Obat Diabetes Jamsi

Obat Diabetes Jamsi Peternakan baju adalah toko baju berbasis online. Berbagai macam desain serta brand kami sajikan dikandang dibawah kendali Fahmi Corp.

Terima kasih atas kunjungan dan bersedia order di peternakan kami

29/02/2012

hidup ini singkat, maka jangan membuatnya lebih singkat lagi dengan sesuatu yang sia-sia

28/02/2012

Tidak ada yang menyangkal, bisnis makanan dan minuman memiliki magnet yang cukup besar dikalangan pebisnis. Perputaran uangnya begitu cepat sehingga investasi yang dibenamkan bisa kembali dalam waktu singkat. Bahkan bahkan muncul julukan sebagai bisnis yang kebal terhadap krisis. Bagaimana tidak? Sehebat apapun krisis, makanan tetap merupakan kebutuhan wajib yang harus dipenuhi.

Tapi segampang itukah membesut bisnis makanan? Meski prospeknya tetap cerah, dalam praktiknya tak sedikit pengusaha gagal dan gulung tikar. Banyak dari mereka yang terjun ke bisnis makanan hanya sebagai “ajang coba-coba” untuk meretas menjadi entrepreneur. Tidak ada keahlian dan pengetahuan yang cukup. Hanya mengandalkan ‘koki kepercayaan’ yang biasanya akan memunculkan masalah di kemudian hari ketika ditinggalkan sang koki.

“Kalau mau terjun ke bisnis ini harus punya konsep, apakah mau warung, restoran, café atau yang lainnya. Ia juga mesti belajar masak, belajar melayani dan belajar mengelola keuangan. Banyak yang gagal karena pebgelolaannya diserahkan kepada orang lain,” ujar Chairul Rivai, pemilik restoran Hot Cwie Mie Malang (CMM) dan Roelies Steak. Ia mencontohkan, berapa banyak artis dengan café tendanya yang akhirnya gulung tikar? Toh, meski banyak pengusaha yang gagal tak menyurutkan sebagian yang lain untuk berjibaku di bisnis ini.

Kebanyakan orang silau melihat keberhasilan tanpa memperhatikan prosesnya. Misalnya Hot CMM, kini memiliki 23 cabang yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia. Keberhasilan tersebut, aku pria yang akrab disapa Rully ini, tidak diperolehnya dengan mudah. Jebolan NHI Bandung ini bahkan harus menjual rumahnya untuk membangun bisnis Rollies Steak pada tahun 1995. Belum lama resto miliknya tersebut berjalan, krisis moneter menghantam tanah air. Usaha yang baru saja dirintisnya pun sedikit demi sedikit terterogoti.

“Bahan baku daging sapi yang kami pakai berasal dari impor. Perbedaan kurs dolar menyebabkan kenaikan harga mencapai lebih dari 3 kali lipat,” terangnya. Dalam situasi yang tidak menguntungkan, bapak dua anak ini harus melakukan langkah-langkah berani. Ia terpaksa banting setir memilih berjualan makanan yang tidak bergantung pada bahan impor. Pilihannya jatuh pada mie, yang merupakan makanan pokok orang Indonesia setelah nasi.

Menyadari begitu banyak menu mie yang ada di Jakarta, Rully memilih resep mie khas daerahnya yang diberi label Hot Cwie Mie Malang. “Saya mempunyai beberapa pertimbangan memilih brand ini. Kalau ingin membuka usaha di bidang mie di Jakarta, saya harus memunculkan nama yang berbeda. Maka kemudian saya angkatlah cwie mie ini dengan menambah kata Malang. Akhirnya orang Jakarta tahu bahwa cwie mie berasal dari Malang,” tutur Rully.

Uniknya, meski sudah memiliki puluhan cabang belum ada satupun cabang yang berlokasi di pusat perbelanjaan atau mal. Rully punya alasan, “Biaya sewa di mal sangat mahal tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Sehingga setelah dihitung, keuntungan yang diperoleh jumlahnya tidak seberapa. Alhasil, waktu balik modalnya menjadi lama,” papar Rully. Pandangan tersebut didasari pada pengalaman masa lalunya ketika dipercaya mengelola bisnis Burger King, maupun Au Bon Pain –milik pengusaha Rini MS. Suwandi.

Memang, mal mempunyai daya tarik bagi para pengusaha –tak terkecuali pengusaha makanan dan minuman-- untuk memperluas jaringan bisnis. Selain karena potensi pembeli yang besar, memiliki cabang di mal dianggap memberikan gengsi tersendiri. Sementara Rully lebih s**a memilih lokasi di pinggiran, dekat pemukiman, dan beberapa diantaranya dekat dengan jalan tol lingkar luar Jakarta. Dengan biaya sewa tempat yang tidak terlalu mahal, maka ia bisa menyajikan makanan dengan harga yang lebih murah.

Nama Hot CMM yang terus berkibar membuat banyak orang tertarik untuk menjalin kerjasama. Situasi seperti inilah yang selalu diinginkan pengusaha yang mengemas konsep franchise untuk pengembangan usahanya. Tapi, pria yang cukup lama bekerja dengan Bob Sadino ini, tidak mau sembarang menggandeng franchise. Pasalnya ia tidak hanya melihat kemampuan finansial calon mitranya, tapi juga melihat tingkat keseriusannya. Serta menilai apakah calon rekanannya itu bisa dipercaya.

“Saya paham franchise dari pengalaman. Karena itu saya tidak mau ceroboh menawarkan konsep tersebut sehingga menyusahkan calon mitra. Saya akan bilang kita kerjasama, mungkin bentuknya franchise. Tapi saya selalu menekankan pada calon mitra ada resiko yang tidak enak, untuk itu kedua pihak harus serius dalam mengelola bisnis ini,” jelas Rully sembari menyebut beberapa cabang diantaranya Padang, Medan, Bali, Yogya, Semarang, Batam, Jambi, Makasar, Jakarta dan Tangerang ini.

Rully menyadari persaingan di bisnis ini sangat ketat. Di Jakarta sendiri, sudah banyak brand yang sukses mengusung mie sebagai menu utamanya, semisal, Bakmi Japos, Bakmi GM, Bakmi Margonda, Bakmi Langgara dan masih segudang nama lainnya. Aksi ‘pembajakan’ karyawan pun bukan sesuatu yang baru. “Banyak karyawan kita yang setelah dididik diambil oleh para pesaing. Karena itu kita akan memperkuat training untuk menghasilkan tenaga-tenaga terampil yang loyal,” tambahnya.

Selain itu, agar usaha tetap bertahan maka pihaknya terus melakukan inovasi produk. Tujuannya, lanjut Rully, agar konsumen tidak merasa jenuh dan mendapatkan menu-menu yang baru. Dalam waktu dekat, misalnya, Hot CMM akan melaunching menu baru yakni mie hijau. Mie yang diolah dengan campuran sayuran ini akan menjadi pilihan menu yang menarik. Rully kini juga membangun brand baru yang siap dipasaran yakni Dapur Kiyam dan Warung Jepang.

“Dan untuk tahun 2011 ini saya akan melakukan perubahan konsep, khususnya untuk cabang baru, dari desain tradisional menjadi lebih modern. Selain itu saya juga akan melakukan pegembangan outlet. Jadi, ketika orang lain jenuh membuka restoran, saya justru sebaliknya, akan memperbanyak jumlah cabang,” pungkas Rully tentang rencana besarnya di pada tahun-tahun mendatang.

Address

Mulyorejo
Surabaya
60112

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Obat Diabetes Jamsi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Obat Diabetes Jamsi:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram