Klinik Mboga

Klinik Mboga Klinik rawat jalan dr. Danish Davina dan dr. Pradetyawan Tanggal merah atau libur hari besar tutup

Dislokasi lensa kristalin atau disebut juga ektopia lentis adalah perubahan posisi lensa kristalin mata yang dapat timbu...
02/09/2024

Dislokasi lensa kristalin atau disebut juga ektopia lentis adalah perubahan posisi lensa kristalin mata yang dapat timbul akibat kelainan kongenital maupun didapat. Dislokasi (luksasi) lensa dapat terjadi ke arah posterior sehingga lensa terletak di fosa hyaloid, melayang di vitreous, atau menempel di retina.

Dislokasi lensa kristalin ke arah anterior menyebabkan lensa berada di kamera okuli anterior. Subluksasi lensa terjadi bila hanya sebagian lensa yang mengalami perubahan posisi dan sebagian lensa masih berada di posisi lensa yang normal (area pupil). Etiologi dislokasi lensa paling sering adalah trauma. Selain itu, dislokasi lensa juga dapat disebabkan oleh penyakit mata, sistemik, atau genetik seperti sindrom Marfan.

Dislokasi lensa dapat menimbulkan komplikasi seperti perubahan tajam penglihatan, gangguan refraksi, blokade pupil yang menyebabkan peningkatan tekanan intraokular, uveitis, kerusakan retina, hingga kebutaan. Penatalaksanaan dislokasi lensa terdiri dari terapi konservatif dengan melakukan koreksi refraksi dan observasi.

Namun, apabila ditemukan indikasi, dapat dilakukan pembedahan lensectomy yang dikombinasi dengan vitrektomi (anterior atau posterior), dan penanaman lensa intraokular baik primer maupun sekunder.

Dislokasi bahu adalah pemisahan total pada sendi glenohumeral yang dilaporkan sebagai dislokasi sendi besar yang paling ...
26/08/2024

Dislokasi bahu adalah pemisahan total pada sendi glenohumeral yang dilaporkan sebagai dislokasi sendi besar yang paling sering ditemui di instalasi gawat darurat. Pada 95% kasus, ujung atas humerus terdorong keluar dari soket sendi ke arah anterior. Dislokasi bahu berbeda dengan subluksasi, yang merupakan pemisahan sendi secara parsial.

Penyebab dislokasi bahu umumnya adalah trauma pada bahu yang menyebabkan stress pada ligamen sehingga caput humerus terlepas dari glenoid sendi bahu. Dislokasi ini dapat terjadi pada berbagai usia, tetapi lebih sering ditemukan pada kelompok usia 18-30 tahun karena etiologi tersering adalah aktivitas olahraga.

Diagnosis dislokasi bahu umumnya dapat ditegakkan secara klinis, namun pemeriksaan pencitraan seperti rontgen, CT scan, atau MRI dapat menunjang diagnosis. Pencitraan penting dilakukan untuk mengevaluasi adanya fraktur dan cedera jaringan lunak sekitarnya, seperti robekan tendon atau ligamen.

Dislokasi bahu adalah kegawatdaruratan bedah yang harus mendapat penatalaksanaan segera. Penatalaksanaan dislokasi bahu adalah reduksi tertutup atau closed reduction segera untuk mengurangi nyeri dan menstabilkan sendi yang dilanjutkan dengan pemasangan arm sling. Karena ada kemungkinan dislokasi rekuren atau subluksasi di kemudian hari, dapat dilakukan imobilisasi dan fisioterapi setelah reduksi.

Dislipidemia adalah kondisi dimana tidak seimbangnya kadar satu atau lebih jenis lipid dalam darah, yaitu kolesterol, lo...
19/08/2024

Dislipidemia adalah kondisi dimana tidak seimbangnya kadar satu atau lebih jenis lipid dalam darah, yaitu kolesterol, low-density lipoproteins (LDL), trigliserida, dan high-density lipoproteins (HDL). Dislipidemia bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler.

World Health Organization (WHO) memperkirakan prevalensi peningkatan kadar kolesterol total plasma pada dewasa usia ≥25 tahun secara global adalah sebesar 39% pada tahun 2008. Prevalensi dislipidemia di Asia Tenggara adalah sebanyak 30,3% dan lebih rendah dibandingkan Pasifik Barat, Eropa, dan Amerika.

Di Indonesia, data terakhir dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 menunjukkan sebanyak 36% dewasa usia ≥25 tahun mempunyai kadar kolesterol total ≥160 mg/dL.

Dislipidemia dapat dibagi menjadi dislipidemia primer dan sekunder. Dislipidemia primer disebabkan oleh mutasi genetik sementara dislipidemia sekunder disebabkan oleh gabungan gaya hidup yang tidak sehat, penyakit penyerta seperti diabetes mellitus, penyakit ginjal kronis, obesitas, dan penggunaan obat-obatan.

Dislipidemia umumnya asimtomatik dan terdiagnosis secara tidak sengaja atau melalui penapisan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan temuan abnormal pada profil lipid.

Penatalaksanaan dislipidemia bertujuan untuk menurunkan risiko komplikasi kardiovaskuler akibat aterosklerosis. Lebih dari sepertiga kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung iskemik atau stroke iskemik berhubungan dengan peningkatan kadar LDL plasma.

Disleksia atau dyslexia, adalah salah satu bentuk specific learning disorders (SLD) yang paling sering ditemukan. Pender...
12/08/2024

Disleksia atau dyslexia, adalah salah satu bentuk specific learning disorders (SLD) yang paling sering ditemukan. Penderita disleksia umumnya kesulitan untuk mengidentifikasi huruf dan mengucapkannya, sehingga mengalami kesulitan membaca, mengeja, dan mengenal serta memahami kata.

Penderita disleksia mengalami kesulitan dalam menghubungkan bahasa verbal dengan bahasa tulis karena defisit dalam komponen fonologis bahasa.

Disleksia adalah gangguan neurobiologis. Faktor risiko disleksia antara lain adalah faktor genetik, riwayat kelainan otak kongenital atau akibat infeksi. Faktor keluarga, seperti kurangnya paparan terhadap lingkungan pendidikan juga dihubungkan dengan terjadinya disleksia.

Penegakan diagnosis disleksia dibuat berdasarkan kriteria dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) 5 atau International Classification of Diseases(ICD) 11. Tes IQ perlu dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya disabilitas intelektual sebagai penyebab. Pemeriksaan neurologis, penglihatan, dan pendengaran perlu dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik.

Deteksi dini dan intervensi yang lebih awal berhubungan dengan luaran yang lebih baik. Pendekatan dan program yang digunakan untuk penatalaksanaan melibatkan latihan-latihan untuk menguasai keterampilan spesifik terkait membaca dan menulis. Pendekatan yang efektif digunakan adalah latihan mengenali bunyi huruf, fonem, menghubungkan huruf dengan fonem, kelancaran membaca, dan pemahaman. Latihan literasi dilakukan dengan materi membaca dan menulis pada tingkat yang sesuai.

Disfungsi ereksi adalah gangguan respon seksual, yaitu ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan ereksi demi suat...
05/08/2024

Disfungsi ereksi adalah gangguan respon seksual, yaitu ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan ereksi demi suatu kepuasan seksual. Keadaan ini bersifat konsisten atau rekuren dan merupakan suatu kondisi kompleks yang melibatkan faktor biologis dan psikososial.

Disfungsi ereksi dipengaruhi beberapa faktor, misalnya karena adanya penyakit kronis seperti diabetes mellitus dan hipertensi, penyakit syaraf, gangguan tidur, serta gangguan psikis seperti depresi. Hal penting sebelum memberikan pengobatan terhadap disfungsi ereksi adalah menggali informasi tentang riwayat mengonsumsi obat lama, perilaku seksual, dan psikososial.

Saat ini sudah ada beberapa skoring untuk menilai gangguan fungsi ereksi, seperti International Index of Erectile Function Questionnaire (IIEF). Diperlukan pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mendapatkan informasi lengkap tentang sistem saraf, pembuluh darah, dan saluran kencing.

Gold standard diagnosis untuk disfungsi ereksi vaskular adalah selective pe**le angiography. Pemeriksaan laboratorium dapat diindikasikan sesuai klinis, seperti status hormon seperti kadar hormon testosteron pagi hari pada kecurigaan hipogonadisme, profil lemak, antigen prostat dan urinalisis.

Disfagia merupakan gangguan dalam proses menelan, termasuk rasa nyeri saat menelan. Kondisi ini ditandai dengan makanan ...
29/07/2024

Disfagia merupakan gangguan dalam proses menelan, termasuk rasa nyeri saat menelan. Kondisi ini ditandai dengan makanan yang lebih lambat mencapai lambung, sedangkan gejala yang dirasakan oleh pasien biasanya sensasi makanan tertahan di kerongkongan atau dada.

Disfagia dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit sehingga penting untuk menegakkan diagnosis etiologi mendasar pada pasien dengan disfagia.Secara garis besar, disfagia dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu kelainan struktural serta gangguan fungsi motilitas.

Kelainan struktural terjadi pada kasus inflamasi esofagus, striktur esofagus, tumor esofagus, atau akibat penekanan struktur di sekitarnya. Gangguan fungsi motilitas paling banyak disebabkan kasus neuromuskular, seperti stroke.

Pemeriksaan awal yang utama dalam penanganan disfagia adalah menyingkirkan patologi yang mengancam jiwa, seperti neoplasia. Selain itu, harus diidentifikasi risiko pasien mengalami aspirasi. Sebetulnya disfagia paling sering disebabkan oleh gangguan jinak kronis, tetapi kondisi ini telah dikaitkan dengan morbiditas yang cukup besar dan gangguan kualitas hidup.

Gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah penyebab tersering pada individu dengan usia lebih muda; sementara disfagia orofaringeal sekunder akibat penyakit serebrovaskular lebih sering terjadi pada usia lebih tua.
Penanganan disfagia bertujuan untuk menjaga kecukupan nutrisi serta mencegah terjadinya aspirasi. Langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah modifikasi diet, melakukan beberapa manuver yang dapat memudahkan proses menelan, serta menerapkan latihan rehabilitasi penguatan otot-otot yang berperan dalam proses menelan. Selanjutnya, terapi definitif dilakukan sesuai dengan penyebab dasar dari disfagia.

Disentri adalah infeksi pada saluran pencernaan yang dapat menyebabkan diare berdarah, lendir pada feses, dan nyeri pada...
22/07/2024

Disentri adalah infeksi pada saluran pencernaan yang dapat menyebabkan diare berdarah, lendir pada feses, dan nyeri pada saat buang air besar. Terdapat dua penyebab utama terjadinya disentri, yaitu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Shigella atau dikenal sebagai disentri basiler, dan infeksi yang disebabkan oleh parasit Entamoeba histolytica atau dikenal sebagai disentri amuba.

Disentri basiler atau yang disebut juga dengan shigellosis adalah jenis disentri yang paling banyak ditemukan. Shigella merupakan bakteri gram negatif, non-motile bacillus, berasal dari famili Enterobacteriaceae. Shigella dapat menginvasi sel epitel usus besar dan rektum. Hal ini menyebabkan peradangan yang berujung pada perdarahan saluran pencernaan sehingga menimbulkan diare berdarah. Apabila tidak segera ditangani dengan tepat, kondisi ini akan menimbulkan komplikasi yang serius, mulai dari dehidrasi, abses hepar, perforasi kolon, obstruksi usus, prolaps rektum, bakteremia, hingga hipovolemia berat yang berujung pada kematian.

Berbeda dengan disentri basiler, penyebab disentri amuba adalah Entamoeba histolytica, parasit protozoa yang memiliki kaki semu dan tidak berflagel. Entamoeba histolyticamerupakan parasit yang bersifat patogen diantara semua spesies Entamoeba. Umumnya infeksi akibat Entamoeba histolytica ini sering disebut sebagai amoebiasis.

Manifestasi klinis disentri basiler biasanya akan muncul dalam 1–3 hari setelah terpapar  bakteri Shigella dysenteriae. Gejala yang muncul dapat berupa demam tinggi, muntah, nyeri pada seluruh lapangan perut, diare disertai lendir dan darah, serta tenesmus. Pada disentri amuba, sebagian besar kasusnya bersifat asimtomatik.

Meskipun demikian, pada kasus ini juga dapat ditemukan manifestasi klinis yang bersifat ringan hingga berat, berupa nyeri perut, diare, hingga kolitis yang dapat menyebabkan diare disertai lendir dan darah. Masa inkubasi pada disentri amuba berkisar 2–4 minggu.

Penyebaran disentri umumnya terjadi secara fekal–oral, khususnya melalui tangan yang terkontaminasi bakteri. Selain itu, penyebaran juga dapat terjadi melalui makanan maupun air yang kurang bersih dan terkontaminasi.

Diseksi aorta adalah robekan pada lapisan dalam dinding aorta, yaitu tunika intima. Kondisi ini dapat mengancam nyawa bi...
15/07/2024

Diseksi aorta adalah robekan pada lapisan dalam dinding aorta, yaitu tunika intima. Kondisi ini dapat mengancam nyawa bila tidak ditangani dengan cepat. Robekan pada tunika intima membentuk false lumen atau saluran palsu antara tunika intima dan tunika media. Darah yang terakumulasi dalam false lumen kemudian menekan sirkulasi lumen aorta yang sesungguhnya. Akibatnya, terjadi penurunan aliran darah ke organ vital atau malperfusi organ.

Diseksi aorta dapat diklasifikasikan berdasarkan 2 sistem yang berbeda, yaitu Stanford dan DeBakey. Kasus diseksi aorta dibedakan sebagai Stanford tipe A (DeBakey I dan II) atau Stanford tipe B (DeBakey III). Selain itu, sistem klasifikasi yang lebih baru juga dapat digunakan, misalnya sistem TEM (Type, Entry, Malperfusion) maupun SVS/STS (Society for Vascular Surgery/Society of Thoracic Surgeons).

Gejala yang sering dikeluhkan pasien diseksi aorta adalah nyeri dada mendadak yang sulit dilokalisir. Diseksi aorta sendiri memiliki gejala yang mirip dengan infark miokard dan aneurisma aorta, sehingga dokter membutuhkan pemeriksaan penunjang untuk membedakan diagnosis. Pemeriksaan penunjang yang merupakan baku emas adalah  CT scan dengan kontras.

Penatalaksanaan diseksi aorta dibedakan berdasarkan tipe yang dialami. Pada diseksi aorta tipe A, tindakan pembedahan menjadi pilihan utama. Sementara itu, pada diseksi aorta tipe B, penatalaksanaan farmakoterapi lebih diutamakan.

Diplopia atau penglihatan ganda merupakan persepsi simultan melihat dua gambar dari satu objek. Diplopia dapat terjadi m...
08/07/2024

Diplopia atau penglihatan ganda merupakan persepsi simultan melihat dua gambar dari satu objek. Diplopia dapat terjadi monokular atau binokular. Diplopia binokular terjadi saat kedua mata terbuka dan dapat dikoreksi dengan menutup salah satu mata. Sementara itu, pada diplopia monokular, keluhan menetap walaupun salah satu mata tertutup.

Diplopia binokular dilaporkan lebih sering terjadi, dengan penyebab utama adanya ketidaksejajaran aksis visual. Sementara itu, diplopia monokular umumnya disebabkan oleh patologi intraokular.

Diplopia bisa menjadi gejala pertama yang muncul pada berbagai kondisi mengancam, baik kondisi oftalmologis ataupun neurologis. Sistem yang bertanggung jawab dalam pergerakan dan kesejajaran okular mencakup sirkuit supranuklear, nuklei batang otak, saraf kranial III, IV, dan VI, serta neuromuscular junction dan otot target dari masing-masing saraf. Gangguan pada sistem tersebut atau dalam sistem vestibular yang terkait dengan respon mata terhadap gerakan dapat menyebabkan diplopia. Oleh karenanya, kondisi yang mendasari timbulnya diplopia sangatlah banyak dengan diagnosis banding yang luas. Kondisi ini mencakup stroke, tumor otak, katarak, astigmatisme, ataupun strabismus.

Penatalaksanaan diplopia harus disesuaikan dengan etiologi yang mendasari dengan tujuan untuk mendapatkan kembali penglihatan binokular tunggal. Pilihan penatalaksanaan diplopia juga disesuaikan dengan etiologinya. Misalnya saja penggunaan kacamata pada astigmatisme, ataupun tindakan operatif jika penyebab diplopia adalah katarak.

Diplopia dapat mengganggu kemampuan pasien dalam menentukan jarak. Diplopia juga akan mengganggu performa pasien dalam berkendara atau mengoperasikan mesin. Oleh karenanya, kegiatan tersebut perlu dihindari agar tidak terjadi trauma atau kecelakaan.

Difteri adalah infeksi saluran napas akibat bakteri Corynebacterium sp., terutama Corynebacterium diphtheria. Penyakit i...
01/07/2024

Difteri adalah infeksi saluran napas akibat bakteri Corynebacterium sp., terutama Corynebacterium diphtheria. Penyakit ini dapat menyebabkan faringitis, nasofaringitis, tonsillitis, laringitis, atau kombinasinya. Penyakit ini juga dapat menyerang sistem integumentum dan memungkinkan seseorang untuk menjadi karier asimptomatik.

Gejala awal difteri mirip dengan common cold, berupa demam, nyeri tenggorokan, sulit menelan, dan sakit kepala. Difteri memiliki ciri khas yaitu terdapat pseudomembran pada lokasi infeksi primernya. Pada kasus berat, infeksi dapat menyebar ke trakea menyebabkan trakeitis atau adenopati servikal yang berat. Kondisi ini dapat menyebabkan obstruksi jalan napas yang mengancam nyawa penderitanya.

Penularan difteri antar manusia terjadi melalui droplet respiratorik. Masa inkubasi berlangsung selama 2-5 hari. Selain gejala pernapasan, penyerapan dan penyebaran toksin difteri dapat menyebabkan kerusakan pada jantung berupa miokarditis, serta gangguan sistem saraf dan ginjal.

Tata laksana penyakit difteri utamanya adalah pemberian Anti Difteri Serum (ADS) dan antibiotik. Pada beberapa kondisi khusus, seperti obstruksi jalan napas dan miokarditis, pasien dapat diberikan kortikosteroid. Tindakan medis berupa intubasi, trakeostomi, atau needle cricothyroidotomy, perlu dilakukan pada pasien dengan ancaman gagal napas. Pada pasien yang mengalami kesulitan bernapas, pemberian makanan dan minuman bisa melalui selang nasogastrik.

Vaksin difteri tetap menjadi metode pencegahan yang paling efektif dan efisien dalam pencegahan penyakit difteri. Vaksin telah terbukti menurunkan kasus difteri di negara-negara maju dan berkembang. Namun, penyakit ini bisa muncul kembali (re-emergence) akibat cakupan vaksin yang tidak merata dan bertambahnya populasi paruh baya yang rentan terhadap penyakit.

Diastasis recti (DR) didefinisikan sebagai peningkatan pemisahan tepi medial kedua otot rektus yang diakibatkan peregang...
24/06/2024

Diastasis recti (DR) didefinisikan sebagai peningkatan pemisahan tepi medial kedua otot rektus yang diakibatkan peregangan dan kelemahan linea alba. Diastasis recti dikenal dengan beberapa istilah yang berbeda, seperti re**us abdominis diastasis, divarication of the re**us abdominis, dan abdominal muscle separation.

Prevalensi diastasis recti yang dilaporkan cukup beragam. Hal ini dikarenakan variasi standar batas intra-re**us distance (IRD) untuk diagnosis diastasis recti dan beragamnya metode pengukuran yang digunakan. Walaupun DR sering terjadi pada wanita, tetapi DR dapat juga terjadi pada pria walaupun sangat jarang laporannya.

Temuan tonjolan padat pada garis tengah perut setelah atau selama kehamilan biasanya hampir dipastikan mengarah ke diagnosis diastasis recti. Pemeriksaan penunjang untuk diastasis recti jarang dilakukan. Penggunaan modalitas pencitraan seperti ultrasonografi (USG) abdomendilakukan atas indikasi sebelum pembedahan untuk mengukur bagian diastasis recti yang akan dibuang.

Tata laksana yang direkomendasikan pada pasien diastasis recti adalah latihan fisik. Latihan fisik yang diberikan adalah semua gerakan dengan fungsi memperkuat otot core namun tidak meningkatkan tekanan intra-abdomen maupun penonjolan diastasis recti saat dilakukan. Pada pasien yang memiliki komplikasi hernia umbilikalis, tindakan pembedahan perlu dipertimbangkan.

Edukasi pasien tentang diastasis recti memiliki peran penting untuk mengontrol kecemasan dan ekspektasi yang muncul pada pasien. Dengan edukasi yang baik maka pasien akan lebih siap dengan perubahan tubuh yang terjadi selama kehamilan dan pasca melahirkan.

Diabetes mellitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan penyakit metabolik yang kronik progresif, berupa hiperglikemia akibat res...
18/06/2024

Diabetes mellitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan penyakit metabolik yang kronik progresif, berupa hiperglikemia akibat resistensi insulin, sekresi insulin yang tidak adekuat, serta ekskresi glukagon yang tidak normal. Penyakit ini berhubungan erat dengan faktor risiko usia, obesitas, sedentary lifestyle, dan keturunan.

Estimasi prevalensi global untuk DM tipe 2 adalah 9,3% pada orang dewasa dan terus mengalami peningkatan pada anak, pasien obesitas dan lansia. Prevalensi DM tipe 2 pada seluruh pasien diabetes mencapai 90%. Sedangkan komplikasi yang terjadi akibat DM tipe 2 merupakan penyebab kematian utama akibat penyakit ini.

Diagnosis DM tipe 2 ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, keluhan, gejala, tanda klinis, kadar gula darah puasa, kadar gula darah 2 jam post-prandial, hemoglobin A1c (HbA1c), tes antibodi, serta C-peptide untuk membedakan dengan diabetes mellitus tipe 1. Standar baku diagnosis DM tipe 2 di Indonesia adalah pemeriksaan kadar glukosa darah dan HbA1c.

Tujuan penatalaksanaan diabetes mellitus tipe 2 (DM tipe 2) adalah mengontrol kadar gula darah untuk mencegah terjadinya komplikasi, serta berupaya agar penderita dapat beraktifitas dan kerja seperti orang normal pada umumnya. Penatalaksanaan DM tipe 2 meliputi pemberian obat hipoglikemik oral (OHO), seperti metformin, atau kombinasi terapi dengan insulin eksogen, diet ketat, olahraga teratur, memperbaiki gaya hidup, self-monitoring gula darah harian, dan follow-up teratur.

Address


Opening Hours

Monday 06:00 - 10:00
16:00 - 19:00
Tuesday 06:00 - 10:00
16:00 - 19:00
Wednesday 06:00 - 10:00
16:00 - 19:00
Thursday 06:00 - 10:00
16:00 - 19:00
Friday 06:00 - 10:00
16:00 - 19:00
Saturday 06:00 - 10:00
16:00 - 19:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Klinik Mboga posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Klinik Mboga:

  • Want your practice to be the top-listed Clinic?

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram