25/12/2025
Ada yang bilang begini :
"Kok ga bikin yang versi alkohol? Bikin d**g bang," katanya.
"Boleh, tapi bayar dosanya aja ya. Satu botol 40 hari sembahyang ga diterima. Sekali bikin 600 botol, jadi brp hari tuh," jawab saya.
Selain itu, ada alasan lain kenapa saya enggan bikin Sambeang jadi beralkohol. Sebab, setau saya, kultur di Sumedang tempat saya berdiam dan mengeksplorasi kekayaan alamnya, sangat religius. Terutama di Dusun Sembir, Desa Gunasari, Sumedang Selatan, tempat tinggal saya saat ini.
Di Dusun ini, lingkungannya sudah seperti pondok pesantren. Yang namanya pengajian, majlis ta'lim, anak-anak, orang dewasa bahkan ibu-ibu menjadikan rebana sebagai sarana perwujudan ekspresi kecintaannya pada Islam.
Di Sembir, Islam benar-benar dilaksanakan secara murni dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Kalo anda berkunjung, jangan harap ketemu anak muda atau siapapun nyanyi-nyanyi lagu yang populer apalagi bernuansa asmara.
Semua orang di sini, doyannya bersholawat. Sambil jalan pun, mereka kerap menjadikan sholawat sebagai nyanyian mengisi keisengan.
Sedangkan jika ada yang meninggal, semua penduduk turun tangan. Ada yang segera menggali kubur, ada yang mempersiapkan pemandian jenazah, sementara di Masjid, sudah pada siap-siap mensholatkan.
Setelah dikubur, malamnya, hampir semua penduduk hadir di Masjid untuk menggelar tahlilan. Tidak ada biaya sama sekali yang dikeluarkan keluar berduka.
Jadi, ga mungkin saya membuat minuman beralkohol yang kemudian disebut miras atau khamr.
Berikutnya, produk minuman beralkohol sudah berbond**g-bond**g menjejali pasar. Anda bisa sambil merem mencarinya. Sedangkan yang non alkohol, dan mengakomodir keinginan mantan peminum rasanya belum ada.
Jadi, lebih baik Sambeang ada di wilayah ini saja.
Sedangkan, Sambeang sendiri dalam bahasa Sunda berarti Sembahyang.