11/11/2020
Kardinah atau lengkapnya Raden Ajeng Kardinah adalah adik kandung dari Pahlawan Pergerakan Wanita RA. Kartini. Beliau menikah dengan RM Soejitno atau RM. Reksonegoro X setelah menjabat sebagai Bupati Tegal pada tahun 1908-1929., meninggalkan dua saudarinya di Jepara. Namun, ketika berada di Tegal dan sudah menjadi “Nyonya Bupati”. Kardinah tetap ingin meneruskan perjuangan yang pernah ia lakukan bersama dua saudarinya dulu.
Sebagai seorang istri, Kardinah menghabiskan waktu dengan mendidik anak-anaknya. Seiring berjalannya waktu, ia kemudian membangun sekolah kecilnya sendiri karena tidak puas dengan pola mengajar di sekolah buatan Belanda.
Saat itu pemerintah Belanda membatasi pendidikan kaum pribumi, hanya orang-orang dari keluarga bangsawan atau kalangan atas saja yang boleh bersekolah tinggi, itupun hanya laki-laki saja. Tanpa canggung, Kardinah memodernisasi sekolah bentukannya.
“Kardinah tanpa ragu-ragu melakukan berbagai tindakan ke arah modernisasi. Dalam usaha itu, ia mendapat dukungan sepenuhnya dari suaminya yang progresif dan berkobar-kobar,” kata Sitisoemandari Soeroto penulis buku Kartini: Sebuah Biografi (1982), dikutip dari Tirto.id.
Tepat pada ulang tahunnya yang ke-35, 1 Maret 1916, Raden Ajeng Kardinah resmi mendirikan “Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranowo”. Sekolah yang Kardinah bangun tersebut mempunyai sistem pengajaran yang sama dengan Sekolah Kartini, yakni sekolah yang mengajarkan keterampilan bagi wanita.
Hebatnya, Kardinah membangun sekolahnya dari dana yang ia kumpulkan sendiri. Uang itu berasal dari royalti penjualan buku hasil karyanya dan beberapa sumbangan lain. Menurut Sitisoemandari, setidaknya Kardinah menghasilkan dua buku soal masakan dan dua buku soal Batik.
Dalam bidang pendidikan, Kardinah tidak hanya membangun sekolah. Bersama kakak laki-lakinya, Raden Mas Pandji (RMP) Sosrokartono, ia juga mendirikan perpustakaan dari dana yang dikumpulkannya sendiri. Perpustakaan itu bernama “Panti Sastra”.
Tujuannya membangun perpustakaan tidak beda jauh seperti saat ia mendirikan sekolah, yakni agar semakin banyak masyarakat--khususnya kelas bawah--mendapatkan pendidikan.
Upaya Kardinah dalam memperjuangkan nasib rakyat tidak berhenti sampai di situ. Ia juga merambah dunia kesehatan dengan mendirikan sebuah rumah sakit yang diberi nama Kardinah Ziekenhuis (Rumah Sakit Kardinah) pada 1927. Karena jasanya mendirikan rumah sakit tersebut, maka namanya diabadikan menjadi RSUD Kardinah Kota Tegal.
Alasannya mendirikan rumah sakit adalah karena rasa simpatinya terhadap kurangnya layanan kesehatan pada masyarakat miskin di Tegal kala itu. Sekali lagi dana untuk mendirikan rumah sakit tersebut bukan berasal dari pemerintah Belanda. Namun dari penjualan buku-bukunya yang ditambah dengan hasil penjualan kerajinan tangan murid-murid Sekolah Wisma Pranowo.
Tahun 1948, beliau sempat mengungsi dari Tegal ke Salatiga akibat Peristiwa Tiga Daerah.
Di tahun 1970, beliau berhasil diajak ke Tegal. Dengan upaya istri walikota saat itu, Ibu Sardjoe. Setahun kemudian beliau meninggal. Dimakamkan di samping makam suaminya.
Sumber :
1.https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/04/21/perjuangan-kardinah-dan-roekmini-yang-tidak-kalah-hebat-dengan-kartini
2.https://infotegal.com/2014/09/kardinah-ziekenhuis-rumah-sakit-kardinah/