14/04/2026
๐๐๐๐-๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐
Harihara (Sansekerta: เคนเคฐเคฟเคนเคฐ) adalah representasi gabungan dari Wisnu (Hari) dan Siwa (Hara) dari tradisi Hindu. Juga dikenal sebagai Shankaranarayana ("Shankara" adalah Siwa, dan "Narayana" adalah Wisnu) seperti Brahmanarayana (Separuh melambangkan Brahma dan separuh lagi melambangkan Wisnu).
Oleh karena itu Harihara dipuja oleh para Waisnawi dan penganut Saiwa sebagai perwujudan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Harihara adalah filosofis untuk menunjukkan kesatuan Wisnu dan Siwa sebagai aspek yang berbeda dari Realitas Tertinggi yang sama yang disebut Brahman. Konsep kesetaraan berbagai dewa sebagai satu prinsip dan "๐ ๐๐จ๐๐ฉ๐ช๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ ๐จ๐๐ข๐ช๐ ๐ ๐๐๐๐ง๐๐๐๐๐ฃ" dibahas sebagai Harihara dalam teks filsafat Hindu aliran Advaita Vedanta.
๐๐ฌ๐๐ข๐ ๐๐๐ซ๐๐ฃ๐๐ฃ๐๐ (8 September 1887 - 14 Juli 1963) adalah seorang guru spiritual Hindu dan juga pakar Yoga dan Vedanta, menyatakan: "Siwa dan Wisnu adalah satu dan entitas yang sama. Mereka pada dasarnya satu dan sama. Mereka adalah nama-nama yang diberikan untuk aspek-aspek berbeda dari Parabrahman Tertinggi atau Yang Mutlak yang meliputi segalanya.
Sivasya hridayam vishnur-vishnoscha hridayam sivah โ Wisnu adalah jantung Siwa dan demikian juga Siwa adalah jantung Wisnu.
Beberapa patung Harihara yang paling awal, setengah berwujud sebagai Wisnu dan setengahnya sebagai Siwa, ditemukan di kuil gua India yang masih ada, seperti di gua 1 dan gua 3 dari kuil gua Badami abad ke-6 yang dikenal sebagai Arca Harihara murti. Peninggalan abad ke-6 di kuil gua Badami di Karnataka India ini, adalah bukti adanya konsep Theologi penyatuan Siwa dan Wisnu.
Di Indonesia konsep Hari Hara nampak dalam patung perwujudan Raja Wijaya, Raja Majapahit pertama, dengan gelar Kertarajasa Jayawarddhana (1293-1309) dan sekarang tersimpan di Museum Pusat, Jakarta. Tangan kanan belakang memegang sangka, tangan kanan depan memegang askamala, tangan kiri belakang dan tangan kiri depan memegang gada. Arca ini berasal dari Simping, Jawa Timur, yang menurut Nagarakertagama pernah dikunjungi Hayam Wuruk karena candi Wijaya, kakeknya, perlu dipugar kembali.
Konsep pemujaan Harihara ini nampaknya telah ada jauh sebelum era Majapahit. Empu Kuturan yang hidup pada masa pemerintahan raja Marakatta Pangkaja Sthanottungga Dewa tahun 994-948 saka(1022-1026) M, menerapkan konsep pemujaan ini di Bali.
Hal ini nampak dalam puja mantram yang digunakan di Pura Puseh maupun pada hari suci Galungan. Berikut mantram untuk melakukan pemujaan atau persembahyangan dengan Ista Dewata Sang Hyang Giri Pati:
๐ถ๐ ๐ฎ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ด๐๐๐๐๐๐๐๐๐
๐ด๐๐๐๐
๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ณ๐๐๐๐๐๐
๐บ๐๐๐๐๐
๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
๐บ๐๐๐๐ ๐ฑ๐๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Artinya:
Om Hyang Widdhi, Giripati (raja gunung) Yang Maha Agung, Mahadewa yang berstana pada Lingga, semua dewa-dewa tunduk menghormat pada-Mu. Engkau ada dimana-mana melingkupi seluruh alam semesta.
Giri pati=raja gunung, mahawirya= maha hebat, Mahadewa=Siwa, Pratistha=bersemayam, Lingga=Lingga, sarwa=semua, Dewa=Sinar, dev, pranamyanam= menghormat, jagat=dunia, semesta, pratistanam=ditempati, dilingkupi, tempat berdiri teguh, dasar, dimana-mana.
Fungsi Giripati (raja gunung) dalam puja untuk hari Galungan atau pura Puseh sama dengan Dewa Wisnu, mengingat corak siwaistik yang begitu kental dan masyrakat agraris yang sangat membutuhkan lahan subur, sumber air terjaga, hutan lesrari, dengan pertanian menjadi kunci penghidupan masyarakat.
Gunung menjadi tumpuan untuk keberlangsungan sumber-sumber kehidupan, sehingga masyarakat memuja Sang Hyang Widdhi sebagai Pemelihara yaitu Dewa Wisnu sebagai Giri Pati.
Giripati dipandang yang melingkupi alam semesta, jika dianalogikan lautlah yang melingkupi bumi ini yang esensinya adalah air yang dipuja sebagai Wisnu atau Baruna. Sebagai pemelihara alam semasta air memiliki peran yang sangat penting. Tanpa air tidak akan ada kehidupan. Tidak keliru jika Hindu di Bali khususnya sempat bernama agama tirta artinya agama air.
Memuja Giripati berarti memuja Hyang Widdhi sebagai Raja Gunung yang menjaga agar sumber-sumber air tetap terjaga.
Dalam Veda, ๐ฉ๐๐๐๐๐ atau ๐พ๐๐๐๐๐ adalah manifestasi Brahman yang bergelar sebagai dewa air, penguasa lautan dan samudra. Kata Baruna (Varuna) berasal dari kata var yang berarti membentang, atau menutup. Kata "var" tersebut kemudian dihubungkan dengan laut, sebab lautan membentang luas dan menutupi sebagian besar wilayah bumi.
Hal ini sejalan dengan kata pratistanam yang artinya dimana-mana (ada). Giripati nampaknya tidak hanya merujuk pada julukan raja gunung tetapi Dia sebagai Waruna yang melingkupi semua yang ada.
Jadi Giripati adalah raja gunung yang adalah Siwa itu sendiri, Giri Patti adalah Varuna atau Wisnu (Sarwa Jagat Pratisthanam), Wisnu adalah Siwa, Siwa adalah Wisnu, bahwa leluhur kita memahami Shiwa sebagai Wisnu atau sebaliknya Wisnu itu adalah Shiwa, yang dalam konsep Hindu dikenal sebagai Hari-Hara.
Leluhur kita nampaknya telah โ๐๐๐๐๐๐๐โ sebagai orang โ๐๐๐๐
๐๐โ yang memahami esensi bahwa hakikatnya terdapat puncak-puncak kebenaran yang sama dalam beragam theologi yang ada.
Dengan demikian Pemujaan Harihara di India yang populer sekitar abad ke-6 pernah p**a populer di Indonesia setidaknya abad ke-10 s.d. 13, pada masa kerajaan Kediri-Majapahit. Bali nampaknya menjadi pewaris konsep ini hingga sekarang seperti yang ada dalam konsep Ista Dewata Pura Puseh dan perayaan rerainan jagat yaitu Galungan sebagai Sang Hyang Giri Pati.
Inilah aplikasi dari konsep Bhinneka Tunggal Ika, Ekam Sad wiprah bahuda wadanti.
Jadi kalau ada Theologi yang mencoba mepertentangakan antara Siwa dan Wisnu belakangan ini, sebaiknya belajarlah kembali berdasarkan teks-teks kuno yang diwariskan oleh para leluhur kita yang sudah โngedatโ alias lebih melek secara rohani.
Leluhur kita adalah guru spiritual, tinggal bagaimana kita mau belajar demi menjaga warisan adiluhung yang tatwanya tidak perlu diragukan lagi.
I Gede Adnyana
Bontang-Kaltim