20/01/2026
Pak A, warga salah satu desa di Kecamatan Pogalan, Trenggalek, awalnya sering merasakan nyeri pinggang saat bekerja, berlari ringan, atau duduk terlalu lama. Jika dipaksakan, nyeri cepat meningkat, tetapi akan berkurang setelah berhenti sejenak atau mengubah posisi. Pola ini sering dialami banyak orang, terutama yang aktivitasnya berulang dan jarang memberi jeda pada tubuh.
Dari cara ia bergerak, terlihat bahwa pinggangnya bekerja terlalu keras tanpa dukungan gerak yang cukup. Karena itu, pendampingan tidak langsung menambah aktivitas, tetapi dimulai dengan mengatur ulang cara berdiri, duduk, dan berpindah posisi agar beban tidak menumpuk di satu titik. Gerak dibimbing pelan, disesuaikan dengan rasa nyaman, lalu ditingkatkan saat tubuh menunjukkan tanda siap. Hasilnya terasa dalam keseharian: jarak jalan bertambah, duduk lama tidak lagi membuat pinggang cepat “mengunci”, wudhu bisa dilakukan tanpa ragu, dan naik motor tidak perlu sering berhenti karena nyeri.
Masih ada posisi tertentu, seperti duduk bersila, yang perlu adaptasi lebih lanjut. Namun perubahan ini menunjukkan bahwa saat cara bergerak diperbaiki dan tubuh diberi kesempatan beradaptasi, fungsi sehari-hari bisa kembali lebih ringan. Proses nyeri pinggang yang dijalani Pak A melalui fisioterapi di Trenggalek berjalan bertahap dan realistis, mengikuti kondisi tubuhnya, bukan dipaksakan.