STIFIn Sukabumi

STIFIn Sukabumi STIFIn Sukabumi

Jika, Anda ingin melakukan tes STIFIn di tempat kami. Anda dapat mendatangi lokasi kami di:

Klinik IRNA (Lantai 2)
Jl. Bhayangkara No. 24

STIFIn Sukabumi



Jika, Anda ingin melakukan tes STIFIn di tempat kami. Anda dapat mendatangi lokasi kami di:

Klinik IRNA (Lantai 2)

Jl. Bhayangkara No. 24, Sukabumi

Promotor : dr. Rahmat

Nomor Kontak: +62 819-1196-3041

4 Aspek Kecerdasan Anak yang Penting Diketahui Orangtua
01/12/2017

4 Aspek Kecerdasan Anak yang Penting Diketahui Orangtua

Liputan6.com, Jakarta Setiap anak terlahir dengan keunikan masing-masing dalam perkembangannya.

Delapan Jenis Kecerdasan Anak dan Cara Mengembangkannya Setiap anak memiliki kepintarannya masing-masing. Ada delapan je...
01/12/2017

Delapan Jenis Kecerdasan Anak dan Cara Mengembangkannya

Setiap anak memiliki kepintarannya masing-masing. Ada delapan jenis kecerdasan anak menurut teori Multiple Intelligences atau kecerdasan multipel.

Tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak memiliki kepintarannya masing-masing. Seorang pakar pendidikan dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Thomas Armstrong mengungkapkan, ada delapan jenis kecerdasan anak menurut teori Multiple Intelligences atau kecerdasan multipel.

Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh pakar pendidikan yang juga dari Universitas Havard, Howard Gardner. Howard membaginya menjadi delapan jenis kecerdasan anak, yaitu word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan logika atau matematis), self smart (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan interpersonal), musik smart (kecerdasan musikal), picture smart(kecerdasan spasial), body smart (kecerdasan kinetik), dan nature smart(kecerdasan naturalis).

Thomas menjelaskan, setiap anak barangkali bisa memiliki delapan jenis kecerdasan ini. Hanya saja, ada anak yang hanya menonjol pada satu atau lebih jenis kecerdasan tersebut. Untuk itu, menurut Thomas, orangtua seharusnya mengenali jenis kecerdasan anak, kemudian membantu mengasah kecerdasannya.

“Dukunglah anak sesuai jenis kecerdasannya. Adanya minat, bisa membangun kompetensi anak kemudian hari,” kata Thomas dalam talkshow bertajuk Beda Anak Beda Pintar oleh S-26 Procal Gold Wyeth Nutrition di Jakarta, Kamis (1/10/2015).

Thomas menegaskan, orangtua tidak bisa memaksa bakat yang dimiliki anak. Anak seharusnya didukung sesuai minatnya. Seperti apa 8 tipe kecerdasan anak ini? Berikut penjelasannya dan cara mengembangkannya.

1. Word smart (kecerdasan linguistik)
Jenis kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam berbahasa baik dalam bentuk tulisan maupun saat berbicara. Kecerdasan linguistik dapat dilihat ketika anak s**a membaca, cepat bisa mengeja kata dengan baik, s**a menulis, s**a berbicara, dan mendengarkan cerita.

Jika anak menunjukkan kes**aannya seperti ini, orangtua bisa memberikan buku-buku cerita, mainan huruf alphabet, kertas untuk menulis, atau mainan yang berkaitan dengan huruf dan kata-kata lainnya yang bisa menstimulasi kecerdasannya ini.

Orangtua juga bisa mendukung anak dengan sering mengajaknya bercerita, membaca bersama, membacakan dongeng, dan melakukan dialog berdua dengan anak.

2. Number smart (kecerdasan logika atau matematis)
Jenis kecerdasan ini bisa ditandai ketika anak tertarik dengan angka-angka, menyukai matematika, dan hal-hal yang berbau sains, maupun yang berhubungan dengan logika.

Untuk mengasah kemampuannya ini, berikan anak-anak alat berhitung yang menarik, benda-benda untuk dihitung, balok bertulisan angka-angka, puzzle, hingga timbangan untuk mengukur berat.

Orangtua bisa mengajak anak mengunjungi museum ilmu pengetahuan, mengajak anak bermain sambil menghitung, atau bermain monopoli.

3. Self smart (kecerdasan intrapersonal)
Anak dengan tipe kecerdasan ini cenderung lebih s**a bermain sendiri. Namun, ia bisa mengatur emosi dengan baik. Anak ini biasanya memiliki ambisi dan sudah tahu ingin jadi apa saat besar nanti. Ia juga memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan bisa mengomunikasikan perasaannya dengan baik.

Jika si kecil menunjukkan tanda kecerdasan ini, berikan ia dukungan dengan menyediakan tempat yang nyaman untuk bermain sendiri, boneka, atau mainan untuk main peragaan. Orangtua bisa mengajak si kecil berbicara mengenai perasaannya dan menanyakan pendapat mereka tentang berbagai hal. Bisa juga dengan mengajak mereka melakukan aktivitas yang bersifat reflektif seperti yoga.

4. People smart (kecerdasan interpersonal)
Berbanding terbalik dengan self smart, anak yang memiliki tipe kecerdasan ini lebih s**a bermain dengan banyak orang. Anak juga memiliki empati, mampu memahami perasaan orang lain, dan cenderng menonjol sehingga s**a memimpin saat bermain.

Anak seperti ini sangat cocok diberikan kostum-kostum untuk bermain drama atau teater boneka. Orangtua bisa mengajak mereka bermain bersama di luar rumah atau sering mengajak si kecil datang ke acara keluarga untuk bersosialisasi.

5. Music smart (kecerdasan musikal)
Kecerdasan musikal barangkali salah satu tipe kecerdasan yang paling mudah dilihat oleh orangtua. Ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan ini, antara lain s**a bernyanyi, menggoyangkan badan atau berjoget ketika mendengar suara musik, s**a mendengarkan musik, mengingat lagu, s**a memukul-mukul seperti bermain drum, dan main piano.

Untuk mendukung minat anak di bidang musik, berikanlah ia alat musik seperti drum kecil, keyboard, piano, pianika, dan berbagai alat musik lainnya. Ajaklah si kecil bermain musik bersama, bernyanyi, mendengarkan musik, bahkan mengajaknya menonton konser musik anak-anak.

6. Picture smart (kecerdasan spasial)
Anak yang memiliki kecerdasan ini biasanya terlihat dari kes**aannya menggambar, mencorat-coret kertas, mewarnai, s**a berimajinasi, hingga s**a bermain-main membangun sesuatu menggunaan balok.

Untuk anak ini, berikanlah buku gambar, perlengkapan untuk mewarnai seperti kuas dan cat air, dan kamera. Seringlah melakukan kegiatan menggambar bersama hingga mengunjungi museum seni.

7. Body Smart (kecerdasan kinetik)
Anak yang memiliki kecerdasan body smart sangat aktif, seperti s**a berolahraga, menari, menyentuh berbagai benda dan mempelajarinya, atau membuat sesuatu dengan tangannya.

Untuk mendukung kecerdasannya, berikan anak mainan balok-balok kayu, kantong pasir agar ia bisa membuat suatu bangunan atau rumah-rumahan. Bisa juga memberikan anak tali untuk bermain lompat tali.

Anak seperti ini sangat senang diajak berolahtaga bersama keluarga, membuat prakarya, atau memonton pertunjukkan balet atau teater.

8. Nature smart (kecerdasan naturalis)
Anak-anak yang memiliki kecerdasan naturalis sangat s**a bermain di alam. Anak ini juga menyukai binatang, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, s**a dengan tanaman.

Untuk mendukungnya, berikan anak binatang peliharaan, akuarium, sediakan kebun dan tanaman, hingga alat teropong untuk melihat burung-burung.

Anak seperti ini sangat s**a diajak berjalan-jalan di alam bebas, pergi ke kebun binatang, dan melakukan kegiatan berkebun bersama sambil mengenal jenis tanaman dan hewan atau serangga yang ditemui.

(Dian Maharani/Kompas.com)

- See more at:

Setiap anak memiliki kepintarannya masing-masing. Ada delapan jenis kecerdasan anak

Cara Menentukan Jenis Kecerdasan Anak dan Prediksi Karirnya Mengenal jenis kecerdasan anak, tidak hanya memudahkan si Ke...
01/12/2017

Cara Menentukan Jenis Kecerdasan Anak dan Prediksi Karirnya

Mengenal jenis kecerdasan anak, tidak hanya memudahkan si Kecil belajar, namun juga memudahkan ia meraih cita-citanya.

Mengenal jenis kecerdasan anak dan cara belajar yang sesuai tidak hanya akan mengantarkannya sukses di sekolah, namun juga membantu si Kecil untuk meraih cita-cita sesuai dengan bakat dan minatnya.Kali ini, kami membahas 8 jenis kecerdasan anak, serta cara belajar dan prediksi karier yang mungkin tepat untuknya.

1. Kecerdasan linguistik atau kecerdasan bahasa

Ciri: anak dengan kecerdasan linguistik mampu mengeskpresikan pikirannya dengan baik. Ia juga pandai mampu menuliskan pengalaman dengan kreatif, atau malah hobi bercerita imajinasi dengan indahnya. Daya ingatnya kuat, sehingga mudah menghafal hal-hal baru.

Cara belajar: membaca materi pelajaran, membuat rangkuman, serta permainan kata adalah cara si Linguistik untuk menyerap informasi atau pelajaran.

Prediksi karier: penulis, editor, jurnalis, guru, penerjemah, pengacara, reporter, public relations, atau manajer.

2. Kecerdasan matematis-logis (logic smart)

Ciri: s**a bertanya sebab-akibat akan pelbagai hal, mampu menjelaskan masalah dengan logis, s**a bereksperimen untuk membuktikan dugaannya, serta menyukai permainan teka-teki/ puzzle.

Cara belajar: ajak anak mengamati dan selingi dengan kegiatan eksperimen untuk membuat kesimp**an atau menjawab dugaan. Melatih anak untuk berhitung dan memahami cara kerja perangkat elektronik adalah beberapa hal yang bisa membangkitkan minatnya.

Prediksi karier: pengacara, analis, akuntan, dokter, ilmuwan, programmer, researcher, dan banker.

3. Kecerdasan visual-spasial

Ciri: ciri paling mudah adalah si Kecil s**a sekali mengingat banyak hal dengan gambar; karena itu ia adalah pemabaca peta yang baik.Suka bermain dengan bentuk-bentuk, tak banyak bicara, namun sangat hobi corat-coret. Pandai menyelesaikan masalah karena biasanya mampu memprediksi apa yang akan terjadi dengan memperhatikan pola kejadian.

Cara belajar: mind mapping adalah cara yang paling tepat untuknya. Film, slide, atau foto adalah beberapa hal yang akan mudah ia ingat. Jika tidak, ia akan membuat coretan untuk membantunya mengingat kejadian atau materi pelajaran.

Prediksi karier: arsitek, pilot, desainer, seniman, fotografer atau animator.Kecerdasan visual-spasial, adalah jenis kecerdasan ganda. Kadang kecerdasan visual dan spasial tidak muncul bersamaan. Bisa saja anak hanya memiliki kecerdasan visual atau spasial saja.

4. Kecerdasan musikal

Ciri: sensitif terhadap nada dan irama, serta kekuatan emosi musik, paham susunan nada yang rumit.

Cara belajar: belajar melalui puisi, kata-kata berirama dan lagu adalah cara yang paling tepat. Jika tidak, beri iringan musik klasik saat belajar.

Prediksi karier: komposer, penyanyi, pemain sandiwara, penata rekaman, penyelaras instrumen musik atau malah pembuat alat musik.

5. Kecerdasan kinestetis

Ciri: sangat menikmati kegiatan fisik seperti melompat, memanjat, atau lari. Memiliki kontrol tubuh yang baik, reflek yang sempurna, mudah mengingat apa yang dilakukan dan bukan yang dikatakan atau malah yang diamati.

Cara belajar: belajar dengan melibatkan kegiatan fisik adalah cara belajar yang baik untuknya. Misalnya dengan mendramatisasikan proses belajar, belajar di luar ruangan, dan buat ia mempraktekan langsung ilmu yang ia peroleh di hari itu.

Prediksi karier: penari, atlet, aktor, ahli mimik, ahli bedah, pembalap, pekerja lapangan, dan perakit mesin.

6. Kecerdasan naturalis

Ciri: sangat menikmati saat ia berada di alam terbuka, mudah mengingat ciri hewan dan tumbuhan, sangat tertarik dengan hal yang berkaitan dengan alam dan mudah mengingat informasi yang berkaitan dengan hal tersebut.

Cara belajar: mengijinkannya memelihara hewan peliharaan adalah cara ia belajar untuk memperoleh informasi atau pun mengkonfimasi berita yang telah ia ketahui. Belajar dan bermain di udara terbuka akan lebih membuatnya bersemangat.

Prediksi karier: plantologis, petani, peneliti hewan dan tumbuhan

7. Kecerdasan interpersonal atau kecerdasan sosial

Ciri: pandai bernegosiasi, mahir bersosialisasi, menikmati berada di tengah orang banyak, pandai membaca situasi dengan baik.

Cara belajar: belajar kelompok akan membuatnya bersemangat untuk belajar. Beri ia proyek pelajaran sekolah agar ia bisa bekerja sama dengan orang lain. Buat daftar pertanyaan dan bangunlah komunikasi dengannya untuk mengajarkan padanya sebab-akibat suatu kejadian. Jangan lupa beri ia waktu untuk bersosialisasi dengan teman-temannya.

Prediksi karier: konselor, marketing, pekerja sosial, terapis, aktor, dan public relation

8. Kecerdasan intrapersonal atau kecerdasan intuitif (self smart)

Ciri: memiliki rasa percaya diri yang tinggi, sangat mandiri, fokus, ingin berbeda dari kebanyakan orang, dan lebih s**a bekerja sendiri.

Cara belajar: agar mudah fokus, beri ia ruangan tersendiri untuk belajar. Ajarkan target agar proses belajarnya terarah dan kemampuan untuk memotivasi dirinya muncul. Ajak ia membuat jurnal hidup agar bisa ia pakai untuk refleksi keuatan dan kelemahan dirinya.

Prediksi karier: trainer, wiraswasta, penulis, psikolog, pemimpin agama.

Sumber referensi
1. Lucy, Bunda. 2009. Mendidik Sesuai Minat dan Bakat Anak. Tangga Pustaka. Jakarta.
2. Dryden, Gordon. 2003. Revolusi Cara Belajar, Bagian II: Sekolah Masa Depan. Kaifa. Bandung.

- See more at:

Mengenal jenis kecerdasan anak, tidak hanya memudahkan si Kecil belajar,

Umur Berapakah Yang Tepat Untuk Mengikuti Tes IQ Pada Anak? Setiap orang tua ingin anak-anaknya tumbuh dengan perkembang...
29/11/2017

Umur Berapakah Yang Tepat Untuk Mengikuti Tes IQ Pada Anak?

Setiap orang tua ingin anak-anaknya tumbuh dengan perkembangan maksimal. Saat ini, banyak orangtua yang kecerdasan anak-anaknya sejak usia dini. Ada macam-macam tes yang bisa dilakukan agar mengetahui tingkat kecerdasan anak. Salah satu tes yang bisa dilakukan adalah tes iq. Namun banyak penelitian yang mengatakan bahwa kecerdasan anak tidak cukup dengan tes tersebut saja. Ada banyak kecerdasan yang dimiliki anak-anak sehingga munculah teori kecerdasan yang majemuk. Maka dari itu masihkah anak memerlukan tes tersebut.

Tes ini hanya melihat sebagian kecerdasan seorang anak, sebatas potensi akademik anak. Padahal, kecerdasan anak tidak hanya potensi akademik. Ada beberapa kecerdasan anak yang dapat dideteksi sejak bayi. Seorang bayi yang cerdas, perkembangan motorik serta bahasanya akan berkembang pesat melebihi bayi yang lainnya. Kecerdasan bayi dapat dilihat dari motorik kasar, halus, kemampuan personal, sosial, dan bahasa. Hal itu yang akan jadi dasar seorang anak memiliki perkembangan akademik yang baik.



Perlukah Anak Kecil Ikut Dalam Tes IQ?

Seorang anak lebih baik jangan sembarangan diikutkan dengan beragam tes. Apalagi hanya mengikuti tren karena anak akan stres dengan tes-tes yang harus dilakukan. Jika anak tidak menunjukkan gangguan sebaiknya jangan dilakukan tes.



Apabila orang tua ingin tahu tentang tingkat kecerdasan anak dapat mengamatinya dari perkembangan anak. Untuk tes ini sendiri sebaiknya jangan dilakukan pada anak yang usianya masih kecil. Hal itu karena tes yang dilakukan untuk menilai tingkat bahasa, menghitung, persepsi, daya ingat, dll.



Sementara hal tersebut hanya bisa dilakukan pada anak yang mengalami perkembangan sudah matang. Misalnya anak sudah memasuki sekolah dasar. Maka sebaiknya untuk anak yang masih di bawah umur sekolah dasar jangan diikutkan beragam tes.



Keuntungan Dalam Melakukan Tes IQ

Terlepas dari tentang pro dan kontra anak mengikuti tes untuk mengetahui tingkat kecerdasan. Namun ada beberapa manfaat yang didapatkan dari mengikuti tes tersebut. Sebaiknya meskipun satu kali lakukanlah tes ini. Melakukan tes ini tidak hanya sekedar untuk mengukur kecerdasan.



Keuntungan melakukan tes iq adalah:

· Pencapaian akademis

Seringkali tes diberikan kepada anak-anak saat memasuki bangku sekolah formal untuk mengetahui indikasi seberapa baik mereka menjalani pendidikan. Hasil tes lalu dijadikan indikator untuk menempatkan murid sesuai kemampuan yang anak miliki. Mereka yang IQ nya tinggi akan di tempatkan di kelas yang luar biasa. Sedangkan untuk anak-anak yang nilai IQ nya rendah, di tempatkan yang dapat memberi keuntungan. Dapat membantu untuk meningkatkan prestasi belajar. Tanpa tes, sekolah tidak dapat menempatkan anaka-anak di kelas yang sesuai sejak pertama sekolah.

· Manfaat sosial

Tes ini dapat mengidentifikasi prestasi akademis dari seorang anak. Maka sekolah bisa mulai mencoba mengembangkan kemampuan sesuai bakat alami mereka. Jika bakat anak dikembangkan dengan tepat, maka akan berpotensi untuk memaksimalkan bakat yang dimilikinya. Sehingga bisa berguna untuk masyarakat kelak. Contohnya saat mengikuti tes yang menunjukkan anak mempunyai bakat yang menonjol dalam matematika atau ilmu pengetahuan alam. Sejak dini mereka bisa diarahkan untuk mengambil jurusan ke bidang penelitian, medis, atau rekayasa lapangan. Sehingga sejak dini anak-anak sudah diarahkan sesuai dengan kemampuan dan tentunya kehidupan anak akan lebih sejahtera.

Beberapa manfaat tes yang diikuti anak jika sudah cukup umur. Maka akan mendapatkan banyak manfaat. Berbeda dengan tes iq yang dilakukan pada anak yang belum cukup umur akan berdampak negatif dan membuat anak stres.

- See more at:

Setiap orang tua ingin anak-anaknya tumbuh dengan perkembangan maksimal. Saat

Tes IQ Bukan Satu-Satunya Penentu KecerdasanSejak bertahun-tahun lamanya, hasil tes IQ menjadi patokan untuk mengukur ke...
29/11/2017

Tes IQ Bukan Satu-Satunya Penentu Kecerdasan

Sejak bertahun-tahun lamanya, hasil tes IQ menjadi patokan untuk mengukur kecerdasan seseorang. Tapi, hal tersebut dapat berubah.

Istilah IQ atau intelligence quotient pertama kali diciptakan oleh psikolog asal Jerman, William Stern. Singkatan IQ tersebut digunakan Stern untuk menilai tes kecerdasan yang ia anjurkan dalam bukunya pada tahun 1912. Tes IQ pun menjadi uji standar yang dirancang untuk menilai kecerdasan seseorang, apakah rata-rata atau superior. Menentukan penempatan kelas di sekolah, evaluasi pelamar kerja, atau penilaian cacat intelektual sering kali menggunakan tes IQ sebagai salah satu pertimbangan.

Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang ingin mendapatkan skor atau nilai tinggi dalam tes IQ kelak. Banyak cara yang dilakukan agar otak dan kecardasan dapat dirangsang sejak dini, salah satunya dengan mendengarkan musik klasik. Namun, sebenarnya apa saja yang dapat mempengaruhi kecerdasan seseorang?

Penelitian menunjukkan bahwa gen memainkan peran besar dalam kecerdasan seseorang. Namun, hal ini masih membutuhkan penelitian dan bukti labih lanjut.

Rajin-tidaknya masuk sekolah atau melanjutkan pendidikan di sekolah. IQ anak yang tetap bersekolah setidaknya akan bertambah dan berada di atas anak yang tidak bersekolah atau drop out.

Anak-anak yang menyusu ASI dipercaya memiliki IQ yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak. Namun ada juga yang berpendapat jika ASI hanya memberikan sedikit manfaat terhadap kecerdasan dan pertumbuhan kognitif seseorang.

Ukuran kepala. Hubungan antara IQ dan ukuran kepala seseorang adalah subjek yang selalu diperdebatkan di antara para ilmuwan. Namun teknik gambaran saraf (neuroimaging) terbaru menunjukkan bahwa volume tenggorak seseorang berhubungan dengan tingkat IQ yang dimilikinya, walaupun hubungannya kecil.

Tes IQ bisa menjadi langkah pertama dalam mendiagnosis masalah intelektual. Oleh sebab itu, apabila seorang anak memiliki nilai sangat rendah dalam tes IQ, dokter bisa merekomendasikan tes darah, USG otak, pemeriksaan keterampilan adaptif, dan pemeriksaaan kesehatan jiwa penuh.

Pemeriksaan prenatal (sebelum kelahiran atau ketika bayi berada dalam kandungan) dapat membantu mendeteksi potensi cacat intelektual sebelum bayi lahir. Hal ini terutama berguna untuk ibu berusia 35 tahun atau lebih, atau menggunakan obat-obatan dan/atau minuman beralkohol selama kehamilan. Jika potensi masalah telah terdeteksi sejak dini, dokter anak kemungkinan akan melakukan tes IQ pada anak sejak usianya masih dini.

Namun tes IQ untuk mementukan kecerdasan seseorang telah mendapat banyak kritikan selama bertahun-tahun. Tes IQ dinilai tidak adil kepada mereka yang kurang beruntung dan meminimalkan pentingnya kreativitas, karakter, kebaikan, kecerdasan praktis, dan moralitas seseorang.

Bahkan menurut sebuah studi terhadap lebih dari 100.000 peserta menunjukkan bahwa kecerdasan setidaknya memiliki tiga komponen yang berbeda. Jadi, tes IQ tidak bisa dijadikan patokan satu-satunya dalam menentukan tingkat kecerdasan seseorang. Peneliti menjelaskan bahwa kompleksitas otak manusia telah berkembang. Oleh karena itu, gagasan tentang IQ juga harus disesuaikan atau berubah.

Selain itu, sudah berkembang p**a teori kecerdasan majemuk guna mengukur nilai kecerdasan seseorang. Kecerdasan tidak hanya diukur secara logis-matematis, tetapi juga dalam bidang verbal-linguistik, spasial-visual, musikal, intrapersonal, naturalis, interpersonal, dan eksistensialis.

Tes IQ memang sampai saat ini selalu dijadikan tolak ukur dalam memantau kecerdasan, tapi hal tersebut masih mungkin bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu.
- See more at:

Sejak bertahun-tahun lamanya, hasil tes IQ menjadi patokan untuk mengukur

11 Fakta Tentang Tes IQ yang Harus Anda KetahuiAda banyak fakta tentang tes IQ yang belum kita ketahui, baik fakta yang ...
29/11/2017

11 Fakta Tentang Tes IQ yang Harus Anda Ketahui

Ada banyak fakta tentang tes IQ yang belum kita ketahui, baik fakta yang menyenangkan atau yang kurang menenangkan.

Diakui atau tidak, tes IQ masih dianggap sebagai ukuran kecerdasan seseorang. Wajar jika apa saja yang berkaitan dengan IQ masih menjadi perhatian utama bagi banyak orang. Pada kenyataannya IQ memang bisa mempengaruhi kehidupan seseorang, terlepas orang tersebut nantinya sukses atau tidak.

Beberapa fakta tentang tes IQ anak di bawah ini mungkin akan mengubah pandangan kita akan nilai kecerdasan yang satu ini.

1. Tes IQ pertama kali dilakukan untuk mendeteksi ketebelakangan mental

Tes kecerdasan yang satu ini seringkali masih digunakan untuk mendeteksi kecerdasan dan kesuksesan karier seseorang. Padahal tes ini semula digunakan untuk mendeteksi adanya keterbelakangan mental. Dulu, skor tes IQ di bawah 70 dianggap sebagai keterbelakangan mental.

2. Tes IQ hanya mengukur kecerdasan tertentu

Sebenarnya tes IQ hanya mengukur sebagian jenis kecerdasan dan tidak mengukur kecerdasan seperti kreativitas, artistik, kepemimpinan, ketrampilan emosional dan sosial.

3. Tes IQ mulanya diperoleh dengan formula tertentu

Seratus tahun yang lalu, tes IQ dihitung dengan cara membagi usia mental seseorang dengan umur sebenarnya. Hasilnya kemudian dikalikan 100 untuk mendapatkan skor akhir yang sebenarnya.Tentu saja hal ini kurang akurat bagi mereka yang telah memasuki usia dewasa.

Saat ini, perhitungan skor diperoleh dengan cara membandingkan kemampuan seseorang dengan kemampuan kelompok usia yang sama, yang lagi-lagi, belum tentu akurat. Fakta bahwa manusia berkembang dengan cara-cara uniknya tentu tidak bisa diabaikan bukan?

4. Tes IQ cenderung bias budaya dan etnis

Salah satu kritik yang sering ditujukan untuk tes ini adalah sensitivitas pengukurannya terhadap budaya dan etnis seseorang; terutama ketika menyangkut budaya timur dan barat. Alasannya, tes ini belum mempertimbangkan tingkat kognitif, kemampuan komunikasi serta nilai-nilai yang dianut oleh etnis dan budaya setempat.

5. IQ dipengaruhi oleh lingkungan

Faktor lingkungan, seperti nutrisi, kondisi sosial ekonomi, stres, dukungan dan perilaku sosial sangat mempengaruhi skor IQ. Para peneliti juga menemukan bahwa kualitas pendidikan seseorang sangat berpengaruh terhadap tinggi rendah skor yang diperoleh seseorang.

Fakta tentang IQ ini juga didukung oleh sebuah studi yang menyebutkan bahwa, skor tes IQ seseorang bisa saja meningkat seiring dengan meningkatnya usia sosial. Ini terjadi karena dengan adanya pertambahan usia, seseorang tentunya akan bertambah wawasan dan pendidikannya (Flynn Effect).

6. Batita yang terpapar junk food ternyata memiliki IQ yang lebih rendah

Membaca fakta tentang IQ yang satu ini, tentu membuat kita prihatin. Banyak para peneliti yang memberikan kesimp**an bahwa anak-anak yang mulai mengenal junk foods di usia kurang dari 2 tahun, akan mengalami penurunan skor kecerdasan begitu mereka memasuki usia 8 tahun.

Sebaliknya, anak-anak yang mengkonsumsi makanan tinggi vitamin dan mineral, justru memberikan hasil yang lebih baik.

7. Menyusui masih dianggap sebagai salah satu faktor yang bisa meningkatkan IQ seseorang

Keyakinan ini bisa jadi didasarkan pada fakta, bahwa anak-anak yang memiliki hubungan dekat dengan ibunya akan lebih merasa aman, dan nyaman. Kedua hal tersebut merupakan faktor yang mendukung kecerdasan tinggi.

Namun penelitian terakhir menyebutkan bahwa tidak ada kaitan antara IQ dengan menyusui setelah anak berusia lebih dari 2 tahun.

8. Menganggur bisa menurunkan IQ

Kita telah tahu, bahwa IQ bisa saja naik dan turun. Ketika seseorang berhenti menggunakan otaknya untuk berpikir kreatif, akan ada kemungkinan skornya juga akan menurun.

9. Berkebalikan dengan anggapan banyak orang, seseorang dengan IQ tinggi ternyata juga cerdas secara sosial

Bertahun-tahun kita sering mendapat gambaran bahwa orang dengan IQ tinggi biasanya lebih s**a menarik diri dari pergaulan, sibuk dengan pelbagai penelitian, dan sangat kuno dalam berpakaian.

Meskipun berkorelasi, tidak berarti menjadi penyebab utama; dan fakta tentang IQ terbaru telah membuktikan bahwa seseorang dengan IQ tinggi biasanya juga berhasil dalam pendidikan sekaligus kompetensi sosialnya.

10. Memiliki skor tes IQ 115 memungkinkan Anda melakukan pekerjaan apa pun

Fakta yang satu ini memang berkebalikan dengan beberapa fakta di atas, namun, tak dipungkiri, seseorang yang dikaruniai IQ tinggi, memang memiliki kesempatan untuk melakukan lebih banyak pekerjaan.

Ini bukan masalah diskriminasi, atau melecehkan sebagian orang dengan IQ standar; tapi IQ tinggi memungkinkan seseorang untuk berpikir beberapa hal dalam satu waktu; terutama pada bidang yang tidak bisa diprediksi hasilnya dan membutuhkan kemampuan untuk menganalisa masalah, serta mengambil keputusan dengan cepat.

11. Orang dengan IQ tinggi juga lebih percaya diri

Orang-orang sukses – baik itu pada bisnis, atletik, atau pun hidup mereka – seringkali memberi nasehat, bahwa jika Anda memiliki kepercayaan diri, maka Anda sudah memenangkan setengah pertempuran.

Dan mengetahui bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu atau malah telah mebuktikan bahwa ia bisa, tentu menjadi lebih percaya diri.

Skor IQ memang penting, namun bukan yang paling penting. Masih ada kecerdasan visual, emosi, auditori, juga atensi yang juga perlu seseorang miliki agar dapat memanfaatkan IQ-nya dengan maksimal.

Semoga ulasan di atas dapat bermanfaat bagi kita untuk lebih memahami kecerdasan serta menentukan pendidikan dan kepengasuhan yang tepat untuk anak-anak kita.
- See more at:

Ada banyak fakta tentang tes IQ yang belum kita ketahui,

28/11/2017

Menghafal Al Quran dengan metode STIFIn kutip dari Penemu STIFIn

Menghafal Al Quran Ala STIFInMenghafal Al Quran dengan metode STIFIn kutip dari Penemu STIFIn Bapak Farid Poniman dengan...
28/11/2017

Menghafal Al Quran Ala STIFIn

Menghafal Al Quran dengan metode STIFIn kutip dari Penemu STIFIn Bapak Farid Poniman dengan Menggunakan Formula 15

Gunakan ‘Formula 15’

Oleh: Farid Poniman (Penemu Konsep STIFIn)

Menghafal Al Quran Gaya SENSING

5x baca rekam (perbendaharaan kata),
5x hafal sambil menandai (warna dan letak),
5x pengendapan tanpa lihat (letak sudah tercetak)

Baca sebanyak 5x sekaligus di rekam dalam memori. Bacanya sambil ngelihat tulisan. Ini bertujuan untuk menambah perbendaharaan kata. Setelah baca 5x dengan melihat tulisannya, lanjutin baca 5x dengan gaya belajarnya Sensing, yaitu dengan menunjuk tulisan sambil membacanya, menandai letaknya, atau memberi warna tulisannya. Terakhir baca 5x dengan menutup tulisan/Al Qur’an. Tujuannya agar perbendaharaan kata yang sudah masuk ke dalam memori semakin mengendap dalam ingatan orang Sensing. Letak huruf atau bacaan pastu sudah tercetak dalam memorinya.

Menghafal Al Quran Gaya THINKING

5x baca rekam (nomor, awal, dan akhir ayat),
5x strukturkan dan sambungkan,
5x pengendapan tanpa lihat (kerangka sambungan sudah jadi)

Baca 5x dengan melihat tulisan. Rekam nomor ayat, awal dan akhir ayat. Lalu, baca 5x sambil menemukan struktur bacaan, pola kata, kalimat, lalu sambungkan. Setelah itu baca lagi 5x dengan menutup Al Qur’an, dibagian ini kerangka sambungan udah jadi.

Menghafal Al Quran Gaya INTUITING

sebelum baca, diterjemahkan, dipolakan;
5x baca rekam (sebagai kalimat),
5x hafal dikaitkan cerita serta visual tangan atau muka,
5x pengendapan tanpa lihat sambil mengekspresikan pesan.

Sebelum baca ayat Al Qur’an, baca terlebih dahulu terjemahannya, kemudian polakan. Baca 5x, rekam sebagai kalimat. Kemudian, baca ayatnya 5x (dihafal), lalu dikaitkan dengan cerita yang disertai visual tangan atau muka. Terakhir, baca 5x dengan menutup Al Qur’an sambil mengekspresikan pesan.

Menghafal Al Quran Gaya FEELING

5x baca rekam (hidupkan tokoh),
5x murajaah (cari pantulan),
5x pengendapan tanpa lihat sambil penghayatan tokoh.

Baca 5x, baca, rekam, dan hidupkan tokoh. Lalu, baca 5x. Terakhir, baca 5x untuk pengendapan tanpa melihat Al Qur’an tapi sambil penghayatan tokoh.

Menghafal Al Quran Gaya INSTING

5x baca pake murattal (rekam keindahan nada),
5x rekam kaitkandengan cengkok nada,
5x pengendapan tanpa lihat sesuai murattal.

Baca 5x sambil dengarkan murattalnya , rekam keindahan nadanya. Lalu, baca 5x sambil mengaitkannya dengan cengkok nada. Baca 5x dihafal dengan menutup AL Qur’an dan sesuaikan dengan murattal.

- See more at:

Menghafal Al Quran dengan metode STIFIn kutip dari Penemu STIFIn

Ini 10 Tanda Anak yang Memiliki IQ TinggiLiputan6.com, London - Setiap orangtua merasa anak mereka jenius, tapi sebetuln...
28/11/2017

Ini 10 Tanda Anak yang Memiliki IQ Tinggi

Liputan6.com, London - Setiap orangtua merasa anak mereka jenius, tapi sebetulnya ada suatu cara untuk memastikannya bahkan sejak semasih belia dengan melibatkan sebutir kismis.

Dikutip dari The Sun pada Jumat (08/01/2016), para ilmuwan telah mengungkapkan caranya. Tempatkanlah sebutir kismis di bawah cangkir dan mintalah sang balita untuk tidak menyentuhnya. Dari situ kecerdasan sang anak bisa ketahuan.

Temuan University of Warwick mengatakan bahwa kebanyakan anak usia 2 tahun akan langsung meraih kismis itu. Namun mereka yang menahan diri selama 1 menit penuh secara rata-rata akan meraih angka yang 19% lebih tinggi dalam serangkaian ujian sebelum mereka berusia 8 tahun.

Tak hanya itu. Ada sejumlah pertanda yang bisa diamati orangtua. Berikut ini adalah 10 tanda tinggi IQ seorang anak sejak lahir hingga berusia 10 tahun seperti dikutip News.com.au:

Baru lahir: bobot berat

Wanita yang melahirkan bayi yang gempal boleh bers**acita mendengar berita bahwa semakin besar bobot sang bayi sewaktu melahirkan berarti semakin tinggi kecerdasannya.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 3.000 bayi ini sudah dilaporkan dalam British Medical Journal. Diduga hal ini terkait dengan fakta bahwa bayi yang lebih berat mendapatkan asupan yang lebih baik.

Usia 12-24 bulan: kenal bahasa asing

Jurnal ilmiah Child Development menyebutkan bahwa salah satu kiat untuk menggiatkan perkembangan otak pada anak balita adalah dengan mengajaknya bicara bahasa yang berbeda.

Bahasa Prancis, Inggris, Arab? Anak yang lahir dari orangtua yang bicara lebih dari 1 bahasa, niscaya lebih bagus hasil tes IQ-nya.

Usia 3-5 Tahun

Usia 3 tahun: mereka lebih tinggi dari rata-rata sebayanya

Anak yang lebih tinggi lebih bisa menguasai ujian, demikian menurut kajian oleh National Bureau of Economic Research. Menurut tim penelitinya, “Bahkan sejak berusia 3 tahun, sebelum sekolah memainkan perannya dan sepanjang masa anak-anak, mereka yang lebih tinggi mendapat hasil yang jauh lebih baik pada ujian-ujian kognitif.

Usia 4 tahun: ia bisa melukis seseorang

Anak yang dapat menciptakan gambar realistis seorang manusia pada usia ini kemungkinan lebih pandai di masa remajanya.

Para peneliti King’s College di London mempelajari 15.000 gambar buatan anak-anak berusia 4 tahun dan menungkapkan bahwa mereka yang berbakat seni sejak dini akan lebih baik dalam ujian IQ di masa depan.

Usia 5 tahun: bisa berbohong

Nah, ternyata berbohong bisa juga menjadi sesuatu yang baik. Para peneliti Kanada mendapati bahwa anak-anak yang melakukannya sejak dini lebih mungkin memilki hidup yang lebih baik di masa depan.

Peneliti Institute of Child Study, Toronto University, mempelajari 1.200 anak berusia antara 2 hingga 17 tahun. Hasilnya, anak yang mampu berbohong sejak dini biasanya lebih cerdas. Alasannya, proses rumit ketika seseorang sedang berbohong menjadi petunjuk bagi IQ anak.

Usia 6-8 Tahun

Usia 6 tahun: mampu memainkan alat musik

Permainan alat musik mendukung kecerdasan emosional anak pada usia ini. Para peneliti Fakultas Kedokteran University of Vermont mengamati hasil pemindaian otak 232 anak sehat usia 6 hingga 18 tahun. Mereka mengungkapkan bahwa semakin sering seorang anak memainkan alat musik, semakin baik juga ketrampilan mereka dalam “manajemen kecemasan dan emosi.”

Usia 7 tahun: hobi baca

Banyak membaca pada usia dini adalah satu petunjuk kunci kecerdasan yang lebih tinggi di tahun-tahun kemudian, demikian temuan para ilmuwan.

Anak yang memiliki kemampuan membaca lebih baik daripada rata-rata pada usia 7, misalnya mampu hanyut dalam novel, lebih baik dalam mengerjakan tes IQ sewaktu remaja, demikian hasil penelitian University of Edinburgh dan King’s College London pada 2014.

Usia 8 tahun: terjaga hingga larut malam

Sejumlah peneliti London School of Economics menunjukkan bahwa orang dewasa yang cerdas lebih sering terjaga hingga larut malam. Bisa jadi, kebiasaan itu adalah bawaan sejak kecil.

“Makin cerdas seorang anak, semakin besar kemungkinan mereka menjadi 'noktunal', terjaga kala malam saat dewasa nanti--tidur terlambat dan telat bangun baik pada hari kerja maupun saat akhir pekan," demikian kata peneliti.

Usia 9-10 Tahun

Usia 9 tahun: sarapan sehat

Jika seorang anak menikmati sarapan yang sehat pada usia ini, ia dua kali lipat kemungkinannya mencapai angka hasil tes IQ di atas rata-rata.

Penelitian University of Cardiff pada 5.000 pelajar usia 9 hingga 11 tahun menunjukkan bahwa mereka yang makan sereal, roti, dan produk susu pada pagi hari mencapai hasil terbaik dalam ujian nasional.

Usia 10 tahun: senang mengobrol

Pada usia 10 tahun, anak dapat diuji oleh Mensa untuk mengetahui tingkat kecerdasan mereka (IQ).

Menurut Mensa, petunjuk kunci kecerdasan antara lain senang bicara, menciptakan aturan baru dalam permainan, dan punya perasaan sebal dengan anak-anak lain.**

- See more at: http://stifins**abumi.com/ini-10-tanda-anak-yang-memiliki-iq-tinggi-detail-56874 .6Nu5Um8T.dpuf

Liputan6.com, London - Setiap orangtua merasa anak mereka jenius, tapi

Address

Sukabumi
43123

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when STIFIn Sukabumi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to STIFIn Sukabumi:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram