04/04/2026
๐๐ฉ๐ค๐ฃ๐ค๐ข๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ผ๐๐ ๐๐ ๐ผ๐ฉ๐๐จ ๐๐๐ง๐ฉ๐๐จ, ๐๐๐ข๐๐จ๐ ๐๐ฃ๐๐ฃ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐๐๐๐ช๐ฅ ๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐ ๐๐๐ฅ๐ช๐
Data boleh ditulis rapi, angka boleh diumumkan setiap tahun tetapi di tanah Papua, kemiskinan bukan sekadar persentase. Kemiskinan adalah wajah nyata yang hidup setiap hari.
Di kampung-kampung, kemiskinan itu terlihat jelas anak-anak berjalan tanpa alas kaki, ibu-ibu berjalan jauh hanya untuk menjual hasil kebun, keluarga bertahan dengan keterbatasan yang tidak pernah benar-benar berubah.
Ketika disebut bahwa beberapa provinsi di Papua masuk dalam daftar termiskin di Indonesia, itu bukan sekadar statistik itu adalah kenyataan yang dirasakan oleh Orang Asli Papua (OAP) dari hari ke hari. Otonomi Khusus (Otsus) seharusnya menjadi jawaban.
Otsus dijanjikan sebagai jalan keluar membuka akses, memperbaiki pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Namun bagi banyak orang di Papua, Otsus terasa jauh dari kehidupan nyata.
Dana datang, program diumumkan, tetapi perubahan tidak selalu sampai ke kampung-kampung.
Yang tersisa adalah pertanyaan, mengapa kemiskinan masih tetap tinggi di tanah yang begitu kaya?
Ada rasa bahwa kemiskinan ini bukan hanya karena keterbatasan, tetapi karena sistem yang belum sepenuhnya berpihak.
Pembangunan tidak merata, akses terbatas, dan suara masyarakat kecil sering kali tidak menjadi pusat kebijakan.
Kebenaran pahitnya, ketika kemiskinan terus bertahan tanpa perubahan berarti, orang mulai percaya bahwa kemiskinan itu seperti โdipeliharaโ bukan diselesaikan.
Namun di balik semua itu, rakyat Papua tidak berhenti bertahan. Mereka tetap bekerja, tetap berharap, tetap percaya bahwa suatu hari keadilan bukan hanya janji. Papua tidak kekurangan kekayaan
Papua kekurangan keadilan yang benar-benar dirasakan.
Dan selama kemiskinan masih menjadi wajah sehari-hari, maka setiap kebijakan, termasuk Otsus, akan terus dipertanyakan maknanya.
๐ฉบdrLY
_salam sehat_