09/05/2026
RS Mandalika sebagai Benchmark Nasional Rumah Sakit Kawasan Pariwisata, Kemenkes Soroti Lompatan Transformasi di DPSP
Di tengah pesatnya pengembangan kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di Indonesia, RS Mandalika tampil mencuri perhatian nasional. Rumah sakit milik Pemerintah Provinsi NTB itu kini tidak lagi dipandang sebagai rumah sakit “baru tumbuh”, melainkan menjadi benchmark pengembangan rumah sakit kawasan pariwisata dalam forum sharing session yang digelar Kementerian Kesehatan RI.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring tersebut menjadi bagian dari penguatan peran rumah sakit dalam mendukung pengembangan kawasan DPSP sekaligus diseminasi praktik baik pengelolaan layanan kesehatan daerah. Dalam forum itu, Direktur RS Mandalika Provinsi NTB, dr. Oxy Cahyowahyuni, Sp.EM., FICEP., FISQua., dipercaya menjadi narasumber utama untuk membagikan perjalanan transformasi RS Mandalika kepada rumah sakit DPSP lainnya di Indonesia.
Dalam paparannya, dr. Oxy menjelaskan perjalanan RS Mandalika secara runut sejak awal berdiri hingga berkembang menjadi salah satu rumah sakit strategis penopang sektor pariwisata nasional. Ia mengungkapkan, rumah sakit yang dulu berdiri di tengah keterbatasan infrastruktur kini telah mengalami lompatan besar, baik dari sisi layanan, fasilitas, maupun penguatan sumber daya manusia.
“Dulu kami memulai dari kondisi gedung yang belum rampung. Namun hari ini RS Mandalika terus tumbuh dengan menghadirkan berbagai layanan baru seperti Gedung Irna KRIS dan Gedung Pelayanan Paru Terpadu,” jelas dr. Oxy dalam sesi pemaparan.
Tak hanya berkembang secara fisik, RS Mandalika juga menjadi support partner utama MGPA (Mandalika Grand Prix Association) dalam penyelenggaraan berbagai event internasional di Sirkuit Mandalika. Rumah sakit ini terlibat langsung dalam dukungan pelayanan kesehatan, penanganan kegawatdaruratan, hingga pengawalan tamu wisata dan tamu negara yang berkunjung ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.
Pengembangan layanan preventif health care juga menjadi salah satu fokus RS Mandalika. Konsep layanan yang nyaman, privat, dan menyasar masyarakat umum hingga wisatawan mancanegara (WNA) disebut menjadi bagian dari kesiapan rumah sakit menghadapi arah baru pariwisata kesehatan di kawasan timur Indonesia.
Di bidang inovasi pelayanan, RS Mandalika juga menunjukkan capaian yang tidak kalah mencolok. Aplikasi ROSSI Mandalika berhasil bersaing pada Innovative Government Award 2025 dan meraih penghargaan ASN Award NTB 2025. Selain itu, dua inovasi lain yakni Simadu Berdansa dan Nifas Connect Plus juga sukses menjadi juara pada ajang ASN Award NTB 2025.
Capaian tersebut dinilai menjadi bukti bahwa RS Mandalika terus melakukan percepatan transformasi meski usianya masih tergolong muda.
“Ini menunjukkan bahwa rumah sakit daerah juga bisa berinovasi dan bersaing secara nasional apabila memiliki keberanian untuk terus berkembang,” ujar dr. Oxy.
Dalam sesi diskusi, peserta zoom meeting turut memberikan berbagai masukan strategis terhadap arah pengembangan RS Mandalika ke depan. Salah satunya datang dari dr. Andry Dahlan dari Asosiasi Global Health Tourism.
Ia menilai RS Mandalika memiliki peluang besar untuk membangun identitas layanan unggulan berbasis sport medicine atau sport injury mengingat posisinya yang sangat dekat dengan Sirkuit Mandalika dan kawasan pariwisata internasional.
“RS Mandalika harus mulai menemukan service excellent dan karakteristik khususnya sendiri. Potensi pengembangan sport medicine dan health tourism sangat besar,” ujar dr. Andry.
Ia juga mendorong RS Mandalika untuk melakukan benchmarking sistem prehospital ke negara-negara seperti Maldives atau China, khususnya dalam pemanfaatan teknologi untuk mempercepat response time penanganan kecelakaan dan sport injury.
Menurutnya, teknologi komunikasi dan sistem prehospital yang terintegrasi memungkinkan tim lapangan mengirimkan diagnosis awal secara real time sehingga tim IGD dapat lebih siap sebelum pasien tiba di rumah sakit.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, dr. Oxy menyampaikan apresiasi dan menyebut seluruh saran akan menjadi catatan penting dalam proses penyempurnaan layanan RS Mandalika ke depan.
“Masukan ini sangat baik dan menjadi motivasi bagi kami untuk terus melakukan perbaikan dan pengembangan,” katanya.
Penguatan RS Mandalika dinilai semakin strategis seiring rencana pengembangan Mandalika Hub yang akan menghubungkan tiga kawasan pariwisata utama yakni Bali, NTB, dan NTT. Selain itu, pembangunan bandar khusus seaplane di Bendungan Batu Jai yang lokasinya tidak jauh dari RS Mandalika diproyeksikan akan semakin meningkatkan mobilitas wisatawan dan kebutuhan layanan kesehatan berkelas di kawasan tersebut.
Dengan berbagai capaian dan transformasi yang terus berjalan, RS Mandalika kini tidak hanya menjadi rumah sakit pelayanan kesehatan, tetapi juga simbol kesiapan NTB dalam mendukung penguatan sektor pariwisata nasional melalui layanan kesehatan yang berkualitas, inovatif, dan berdaya saing.