi pengharapan atau sepi pamrih justru mengantarkan sang atma menaiki tangga kesadaran. Bagaikan bola yang diikat pada sebongkah batu yang tenggelam di dasar lautan, saat bongkahan batu lepas, bola akan naik kepermukaan.
Namun demikian memang sudah menjadi hukum sebab akibat bahwa sesuatu yang sangat berharga itu mesti diperoleh dengan cara yang tidak mudah. Selalu ada rintangan dan hambatan dalam meraih kesuksesan, termasuk sukses yang sejati. Panca Klesa adalah lima rintangan, dalam mencapai tujuan hidup yaitu pembebasan abadi. Ada lima rintangan klesha yang bersumber dari diri sendiri, antara lain :
1. Awidya ; Kegelapan atau ketidaktahuan / kebodohan
2. Asmita ; Kesombongan atau keangkuhan
3. Raga ; Keterikatan dan kes**aan akan sesuatu
4. Abhiniwesa ; Ketakutan yang berlebihan terhadap kematian.
5. Dwesa ; Rasa benci / dendam.

Rintangan-rintangan ini hadir silih berganti dalam hidup seperti siang malam yang selalu menanti, menunggu giliran. Yoga memberikan solusi untuk persoalan ini mealui delapan tahapan Yoga yang populer sebagai astangga yoga. Tahapan-tahapan Yoga ini merupakan sebuah disiplin ilmu untuk menghentikan gelombang pikiran, sehingga muncul pencerahan yang membawa atma pada kondisi ananda (mengalami kebahagiaan sejati), mencapai ke-Shiwa-an atau tingkat kesucian yang murni. Empu kanwa menyebutkan bahwa kehadiran Shiwa merupakan buah dari ketekunan dalam melaksanakan Yoga. Pelaksanaan yoga yang benar haruslah menumbuhkan bhakti, bhakti menumbuhkan jnana atau pengetahuan kesadaran yang dialami sebagai buah dari disiplin yoga. Tanpa lepasnya ikatan kepemilikan semua itu tak akan tercapai, langkah terdekat adalah mulailah menerapkan sembah yang sepi pamerih.

17/02/2026

Surya dalam Purana

MAKNA KRAMANING SEMBAH KE-2 ISTA DEWATA SURYA*Aditya-Bhaskara “Sang Cahaya Penghacur Klesa”*_Oṁ Ādityasya paraṁ jyoti,__...
16/02/2026

MAKNA KRAMANING SEMBAH KE-2
ISTA DEWATA SURYA

*Aditya-Bhaskara “Sang Cahaya Penghacur Klesa”*

_Oṁ Ādityasya paraṁ jyoti,_
_rakta-teja namo’stu te_
_Śveta-paṅkaja-madhyastha,_
_Bhāskarāya namo’stu te_

Terjemahan:
Om Tuhan Yang Maha Esa, (dalam nama dan rupa) Aditya cahaya tertinggi, yang bersinar merah, kami memuja-Mu, Engkau yang bersthana di tengah-tengah teratai putih, hormat kepada-Mu Bhaskara pencipta sinar berkilauan.

_Oṁ praṇāmya bhaṣkara devaṁ,_
_sarva kleśa vinaśanaṁ,_
_praṇāmyāditya śivārthaṁ_
_bhukti mukti varapradaṁ_

Terjemahan:
Oṁ sujud bhakti kepada Dewa Bhāskara, melenyapkan segala klesa, penderitaan, sujud kepada āditya sesungguhnya Śiwa, pemberi anugrah kebahagiaan jasmani rohani/lahir bathin.

*Oṁ Ādityasya paraṁ jyoti* (Om Aditya adalah cahaya tertinggi), Dia menyusup dan melingkupi segala yang ada dalam nama dan rupa, serta mengatasi segalanya. Penggunaan kata *Param Jyoti* sejalan dengan Para dalam Catur Dha (Bhuana Kosa) yang terdiri atas _Sthula Suksma Para dan Shunya_. _Para_ artinya tertinggi, Tuhan hanya mampu dihayati dalam hening saja, artinya dalam jalan atau kondisi meditasi. Jika dikaitkan dengan Param Jyotir Aditya merupakan *“cahaya (yang hanya mampu dihayati dalam) hening”*. Cahaya hening inilah sejatinya yang mampu memberikan kontrol pecerahan atas buddhi.

Hal senada juga terdapat dalam *Savitri mantra* agar kita bermeditasi pada Savitri yang adalah juga cahaya dalam kalimat *“Bhargo devasya. Dhīmahi* berarti mari pusatkan pikiran, berasal dari akar kata dhi yang artinya pemikiran religius, pikiran, desain, kecerdasan, meditasi, gagasan, intelek.

_Bhargah_ adalah Aditya Dewata yang dalam puja Surya dinyatakan sebagai Param Jyoti (cahaya tertinggi) atau _Bhaskara_ sang pemilik cahaya. Dalam savitri mantra sebagai Savitri atau savitar yang dinyatakan sebagai Tat yang kekal. Jadi yang dimaksud dengan Aditya dan Savitri nampaknya serupa atau bahkan sama. Savitri yang kekal yang layak dipuja (Tat savitur varenyam), dan dimeditasikan (Bhargo devasya dhīmahi), sejalan dengan Param Jyoti (cahaya tertinggi) atau Bhaskara sang pemilik cahaya dan Pencipta Cahaya (Bhāskarāya namo’stu te). Savitri sebagai Bhargah ditegaskan kembali dalam surya puja sebagai Aditya yang merupakan cahaya tertinggi.

Mengenai cahaya merah yang dinyatakan sebagai rakta-teja sejalan dengan savitri sebagai Dewi Fajar. Mengingat warna yang ditimbulkan juga kemerah-merahan. Merah menandakan kelahiran atau penciptaan seperti halnya sang fajar atau Savitri yang melahirkan alam semesta yang disebut dengan Bhargah yang adalah Aditya, yang dalam puja surya sebagai rakta teja. Dalam pustaka lain merah adalah Brahma, Prajapati sang pencipta alam semesta. Dalam Bhagawata Purana Surya Sebagai Dhata, ia menciptakan makhluk hidup. Merah adalah lambang penciptaan dan kelahiran, sehingga cahaya merah yang dipuja sebagai rakta-teja menunjukan daya cipta dari kekuatan (Tuhan) Surya.

Dalam bait kedua Surya dipuja sebagai Bhaskara artinya sang pemilik cahaya dan Pencipta Cahaya; sebagai penghancur segala penderitaan atau klesa (Sarwa klesa winasanam); Sebagai pusat pemujaan dan kesucian Śiwa; pemberi anugrah kebahagiaan jasmani dan rohani (bhukti mukti varapradaṁ). Sebagai sang pemilik cahaya atau Bhaskara identik dengan kata bhargah dalam Savitri mantra. Artinya dia adalah purusha, karena dalam samkhya dijelaskan bahwa ada dua hakikat yang ada yaitu Purusha dan Prakerti. Purusha itu yang terang bersinar, jika dinyatakan Bhaskara sebagai pemilik cahaya maka Dialah Purusha itu. Sedangkan prakerti dinyatakan sebagai potensi jasmani yang bertentangan dengan purusha. Dari pertemuan purusha dan prakerthi timbulah Tri Guna. Dalam lontar Wrehasppati Tattwa 24 dinyatakan:

_Sangka ring triguna metu tang buddhi, makweh prakara ning buddhi, nihan lwimya, dharma, jhanna, vairagya, aiswarya, ndhan hana ta baliknya, adharma, ajnana, avairagya, anaisvarya..._

Terjemahan:
Dari ketiga guna itu timbul buddhi. Ada beberapa jenis buddhi yaitu dharma, jnana, vairagya, aisvarya. Lawannya adalah adharma, ajnana, avariagya, anaisvarya...

Dari *Tri Guna* ini muncul *Catur Budhi*, yaitu _Dharma (kebenaran), Jnyana (pengetahuan), Wairagia (lepas dari ikatan) dan Aiswarya (keberhasilan)_. Dari Predana muncul lima kekuatan yang dapat membawa manusia berperilaku tidak baik yang disebut _Panca Klesa_. Dalam Yoga sutra Patanjali II.3 dinyatakan : *“Avidyasmita raga dvesabhinivesah klesah”,* bahwa ada 5 penyebab penderitaan (Panca Klesa). Terdiri dari : _Awidya :Kebodohan; Asmita : Keakuan; Raga : Keterikatan; Dwesa : Kebencian; Abhiniwesa : Ketakutan dan kematian_.

Kelima klesa inilah penghambat kemajuan manusia baik secara rohani maupun jasmani. Kebodohan menimbulkan keakuan atau ego; ego menimbulkan keterikatan pada sesuatu yang bahkan bukan miliknya atau urusanya menganggap diri paling benar; selanjutnya muncul rasa benci terhadap orang lain, diri sendiri, atau bahkan kehidupan ini. Demikian p**a ego memunculkan rasa takut yang berlebihan terutama dalam hal kematian. Demikianlah jika kebodohan atau kegelapan pikiran menyelimuti manusia.

Mengapa Bhaskara sebagai penghancur? Bhaskara adalah Purusha itu sendiri dalam nama lain. Bhaskara dipuja guna menguatkan Catur Budhi menerangi jiwa agar terbebas dari Awidya, sehingga teranglah buddhi manusia. Jika buddhi tercerahkan maka berbagai anugrah akan diperoleh yaitu mancapai kebenaran sejati atau dharma; Jnyana: pengetahuan sejati (tattwa); Wairagya: bebas dari segala ikatan karma baik maupun buruk; Aiswarya: mencapai sifat atma yang sejati (Tat).
Empat anugrah ini baru diperoleh jika seseorang benar-benar bhakti dalam pelayanan, sehingga kata Oṁ praṇāmya bhaṣkara devaṁ merupakan ungkapan rasa bhakti yang tulus dari pemuja. Penghormatan atau pemujaan kepada surya inilah yang mampu menghadirkan vibrasi kesucian yang dipraktekan oleh para sulinggih setiap hari yang disebut Surya Sewana artinya melayani Tuhan sebagai Surya, sebagai Bhaskara, Aditya atau Bharga sang pemilik cahaya. Dengan terangnya buddhi pikiran menjadi suci atau mencapai kesiwaan yang merupakan hakikat sang atma. Jika sang atma menyadari akan keberadaannya maka kebahagiaan lahir bathin diperoleh (bhukti mukti varapradaṁ).

TILEM PRANAYAMA BAYU SAMANAAtmika TATTWA adalah Ardha Candra, jalan sang Atma kembali menyatu dengan sang asal. Lontar T...
16/02/2026

TILEM PRANAYAMA BAYU SAMANA

Atmika TATTWA adalah Ardha Candra, jalan sang Atma kembali menyatu dengan sang asal. Lontar TATTWA Jnana memberikan sebuah peta kesadaran Atma, dimana Ardha Candra adalah jalan bersatunya Atma dengan paramatma.

Itulah sebabnya purnama dan Tilem dianjurkan memuja Panca Bayu yang ada didalam diri manusia. Pranayama difokuskan pada Bayu Samana yang ada di jantung. Dengan pranayama ini seseorang menuju penyatuan dengan Ardha Candra dalam Ongkara.

ONGKARA DALAM TATTWA JNANA

Dalam Lontar Tattwa Jnana dijelaskan hakikat dari Omkara bahwa Parama Siwa Tattwa adalah nada, Sada Siwa adalah Windu, atmika tattwa adalah Arca Candra, sedangkan maya tattwa disimbolkan dengan angka 3 (Okara).

Parama Siwa yang disimbolkan dengan nada adalah bersifat Niskala dan merupakan esensi dari segala keberadaan.

Sang Hyang Sada Siwa bersifat wyapara dilambangkan dengan Windu dengan Asta aiswarya dan cadu saktinya hakikatnya adalah menunjukkan eksistensi dari keberadaan Sang Hyang Sada Siwa itu sendiri.

Atmika tattwa yang dilambangkan dengan Arda Candra bersifat uta prota merupakan sumber roh mahakarya.

Parama Siwa, Sada Siwa dan atmika tattwa merupakan tiga jenjang Siwa Tattwa di bawahnya terdapat maya tattwa yang di simbolkan dengan angka 3 (Okara) yang bersifat lupa atau Wyamoha yang merupakan sumber dari materi mahakarya.

Dari pertemuan antara Siwa Tattwa dengan Maya tattwa maka kemudian terjadilah evolusi Purusa dan Pradana. Purusa berevolusi menjadi citta, Pradana kemudian berevolusi menjadi Tri Guna, perjumpaan keduanya menjadilah Budi, dari Budi berevolusi menjadi ahamkara.

Ahamkara dipengaruhi oleh satwam rajas tamas. Apabila ahamkara yang bersifat rajas berjumpa dengan ahamkara yang bersifat satwika maka lahirlah mahakarya berupa manah dan dasendriya sedangkan apabila ahamkara yang bersifat rajas bertemu dengan ahamkara yang bersifat tamas maka lahirlah Panca tanmantra, dari Panca Tan matra kemudian berevolusi menjadi Panca Maha buta. Pertemuan antara dashindria manah dengan Panca mahabutan melahirkan Anda Buana atau alam semesta.

Bagaimana Siwa tattwa menyikapi alam semesta ini dijelaskan bahwa Pradana Tattwa itu bagaikan kereta atma itu bagaikan lembu jantan. Bhatara Iswara bagikan saisnya memacu atma menderita menarik kereta jagat brahmita cakrawat, dunia itu bagikan roda kereta perputaran pada Dewata, manusia, dan binatang disebabkan oleh perbuatan baik dan buruk demikianlah simp**an keberadaan Atma yang kesasar.

sumber: Brahma Widya Teks Tattwa Jnana
oleh Prof. Dr. I Wayan S**ayasa, M.S.i dan Dr. Drs. I Putu Sarjana M.Si. Lembaga Penelitian bekerjasama dengan Fak. Ilmu Agama UNHI DENPASAR 2009

16/02/2026

TILEM PAYOGAN SANG HYANG SURYA
Surya adalah energi vital bagi kehidupan, Tilem waktu yang tepat memuja Sang Hyang Surya.

PANCA BRAHMA di BUANA ALITSA; Pucuk hatiBA: Tumpukan hatiTA: NyaliA: Pangkal hatiI: tengahnya hatiPanca Brahma dan Panca...
15/02/2026

PANCA BRAHMA di BUANA ALIT

SA; Pucuk hati
BA: Tumpukan hati
TA: Nyali
A: Pangkal hati
I: tengahnya hati

Panca Brahma dan Panca Akhsara sesungguhnya sangat erat dengan upacara dan upakara. Dalam prayascitta misalnya penggunaan panca Brahma sebagai penyucian.

Om Ang Agni rahasia mukam mungguh bungkahing hati angeseng salwiring dasa Mala, teka geseng geseng geseng, om Prayascitta subagyamastu (Om api rahasia yang terdapat dalam susunan hati membakar semua dasamala (sepuluh kotoran batin), Om Penyucian (Prayascitta) semoga terjadilah yang membahagiakan)

Om I Ba Sa Ta A menyucikan semua KLESA
Om Sa Ba Ta A I menyucikan dosa, pataka, lara dan roga
Om A Ta Sa Ba I menyucikan dasa mala dan kecemaran.

14/02/2026

ulasan singkat tentang Prayascitta

TRI AKSARASilabel suci Ang memiliki sepuluh perwujudan yaitu lima unsur Panca Maha Bhuta ditambah lima unsur Panca Tan m...
12/02/2026

TRI AKSARA

Silabel suci Ang memiliki sepuluh perwujudan yaitu lima unsur Panca Maha Bhuta ditambah lima unsur Panca Tan matra. Pembuluh nadi saluran silabel Ang juga berjumlah sepuluh yaitu: wijaya, saumyamshu, syamjna, wertti, mandanatmika, wardani, mocani, maya, mohani, wodani. Sakti am ada 3: Mampu bergerak secepat pikiran (manoJawitwa), mampu berubah wujud sekehendak hati (kamarupitwa), dan keutamaan yang tak tergoyahkan (awikara darmitwa). Apakah Ang itu? Tanah adalah batuannya, dewanya Brahma, warnanya merah, di dalam tubuh berkedudukan mulai pusar sampai telapak kaki (Palguna, 2011:7)

Silabel suci disebut ukara. 10 perwujudannya yaitu panca golakamarga dan Panca Karma Indria. Salurannya 16: Yaitu guha, manorama, dipta, sudipta, bhima, kalika, sudumra, pinggala, pita, waruni, sigragacala, sasangka, susupta, jnanana, moksa, damara. Saktinya ada lima: Melihat(darsana), mendengar (srawana), berpikir (manana), menganalisa (wijnana), dan mengetahui segalanya (sarwa jnatwa). Tattwanya air, dewanya Wisnu warnanya hitam, berkedudukan mulai dari pusat jantung (hredayadi) sampai pada pangkal tenggorokan (Jnanasidhanta) (Palguna, 2011:16).

Silabel Mang, disebut Makara. Tiga perwujudannya, yaitu Budi (mahan), ego (ahamkara), pikiran (manah). Saluran nadinya ada duapuluh empat yang disebut catur wimsatinadi (dalam jnana siddahnta). Sakti Makara ada delapan.Tattwanya adalah sinar, dewatanya Rudra, warnanya kuning, kedudukannya di langit-langit mulut (Palguna, 2011:15).

Trikona terdiri dari Uttpati sthiti dan pralina
Trikona adalah sebuah hukum atau Rta. Pada tingkat manusia konsep itu berarti setiap yang hidup pasti pernah lahir dan pasti akan mati. Kematian adalah vonis yang dijatuhkan ketika manusia ada. Tidak diberitahu Kapan vonis itu akan dilaksanakan, dengan cara apa dan di mana. Mereka yang jnananya mencapai tingkat penuh (siddhi) punya beberapa pilihan ketika mati: Moksa, kalepasan, kanirbanan, kamuktan. Sebaliknya yang tidak tahu jnana pilihannya hanya satu yaitu mati dimakan kala. Pada tingkat bumi, konsep itu berarti ada penciptaan pemeliharaan dan peleburan. Tentang penciptaan dan peleburan banyak pengetahuan telah diciptakan manusia melewati sejarah peradaban yang panjang. Brahma diyakini sebagai yang menciptakan semua ini, wisnu memelihara dan Siwa meleburnya. Pralaya dan maha pralaya adalah peleburan ciptaannya.
(Palguna, 2011).

Sumber: Leksikon Hindu, IBM Palguna 2011

Address

Jalan Kapten Piere Tendean No 20 B, Kel. Bontang Kuala, Kec. Bontang Utara, Kota Bontang Kaltim
Samarinda
75312

Telephone

+81346516533

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram